Fiksi dan Fakta part 32

Pagi kembali datang, sinar matahari pagi serasa memaksa untuk menembus kaca jendela kamar. Semuanya sudah terbangun, sebenarnya baru saja terbangun.

“Hah?!” Kaget Mike.

Semuanya melihat kearah Mike.

“Sstt..” Jaka meletakkan jari telunjuknya di bibir, mencoba menyuruh Mike agar tetap tenang.

“Tapi.. tapi gimana?” Tanya Mike.

Kelpo menggeleng-geleng.

“Jak, Kita harus ngapain? Mereka udah komplit lagi..” Ucap Bobby lesu.

“Hmm.. gini ya, selama kita gapunya masalah ama Fuu, gue rasa kita
aman.. Posisi mereka yang juga udah alum-“

“Wait? jangan bilang kalo mereka alumni, jadi bang Sony juga harus ikut campur?” Potong Mike sambil menatap Jaka serius.

“Entahlah..” Balas Jaka sambil berdiri melihat keluar jendela kamar tersebut.

“Apa kita harus terus enjoy ama liburan ini?” Tanya Bobby pelan.

Semuanya bingung, sangat tidak dewasa jika terus larut dalam masalah bodoh seperti ini. Hanya saja, masalah bodoh justru menciptakan sedikit kekacauan yang semua orang kutuk, Pastinya seperti kekacauan beberapa tahun yang lalu.

“Baiklah, inget kata bang Sony?” Jaka menghela nafasnya dan mulai
tersenyum tipis.

“Yang mana?” Tanya mereka bertiga nyaris bersamaan.

“Apapun yang terjadi, ‘Si Kembar Pengusik’ yang harus disingkirkan..” Jaka tersenyum lebar.

“Nope! ‘Si Kembar Pembunuh’!” Teriak Mike keras.

“Sssttt-_- rusuh lu!” Jarak Kelpo yang berjauhan dengan Mike, membuat Kelpo tak bisa menjitak Mike.

“Hmm.. kayanya bukan cuma kembar itu, Jak. Blok Iman?” Tanya Bobby lagi, buat Jaka kembali berpikir.

“Yap! Nice, Bob! Mereka juga! Hmm.. jangan terlalu keras, kita harus liat gimana endingnya diatur..” Jawab Jaka disertai anggukan dari yang lainnya.

Hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Punya kesan tersendiri, namun tidak terlalu ‘wah’ untuk siapapun yang sedang menjalaninya. Bali diguyur hujan. Buat Viny terus meringkuk dibawah selimut tebalnya.

“Siapapun! Ambil kompres! Obat! Cepet!” Teriak Mike keras.

Shania dan Andela yang mendapatkan perintah, segera mengambil apa-apa saja yang telah diperintahkan Mike.

“Mike? ada apa?” Tanya Bobby dan Jaka yang segera masuk.

Mike melirik kearah kasur, buat Jaka, Bobby dan Kelpo yang baru datang langsung paham.

“Michelle ama Elaine kemana?” Tanya Jaka pada yang lainnya.

“Mereka pergi buat belanja keperluan.” Jawab Kelpo cepat.

“Kok lu ga ikut? jagain mereka lain kali..” Ucap Jaka kesal.

Kelpo hanya mengangguk.

“Ini, Mike..” Ucap Andela yang datang membawa kompres, diikuti Shania yang membawa kotak berisi obat-obat.

“Yap, terimakasih..” Sambut Mike cepat dan langsung mendekat ke Viny.

“Ehh?” Batin Jaka risau.

“Kenapa? Mike?” Kelpo berkata dalam hati.

Bobby yang tau bahwa Mike telah memiliki kekasih, merasa sangat kaget. Perhatian yang bahkan melebihi
perhatian seorang pacar.

“Ma..makasih, Mike..” Ucap Viny lirih.

“Badan kamu panas banget. Vin, kamu harus sembuh.. dan pasti sembuh..” Mike tersenyum, dan dibalas pelan oleh Viny.

Semua yang berada di ruangan itu, hanya menyaksikan momen Viny dan Mike tanpa berkata sepatah kata pun. Emm.. lebih tepatnya ‘Kemesraan’, bukan ‘Momen’.

*Skip

Mike mulai meninggalkan kamar tersebut kala Viny terlelap ditengah hujan yang mulai mereda.

“Kami pulang!” Teriak Elaine semangat.
“Hey! Beli apa aja, nih?”  Sambut Jaka sambil menyambut kantong belanjaan yang dibawa Michelle.

“Itu ada cemilan-cemilan, kalian suka ngemil kan?” Tanya Michelle sambil menaikkan alis sebelah kirinya.

“Hahaha.. Sugoi!! tau banget nih..” Mike merampas belanjaan yang digenggam oleh Jaka.

“Mike-_-” Malas Jaka diikuti tawaan dari Michelle.

“Hehehe.. canda Jak. Chel, obat yang aku pesen tadi ada?” Tanya Mike yang mulai serius.

“Ehh.. ada nih.” Michelle memberikan kepada Mike.

“Arigatou!” Mike menerima sambil sedikit membungkuk ala Jepang :v

“Iya, sama-sama. Ehh, aku mau liat keadaan Viny dulu, ya..” Michelle pun berlalu.

“Yap, Chel. Hati-hati, dia lagi tidur..” Ucap Mike mengingatkan.

Michelle mengangguk. Lalu, Jaka mengajak ke-4 temannya untuk mengobrol di lantai 2.

Hari itu, mereka habiskan dengan banyak sekali cerita. Mike yang terus menanyakan keadaan Viny, mulai menumbuhkan perasaan takut di hati Elaine. Takut hati Mike direnggut.

*Skip

2 hari berlalu. Ini adalah hari terakhir mereka di Kuta. Keadaan Viny yang sudah membaik, membuat semuanya lega.

“Mike..” Panggil Elaine manja.

“Iya?” Toleh Mike dengan ekspresi konyolnya.

“Kamu masih sayang kan sama aku?” Pertanyaan yang bingungkan Mike.

“Ehh.. kok nanya gitu sih, tuan putri?” Mike mendekati Elaine.

“Mike..” Elaine bersandar di lengan Mike.

“Iya..?”

“Jawab.. >_<” Ucap Elaine lagi.

“Hahaha.. masihlah. Dan akan selalu begitu..” Mike mengusap lembut kepala Elaine. Menyentuh setiap helai rambut indahnya itu. Tubuh Mike yang lebih tinggi dari Elaine, membuat Mike
dapat dengan mudah melihat semua pola yang tergambar diwajah Elaine.

“Kamu bohong Mike..” Bisik Elaine dalam hati.

Mike menyadari senyuman palsu yang teraut diwajah Elaine. Mereka bukanlah pasangan baru, bahkan keduanya saling memahami perasaan masing-masing tanpa harus bertanya langsung.

“Yo, Mike! Len!” Teriak seseorang dari seberang, kagetkan Mike dan Elaine.

Mike dan Elaine menoleh, terlihat seorang Bobby sedang berdiri sambil melambai-lambaikan tangannya.

“Mike?” Panggil Elaine pelan.

“Yok?” Mike menyodorkan tangannya, namun Elaine hanya mengangguk
tanpa menggandeng tangan Mike.

Mereka mendekati Bobby.

“Ada apa, Bob?” Tanya Mike cepat.

“Hmm.. gini. Jadi besok kita udah ninggalin Kuta kan?” Tanya Bobby dibalas dengan anggukan dari Mike dan Elaine.

“Sip, jadi nanti sore, Gue udah dikasih tau Jaka kalo kita bakal fotbar sebelum pulang..” Lanjut Bobby lagi.

“Fotbar? lagian masih 4 hari kita disini-_-” Mike menepuk jidatnya.

“Lah-_- ngomong ke Jaka sono, lagian mumpung masih deket bolak-balik pantai.” Balas Bobby lagi.

“Hadeh.. meni gel-”
“Adaww!” Teriak Mike keras, kala Elaine mencubit perut Mike yang membuat perkataannya itu terpotong.

“Hahaha..” Bobby tertawa keras.

“Sakit Len.. -_-” Mike terus memegangi perutnya.

“Huuu.. kamu sih, kebiasaan ngejek orang!” Balas Elaine sambil melipat tangannya dan mengerucutkan bibirnya.

“Ciee.. ngambek cie.. nanti jeleknya ilang, baru tau rasa..” Goda Mike yang mencolek-colek dagu Elaine.

“Kamu tuh ya! Minta maaf cepet!” Perintah Elaine lagi.

“Lah? kan Jaka juga ga denger kali-_-“

“Engga! sama Bobby tau, huuu..” Lanjut
Elaine lagi.

“Lah, kan aku ga-“

“Pletak!” Jitak Kelpo yang datang dari belakang, buat tawa Bobby makin keras.

“Oy Bang-“

“Ape?!” Bentak Kelpo sambil mendongakan kepalanya.

“Dasar sereal, gue kira siapa-_-” Malas Mike lagi.

“Hahaha.. liat nih Po, dibilangin cewenya malah ngeyel..” Lapor Bobby seraya tertawa.

“Serius Len? masih tahan aja ama dia :v putus aja enak.” Balas Kelpo sekenanya sambil merangkul kepala Mike.

“Apaan dah-_-” Tepis Mike yang malas.

“Tau ah, lama-lama aku putusin juga.. apalagi sekarang udah-” Ucapan Elaine terhenti.

Bobby dan Kelpo menghentikan tawanya.

“Len? Udah apa?” Bingung Mike sambil menatap mata Elaine serius.

“Eng..engga. Cuma bercanda tadi..” Elaine tertunduk.

Kelpo dan Bobby berhenti melanjutkan candaan mereka.

“Emm.. maaf? Gue permisi dulu..” Mike meninggalkan Elaine, Bobby dan Kelpo.

Bobby dan Kelpo hanya saling tatap.

“Len, kami nyusul Mike dulu. Permisi,” Pamit Bobby yang mewakili Kelpo.

Entah, Elaine begitu menyesal. Mike sangat memikirkan perkataan Elaine yang terhenti itu. Menyuruh Elaine melanjutkan perkataannya adalah hal yang sia-sia, namun menghubung-hubungkan sambungan kata yang terhenti dari Elaine itu, bahkan lebih dari sia-sia.

“Mike? lu gapapa?” Tanya Kelpo pelan.

Mike duduk terhenyak membiarkan deburan ombak menerpa ujung kakinya.

“Ayolah, bro.. gue gapernah larut dalam masalah..” Ucapan Mike itu hanya dibalas senyuman dari Kelpo dan Bobby.
Mereka memulai cerita pagi itu. Tentunya, cerita akan terus seru karena dibumbui candaan khas mereka.

*Skip

“Wah, itu mereka!” Seru Jaka dalam hati.

Jaka mendekati Kelpo, Bobby dan Mike yang tampak sedang duduk bersama dipinggiran pantai sambil bercanda gurau.

“Yo, Jaka!” Sambut mereka semua.

“Yoyoy!” Balas Jaka dan ikut berkumpul.

“Ada apa, Jak?” Tanya Bobby cepat.

“Yah, lumayanlah.. beberapa berita heboh, hahaha..” Tawa Jaka yang
masih dibalas dengan tatapan bingung dari teman-temannya itu.

“Maksudnya, Jak? berita apa?” Lanjut Kelpo bertanya.

“Pertama, Ini hari terakhir kita. Kedua, Elm Street Circus tur keliling pulau Jawa. Ketiga, Joey dah balik.” Tuntas Jaka.

“Hah?!” Mike sangat kaget.

“Jak?” Panggil Kelpo pelan.

“Ya, Po?” Jaka menoleh sambil tersenyum.

“Joello Midokaze?” Tanya Kelpo memastikan.

Jaka hanya mengangguk.

Kelpo dan Mike tertunduk.

“Dia siapa, Jak?” Tanya Bobby bingung.

“Dia itu.. mantan murid Voltovs International School..” Balas Jaka.

“VIS itu yang di Jakarta kan?” Tanya Bobby lagi.

“VIS itu bekas sekolah Fuuto, Keihl, Sagara, Dan 2 bersaudara..” Lanjut Jaka lagi.

“Gausah panjang-panjang atuh pembahasannya..” Mike memotong percakapan Bobby-Jaka.

Semuanya menatap Mike.

“Joey itu ‘The Hunter Magician’, kalian inget kan?”

“Plak!” Bobby menepuk jidatnya.

“Gue lupa! astaga!!!” Kesal Bobby kala teringat.

“Hooh..” Jaka melihat kearah pemandangan pantai.

“Show terbaik deh, gabisa dibantah sih.. Blok Fuuto emang blok tergila skill dan triknya..” Kagum Kelpo dibalas dengan anggukan dari yang lainnya.

“Hahaha.. dah jam 1, mending kita main bola pantai yok?” Ajak Mike sambil tersenyum lebar, begitu konyol.

“Ayok!” Teriak Bobby dan Jaka bersamaan.

“Ahh, males ahh..” Keluh Kelpo.

“Ele, takut lu! cemen!” Seru Mike.

“Ayo, siapa takut?! dasar Saurus!”
Kelpo segera bangkit.

Tawa tak pernah lepas dari wajah mereka. Mereka begitu menikmati liburan ini.

“Ahh, hp Zaqa ketinggalan..” Shania melihat HP Jaka yang tergeletak. Terlihat notifikasi masuk dari seseorang bernama Veranda.

“Ahh, gaada masalah kali ya..” Shania diam-diam membuka SMS tersebut.

“Razaqa>.< aku berangkat besok): mendadak pulangnya.. ada saudara aku bru pulang dr luar negri^^ malem ini aku tunggu ya(: – Ve” Pesan singkat yang kagetkan Shania. Timbul segudang pertanyaan didiri Shania.

“Veranda? Ve? tunggu? dia siapa?” Shania menaruh kembali hp Jaka.
*Skip

Sore telah datang. Foto bareng telah selesai. Mereka tertawa bersama. Seorang Shania tampak berdiri sedikit jauh dari kerumunan. Jaka masih berselfie ria dengan kedua temannya. Wait, kedua?.

“Hei!” Sapa seseorang dari belakang Shania.

“Ehh, Bobby?” Toleh Shania kaget.

“Ini diminum..” Bobby menyodorkan segelas es jeruk kepada Shania.

“Ehh makasih..”

“Kok disini? ga kesana?” Tanya Bobby tersenyum.

“Hehehe.. engga bob, panas disana..” Shania beralasan.

“Ohh.. malem ada acara? aku mau nga-“

“Maaf Bob..” Shania memotong perkataan Bobby, lalu membungkuk.

“Ehh?” Bobby bingung.

“Malem ini, aku mau pergi ke suatu tempat..” Ekspresi serius diwajah Shania, buat Bobby bingung.

“Kamu mau kemana emang? mau aku anter-“

“Maaf, Bob. Tapi menurut aku ini privasi..” Potong Shania lagi.

Bobby tersentak. Anehnya, respon Shania begitu ketus. Bobby mengalah.

“Aku permisi dulu ya..” Shania meninggalkan Bobby yang masih
memikirkan perkataan Shania barusan.

“Sok..” Bobby mempersilahkan.

“Dia mau kemana ya? Hmm.. ikutin atau engga ya?” Bobby bertanya dalam hati.

“Bob! Sini!” Panggil Jaka diikuti panggilan dari Mike dan Kelpo juga.

*Skip

Malam telah datang, Andela dan Kelpo memutuskan untuk ke pantai duluan, namun bukan Kuta. Kelpo menyebutnya dengan ‘Kau-Tau-Tempat-Dinner-Terbaik’.

“Ndel..” Panggil Kelpo pelan.

“Iya, Vin?” Andela menatap Kelpo. Eyelock yang cukup kuat dari Andela,
buat Kelpo terdiam akan pesona Andela malam itu.

“Kamu tau apa hal yang paling aku sukai?” Tanya Kelpo pelan.

“Hmm.. buku?” Tebak Andela.

Kelpo menggeleng.

“Emm.. hp?” Tebak Andela lagi.

Kini, Kelpo menggeleng sambil tertawa kecil.

“Hahaha.. so simple, Ndel..”

“What kinds of simple?” Tanggapan Andela membuat Kelpo tak bisa menahan tawanya.

“Tempat ini bagus ga?” Kelpo mengalihkan pembicaraan.
“Lebih dari bagus, aku suka. Kamu suka?” Tanya Andela balik.

“Kalo kamu suka, aku juga suka..” Kelpo tersenyum.

Tiba-tiba seorang anak kecil yang sepertinya tinggal disekitar pantai menghampiri Kelpo dan Andela. Dia membawa sebuah ukulele.

“Makasih..” Kelpo menerima ukulele tersebut sambil tersenyum pelan kearah anak tersebut.

“Permisi kakak-kakak” Anak itu berlari kembali dengan riangnya.

Dengan santainya, Kelpo memainkan Ukulele tersebut. Beberapa orang disekitar mereka memperhatikan permainan Kelpo.

“I’m the one who wants to be with you.
Deep inside i hope, you feel it too. Waited on a lines of green and blue. Just to be the next, to be with you..” Sepenggal lagu dari Mr. BIG dinyanyikan Kelpo dengan begitu manis.

Tak butuh waktu lama bagi Andela untuk memahami makna lagu tersebut.

“To Be With You, Vin?” Andela tersenyum.

“Keren kan?” Tanya Kelpo lagi dengan sombongnya.

“Huhuhu.. iya deh^^” Andela tersenyum.

Orang disekitar mereka memperhatikan dua sejoli itu sambil tersenyum satu sama lain
Tak lama, seorang pelayan menghampiri mereka.

“Silahkan..” Pelayan itu mengantarkan pesanan mereka.

“Ohh..” Seru Andela sambil menutup mulutnya.

Kelpo tersenyum.

“Ndel, aku bukan orang yang romantis.. tapi aku punya hati yang akan selalu mencintaimu, mata yang akan selalu mengawasimu, tangan yang akan selalu memelukmu, kaki yang akan selalu menemanimu, bahkan aku juga punya otak yang akan selalu memikirkanmu..” Kelpo berdiri dan berlutut kepada Andela.

Semua orang memperhatikan mereka. Andela sedikit malu kala semua pengunjung yang rata-rata turis asing
memperhatikan mereka begitu khidmat.

“Once again.. do you wanna be my girlfriend?” Kelpo berlutut sambil membuka kotak berisi kalung dengan abjad huruf A ditengahnya yang berarti ‘Andela’.

“Vin..” Andela tak mampu berkata-kata. Kelpo berdiri kembali. Andela segera memeluk Kelpo erat.

“Jadi?” Tanya Kelpo lagi.

“Iya.. aku mau.. aku bersedia..” Andela menjawab sambil mengangguk-angguk.

Semua orang bertepuk tangan, banyak juga yang memberikan standing applause. Banyak juga dari mereka yang ikut saling memeluk satu sama lain.

Kelpo melepaskan pelukan tersebut. Kelpo membungkuk kearah semua pengunjung. Pelayan-pelayan restoran pinggir pantai tersebut juga memberikan tepuk tangan.

Perlahan, Andela menggandeng erat tangan Kelpo.

“Aku udah lama nunggu momen ini..” Bisik Kelpo pelan.

“Aku ga nyangka, Vin. Makasih banyak..” Andela masih belum bisa membendung air matanya.

“Hehehe.. maaf cuma bisa gini, Ndel.” Kelpo tertunduk.

“Cuma? Hey! Ini bahkan lebih dari sempurna, Kelvin-ku..” Andela memegang kedua bahu Kelpo.
Kelpo tersenyum.

“Dari semua Andela yang lain.. cuma kamu Andela-ku..” Kelpo memegang tangan Andela.

“Dari sekian banyak Kelvin, kamu satu-satunya Kelvin-ku..” Andela tersenyum.

“Pasaran dong, nama aku..” Kelpo memanyunkan bibirnya.

“Hahaha.. canda tau..” Andela tertawa, diikuti Kelpo yang juga tertawa sambil terus memegang erat tangan Andela.

*Skip

Jaka bergegas menuju suatu tempat.

Terlihat seorang gadis membututinya dari jauh.

Berharap ini bukan semacam masalah
baru.

“Setelah semua ini, gue bakal balik lagi ke Hokkaido. Dan, tolong untuk terus memberikan sesuatu yang mempesona, walaupun hal tersebut tidak disukai orang lain. Jangan pernah merugikan orang lain.. Jangan meniru perilaku ‘mantan-teman’ kita itu. Fuuto terlalu sabar mengenai hal ini..” – Joello ‘Joey THM’ Midokaze

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Satu tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta part 32

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s