Jalan setapak hijau

Bagi ku Viny adalah segala nya aku menyukai semua hal tentang Viny , wajah manis nya saat dia tersenyum , tawa riang nya saat aku menceritakan sebuah lelucon atau cerita lucu kepada nya. Segala nya karena dia sempurna.

aku masih ingat saat pertama kali aku melihat diri nya saat dia pindah kesebelah rumah ku , tentu dulu aku tak terlalu mengerti apa yang dimaksud dengan cinta atau rasa sayang karena dulu aku hanya suka berada disebelah nya saat dia tersenyum.

Sekarang kami sudah menjadi tetangga dan sahabat untuk waktu yang lama dan selama itu pula aku memendam rasa suka ku kepada nya , setiap pagi aku mengucapkan selamat pagi melalui jendela kamar dan menunggu senyuman dari nya.

Pagi ini jendela kamar nya masih tertutup kain putih pemandangan yang selalu kulihat dipagi hari , hawa pagi yang sejuk menjadi teman ku menunggu dia mau membuka jendela nya dan melemparkan senyuman pagi untuk ku.

Ku lihat kain putih itu mulai bergeser dan aku bisa melihat wajah cantik yang sudah ku tunggu ,

“ pagi “ sapa ku

“ pagi awan “ balas nya dengan senyuman yang semakin indah tiap kali aku melihat nya.

Nama ku juniawan , teman teman dan keluarga ku biasa memanggil ku jun atau wawan hanya Viny yang memanggil ku awan. Meski awal nya aneh tapi aku bisa terbiasa dipanggil awan hanya oleh nya.

Dia sudah bersiap dengan seragam sekolah putih dan sebuah jepit rembut berwarna putih terselip manis dirambut nya , dia pasti tahu kalau aku selalu menunggu nya disini setiap pagi dan aku senang dia selalu membuka jendela itu dan membalas sapa ku.

“ udah siap mau berangkat ? “ tanya ku

“ iya kamu juga siap siap dong aku tunggu “ jawab nya

“ tunggu ya “ ucap ku sebelum berlari masuk ke kamar mandi

Setiap pagi kami selalu berjalan bersama menuju sekolah yang tak terlalu jauh sekitar dua puluh menit jika dihitung , di sepanjang jalan juga banyak dihiasi oleh sawah hijau yang baru ditanami dan beberapa tanaman liar yang buah nya asam jika dimakan , aku tak terlalu tahu nama tanaman itu tapi aku sering memakan nya berdua dengan Viny disepanjang jalan.

Aku mengambil beberapa buah dari tanaman liar itu lalu memberikan nya kepada Viny yang sedang meniup bunga dendelion ,

“ mau buah asam “ ucap ku

“ makasih “ ucap nya

Aku memakan beberapa buah itu dan rasa asam yang menyegarkan langsung memenuhi mulut ku , aku melirik Viny dan ekspresi wajah nya cukup menjelaskan kalau dia juga merasakan asam dari buah itu.

“ yang mentah ternyata lebih asam “ ucap ku

“ iya nih nggak enak “ ucap Viny dengan muka kecut

Aku mengambil botol minum dari tas ku dan kuberikan pada Viny

“ minum dulu “ ucap ku

Dia langsung menyambar botol ku dan meminum setengah dari isi nya

“ kamu minum juga “ ucap nya menawarkan

“ yakin ? “ tanya ku

“ iya kamu juga minum “ jawab Viny

Aku mengambil botol itu dari tangan Viny dan meminum nya butuh beberapa saat sampai Viny menyadari apa yang terjadi , dan saat dia menyadari itu semua wajah nya memerah dan ujung jari nya memegang bibir tipis nya.

“ wan ? tadi kamu minum langsung dari botol ? “ tanya Viny

“ iya “ jawab ku yang hanya pura pura tak tahu

“ berarti bekas bibir aku kamu cium ya ? “ tanya Viny dengan wajah yang sudah semerah tomat.

“ berarti kita ci…..” aku sengaja tak menyelesaikan kalimat ku

Viny mengeleng gelengkan kepala nya lalu memukul bahu ku ,

“ aduh duh “ ucap ku pura pura kesakitan

“ kamu mau coba coba nyuri ciuman pertama aku pake botol ya dasar genit “ ucap nya dengan muka “ nyebelin”.

“ enak aja kan kamu yang ngasih botol nya aku mah cuma minum “ ucap ku sambil melirik Viny yang masih menekuk wajah manis nya

Tentu saja aku sangat ingin mendapat ciuman pertama Viny tapi kalau hanya ciuman tak langsung dengan sebuah botol itu bukanlah yang aku harapan , aku ingin mencium nya dibawah sinar matahari yang terbenam.

“ vin ? “ tanya ku

“ apa aku lagi ngambek nih “ jawab nya

Mendengar jawaban nya itu aku pun mencubit pipi tembem nya itu tentu dia marah dan memukul tangan ku yang mencubit pipi nya ,

“ sakit tau main cubit cubit aja “ ucap Viny sambil mengelus pipi nya

“ kamu pagi pagi udah ngambek “ jawab ku

Viny hanya tertawa lalu memukul bahu ku , aku menikmati hal ini bercanda dan tertawa bersama dengan nya melewati jalanan setapak hijau yang terkadang berduri. Kadang aku berharap jarak sekolah kami sedikit lebih jauh agar aku bisa sedikit lebih lama bersama dengan nya.

Tapi gerbang sekolah tua yang berwarna coklat sudah menunggu kami , Viny mempercepat langkah nya saat mendengar bel sekolah yang berbunyi sementara aku hanya mengikuti dibelakang.

Sampai akhir nya aku dapat menyusul langkah nya dan berjalan bersama menuju ruang kelas, kami duduk di meja yang sama karena aku meminta kepada nya. Di ruang kelas pun aku tak mau berada jauh dari sisi nya.

Mungkin aku yang terlalu berharap atau aku terlalu kekanak kanakan takut dia akan pergi jika aku tak bersama nya , tapi aku tak terlalu peduli aku hanya ingin berada disamping nya melihat senyum nya saat itu terbentuk di wajah cantik nya.

Kelas dimulai dengan seorang pria berdiri disamping pak Jono guru matematika aku tak mengenal pria itu , tapi Viny nampak nya tertarik dengan pria itu dia seperti mengenali pria itu tapi tak merasa yakin.

“ kamu kenal vin ? “ tanya ku memastikan

“ hmmm kayak kenal tapi hmmm mungkin juga nggak “ jawab Viny

Pak Jono berkata kalau yang berdiri disamping nya adalah murid baru yang akan bergabung dengan kelas kami , pria itu masih tetap berdiri dia sampai pak Jono menyuruh nya memperkenalkan diri.

“ nama ku Bambam kalian boleh panggil aku Bam “ ucap nya

“ BAMBANG “ teriak Viny

Aku menutup sebelah telinga ku saat Viny berteriak tentu semua orang memperhatikan Viny terutama Bam , dia nampak bingung untuk sesaat sebelum sebuah ingatan yang sudah lama terkubur diingat nya.

“ RATU “ teriak Bam

Semua orang tertawa melihat kelakuan mereka berdua  tentu pak Jono marah melihat kegaduhan yang terjadi di dalam kelas , pak Jono perlu memukul meja beberapa kali sebelum semua orang dia.

“ Bambang kamu duduk dibelakang Viny dan jangan pernah berteriak lagi dikelas saya “ ucap pak Jono kesal.

“ Bambam pak “ ucap Bam mengoreksi omongan pak Jono

“ sudah kamu duduk sana Bambang “ perintah pak Jono

“ Bambam pak “ koreksi Bam lagi

“ BAMBANG DUDUK “ bentak pak Jono kesal.

Melihat itu kembali seluruh kelas tertawa terbahak bahak pak Jono makin kesal dan memukul papan tulis , Bam yang tak mau mendapat semprotan pak Jono berlari ke bangku belakang tepat di belakang ku.

Viny memutar badan nya dan tertawa sumrigah melihat Bam , Bam juga menyambut senyum Viny dengan memasang senyuman.

“ aku jun “ ucap ku memperkenalkan diri

“ Bambam “ ucap nya menyambut salaman perkenalan dari ku

“ Bambang udah lama nggak ketemu “ ucap Viny menepuk nepuk bahu Bam

Seperti nya Bambang adalah nama panggilan yang diterima Bam dari Viny yang berarti bam cukup spesial bagi Viny , aku sedikit kecewa mengetahui bahwa bukan hanya aku yang punya nama panggilan dari Viny.

“ KALIAN BERTIGA BUKA BUKU KALIAN “ teriak pak jono dari depan kelas.

Seisi kelas pun memperhatikan kami , Viny membenarkan posisi duduk nya sambil menahan tawa karena diteriaki pak jono. Sisa jam pelajaran itu pun kami habiskan dengan pelajaran matematika oleh pak jono.

Pada jam istirahat aku dan Viny mengajak bam berkeliling sekolah sebelum akhir nya beristirahat di kantin.

“ jadi kenal Viny dimana ? “ tanya ku

“ aku dan ratu teman dari kecil sebelum ratu pindah rumah kelas tiga , aku senang bisa ketemu lagi di sekolah ini “ jawab bam

“ kamu pindah kesini ? “ kali ini Viny yang bertanya

“ iya aku pindah ke dekat kuil “ jawab bam

“ berarti kita tetangga ? iya kan wan “ tanya Viny

“ iya kita bertiga tetangga” jawab ku

Jalan setapak yang biasa nya ku lalui berdua dengan Viny sekarang lebih ramai dengan ada nya Bam yang berdiri diantara kami berdua , dia dengan cepat dapat membuat Viny tertawa sebuah hal yang biasa aku lakukan.

Kadang aku ikut dalam obrolan mereka tapi rasa nya aneh karena aku tak tahu satu pun kejadian itu , aku tak tahu kalau dulu Viny pernah berniat melempar buah mangga dari pohon nya tapi meleset dan membuat kaca rumah pecah.

Aku tak pernah tahu kalau dulu Viny pernah menginjak ekor anjing galak penjaga toko buah dan membuat mereka semua di kejar oleh anjing itu. Semua kenangan indah mereka aku tak tahu satu pun tentang itu , tapi tetap saja aku ikut tertawa bersama mereka.

Kami berpisah dengan Bam saat di depan kuil lalu aku akhir nya melanjutkan perjalanan berdua bersama Viny , tetapi di sisa perjalanan itu tetap saja Viny bercerita tentang Bam sampai kami sampai di rumah.

Aku merasa terganggu dengan kehadiran Bam diantara aku dan Viny , kami seharus nya selalu berdua tapi sekarang kami bertiga. Mungkin ini yang disebut dengan rasa cemburu tapi rasa cemburu itu wajar karena aku mencintai Viny.

Dengan perasaan sesak di dada aku berbaring dan mencoba tidur agar aku dapat menunggu Viny esok hari , paling tidak senyuman pagi Viny akan selalu menjadi milik ku suatu hal yang tak akan pernah ku bagi dengan siapa pun.

Kain putih penutup kaca Viny masih terbentang pertanda yang ada di seberang sana masih tertidur , mungkin beberapa saat lagi dia akan terbangun dan memberi senyuman nya hanya kepada ku.

Rasa tak sabar yang selalu kurasakan setiap pagi datang lagi , dan kali ini rasa tak sabar itu semakin besar aku ingin melihat kain putih itu segera bergeser dan Viny memberikan senyuman manis nya kepada ku sekarang hanya untuk ku dan hanya milik ku.

Kain putih itu mulai bergeser dan perasaan senang membanjiri hati ku saat aku bisa melihat wajah cantik yang mengeser kain itu.

“ pagi awan “ sapa nya

“ pagi “ jawab ku.

Satu senyuman itu sudah cukup untuk meredakan rasa sesak yang kurasakan , tak ada hal yang lebih menyenangkan selain melihat senyum nya di pagi hari.

“ tunggu ya aku siap siap dulu “ ucap ku

“ sebenarnya Bam mau jemput aku nanti “ ucap Viny

“ ya kita bisa jalan bertiga “

“ dia jemput aku dengan motor “

Dengan motor itu arti nya Viny akan pergi berdua dengan Bam ,  dia tak akan berjalan bersama ku melewati jalan setapak hijau yang biasa kami lewati. Perasaan sesak yang kurasakan tadi malam kembali memenuhi dada ku , perasaan cemburu yang rasa nya menyakitkan.

“ nggak apa apa kan ? kali ini aja besok aku bakal ajak Bam buat jalan bertiga “ ucap Viny , mungkin dia mencoba menenangkan perasaan ku.

“ nggak apa apa udah ya aku mau mandi dulu “ ucap ku sambil menutup jendela kamar ku dan menghilang dari pandangan Viny.

Tentu saja Viny lebih memilih untuk naik motor dengan Bam daripada berjalan jauh ke sekolah , lagi pula Bam adalah teman masa kecil nya yang baru ditemui nya setelah berpisah cukup lama.

Jadi pagi ini jalan setapak ini terasa lebih panjang dari biasa nya , meski jalan ini selalu ku lalui setiap hari nya tapi pagi ini jalan ini terasa panjang dan sulit. Mungkin karena tak ada sosok Viny yang biasa nya selalu ada disamping ku.

gerbang coklat itu terlihat juga jalan setapak panjang ini akhir nya berakhir , sisa perjalanan ku tinggal menuju kelas tapi saat aku melihat Bam dan viny sedang bercanda dan tertawa bersama rasa marah ku tak sanggup ku tahan.

Aku berlari menghampiri mereka dan sebuah tinju ku layangkan ke wajah Bam membuat dia tersungkur jatuh , aku menarik kerah baju nya tinggi dan ku pukul sekali lagi wajah nya itu.

“ JAUHI VINY “ bentak ku

“ AWAN BERHENTI “

Suara viny menyadarkan ku dari emosi yang sudah menguasai diri ku dan untuk pertama kali nya aku melihat marah , wajah nya tak pernah seperti itu tak pernah tapi sekarang dia marah untuk Bam.

“ kamu kenapa jun ? “ tanya Bam

Viny menampar pipi ku lalu membantu Bam berdiri dan membawa nya keluar kelas mungkin ke klinik sekolah , seluruh kelas melihat kearah ku mereka seperti nya takut aku bisa melihat beberapa dari mereka sedang berbisik.

Aku mengambil tas ku yang jatuh ke lantai dan pergi keluar kelas , kenapa viny semarah itu pada ku ? dia tak pernah marah kepada siapa pun dan sekarang dia marah untuk seorang Bam dia juga menampar pipi ku.

Aku tak merasa sakit karena tamparan viny aku merasa sakit karena dia marah dan menampar ku , dia harus nya tahu kalau aku marah karena melihat dia dekat dengan Bam aku cemburu karena aku mencintai nya.

Aku tak berniat kembali ke kelas mungkin aku bisa menenangkan pikiran ku di atap sekolah , jadi aku pergi ke atap tapi disana ada seseorang yang sedang membaca buku seorang gadis. Aku tak mengenal nya jadi lebih baik aku mencari tempat lain untuk menenangkan diri.

“ tunggu “ ucap gadis itu

“ iya “ jawab ku mencoba sopan

“ bisa temenin aku disini “ ucap nya , saat itulah aku menyadari wajah cantik gadis itu ditambah lagi dia tersenyum kepada ku.

“ maaf tapi… “

“ tolong sebentar saja “ ucap nya

Aku menutup pintu atap sekolah dan menghampiri gadis itu lalu duduk disebelah nya , dia menutup buku nya dan memasukkan nya kedalam tas.

“ kenalan dulu , aku Jinan “ ucap nya memperkenalkan diri

“ jun “ jawab ku

“ salaman dong “ ucap nya sambil mengoyang goyangkan tangan nya naik turun.

Aku menyalami nya dan dia terlihat senang saat aku menjabat tangan nya , siapa gadis ini dan mengapa dia ada di atap sekolah di jam pelajaran.

“ kenapa ada disini ? “ tanya nya saat melepas jabat tangan kami

“ aku hanya ingin menenangkan diri “ jawab ku

“ lagi ada masalah ya ? mau cerita ? “ tanya nya

“ mungkin lain kali “

“ kalau gitu mau dengar cerita aku ? “

Aku hanya mengangguk pelan lalu dia mulai menceritakan alasan dia berada di atap , dia adalah atlit lari sekolah kami dan dia sedang lari dari latihan rutin nya karena sedang ragu apakah dia akan melanjutkan latihan nya atau fokus untuk ujian.

“ jadi aku harus gimana ? “ tanya nya

“ aku tak tahu tapi aku rasa menyerah sekarang setelah kamu berjuang sejauh ini pasti menyakitkan “ jawab ku

“ iya kamu benar kenapa aku harus ragu aku sudah berjuang sejauh ini “

Dia mengeluarkan sesuatu dari tas nya dan ternyata itu sebatang coklat dia membuka bungkus nya lalu mematahkan nya menjadi dua ,

“ mau ? “ tanya nya sambil mengigit setengah dari coklat itu

“ tentu “ ucap ku

Sebatang coklat terasa manis di mulut ku cukup untuk menenangkan pikiran ku , aku melihat Jinan sedang bersadar ke pagar pembatas atap dan menikmati setengah dari bantangan coklat yang dia bagi bersama ku.

Wajah nya terlihat cantik saat rambut nya tertiup angin dia menikmati coklat itu dengan nyaman , aku mengikuti diri nya dengan bersandar ke pagar pembatas atap menikmati coklat itu sambil menikmati angin yang datang menerpa wajah ku.

“ angin nya enak ya buat hati tenang “ ucap nya

“ kamu benar perasaan ku juga sudah lebih baik “

“ jadi mau cerita kamu datang kesini ? “

Aku memandang ke arah Jinan wajah penasaraan nya seperti godaan yang tak dapat ditolak , mungkin tak masalah aku menceritakan masalah ku pada nya lagipula dia sudah menceritakan masalah nya pada ku. Arti nya dia sudah mempercayai ku meski kami baru berkenalan.

“ aku memukul seseorang “ ucap ku mulai bercerita

“ kenapa ? apa dia buat kamu marah ? “

“ iya aku marah karena dia mendekati orang yang ku cintai “

“ jadi kamu cemburu ? “

“ iya “

Aku membenarkan posisi duduk ku lalu menghabiskan batangan coklat yang diberi oleh Jinan , aku melihat Jinan juga melakukan hal yang sama lalu dia diam sejenak mungkin dia sedang berpikir.

“ apa gadis itu juga cinta sama kamu ? apa kalian berdua sudah berpacaran ? “

“ aku tak tahu “

“ tak tahu ? jadi kamu hanya memendam perasaan mu pada nya ? “

“ aku tak tahu apakah dia juga mencintai ku atau tidak , tapi yang jelas aku mencintai nya “

“ kamu bodoh ya “

Aku tersentak oleh perkataan nya barusan apa maksud nya berkata demikian , aku memandang nya dan dia hanya diam tanpa ada ekspresi apa dia serius berpikir aku bodoh.

“ apa maksud mu , apa mencintai seseorang itu bodoh ? “

“ hanya memendam perasaan mu itu bodoh jika kau memang mencintai nya maka biarkan dia tahu apa yang kau rasakan “

“ aku….”

“ apa kamu pikir cinta itu tak harus memiliki seperti yang kau lihat di film ? beritahu dia perasaan mu apapun yang terjadi biarkan dia tahu “

Aku hanya mengangguk kata kata Jinan ada benar nya mungkin aku harus memberitahu viny perasaan ku , tapi sebelum nya aku harus meminta maaf kepada nya dan juga Bam.

Aku dan Jinan menghabiskan waktu di atas atap sampai bel pulang sekolah , awal nya aku hanya berencana menenangkan diri sampai jam pelajaran kedua dimulai tapi berada di atas sini sangat menyenangkan. Berdua dengan Jinan berbicara berbagai hal mulai dari hobi kami masing masing sampai serial TV.

“ udah ayo pulang “ ajak ku saat mendengar bel pulang sekolah

“ tunggu “ jawab nya

Kami berjalan berdua melewati jalan setapak hijau yang ditutupi rumput pendek yang mulai layu , rumah Jinan berjarak beberapa rumah sebelum rumah ku. Aku bahkan tak tahu bahwa kami berdua bertetangga.

Dari jendela kamar ku dapat ku lihat viny sedang menelpon seseorang saat dia melihat ku memperhatikan nya dia menutup jendela nya , aku tak tahu apa yang harus ku lakukan ku coba tersenyum saat dia melihat ku tapi dia menutup jendela nya dengan kain putih yang ku lihat setiap pagi.

Aku tahu dia marah atas apa yang ku lakukan tadi pagi tapi aku marah saat dia menutup jendela nya dengan kain putih itu , aku membanting badan ku ke kasur dan mencoba tidur aku ingin esok hari cepat datang dan aku bisa meminta maaf kepada viny.

handphone ku berdering tapi rasa nya untuk berdiri dan mengambil handphone ku yang berada di meja , aku mengambil bantal untuk menutupi wajah ku dan membiarkan handphone ku tetap berdering aku tak terlalu peduli.

Dering panggilan masuk di handphone ku terus berdering dan rasa nya mulai menganggu , aku merangkak dikasur ku sampai aku cukup dekat untuk mengambil handphone ku.sebuah nomor tak di kenal tertera di  layar handphone ku.

“ halo” ucap ku dengan malas

“ jun ini aku Jinan” jawab Jinan di ujung telpon

“ iya ada apa ?” tanya ku

“besok kamu ada kegiatan nggak?” ucap nya balik bertanya

Aku melihat kaleder yang menempel di dinding kamar ku ternyata besok minggu dan sekolah libur ,yang biasa nya menghabiskan dengan tidur tapi jika Jinan bertanya seperti itu berarti dia ingin aku menemani nya ke suatu tempat.

“ nggak ada sih “ jawab ku

“ kalau gitu temani aku latihan ya ? “ucap Jinan dengan suara lebih pelan

“ boleh “

“ besok pagi jemput ya aku tunggu “

“ iya sampai besok  “ ucap ku

aku meletakan handphone ku kembali keatas meja lalu kembali membaringkan badan ku mencoba memejamkan mata menanti hari esok , mungkin untuk alasan yang berbeda dari yang ku pikir sebelum nya.

Untuk pertama kali nya aku merasa khawatir saat menunggu jendela Viny terbuka , padahal setiap hari aku menunggu nya di sini dan aku selalu merasa tidak sabar melihat kain putih itu digeser dan dia tersenyum di sana. Tapi kali ini ada rasa yang lain yang ku rasa dan ada ada sedikit harapan dalam pikiran ku agar jendela itu tak terbuka.

Kain putih itu bergeser tapi Viny tak membuka jendela nya dia hanya memandang ku dengan wajah marah yang ku benci itu , ini lah yang mungkin ku takutkan yang membuat ku berharap kain putih itu tak bergeser aku takut untuk melihat Viny marah yang arti nya dia membenci ku.

Kesunyian antara kami berdua berlangsung cukup lama aku sendiri takut melihat dia marah aku takut untuk berbicara dengan nya , aku memang salah dan aku memang yang harus meminta maaf terlebih dahulu aku tahu itu dan aku mengumpulkan keberanian ku untuk melakukan itu.

“ pa..pagi “ ucap ku agak terbata

Viny hanya berdiri diam apa dia tak mendengar suara ku ? beberapa detik yang panjang ku lalui hingga akhir nya dia mau membuka jendela nya.

“ pagi kali ini aku marah besar sama kamu “ ucap Viny dengan wajah marah masih menjadi ekspresi nya.

“ aku minta maaf soal yang kemarin “

“ bukan kepada ku kau minta maaf “ ucap nya lalu menutup jendela nya

“ tunggu “ ucap ku mencoba meminta nya untuk kembali membuka jendela kamar nya tapi dia sudah berjalan pergi.

Ada apa dengan nya aku hanya ingin meminta maaf atas kesalahan yang ku perbuat tapi dia bahkan tak mau mendengar ku sampai selesai , jika aku tak meminta maaf aku tahu keadaan nya akan bertambah buruk maka dari itu aku ingin masalah ini selesai dan semua bisa kembali seperti semula. Aku dan diri nya berjalan berdua di setapak berwarna hijau karena rumput yang mulai layu.

Aku teringat akan janji ku semalam kepada Jinan untuk menjemput nya di pagi hari , aku pun bersiap lalu berjalan menuju rumah nya yang hanya berjarak tiga lemparan batu dari rumah ku. Aku di sambut oleh sebuah senyuman dari nya yang menunggu ku.

“ pagi “ ucap ku

“ pagi Jun “ jawab nya

Dia tampak cantik dengan kaos oranye dan celana jeans yang menyempit di ujung serta sebuah sepatu kets berwarna merah , aku suka cara dia mengikat rambut nya menjadi ponytail membuat ku dapat melihat leher nya yang putih.

“ kenapa penampilan aku aneh ya ? “ tanya Jinan , mungkin dia tahu aku memperhatikan nya.

“ kau cantik hari ini “ puji ku

“ makasih “ ucap nya

“ iya mau kemana kita ? “ tanya ku yang masih belum tahu kemana kami akan pergi

“ ke kota yuk jalan jalan “ jawab nya

“ kota ? “ tanya ku memastikan

“ iya kita naik bus pagi naanti pulang nya pake bus sore “ jawab nya

“ ya udah boleh “

Desa kami bukan lah desa yang terpencil jika ingin pergi ke kota kami hanya perlu mengunakan bus yang berangkat setiap jam dari halte yang ada di ujung desa , hanya perlu waktu dua puluh menit untuk sampai ke kota karena itu banyak penduduk desa yang pergi ke kota untuk berbagai keperluan.

Kami berdua menyusuri jalan aspal yang jarang di lalui kendaraan karena hanya sedikit penduduk yang punya , kami berjalan beriringan dengan beberapa sapi yang ingin mencari makan. Beberapa menit kemudian kami sampai di halte desa.

Hanya ada beberapa orang yang menunggu di halte selain aku dan Jinan hanya ada seorang nenek yang membawa beberapa tas yang nampak nya berat , pasti nenek itu akan kesulitan saat naik bus karena tas nya itu saat bus datang aku akan membantu membawakan tas nenek itu.

“ liat apa jun ? “ tanya jinan

“ itu nenek yang tas nya banyak kasihan nanti aku mau bantu bawain tas nya “ jawab ku sambil menunjuk sang nenek yang duduk nya agak jauh dari kami.

“ aku juga mau bantu “ ucap Jinan

Bus yang kami tunggu akhir nya datang dan apa yang ku pikirkan ternyata benar nenek itu kesulitan membawa tas nya , aku dan Jinan pun menghampiri nenek tersebut dan membantu membawa tas nya nenek itu tersenyum melihat kami yang mau membantu nya.

Kami membawa tas nenek itu sampai ke tempat duduk nya ,

“ terima kasih ya nak kalian baik sekali “ ucap nenek itu

“ sama sama nek kami senang bisa membantu “ jawab Jinan

“ semoga hubungan kalian sampai bahagia sampai tua kayak nenek hehehe “ ucap nenek itu sambil tertawa

Aku dan Jinan hanya berpandangan tidak tahu harus menjawab apa , kami hanya mengangguk lalu duduk di kursi yang berada dekat pintu keluar.Ada kecangungan yang terjadi antara aku dan Jinan setelah perkataan nenek tadi , aku bahkan tak berani memulai sebuah percakapan dengan nya.

Aku hanya memandangi pohon dan padang yang terlewati melalui jendela bus Jinan hanya duduk diam disebelah ku , aku harap dia mau berbicara duluan agar suasana aneh ini bisa sirna aku merasa aneh hanya duduk diam berdua dengan nya.

“ nanti mau ke game center ? “ tanya Jinan memecah keheningan

“ boleh “ jawab ku

“ bagus “ ucap Jinan

Jinan kembali diam dan keheningan kembali menyelimuti kami berdua , bodoh nya aku Jinan sudah mau memulai pembicaraan dan aku hanya memberi respon yang singkat harus nya aku meneruskan topik yang dimulai nya tadi.

“ Jin…”

“ iya “ ucap nya

“ kamu suka warna oranye ya ? “ tanya ku mencoba meneruskan pembicaraan

“ karena baju aku ya ? “ ucap nya sambil melihat kearah kaos yang dipakai nya

“ i..ya “ jawab ku

“ hmmm sebenarnya aku suka warna apa aja karena semua warna itu indah “ jawab nya

“ kalau aku suka warna biru “ ucap ku

“ aku nggak nanya tuh “ ucap Jinan

Aku tidak tahu harus menjawab apa , aku hanya bisa diam sampai akhir nya dia tertawa dan membuat ku tahu kalau dia hanya bercanda.

“ dasar “ ucap ku sambil mencubit lengan nya

“ duh sakit tahu “ ucap nya dengan sedikit kesal

“ ma..maaf “ ucap ku

Seperti nya aku sudah terbawa suasana dan tak menyadari bahwa kami berdua tak sedekat itu, seperti itulah menurut ku sebelum Jinan membalas cubitan ku sambil tertawa lepas untung nya bus yang kami naiki sepi kalau tidak pasti semua penumpang lain sedang melihat kearah kami.

Tapi aku senang keheningan diantara kami berdua hilang kami mulai berbicara tentang film apa yang akan kami tonton nanti lalu beralih menjadi bagaimana hebat nya dia di game center dan dia akan mengalahkan ku dengan mudah , aku berkata aku tak akan kalah walau pun aku jarang pergi ke game center tapi paling tidak aku tahu cara memasukkan koin ke mesin game nya.

Ternyata kemampuan ku bermain game sangat sangat buruk Jinan mengalahkan ku tidak lebih tepat nya menghancurkan ku disemua permainan , bahkan saat kami bermain game bola Jinan mengalahkan ku yang memakai spanyol dengan mitra kukar dengan score yang sangat sangat memalukan aku bahkan tak mau menyebutkan berapa score nya.

Saat kami berdua pulang tak ada orang bus selain kami berdua jadi kami menghabiskan waktu dengan bicara berdua , senyum nya banyak menghiasi obrolan kami yang tak begitu jelas arah nya tapi meski begitu bicara berdua dengan nya selalu menyenangkan meski kami baru bertemu aku merasa begitu nyaman bersama nya.

Setelah turun di halte pun kami masih melanjutkan pembicaraan kami berdua sampai kami berdua akhir nya sampai di depan rumah Jinan , hari ini begitu menyenangkan hingga aku berharap kalau hari ini bisa berlangsung lebih lama. Meski begitu ini bukan sebuah perpisahan karena kami masih bisa menghabiskan waktu berdua besok sesuatu yang ku nantikan.

“terima kasih untuk hari ini” ucap ku

“aku yang terima kasih sudah lama aku tak bersenang senang” ucap nya dengan senyuman termanis yang pernah ku lihat ,

aku senang kalau dia bisa bersenang senang mungkin dia terlalu serius berlatih dengan ini aku harap dia bisa menentukan pilihan nya dan tak menyerah dengan mimpi nya sebagai pelari.

“ kalau gitu sampai jumpa besok ya” ucap ku berpamitan

“ Jun ?”

“ iya”

“ bagaimana kalau besok kita pergi berangkat berdua ?”

“ boleh”

“sampai besok ya”

“sampai besok”

Aku tak tahu tapi aku merasa senang setelah Jinan mengajak ku untuk berangkat bersama karena mungkin viny masih belum bisa menerima permintaan maaf ku jadi aku rasa dia tak akan mau pergi bersama ku besok , tapi kenapa masih marah meski aku sudah meminta maaf kepada nya dan apa yang dimaksud nya dengan bukan kepada dia aku minta maaf hanya kepada dia aku peduli dan ingin masalah ini selesai.

Aku sudah bangun dan sekarang aku bingung apakah aku harus menunggu nya seperti biasa atau aku harus membiarkan nya sendiri karena mungkin dia ingin sendiri untuk sementara waktu , sudah lah mungkin lebih baik meninggalkan nya untuk sementara waktu aku rasa itu hal terbaik yang bisa ku lakukan lagi pula aku benci jika harus melihat nya marah kepada ku seperti kemarin.

Aku pun bersiap siap kemudian pergi menjemput Jinan tapi saat aku pergi kenapa kain putih itu bergeser apakah viny ….

“JUNNNN” teriak suara yang ku dengar seharian kemarin

Aku lihat Jinan sedang melambai kepada ku dengan senyuman yang merekah di ujung jalan tak mau membuat nya menunggu aku berlari menghampiri nya ,

“pagi” ucap ku

“pagi” jawab nya

Pagi itu untuk pertama kali nya ku lewati jalan setapak hijau yang selalu ku lalui berdua dengan viny ku lewati dengan orang lain , aku juga memberi Jinan buah asam yang sering ku ambil untuk viny kepada nya dan ekspresi wajah mereka juga sama saat memakan buah yang sangat asam itu.

Kenapa aku memikirkan viny saat ku lalui jalan ini berdua dengan orang lain ini bukan jalan khusus yang hanya boleh dilewati oleh aku dan viny ini hanyalah jalan setapak biasa menuju sekolah , tak ada hal spesial dijalan ini selain pemandangan yang cukup bagus aku harus berhenti mengaitkan semua dengan kenangan yang pernah ku lalui dengan viny aku harus lebih menikmati saat saat aku bersama Jinan lagi pula aku menantikan nya.

Sepanjang jalan Jinan masih membicarakan tentang kemarin bagaimana dia selalu menang terlebih saat dia mengalahkan ku dengan mitra kukar itu sesuatu yang akan terus membekas , tapi meski kemarin aku selalu kalah dari nya tapi bukan lah hari yang ingin kulupakan tapi hari yang ingin selalu ku ingat

Di kelas viny memindahkan meja nya ke sudut ruangan meninggalkan ku sendirian begitu juga dengan teman sekelas ku yang lain mereka semua mengambil jarak dengan ku , kenapa hari ku yang dimulai dengan sesuatu yang menyenangkan harus dirusak dengan ini semua.

“ADA APA DENGAN KALIAN SEMUA” bentak ku yang kesal dengan tingkah mereka ,

Tapi mereka tak menjawab mereka hanya memandangku dengan pandangan yang aneh pandangan memusuhi , sialan siapa yang peduli dengan ini semua aku mengambil tas ku dan keluar kelas pergi menuju atap untuk menunggu Jinan mungkin saat jam istirahat dia akan datang ke atap.

Jinan sudah berada diatap saat aku sampai apa dia bolos lagi ? ya sudahlah aku lagipula jika dia berada disini aku tak perlu menunggu nya ,

“kok nggak masuk kelas ?” tanya nya saat melihat ku

“aku sedang tak ingin berada dikelas kamu sendiri kenapa bolos ? “ ucap ku balik bertanya

“aku sedang tak ingin berada dikelas” ucap nya

“apa kamu bolos latihan lagi”

“aku dihukum tak boleh ikut latihan”

“ya sudah mau gimana lagi”

“bagaimana dengan masalah mu kemarin  ?”

“aku tak tahu harus bagaimana saat aku minta maaf dia bilang bukan kepada nya ku harus minta maaf”

“mungkin kau harus minta maaf dengan orang yang kau pukul”

“maksud mu aku harus minta maaf pada bam”

“mungkin itu yang dia inginkan”

Mungkin itu yang dimaksud viny kemarin agar aku minta maaf pada bam ya sudahlah jika viny ingin aku minta maaf pada bam maka yang harus ku lakukan adalah minta maaf kepada nya ,

“ ya sudah kalau begitu aku pergi dulu” ucap ku

“hati hati”

“iya”

Aku pun kembali ke kelas tapi aku tak melihat bam ada di kelas viny hanya duduk sendirian di ujung , mungkin viny tahu dimana dia jadi aku pun menghampiri nya.

“mau apa lagi” ucap viny saat melihat ku mendekat

“dimana bam”

“kamu mau apa lagi apa belum cukup yang kemarin”

“bukan begitu aku hanya ingin minta maaf kepada nya “

“ maaf lebih baik kamu nggak usah ganggu dia lagi “

“tapi…”

“ DIA baru pindah kesini satu hari dan kamu sudah buat dia masuk rumah sakit dasar kamu AKHHHHH”

Viny mendorong ku lalu berlari keluar kelas aku mencoba mengejar nya tapi dendhi dan rusdi menghalangi jalan ku ,

“minggir” ucap ku

Tapi saat aku mencoba lewat mereka mendorong ku mundur ,

“maaf jun tapi kau sudah keterlaluan jadi kami…..”

Aku memukul wajah dendhi membuat dia jatuh tersungkur dan keadaan menjadi lebih buruk karena semua orang melihat dan mulai berkerumun para lelaki mendekati ku dengan wajah kesal , kenapa situasi ini terus memburuk membuat ku semakin sulit menyelesaikan semua ini.

“jun kau harus tenang sebelum semua ini semakin buruk” ucap rusdi yang mencoba menahan beberapa orang yang ada dibelakang nya.

“aku hanya ingin bicara dengan viny jadi kalian semua minggir”

“TENANG semua nya tenang masalah ini bisa diselesaikan baik baik” ucap rusdi

Sudah terlambat untuk tenang karna semua orang sudah emosi yang selannjutnya ku ingat aku mencoba memukul dan menendang beberapa orang melompat menghajar ku , suasana itu kacau aku rasa seseorang membenturkan kepala ku ke dinding karena pandangan ku menjadi buram.

Kapala ku sakit dan butuh beberapa saat bagi ku untuk sadar kalau Jinan sedang mengupas apel untuk ku ,

“sudah sadar” ucap nya

Aku hanya mengangguk karena terlalu sakit untuk berbicara

“mau apel” tawar nya

Sekali lagi aku hanya mengangguk lalu dia memotong apel menjadi potongan yang lebih kecil sebelum menyuapkan nya kepada ku , paling tidak aku masih bisa menguyah dan menelan meski.

“tunggu ya aku panggilin dokter”

Jinan pergi untuk memanggil dokter meninggalkan ku sendirian berbaring diatas kasur sulit untuk beristirahat saat kau merasakan nyeri diseluruh tubuh terlebih kepala ku yang terasa seperti baru dibenturkan ke dinding , hei tunggu.

Seorang dokter datang dan memeriksa keadaan ku dokter menjelaskan bahwa aku mengalami geger otak ringan dan beberapa memar di kepala dan badan ku , keadaan ku tidak parah hanya butuh istirahat dan minum beberapa obat pereda nyeri.

Hari itu ku habiskan dengan tidur mungkin karena efek obat pereda nyeri yang tadi ku minum dan saat ku buka mata Jinan masih menunggu ku tapi mungkin dia kelelahan , dia tertidur disofa yang ada disebelah tempat tidur ku. Aku pun memasangkan selimut karena aku tak ingin membangunkan nya.

“jun” panggil seseorang

“bambang ?”

“ada yang ingin ku bicarakan”ucap nya

Bam hanya berdiri didepan pintu kamar ku dia juga memakai baju pasian seperti yang ku pakai jadi kami dirawat dirumah sakit yang sama ,

“ayo bicara ditempat lain”ajak ku

“baiklah”

Aku tak ingin membangunkan Jinan jadi aku mengajak bam untuk bicara ditempat lain aku mengajak nya pergi ke taman yang ada di depan kamar ku ,

“ada apa ? “ tanya ku

“aku ingin bicara soal ratu” jawab nya

“viny”

“iya viny”

“bicaralah”

“kau tahu kenapa aku dirawat disini”

“jika kau ingin maaf dari ku , maka aku meminta maaf kepada mu sekarang atas apa yang ku lakukan kemarin”

“aku tak butuh maaf mu aku hanya ingin kau menjauhi ratu karena aku ingin dia jadi milik ku” ucap bam

“aku menolak”

“kau harus”

“kenapa aku harus menuruti mu ?” tanya ku

“selain karena ratu sudah membenci mu kau juga sudah membuat kesalahan besar karena sudah memukul ku”

“itu tak berarti kau bisa menyuruh ku untuk menjauhi viny”

“KAU HAMPIR MEMBUNUH KU”

“apa.apa maksud mu ?”

“kau merusak jaringan saraf ku dan kau membuat ku hampir lumpuh kau pikir apa yang akan dipikirkan polisi tentang itu”

“kau pasti bercanda aku hanya sedikit memukul mu”

“apa kau tahu catatan medis ku apa kau tahu kalau aku pernah kecelakaan dan membuat sususan saraf ku lemah dan saat kau memukulku kemarin susunan saraf ku rusak dan aku harus menjalani operasi”

Dia benar aku tak tahu itu semua mungkin itulah alasan viny marah kepada ku mungkin itu alasan semua teman sekelas ku marah kepada ku mungkin aku sudah keterlaluan ,

“seperti nya kau tak tahu itu semua jadi jauhi lah ratu atau aku akan melaporkan ini semua kepada polisi aku punya cukup bukti dan saksi untuk membuat mu masuk penjara , ini peringatan pertama dan terakhir untuk mu JUN jauhi ratu biarkan kami bahagia berdua carilah kebahagian mu sendiri.”

Bam pergi meninggalkan ku sendirian kenapa masalah ini menjadi sangat buruk aku hanya ingin berdua dengan viny seperti dulu , apa aku meninggalkan viny sendiri dan  mencari kebahagian ku yang lain.

Jinan berdiri disana dengan wajah yang khawatir sekarang aku sadar kalau dia selalu menemani ku selama ini , dia yang selalu ada disebelah ku dan aku selalu merasa bahagia saat berada disebelah nya.

“jun”

“aku baik kamu nggak usah khawatir”

“kamu yakin”

“bolehkah aku memeluk mu ?”

“tentu”

Aku tak pernah merasa begitu hangat saat dalam pelukan seseorang ini begitu menyenangkan aku ingin ini tak pernah berakhir , mungkin ini lah kebahagian ku sendiri bisa berdua dengan nya itu sudah cukup.

“aku sayang kamu”ucap ku

“aku senang kamu bicara begitu”

“aku selalu ingin bersama mu selalu”

“aku akan selalu menemani mu selalu”

“ i love you”

“ i love you too”

END.

@chris_vylendo

 

Iklan

3 tanggapan untuk “Jalan setapak hijau

  1. Terus Viny dan Bambam kemana? Mungkin kamu gak sanggup menceritakan itu. Sini peyuk *plak*

    Bagus ceritanya chris, memenuhi syarat cerita yang berhasil menyentuh hatiku. Dan disini ku sadari bahwa kamu punya ciri khas tulisan. Rasanya gak perlu diedit lagi tanda bacanya. Itu ciri tulisan Chrisvilendo 😍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s