Shinta Naomi : Rusdi, part 6

Naomi dan Ulung mengamen di jalanan. Menghabiskan siang di Ibukota
yang panas bersama-sama. Naomi menyanyi, Ulung hanya menepuk-nepukan
tangannya sebagai iring-iringan musik.

Naomi sangat cantik, tidak cocok jika harus mengamen di jalanan
Ibukota yang panas. Bahkan ada pengemudi yang menyarankan agar Naomi
ikut audisi idol grup saja dari pada harus mengamen.

Penghasilan mereka cukup banyak. Itu semua karna suara merdu Naomi,
ditambah wajah cantiknya yang membuat pengemudi terpesona. Sesekali
ada pengamen jalanan yang iri, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Itu karna ada Ulung disamping Naomi.

Sorenya mereka memutuskan untuk makan dan beristirahat sejenak. Gadis
itu kepanasan, Ibukota tidak cocok dengannya. Ibukota sangat panas,
tidak seperti desanya yang sejuk.

Malamnya, Naomi dan Ulung kembali ke gedung itu. Security tadi siang
panik, takut-takut saat melihat Ulung melangkah mendekat padanya.
Ulung semakin dekat, security itu sangat takut.

“Eh, tunggu!” Naomi melihat ke dalam kaca mobil yang terparkir di
depan gedung itu.
“Ada apa?” tanya Ulung.
“Itu, di dalem kantong kresek itu teh ada uang saya!” Naomi tersenyum
bahagia karna telah menemukan uangnya.

“Kamu yakin?” tanya Ulung menyakinkan.
“Iya!” jawab Naomi mantap, ia tersenyum pada Ulung.
“Bentar!” Ulung mengambil sebuah batu besar, hendak memecahkan kaca mobil itu.

“HEY!!!” security itu perlahan mendekat, Ulung menatapnya tajam.
“Kalian ini apa-apaan? Dari siang kalian ini rusuh! Mau saya lapor
polisi?” security itu tidak tahan dengan sikap Ulung.

“Ada apa ini?” tanya seorang pria berjas hitam, dibalut dasi merah
rapi di lehernya.
“Eh, bos! Ini, mereka dari tadi siang rusuh disini.” jawab security itu.
“Kamu, kan?” Naomi menunjuk pria itu, yang tak lain adalah Rusdi.

“Eh, kamu? Yang kemaren  itu kan?” Rusdi menunjuk balik Naomi.
“Hmm… iya, saya teh mau uang saya kembali! Kembaliin!” Naomi meminta.
“Salah sendiri kamu maen keluar aja! Yaudah, ambil aja!” Rusdi membuka
pintu mobilnya.

Naomi lalu mengambil kantong kresek itu. Memeluknya erat-erat, lalu ia
memasukannya ke dalam tas.
“Kamu teh siapa?” tanya Naomi.
“Saya pemilik rumah produksi, pemilik gedung ini!” Rusdi tersenyum.

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu kesini?” tanya Rusdi.
“Saya teh mau casting, tapi gak dibolehin masuk sama si bapak itu.”
Naomi menunjuk security di sebelah Rusdi.

“Castingnya udah selesai tadi pagi, ada dua calon artis yang lolos.
Tapi kamu juga bisa jadi calon artis ketiga. Kamu saya jadikan pemeran
utama di film saya.” Rusdi tersenyum.
“Hah? Beneran?” Naomi melongo.

“Iya.” jawab Rusdi, sedikit mengangguk.
“Waaah! Makasih atuh!” Naomi memeluk Rusdi.
“Eh?” Rusdi terkejut dengan sikap gadis itu.

Tiba-tiba Ulung memukul pelan kepala security itu dengan tangannya.
“Dengerin tuh bos lu!” ucap Ulung melotot.
“TIDAAAAAAAKKK!!!” teriak security itu.

Esoknya, Naomi pulang ke kampung halamannya diantar oleh Rusdi dengan
mobil mewahnya. Ulung juga ikut bersamanya, duduk di belakang. Ulung
hanya diam, ia tidak sabar ingin segera melihat suasana pedesaan dan
menghirup udaranya yang segar.

Sesampainya di desa itu, mereka langsung pergi menuju rumah Naomi.
Selama tiga hari Naomi di Ibukota, Epul sangat merindukannya. Saat
sahabat masa kecilnya itu kembali, Epul membuat perayaan kecil bersama
keluarga Naomi untuk menyambut kedatangannya.

“Umi! Omi teh bakal jadi artis, Umi!” Naomi sangat senang.
“Serius teteh bakal jadi artis?” tanya Sinka.
“Iya!” Naomi lalu memeluk ibu dan adiknya.

“Kalian teh siapa?” tanya Epul.
“Saya Rusdi, produser film.” Rusdi tersenyum, menjabat tangan Epul.
“Saya Ulung, teman Naomi selama di Jakarta!” Ulung berjabat tangan dengan Epul.
“Saya Epul, sahabat Naomi dari kecil.” Epul terkekeh.

Setelah Naomi selesai, Ulung dan Rusdi lalu berkenalan dengan keluarga
Naomi. Ibu Naomi mempersilahkan mereka untuk mengobrol di dalam rumah.
Rumah Naomi sangat sederhana, tidak terlalu bagus.

Rusdi bercerita tentang proyek film barunya. Film sinetron yang akan
dibintangi oleh Naomi sebagai pemeran utamanya. Setelah itu, Rusdi
pamit hendak pulang ke Ibukota.

“Lung, yuk pulang!” ajak Rusdi.
“Di Jakarta saya enggak punya keluarga. Jadi saya pilih tinggal di
desa ini, selamanya!” Ulung tersenyum.
“Oke, baiklah.” Rusdi tersenyum.

“Naomi, besok kita mulai syuting. Jangan telat ya! Kalo telat nanti
saya ganti peran kamu.” sambung Rusdi lalu masuk ke dalam mobilnya,
kemudian memacu mobil itu.

“YEEEAAAHHH!!! OMI JADI ARTIS!!!” teriak Naomi, ia sangat bahagia.
“Hahaha…” Epul tertawa melihat tingkah gadis itu, Sinka dan ibunya
hanya tersenyum.

Sementara itu Ulung hanya melamun, ia membayangkan kehidupan barunya
di desa itu. Kehidupannya yang tentram, tanpa perkelahian dan tanpa
kekerasan. Ia akan mulai belajar sholat.

BERSAMBUNG

Jika kalian punya pertanyaan tentang bahasa Sunda yang tidak
dimengerti, silahkan mention ke @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s