X-World (Pt.40) : Rebel

“Sebenernya ada apa ini?!! Aku tidak mengerti?” –Viny

“Aku tau apa yang kalian lakukan barusan. Makanya aku buru-buru membawa kalian pergi dari markas sebelum terlambat.” –Shinji

“Kemana kau akan membawa kami pergi?” –Viny

“Hajime-San, untuk bertemu dengan teman-teman kalian.” –Shinji

“Hah??” –Viny

“Bisa diulang nggak? Gue gak ngerti, asli deh.” –Gary

“Kalian memasang alat penyadap pada Kenzaki bukan? Kalian pikir aku tidak tau waktu kalian meletakkan alat mirip headset itu di dompet Kenzaki?” –Shinji

“Uhh… Itu….” –Gary

“Tidak apa-apa. Oiya, ngomong-ngomong kerja bagus. Kerja kalian hampir bersih, tapi sayangnya Kenzaki berhasil menemukan alat kalian dan menginformasikan ke seluruh penjaga untuk bersiaga di dalam markas.” –Shinji

“Kenapa lo ngebantuin kita?” –Gary

“Kau masih belum mengerti juga? Ya ampun. Apa kau ingat saat kau membuntutiku siang tadi?.” –Shinji

“Iya, gue ing… Tunggu dulu, lo sadar waktu gue buntutin lo tadi siang?!!” –Gary

“Iya.” –Shinji

“Kok lo malah diem pas gue panggil? Trus lo lari pula.” –Gary

“Aku tau kau pergi keluar siang itu. Aku sengaja lewat di depan restoran yang kau kunjungi untuk memancingmu agar mengikutiku. Rencanaku berhasil, dan kau bahkan mengikutiku sampai ke dalam bioskop.” –Shinji

“Bioskop? Tapi kan lo ilang pas di depan bioskop. Gue masuk ke dalem bioskop itu juga karena gue ngeliat Gou (Mach) lewat dan masuk ke dalam bioskop.” –Gary

“Tapi kau tidak melihat Gou sendirian di dalam bioskop itu bukan?” –Shinji

“Iya. Tunggu sebentar, jangan-jangan….” –Gary

“Aku orang yang berbicara dengan Gou di belakang bioskop saat itu.” –Shinji

Oh, jadi Shinji itu informan yang ngomong bareng Gou di belakang bioskop waktu itu? Loh? Tapi kan dia anggota Regime?

Shinji menceritakan semuanya di mobil saat itu. Semua hal yang gue alami tadi siang dari mulai ngejar Shinji sampai nguntit Gou ke dalam bioskop, ternyata bagian dari skenario yang Shinji buat untuk menyampaikan informasi mengenai Rebel, Regime, dan kabar temen-temen gue sekarang dengan halus tanpa membuat Kenzaki dan anggota Regime yang lain curiga.

Shinji bukan berkhianat pada Regime, tapi memang dari awal dia bukan anggota Regime. Shinji adalah agen Rebel yang dikirim oleh Hajime (Chalice) untuk mengawasi gerak-gerik Kenzaki. Hajime percaya kalau suatu saat Kenzaki bakalan ngambil tindakan gila yang mungkin bisa membahayakan domain Rider-Verse ini.

“Berarti ini semacam kebetulan ya? Coba gue nggak ketemu lo waktu itu, tapi malah ketemu Kenzaki, atau Wataru, atau Gotou, atau Yaguruma. Pasti gue sama Viny udah nyantol di pihak yang salah.” –Gary

“Mungkin ini sudah takdir.” –Shinji

Kita hampir sampai di Gerbang Utara dome. Semua baik-baik aja sampai akhirnya kita dapet serangan dari 10 Riot troopers. 5 orang menggunakan jetpack, dan 5 orang lagi pake motor besar yang mirip dengan motor milik Kamen Rider Delta. Shinji lagi megang stir, otomatis gue sama Viny yang harus ambil tindakan menyangkut serangan dari para Riot troopers.

Viny berubah menjadi kesatria dan bersiap untuk memberi perlawanan bersama dengan gue. Viny dengan Strike Ventnya, dan gue dengan GN-Sword gue. 3 Riot trooper dengan jetpack melesat turun dari arah atas sambil menembaki kita dengan senjata otomatis yang terpasang pada jetpack mereka. Viny menembakkan api ke arah ketiganya, tapi dengan mudahnya mereka dapat menghindar.

“Vin, Strike Vent lo bisa nembakin asep kagak?” –Gary

“Bisa. Memang kenapa?” –Viny

“Begitu mereka bertiga dateng lagi, tembak asep ke arah mereka. Begitu mereka buta, baru kita tembak jatuh mereka.” –Gary

Riot troopers itu kembali lagi, kali ini bukan 3, tapi 5 orang sekaligus. Kelimanya menggunakan jetpack, dan mereka lebih cepat dari yang sebelumnya. Mereka meningkatkan kecepatan mereka, berarti timing gue gak boleh meleset. Mereka datang….

“SEKARANG!” –Gary

Viny langsung menembakkan asap ke arah para Riot Trooper itu. Sesuai perkiraan gue, mereka langsung kocar-kacir dan terpisah satu sama lain. 2 mengarah lurus ke arah mobil yang gue tumpangi, dan mereka masih dalam keadaan buta. Gue langsung rubah GN-Sword gue ke Sword Mode dan membabat keduanya. 2 jatuh, dan 3 lagi masih di udara dalam keadaan buta. Viny menembak ketiga Riot troopers tersebut dan ketiganya langsung jatuh.

Sisa 5 lagi yang pake motor. Jir, yang jenis ini nggak bakalan gampang. Motor mereka High-Tech, udah gitu dilengkapin misil kendali jarak jauh pula, tapi itu bukan berarti gue takut sama mereka. Mereka punya motor, kita punya Dragreder.

“Vin, mereka dateng.” –Gary

“Sekarang?” –Viny

“Tunggu sedikit lagi….” –Gary

Gue rubah GN-Sword gue ke Rifle Mode dan gue tembak kelima Riot troopers dengan motor itu supaya mereka nyamperin mobil kita. Kalo mereka lebih deket, Dragreder bisa langsung ngebabat mereka sekali jalan dengan serangan kejutan.

“SEKARANG, VIN!” –Gary

“ADD VENT!” –Visor

Dragreder keluar dari dalam kaca belakang mobil dan langsung menabrak kelima Riot trooper yang tersisa. STRIKE! 10 Riot Troopers kelar.

“Sepertinya ini belum selesai, lihat!” –Viny

Anak buah jatoh, sekarang giliran bosnya turun tangan. Tadi jetpack sama motor terbang, sekarang NAGA BERBADAN KASTIL. Buset, ukurannya gokil, men. Lebih besar dari Dragreder.

“Castle Doran. Itu Wataru (Kiva)!” –Shinji

Kampret! Dragreder udah kepake lagi. Kalo Viny pake Final Vent buat nyerang Castle Doran, pasti Kiva yang lagi berdiri di atas kepalanya bakalan langsung bales nyerang Viny sebelum dia bisa nyentuh Castle Doran.

“Waktunya kaku-kakuan lagi. Vin, gue mau pake Buster Mode buat nembak Castle Doran. Lo bantuin gue ya?” –Gary

“Apa yang harus aku lakukan?” –Viny

“Gampang. Begitu gue selesai nembak, lo langsung cabut salah satu GN-Bits yang terpasang di GN-Sword gue.” –Gary

“*Mengganguk*” –Viny

Tanpa membuang-buang waktu lagi, gue langsung pasang semua GN-Bits gue ke GN-Sword untuk mengakses Buster Rifle Mode. Buster Mode aktif, dan gue bisa merasakan intesitas partikel pada GN-Sword meningkat dengan cepat.

Gue harus cepet manfaatin kesempatan ini sebelum partikel-partikel itu bikin badan gue kaku. Castle Doran membuka mulutnya, dan siap menebakan sebuah bolah api ke arah kita. Gue langsung ngarahin GN-Sword gue kearah kepala Doran. Satu kali tembakan. Kalo gue meleset, abis nih mobil kena tembak bola api. Incer lehernya, Ger. Sedikit lagi….

“DAPAT!” –Gary

*BOOOOSH!!! DUAR!!!!!!!*

Tembakan gue tepat sasaran mengenai kepala Doran. Kiva yang berdiri di atas kepala naga berbadan kastil itu langsung terjatuh, begitu juga Doran.

Viny langsung mencabut salah satu GN-Bits yang terpasang di GN-Sword gue begitu gue selesai menembak Doran. Gue berhasil membuat Doran jatuh dalam sekali tembak dan tubuh gue selamat dari rasa kaku akibat efek samping Buster Mode.

Gue kira serangan kita udah selesai, tapi tiba-tiba ada yang dateng lagi dari belakang buat ngejar kita. Seseorang dengan motor putih. Ah, ini mah masih gampang. Tinggal tembak rodanya aja juga udah selesai, dia pasti langsung jatoh.

“TAHAN TEMBAKAN KALIAN!” –Shinji

“Kenapa?” –Gary

“Itu teman kita. Itu Gou (Mach).” –Shinji

Gue kembali memalingkan pandangan gue ke belakang. Setelah gue lihat baik-baik, ternyata itu benar Gou. Hampir aja gue nembak dia. Motor Gou menyusul mobil kita dengan cepat dan sekarang dia sudah berada tepat di samping kanan mobil.

“Hei Shinji! Ini terlalu awal! Kau bilang kau akan membawa mereka dini hari nanti?” –Gou

“Ada sedikit masalah tadi, nanti akan aku ceritakan. Bagaimana keadaan gerbang sekarang?” –Shinji

“Aman. Para Kurokage masih berjaga disana.” –Gou

Mobil kita sampai di Gerbang Utara Dome dan tepat seperti kata Gou, tentara Regime yang berjaga sudah dilumpuhkan oleh para Kurokage yang datang bersama Gou untuk membantu Shinji, gue, dan Viny keluar dari Neo-Utopia. Setelah berhasil keluar dari Neo-Utopia, kita berjalan lurus ke Utara.

**

Entah sudah berapa puluh kilometer yang kita tempuh menggunakan mobil dari Neo-Utopia, tapi kita belum juga sampai di markas Rebel. Viny udah ketiduran di dalam mobil sementara gue masih melek.

“Masih jauh nih?” –Gary

“Tidak. Sebenernya kita sudah sampai. Lihat itu.” –Shinji

Gue buka kaca samping mobil dan gue liat keluar. Sebuah perkampungan? Bukan. Ini lebih mirip semacam pengungsian. Jadi ini markas Rebel? Gils, berbanding terbalik banget sama Regime.

Mobil yang gue naiki berhenti di depan sebuah bangunan bekas yang sudah setengah hancur. Gue bangunin Viny, dan kita berdua turun dari mobil. Shinji nyuruh kita berdua masuk duluan ke dalam bangunan bekas itu. Kata Shinji, Hajime ada di dalam dan dia udah nungguin gue sama temen-temen gue (Anto, Ve, dan Sagha).

Begitu gue mau masuk ke dalam bangunan, 2 orang penjaga muncul dan mereka memeriksa seluruh pakaian gue dan Viny. Setelah selesai diperiksa, kita berdua masuk ke dalam bangunan.

“Permisi….” –Gary

“GARY!!!” –Ve

“VE, AGH! Eh, buset… Baru juga dateng udah dipeluk sekenceng ini.” –Gary

“Akhirnya lo balik juga. Gue sempet panik mikirin nasib lo yang dibawa sama Regime.” –Anto

“Ada juga lo yang bikin gue khawatir. Gue sendiri sempet kebingungan mikirin gimana caranya nyelamatin lo, tapi begitu gue tau lo ada di pihak yang aman gue langsung tenang.” –Gary

“Nah, ini nih! Gila, lo bikin Ve panik sampe dia nggak nafsu makan tadi siang. Tanggung jawab lo, tuh anak masih belum makan sampe detik ini.” –Sagha

“HAH?!! Seriusan? Buset. Eh, Ve, lo panik ato panik? Sampe segitunya.” –Gary

“Makanya, lain kali jangan suka bergerak semaumu!” –Ve

“Iya-iya. Lagian ini juga bukan salah gue sepenuhnya, tapi salah si Viny yang main langsung turun ke lapangan nggak bilang-bilang.” –Gary

“Iya, aku mengaku salah. Maaf.” –Viny

“Udah-udah, yang penting lo sama Gary selamat.” –Anto

“Gary Muller, Ratu Vienny Fitrilya….” –Hajime

“Eh, lo siapa? Kok lo bisa tau nama gue? Jangan-jangan lo ya yang namanya Hajime? Kamen Rider Chalice?” –Gary

“Ya, Aku Hajime.” –Hajime

“Ger, kita perlu ngomong. Kita berlima, sama Hajime.” –Anto

Akhirnya kita berlima utuh lagi. Baru reuni 30 detik, tiba-tiba muncul orang yang udah nungguin gue, Hajime. Dia ngajak kita berlima ke ruangannya untuk ngomong. Begitu kita udah mulai ngomong, seperti orang-orang pada umumnya, Hajime basa-basi dikit dengan bilang selamat datang dan nanyain kabar gue.

Belum lama Hajime basa-basi, Shinji masuk ke dalam ruangan. Saat itulah suasana percakapan ini mendadak berubah drastis jadi serius. Ditambah lagi, Hajime terus melototin gue sama Viny.

“Aku dengar dari Shinji kalian berdua memasang alat penyadap pada Kenzaki. Apa itu benar?” –Hajime

“Iya, itu bener, tapi dia berhasil nemuin alat penyadap yang gue selipin di dalem dompetnya.” –Gary

“Informasi apa saja yang kalian dapat dari hasil memata-matai Kenzaki?” –Hajime

“Sebelum kami berdua memberitahumu soal itu, aku punya pertanyaan dan aku ingin dengar sendiri jawabannya langsung darimu.” –Viny

Wih, serius nih kayaknya. Tumben-tumbenan si Viny kayak begini, biasanya yang rajin nimbrung gue sama Ve doang.

“Baiklah. Apa yang ingin kau tanyakan?” –Hajime

“Apa yang terjadi dengan kau dan Kenzaki? Bukankah kalian dulu partner?” –Viny

“*Menghela nafas* Jadi kau tau tentang masa lalu kami?” –Hajime

“*Mengangguk*” –Viny

“3 bulan yang lalu, tepatnya saat dunia kami selamat dari pertempuran dan baru pertama kali menjadi domain, terjadi konflik di antara aku dan Kenzaki. Penyebab konflik ini adalah kematian para Rider akibat pertempuran antar dunia. Kenzaki yang tidak ingin ada lagi jatuhnya korban di domain kami memutuskan untuk membuat organisasi yang berfungsi sebagai pasukan perang sekaligus pemerintahan di domain ini. Aku tau ada yang tidak beres dengan caranya, tapi karena dulu aku masih menganggapnya partner, jadi aku memaklumi hal-hal yang dia lakukan, sampai akhirnya….” –Hajime

“Sampai akhirnya?” –Viny

“….Dia berubah perlahan-lahan menjadi diktator. Hari demi hari dia memperketat peraturan di domain ini. Membuat beberapa Rider merasa terkekang dengan keberadaan peraturan itu. Aku sendiri ikut merasakan dampaknya. Dampak dari peraturan-peraturan yang ia buat lama kelamaan bukan hanya berimbas kepada kami para Rider, tapi juga para penduduk. Kenzaki mulai dibenci banyak orang semenjak itu, entah dari kalangan penduduk ataupun teman-temannya sesama Rider.” –Hajime

“Jadi, dari situlah awal mula semua ini?” –Viny

“Yang memulai Rebel adalah Kamen Rider Decade. Dari awal dia lah yang paling tidak setuju dengan gagasan Kenzaki untuk membentuk Regime. Dia juga yang sangat menolak adanya peraturan-peraturan yang dibuat Kenzaki. Aku tidak pernah mengira kalau Kenzaki akan langsung melakukan konfrontasi dengan Decade dan membunuhnya. Tidak ada negosiasi. Semua orang yang berpihak pada Decade mulai diburu dan dibunuh satu persatu oleh Kenzaki dan pasukannya. Namun, bukannya habis, Rebel yang dimulai oleh Decade malah terus bertambah jumlahnya.” –Hajime

“Jadi dulu kau juga anggota Regime?” –Viny

“Ya. Faktanya, kami semua dulunya adalah anggota Regime. Sampai akhirnya Kenzaki menunjukan sifat aslinya yang bahkan aku tidak tahu. Semenjak itu Rider-Verse terpecah, dan perang terjadi dimana-mana antara Rebel dan Regime. Markas pusat Regime yang masih utuh dirubah oleh Kenzaki menjadi Neo-Utopia yang dilindungi oleh dome untuk melindungi markas mereka dari serangan kami. Sedangkan kami para Rebel membuat camp diberbagai tempat untuk bertahan hidup ditengah gurun luas yang dulunya adalah sebuah kota.” –Hajime

“Oh, jadi Neo-Utopia itu Cuma kedok?” –Gary

“Bisa dibilang begitu. Aku yakin orang-orang yang memilih tinggal di Neo-Utopia pasti juga dilanda rasa takut akan peraturan-peraturan Kenzaki. Ditambah lagi, tidak boleh ada satupun penduduk yang keluar dari kota itu.” –Hajime

“Jadi begitu. Lalu bagaimana ceritanya kau bisa menyelundupkan Shinji ke dalam Regime? Bukankah Kenzaki tau identitas setiap Rider?” –Viny

“Shinji tidak pernah terjun ke lapangan, selain itu sejak awal dia tidak pernah menunjukan identitasnya sebagai Rider kepada siapapun. Pertempuran kemarin adalah pertama kalinya Shinji menggunakan kekuatan Ridernya.” –Hajime

“Aku mengerti sekarang. Baiklah, sesuai perjanjian sekarang giliranku untuk bicara. Satu-satunya hal yang kami temukan saat menyadap Kenzaki adalah sesuatu bernama ‘Jashin 14’. Selain itu tidak ada lagi.” –Viny

“APA?! JASHIN 14?!!” –Hajime

“Sori, gue pengen nanya. Jashin 14 itu sebenernya apaan sih? Dia makhluk hidup atau semacam senjata gitu?” –Gary

“Keduanya.” –Hajime

Waduh….

“Jashin 14 adalah monster sekaligus senjata raksasa yang sangat berbahaya. Sekali diaktifkan, makhluk itu akan menuruti apapun perintah dari orang yang menyalakannya. KURANG AJAR KAU KENZAKI!!!” –Hajime

“Tenang, kalo Jashin 14 emang yang kayak lo bilang berarti kita masih punya waktu. Dari hasil nguntit gue tadi, gue ngeliat Jashin 14 masih sebesar lemari baju dan bentuknya masih kayak gumpalan bola.” –Gary

“Kalau begitu kita harus bersiap-siap untuk menyerang Markas Regime malam ini juga–.” –Hajime

“TUNGGU DULU!! Mending lo jangan mikirin Jashin 14 dulu. Waktu Kenzaki ngomong 4 mata sama gue, dia ngasih tau gue kalo dia mau nyerang markas Rebel dimana temen-temen gue berada. Dengan kata lain, TEMPAT INI. Mending sekarang kita mikirin gimana caranya kita nyelamatin orang-orang disini sebelum Kenzaki dan pasukannya dateng. Gue tau Jashin 14 itu penting, tapi keselamatan anak buah lo juga penting. Emang lo mau perang sendirian ngelawan Kenzaki?” –Gary

“Kau benar. Maaf aku terlalu terburu-buru mengambil keputusan.” –Hajime

“Ger, tadi bukankah kita memasang 2 alat penyadap pada Kenzaki?” –Viny

“OH IYA! Gue baru inget, kameranya masih nyantol di jasnya Kenzaki!” –Gary

“Itu berarti, kita masih punya mata terhadap Kenzaki?” –Hajime

“Teknisnya begitu, tapi kamera gue Cuma nge-support visual doang, nggak termasuk sama audio.” –Gary

“Dimana tab yang tadi kita pakai untuk mengontrol kamera dan mic?” –Viny

Sumpah, gue baru inget pas Viny ngingetin gue tadi. Duh, gimana gue bisa lupa sama barang gue sendiri. Semenjak mic-nya udah ketahuan, kayaknya kameranya juga senasib deh sama micnya, tapi belum tentu juga sih.

Viny minta tab yang tadi gue pake buat ngontrol mic sama kamera. Karena gue juga penasaran dengan nasib kamera gue, jadi langsung gue keluarin aja tuh tab terus gue nyalain. Ajaibnya, ternyata kamera gue masih dalam keadaan menyala dan masih terhubung dengan tab gue.

“Ternyata masih terhubung.” –Viny

“Iya, tapi gambarnya jadi setengah rusak begitu. Kayaknya gara-gara koneksi kamera sama tab ini kejauhan deh.” –Gary

“Kayaknya kamera lo masih bisa dimanfaatin deh, Ger. Lumayan lah, paling nggak kita bisa tau keadaan Kenzaki lewat kamera lo walaupun Cuma dari gambar tanpa suara.” –Anto

“Gambarnya aja rusak begini, To.” –Gary

“Biar aku urus. Aku rasa aku bisa memperbaiki kualitas gambarnya yang hancur. Aku hanya perlu beberapa komponen antena dan beberapa perangkat komputer bekas.” –Ve

“Coba kau pergi ke tenda komunikasi. Mungkin mereka punya komponen yang kau butuhkan.” –Hajime

“Baiklah. Sagha, ayo ikut aku. Aku juga butuh bantuanmu.” –Ve

“Kenapa gue? Gue gak jago elektronik.” –Sagha

“Karena Gary, Viny, dan Anto dibutuhkan disini untuk membantu Hajime. Ayo!” –Ve

………………….

“Semangat banget si Ve? Nggak kayak biasanya.” –Gary

“Biarin lah, yang penting dia bisa ngakalin masalah kamera lo. Sekarang kita gimana?” –Anto

“Udah jelaskan? Kita harus ngamanin orang-orang di camp ini.” –Gary

“Sepertinya tidak ada jalan lain kecuali mengungsikan semua warga di camp ini.” –Shinji

“Aku rasa transport yang kita punya cukup untuk memindahkan semua warga. Para Kurokage akan mengawal transport mereka. Untuk masalah tujuan, kita pindahkan mereka di camp Selatan yang agak jauh dari sini.” –Hajime

“Kenapa nggak pas Kenzaki kesini, kita langsung nyerang markasnya? Kan pas banget tuh kondisinya lagi kosong.” –Anto

“Salah! Jika Kenzaki pergi, maka penjagaan di Neo-Utopia akan semakin ketat. Besok yang akan pergi bersama dia kemungkinan hanya Gotou (Kamen Rider Birth), sementara Wataru (Kamen Rider Kiva) dan Yaguruma (Kamen Rider Thebee) akan berjaga di kota.” –Shinji

“Kalo gue mikirnya begini, pas Kenzaki nyamperin kita kesini, kita ladenin aja dia. Kita fokusin serangan kita untuk melukai dia separah mungkin. Dari situ, kita manfaatin sikap keras kepala Kenzaki. Separah apapun lukanya, Kenzaki pasti akan tetap konsisten buat ngejar Hajime, jadi kita bikin kondisi dimana pasukan Kenzaki sendiri yang akan narik paksa Kenzaki mundur karena Kenzaki sudah terluka berat setelah melawan kita.” –Anto

“Jadi maksud lo, kita bikin bosnya sekarat, trus kita bikin anak buahnya yang narik mundur paksa pasukan sama bosnya?” –Gary

“Nah… Eh, tunggu, Kayaknya cara itu agak susah deh. Soalnya Kenzaki pasti bakalan dilindungin sama pasukannya.” –Anto

“Aku rasa kita bisa pakai rencana itu. Yang jadi masalah kita sekarang hanya Gotou (Kamen Rider Birth).” –Shinji

“Mungkin Mihara (Kamen Rider Delta) dan Gou (Kamen Rider Mach) bisa mengurus Gotou (Kamen Rider Birth).” –Hajime

“Bagaimana dengan Riot Trooper?” –Shinji

“Oi, lo lupa sama gue?” –Anto

“Imperialdramon ditambah Kurokage Trooper. Oke, masalah Riot Trooper selesai. Apa lagi lubang di rencana ini?” –Gary

“Gimana kalo rencana ini gagal? Gue belum mikirin rencana cadangannya.” –Anto

“Seandainya rencana ini gagal, kita mundur. Mihara dan Gou akan membombardir area camp ini menggunakan Jet Sliger dan Ride Crosser untuk menutupi jejak kita.” –Chalice

“Oke. Berarti rencana kita sekarang udah lengkap. Sekarang kita bahas peralatan, personil, dan lain-lain.” –Gary

Bayangin coba. Pagi dini hari, gue, Anto, Viny, Ve, Sagha, Shinji, Hajime, dan personil rebel yang lain berusaha keras mempersiapkan semua hal sebelum Kenzaki datang dan menyerang camp ini. Sesuai dengan rencana, langkah pertama kita adalah mengevakuasi warga sipil di camp ini agar mereka nggak jadi korban.

Di camp ini ada sekitar 5 mobil pengangkut dan untungnya semua warga sipil muat di dalam 5 mobil itu. Begitu semua warga udah naik ke mobil pengangkut, rombongan evakuasi langsung jalan. Rombongan dikawal oleh 14 personil Kurokage menggunakan 10 unit kendaraan tempur mereka.

Rombongan warga sipil berangkat dari camp ini sekitar jam 5 lewat lima, dan kita dapet kabar kalo rombongan udah sampe di camp Selatan jam 8 tepat lewat jalur radio antar camp. Dengan sterilnya area camp ini dari warga sipil, kita bisa fokus untuk bertarung habis-habisan siang nanti.

Selama 2 jam ke depan, gue dan temen-temen gue berkutat dengan urusan ranjau yang akan kita pasang sebagai sambutan selamat datang kepada pasukan Regime yang akan datang nanti.

**

Semua ranjau telah selesai dipasang. Selain itu pasukan bantuan yang diminta oleh Hajime dari beberapa camp Rebel lain juga udah dateng. Total personil Kurokage yang akan ikut bertempur nanti adalah 75 orang.

25 orang Kurokage akan menjadi Air Support dengan menggunakan motor terbang, sementara sisanya akan bertarung di tanah. Dari 20 orang yang akan bertarung di tanah, mereka akan dibekali Suika Lockseed.

Suika Lockseed ini akan memberi ke-20 Kurokage itu baju tempur raksasa yang menyerupai buah semangka. Walaupun bentuknya agak aneh, baju tempur ini cukup mematikan karena dilengkapi gattling gun dan juga tombak raksasa. Selain itu, tinggi baju tempur itu sekitar 4x ukuran orang normal.

………………….

“MEREKA DATANG!!!” –Kurokage

Duh, gawat. Persiapan masih ada yang belum selesai. Anto, Gou (Mach) dan Mihara (Delta) langsung bersiap-siap di depan camp untuk menyambut Kenzaki dan pasukannya yang sedang berjalan menuju kesini.

Status musuh berdasarkan laporan seorang Kurokage yang ada di atas menara pengawas adalah, semua personil Regime bersenjata lengkap.

30 Riot Trooper dengan Jet Sliger, 25 pasukan darat yang dilengkapi robot tempur bernama Side Basshar, dan juga total ada 50 lebih Riot Trooper yang mengelilingi konvoi Regime. Prediksi Shinji benar. Hanya Gotou (Birth) yang menemani Kenzaki (Blade), dan mereka berdua berada di tengah-tengah konvoi.

“Imperialdramon, Mach, Delta, dan juga beberapa Kurokage telah pergi meninggalkan markas.” –Ve

Ve ngabarin gue lewat Radio kalo Anto, udah pergi bareng Gou, Mihara dan juga beberapa Kurokage. Ini terlalu awal, tapi mau nggak mau kita harus majuin eksekusi rencana karena kedatangan musuh kita juga bisa dibilang terlalu awal.

Gue kontak Ve lewat radio dan nyuruh dia untuk memotong jumlah Riot Trooper yang menggunakan Jet Sliger dengan misil yang terpasang di sekitar camp. Dengan cepat, Ve melakukan apa yang gue suruh.

Puluhan misil milik pasukan Rebel meluncur lurus ke arah konvoi Regime. Mereka gak mungkin bisa ngeles dari misil-misil itu. Kalau pun mereka berhasil menahan misil-misil itu, mereka tetap akan terkena dampak ledakannya.

Ledakan dari puluhan misil itu cukup dahsyat. Kalo gue taksir secara kasar, mungkin ada sekitar 40 hingga 45 orang pasukan Regime tewas dalam ledakan itu. Inget! Itu baru kemungkinan. Keadaan konvoi masih belum jelas sekarang. Menurut Kurokage yang ada di menara pengawas, keadaan konvoi masih tertutup asap lebat akibat ledakan.

“Shinji, Viny, stand-by di depan! Ini giliran lo berdua.” –Gary

Shinji dan Viny mengangguk dan pergi meninggalkan ruang kontrol. Gue dan Hajime masih sibuk menyelesaikan persiapan terakhir, sebelum kita ikut turun ke lapangan. Gue dapet kabar tiba-tiba dari Kurokage yang ada di menara pengawas, dan kabar itu adalah sebuah kabar buruk.

“PASUKAN REGIME SELAMAT DARI SERANGAN KITA!” –Kurokage

“Apa? Tidak mungkin!” –Hajime

“Mereka sedang dalam perjalanan menuju…. UWAGGHH!!!” –Kurokage

“Menara pengawas, masuk!! Sial… Hilang kontak.” –Hajime

“Hajime-San, Birth berhasil menembak jatuh menara pengawas!” –Ryuki (Shinji)

“Ckh… Gary, pergi lah lebih dulu! Biar aku yang menyelesaikan persiapan disini. Nanti aku akan menyusulmu dan yang lainnya.” –Hajime

Gue pergi meninggalkan Hajime di ruang kontrol sendirian untuk menyelesaikan persiapan terakhir dari rencana kita untuk memukul mundur pasukan Regime hari ini. Semoga rencana ini berjalan dengan lancar tanpa ada kendala.

Dari dalam kepulan asap bekas ledakan misil, satu persatu personil pasukan Regime keluar. Ada yang berubah dari konvoi mereka. Tunggu, kenapa Birth yang awalnya ada di tengah konvoi sama Blade tiba-tiba berpindah tempat ke depan konvoi?

GARY! PERINGATKAN BARRACK! BIRTH AKAN MELEDAKAN TEMPAT ITU DENGAN BREAST CANNON MILIKNYA!” –Ryuki (Shinji)

Jrit! Gue langsung ngasih tau komandan Kurokage yang lagi stand-by di Barrack untuk nyuruh semua pasukannya pergi dari sana. Untung gue masih sempet. Begitu Birth nembakin meriam yang ada di dadanya ke arah Barrack, tempat itu hancur berkeping-keping dalam seketika. Beruntungnya bagi kita, nggak ada satupun pasukan yang jadi korban.

“Semua personil Kurokage maju dan intersepsi semua pasukan Regime begitu mereka masuk zona jebakan!” –Gary

Serentak para komandan pasukan Kurokage menjawab pesan dari walky talky gue dengan kalimat ‘Mengerti!’.

**

Rencana berjalan mulus sejauh ini. Regime udah masuk zona jebakan, dan semua jebakan yang kita pasang di zona itu berhasil mengenai mereka. Jumlah pasukan darat Regime berkurang sebanyak 10%.

Sesuai perintah gue tadi, para Kurokage langsung terjun ke zona jebakan untuk menyerang pasukan Regime yang tengah acak-acakan karena kena jebakan kita.

Delta, Mach, dan Anto berpisah untuk mengejar target mereka masing-masing. Delta dan Mach berhasil menarik Birth jauh-jauh dari Blade, sementara Anto dan Imperialdramon bersama pasukan Kurokage tengah mengurus para Riot Troopers yang berterbangan maupun yang ada di darat.

“Blade (Kenzaki) berhasil lolos dari zona jebakan dan dia tengah berjalan menuju camp bersama 3 orang Riot Trooper yang menaiki Side Basshar, dan 2 orang Riot Trooper dengan Jet Sliger.” –Ryuki (Shinji)

“Vin, urus yang naik Jet Sliger. Shinji, urus yang pake Side Basshar. Gue bakalan nahan Blade sampe Hajime dateng. Kalo lo berdua udah selesai dengan urusan masing-masing, langsung pergi ke tempat gue. Gue nggak mungkin bisa mukul mundur Blade sendirian.” –Gary

Ryuki (Shinji) dan Viny menaiki Dragreder masing-masing dan maju menyerang target mereka. Riot Trooper yang mengikuti Blade berhasil dipisahkan oleh Ryuki dan Viny, sekarang tersisa Blade sendirian yang masih melaju dengan motornya ke arah camp. Gue udah berdiri tegap dengan GN-Sword di tangan untuk menyambut kedatangannya.

Begitu Blade udah ada di jarak pandang gue, gue langsung bersiap mengangkat pedang gue. Blade semakin dekat, dan ketika motornya hendak melewati gue, gue langsung melayangkan serangan gue ke arah perut Blade. Serangan gue kena tepat sasaran dan Blade langsung terjatuh dari motornya.

“Kurang ajar! Aku kira kau adalah teman.” –Blade (Kenzaki)

“Gue juga ngira lo begitu. Sampai akhirnya gue tau semua sifat busuk lo dari Hajime.” –Gary

*TRANG!!!*

“Apa yang kau tau tentang domainku? Beritahu aku, apakah kau rela melakukan apa saja untuk mempertahankan orang-orang di domainmu agar tidak menjadi korban dari perang antar dunia ini?!!” –Blade (Kenzaki)

“Iya, tapi apa dengan cara ngambil kebebasan orang lain adalah solusi yang terbaik?!! Nggak kan?!!” –Gary

“DIAM KAU!” –Blade (Kenzaki)

*BUM!!!!*

“Akan aku lakukan apapun, untuk melindungi domainku. Meski harus merenggut hak mereka. Semua ini demi keselamatan mereka.” –Blade (Kenzaki)

Kenzaki…

Kayaknya Hajime bener soal lo. Sekarang ini tujuan lo bukan berdasarkan niat murni lagi, tapi obsesi berlebihan karena trauma lama yang lo alamin.

Blade memutar slot kartu pada pedangnya. Dia mengambil sebuah kartu pada slot itu dan menggesekannya pada pedangnya.

“TIME!” –Rouzer

“Ugh… Kenapa nih? Kok badan gue jadi berat begini?” –Gary

“Akan ku bungkam mulutmu sekarang.” –Blade (Kenzaki)

Blade mengambil satu kartu lagi dari dalam slot kartunya, dan menggesekan kartu itu pada pedangnya. Ugh! Sial! Kayaknya serangan pamungkasnya mau keluar nih. Mana gue nggak bisa gerak lagi sekarang.

“BEAT!” –Rouzer

“HOAAA!!!!” –Blade (Kenzaki)

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Iklan

3 tanggapan untuk “X-World (Pt.40) : Rebel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s