Serangan Titan : Impianku, Part 1

“Rusdi! Rusdi!” panggil Naomi di depan rumah Rusdi.
“Dimana dia?” sambung Naomi.
“Dia pasti ada di perbatasan!” Epul berlari ke bukit timur, disusul oleh Naomi.

Epul dan Naomi berlari ke perbatasan antara dua kota. Benar saja,
ternyata Rusdi sedang berdiri diatas sebuah bom besar yang sudah
rusak. Rusdi sedang melamun, menatap jauh ke depan. Ia selalu
membayangkan hidup di luar dinding, ingin melihat lautan yang luas.

“Rusdi!” panggil Naomi, lalu Rusdi menengok.
“Ada apa?” tanya Rusdi, Naomi hanya tersenyum.
“Itu berbahaya, turunlah!” ucap Epul.

Saat Rusdi hendak turun, tiba-tiba ia terpeleset. Ia terjatuh dari atas bom itu.
“Rusdi!” Naomi membantunya berdiri.
“Aww…” rintih Rusdi.
“Itu sangat berbahaya, bagaimana kalau meledak?” tanya Epul.

Rusdi perlahan bangun, menepuk-nepuk celananya yang kotor.
“Ya hancur!” jawab Rusdi.
“Aku tidak keberatan kalau bom itu meledakkanku!” sambung Rusdi.

“Rusdi, sebenarnya apa yang kau inginkan?” tanya Naomi.
“Aku selalu membayangkan hidup diluar dinding! Aku ingin melihat
lautan yang luas!” Rusdi kembali menatap kosong Wall Maria, sementara
kedua temannya hanya diam.

“Aku juga ingin pergi keluar, melihat lautan yang luas bersamamu!”
Naomi tersenyum, berdiri di sebelah Rusdi.
“Mungkin diluar sana ada Surga!” Rusdi tersenyum menatap mereka berdua.

“Kita harus kesana! Keluar dinding!” Rusdi tersenyum menatap wajah
kedua temannya.
“Apa? Bagaimana dengan para Titan itu?” tanya Epul

“Kau percaya pada legenda itu? Omong kosong! Sudah 100 tahun berlalu
sejak terakhir kali Titan menyerang, dan kita hanya sembunyi tanpa tau
keberadaan Titan. Mungkin mereka sudah binasa!” Rusdi menyeringai.

“Lalu, bagaimana kita bisa melewati tentara-tentara yang berjaga
disana?” tanya Epul.
“Nanti akan kujelaskan, sekarang kita harus kesana dulu!” Rusdi lalu
berlari kearah Wall Maria, diikuti oleh Naomi dan Epul.

Rusdi dan kedua temannya mengendap-endap melewati para tentara yang
berjaga di Wall Maria. Melewati kabut tebal disana. Sesampainya
disana, Rusdi hendak memanjat dinding setinggi 50 meter itu. Tapi dua
orang tentara meneriakinya.

“Hey! Apa yang kalian lakukan? Sangat berbahaya kalian bermain
disini!” kedua tentara itu menyeret paksa Epul dan Naomi, sementara
mereka hanya meronta-ronta.

“LEPASKAN MEREKA!!!” Rusdi berteriak, lalu menendang wajah salah satu
tentara itu hingga ia terjengkang.
“Beraninya kau!” tentara satunya menghampiri Rusdi, hendak menangkapnya.

Tapi tiba-tiba Wall Maria bergetar hebat, membuat mereka semua terkesiap.
“Gempa bumi!” seru Epul.
“Tidak! Ini lebih besar dari gempa bumi!” jawab tentara yang tadinya
terjatuh, kini ia sudah bangun.

Tiba-tiba asap mengepul dari balik dinding, lalu terdengar suara auman
besar. Tiba-tiba sosok Titan Kolosal muncul dari balik asap. Ia lebih
tinggi dari Wall Maria.
“Uuuuuuuuuu!” suaranya berat.

Seketika mereka semua terkejut melihat ada Titan yang lebih tinggi
dari Wall Maria. Bukankah Titan paling tinggi 15 meter? Tapi tinggi
Titan itu melebihi dinding yang tingginya 50 meter.

Titan Kolosal itu menendang-nendang Wall Maria. Mereka terkejut, lalu
berlari menjauh. Hanya dalam lima tendangan, dinding itu jebol. Titan
Kolosal berhasil melubangi Wall Maria dengan lima tendangan, membuat
lubang besar disana.

Tiba-tiba Titan Kolosal menghilang dalam kepulan asap. Senyap
seketika, kabut terlalu tebal disana. Tentara-tentara yang berjaga
disana terkejut karena Titan Kolosal berhasil menjebol Wall Maria.

Dari balik kabut tebal itu, muncul para Titan bergerombol masuk dari
lubang itu. Itulah pertama kali mereka melihat Titan secara langsung,
sekaligus itulah awal bencana yang akan terjadi selanjutnya.

“Lihat wajah mereka! Ternyata legenda itu benar!” Epul panik.
“Mereka abadi!” sambung Rusdi.
“Ayo!” Rusdi menarik tangan Naomi, mereka bertiga lari dari kawasan itu.

BERSAMBUNG

@RusdiMWahid Juniornya Shinta Naomi ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s