Zombie Attack, Part 2 : Awal dari mimpi buruk

 

Dendhi, Letnan Adi, dan Letnan Slamet baru saja mendarat dengan selamat di Spanyol, mereka kini di sambut oleh Kepala kepolisian di Spanyol

“How was your trip?” tanya Pedro, kepala kepolisian di Spanyol

“a little tired sir” kata Dendhi sambil tertawa

“I’ve contacted by Melody that a very special agent will be here due to infiltrate the village (saya telah di hubungi oleh Melody bahwa akan ada Agen Spesial yang akan membersihkan desa di negara kami)” kata Pedro

“So, you are the special Agent? (Jadi, apa kamu agen special itu?)” tanya Pedro lagi

“No, I’m just a member of President security forces (Tidak, saku Cuma anggota Pasukan Pengaman Presiden)” kata Dendhi terkekeh.

“Yes he is (Ya, itu dia)” kata Letnan Adi

“Ayolah Den, jangan merendah” kata letnan Slamet

“You will be escorted by officer Marco to the f*cking Village as soon as Possible (Kamu akan diantar oleh petugas Marco ke desa keparat itu secepatnya)” kata Pedro

“But, before you leave this office, I want to tell you that your President is died because he had been shot in the head by the Villager (Tapi sebelum kamu berangkat, saya ingin memberitahukan kepadamu bahwa presiden mu meninggal karena di tembak di bagian kepala oleh penduduk desa)” kata Pedro

Perkataan dari Pedro membuat mental Dendhi langsung down, dia kan di sini untuk melindungi presiden dan anak nya. Kini presiden nya telah meninggal, sebuah panggilan skype tiba-tiba masuk dari handphone yang diberikan oleh Melody.

“excuse me sir, I want to answer this calling” kata Dendhi

Dendhi mengangkat panggilan itu

Veranda : Hai, nama ku Veranda, aku akan menjadi membantu mu menjalan kan misi ini, apa kah suaraku terdengar. Panggil aku Ve

Dendhi : Keras dan jelas Ve, aku kira kamu lebih tua

Veranda : Misi mu dirubah, selamatkan anak presiden

Dendhi : nama nya Michelle Christo kan? Presiden sudah meninggal.

Veranda : Presiden tidak meninggal, yang meninggal itu Ilham, Presiden baru saja menghubungi Istana Negara. Oh iya, Michelle itu anak Presiden, jadi jaga sikapmu ya?

Dendhi : iya, siapapun kelompok ini, mereka pasti salah memilih gadis untuk di culik.

Veranda : Aku akan mencoba untuk mencari informasi lebih tentang mereka.

Dendhi : Good, Talk to you later. I’m out.

 

Dendhi menutup panggilan nya.

“Sir, my president is still alived, he is in Indonesian Embassy. He had Contacted our National Palace (Pak, Presiden saya masih hidup. Dia di kedutaan besar Indonesia, dia baru saja menghubungi Istana negara)” kata Dendhi

“Okay, I will make sure of that, Officer Marco. Please take him into the Village (Oke, aku akan memastikan nya, petugas Marco, antar dia ke Desa itu)” Kata Pedro

“Okay sir, Mr. Dendhi. This way (Baik pak, pak Dendhi, lewat sini)” ujar Marco

Dendhi kini mengikuti Marco, mobil itu perlahan-lahan meninggalkan kota Madrid. Menuju ke desa, perjalanan ke desa itu membutuhkan waktu sekitar empat jam. Selama perjalanan. Dendhi membawa empat Handphone untuk berjaga-jaga apabila salah satu dari handphone itu kehabisan daya. Maka ia masih bisa melaporkan situasi terkini nya di Jakarta. Dan iPod berwarna Hitam yang setia menemani kemanapun ia pergi

Empat jam berlalu. Dendhi kini sampai di jalanan ke desa.

“sir, please take a walk into that road (Pak silahkan jalan)” ujar Marco

“Opo-opo an rek wong iki, aku di kongkon mlaku ning deso? (Apa-apaan orang ini, aku di suruh jalan kaki ke desa)” ujar Dendhi dalam Bahasa Jawa

“Did you say Something (Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya Marco

“Nothing, I will check Arround (Tidak ada, aku akan mengecek keadaan sekitar)” kata Dendhi.

Dendhi mulai berjalan berjalan menyusuri desa, ada rumah tak jauh dari dia, namun seseorang melihat ke arah Dendhi.

“Itu ada rumah, bentar. Aku coba tanya dulu ke. Mungkin ada penghuni nya” kata Dendhi dalam hati

Dendhi masuk ke dalam rumah itu. Terlihat ada seorang pria paruh baya sedang menghangatkan diri di perapian, posisi dari pria itu membelakangi Dendhi

“excuse me, sir (Permisi pak)” ujar Dendhi sopan.

Tak ada jawaban, Dendhi lalu berjalan mendekat ke arah orang itu, ia lalu memperlihatkan foto itu kepada kedua orang itu

“Do you know where is the girl in the Photograph (Apakah bapak tau di mana gadis yang ada di dalam foto ini)?” tanya Dendhi sopan.

Namun si lawan bicara nya malah menjawab menggunakan Bahasa Spanyol, namun dari nada bicaranya, orang itu seperti nya marah dengan Dendhi

“Kampret wong iki, aku takon nggawe boso Inggris, malah di jawab nggawe boso Spanyol (Kampret orang ini, aku tanya pakai Bahasa Inggris, di jawab pakai Bahasa Spanyol)” kata Dendhi dalam hati

“Sorry if you’re getting angry (Maaf jika anda marah pak)” ujar Dendhi yang lalu memasukkan lagi foto itu ke dalam tas nya, orang itu mengambil sesuatu yang ternyata adalah kapak. Dia nyaris saja mengenai Dendhi.

“Freeze” ujar Dendhi yang lalu menodong kan pistol nya

Namun orang itu masih tetap berjalan mendekati Dendhi

“I said Freeze” Dendhi membentak orang itu.

“Aku gak punya pilihan lain” kata Dendhi dalam hati

Dendhi lalu Pistol itu di tempatnya, dan mengambil pisau yang ada di rompi nya. Ia berlari ke arah orang itu, dan

CRAATS…

Kepala orang itu tertancap pisau, dan orang itu jatuh terkapar. Persis setelah orang itu jatuh, suara deru mobil terdengar, lalu terdengar suara kepanikan dari officer Marco. Dan…

BRRAAAK..

“Shit” ujar Dendhi

Lalu ada panggilan masuk

Veranda : apakah semuanya baik-baik saja?

Dendhi : ada orang desa yang ingin menyerangku. Aku nggak punya pilihan selain melumpuhkan dia, tebakanku, masih ada banyak yang seperti dia di luar sana

Veranda : keluar dari sana dan cepat ke Desa, lakukan apapun tindakan untuk melindungi Michelle

Dendhi : Understood

 

Dendhi yang kaget dengan itu semua langsung berlari ke tempat di mana mobil officer Marco. Terlihat ada bekas ban di tanah, dan bekas ban itu menghilang di jurang.

“Semoga petugas itu masih sempat melarikan diri.” Ujar Dendhi dalam hati.

Dendhi lalu melanjutkan perjalanan nya ke desa itu, baru lima menit berjalan Dendhi melihat serigala yang terjebak perangkap warga desa. Dendhi yang kasihan melihat itu langsung melepaskan serigala itu.

“aku harus cepet nemuin Michelle dan keluar dari desa jahanam ini”ujar Dendhi dalam hati.

Sebuah panggilan masuk, namun bukan dari hp yang di beri oleh Melody, melainkan hp pribadi nya.

“Shania Gracia Calling”

Tanpa pikir panjang ia lalu mengangkat panggilan itu.

Gracia : haii kak, apa kabar

Dendhi : Baik, bentar ya

Dendhi lalu mencolokkan headset ke Hp nya, namun ia sengaja hanya memasang satu headset, sedangkan yang lain nya di biarkan menjuntai.

Dendhi : Apa Gre?

Gracia : kakak lagi apa?

Dendhi : aku lagi di desa terpencil. Doain aja supaya aku bisa nemuin anak Presiden dan cepet keluar dari desa kampret ini

Gracia : doaku selalu untukmu kak

Dendhi : udah dulu ya, nanti aku telpon lagi

Dendhi menutup telponnya. Baru saja tiga langkah. Dendhi melihat wanita menggunakan pakaian merah.

“Waiit” ujar Dendhi, namun wanita itu menggunakan hook gun nya dan dalam waktu sekejap wanita itu sudah menghilang dari pandangan nya

“untung aku nggak di kejar sama Dendhi” ujar wanita itu

Lalu ada panggilan masuk di hp wanita itu

“Anto Teo calling”

Wanita itu langsung menerima panggilan itu

“Posisi lu di mana?” tanya Anto

“Aku lagi ada di desa yang kamu sebutin to” ujar Viny pelan.

“Aku tadi nyaris ketahuan sama Dendhi” ujar Viny lagi

“Apa?? Dendhi?? Dendhi Yoanda maksud lu?” tanya Anto kaget

“iya” ujar Viny

“Lu kalo bisa jangan sampe ketahuan sama dia” ujar Anto tegas

“Oke, aku tutup dulu. Bye” ujar Viny yang menutup telponnya

“Ini anak kebiasaan nutup panggilan seenak jidatnya” ujar Anto sebal

 

“Itu anak kayak pernah kenal, tapi di mana ya?” kata Dendhi dalam hati.

“masa bodo lah, itu mungkin Cuma imajinasi ku doang” ujar Dendhi lagi

Tepat di depan Dendhi ada pintu. Rasa penasaran yang besar mendorong Dendhi untuk membuka pintu itu. Dia lalu berjalan. Dan ternyata ia sudah sampai di desa. Ia sembunyi-sembunyi melihat keadaan desa. Ada satu yang menarik perhatiannya

“ya ampun, itu kan officer Marco” kata Dendhi dalam hati.

Dia melihat officer marco di tangkap oleh warga desa dan akan di penggal, ia mendengar bahwa Officer Marco berbicara, namun Dendhi tak mengerti artinya, karena officer Marco berbicara menggunakan Bahasa Spanyol. terlihat di sana seorang warga desa menyalakan gergaji mesin. Dan

CRRAT

Kepala officer Marco terjatuh di tanah.

Lalu kerumunan warga desa itu menunjuk ke arah Dendhi.

“Shit, aku ketahuan.” Kata Dendhi sebal. Dia lalu mengeluarkan sniper Dragunov. Dan..

DAAR

Kepala salah satu orang desa itu pecah karena tertembak oleh Dendhi.

Lalu ia mengeluarkan tembak Pistol nya, dan mulai menembaki warga desa itu.

Baru saja tiga tembakan. Pistol nya kehabisan peluru.

“Shit, I’m out of ammo” ujar Dendhi

~oOo~

“Dendhi” ujar Viny sambil tersenyum dari tempat persembunyian nya

Terdengar suara langkah kaki mendekati Viny, viny menoleh ke belakang, dan ternyata itu adalah warga desa yang siap menyerang Viny dengan Pisau dan kapak. Dengan cepat Viny menembak kepala nya dengan pistol yang sudah di lengkapi dengan Peredam suara.

Di leher salah satu orang yang tertembak oleh Viny tergantung sebuah kunci yang ternyata di gunakan untuk masuk ke dalam gereja.

“kalo dari buku yang aku baca, orang-orang di desa ini akan ninggalin desa dan berkumpul di gereja ini kalo lonceng di gereja ini bunyi” kata Viny dalam hati

“aku harus ngelakuin ini supaya Dendhi tetap hidup” ujar Viny yang mengambil kunci itu dan berlari ke arah gereja. Dia dengan cepat masuk ke dalam pintu itu dan ternyata ada tiga orang yang berjaga di dalam gereja itu.

“Cuma tiga orang? Seharus nya mereka bawa orang lebih” ujar Viny tertawa sinis. Dia mengeluarkan pisau dan menyerang tiga orang itu. Tiga orang itu dengan sukses mati di tangan viny

~oOo~

“aku harus sembunyi” ujar Dendhi sambil masuk ke dalam satu rumah, menutup pintu nya. Dan menahannya dengan lemari.

Suara keributan warga desa itu terdengar makin keras. Dan tiba-tiba deru gergaji mesin terdengar kembali

“Shit.. aku harus ngapain?” tanya Dendhi.

Dia langsung berlari menuju ke lantai dua. Pandangannya tertuju ke arah Shotgun lengkap dengan peluru nya yang ada di tempat tidur. Ekspresi wajah yang awal nya kebingungan langsung berubah menjadi senyuman sinis.

Diambil nya shotgun beserta peluru itu.

 

CETAR…

 

Suara kaca di lantai dua, warga desa itu menggunakan tangga untuk naik ke lantai dua. Dengan sigap Dendhi langsung melemparkan tangga itu.

BRAAAAK…

 

Pintu yang di tahan dengan lemari oleh Dendhi akhirnya jebol juga. Para warga desa itu masuk ke rumah di mana dendhi bersembunyi. Tak ada pilihan lain, Dendhi langsung meloncat dari lantai dua. Dia sudah menodongkan Shotgun nya. Dan tiba-tiba…

 

TENG…TENG….TENG….TENG…TENG…

 

Lonceng di gereja berdentang dengan kencang, seakan-akan memanggil warga desa itu untuk ke sana. Tempat yang awalnya ramai tiba-tiba sepi seperti tak berpenghuni.

 

Sebuah panggilan masuk…..

 

*To Be Continued*

Iklan

18 tanggapan untuk “Zombie Attack, Part 2 : Awal dari mimpi buruk

  1. Cie ada yg niruin, yakin mau niruin ane update tiap hri?
    wkwkwk, gk sanggup kyk nya ente. Tugas ank SMP sma ank kuliahan beda bang. Ank SMP dikit pr nya :v jdi pnya wktu bnyk bwt nulis ff

    Suka

  2. ini jalan crita nya kek resident evil 4
    bisa gue tebak pasti si vint jdi ada wong
    tpi good lah crita ny
    sran gue , ubah sdikit alur nya jgan prsis d Re4

    Suka

  3. gue jdi hung aja dh wkwk
    gue cmn pengoment bukn seorang author
    jdi klo menurt gue sih gini yh plot nya
    lu terinspirasi dari re4 jlan cerita nya dikasih dramatis gtu , trus hem lu prnah nnton the walking dead atay nda umbrella yg brhubungan sma zomvie trus lu kasih sdkit bumbu romance nya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s