Shinta Naomi : Selamat Datang di Jakarta, Part 4

Naomi dan Ulung terus berjalan ke gedung tempat Naomi akan casting.
Tempatnya dekat, mereka terus mengobrol selama perjalanan ke gedung.
Sesampainya di gedung, Naomi takjum melihat keindahan menara pencakar
langit itu.

“Maaf ya neng Omi, saya cuma bisa nganterin sampe sini aja. Kalo sampe
dalem saya pasti ditahan security.” ucap Ulung.
“Iya gapapa kok, ini udah lebih dari cukup.” balas Naomi.

“Yaudah, saya pamit dulu. Mau nyusul temen-temen.” pamit Ulung.
“Iya, makasih ya. Oh iya, maap soal yang tadi. Temen kamu jadi
berdarah gara-gara saya.” ucap Naomi, Ulung hanya melambaikan
tangannya seraya pergi menjauh.

Naomi sejenak melihat penggung preman itu. Lalu, Naomi masuk ke dalam
gedung. Saat ia hendak masuk, tiba-tiba security menahannya. Naomi
kaget, lalu ia menghentikan langkahnya.

“Mau kemana?” tanya security itu.
“Saya mau casting.” jawab Naomi.
“Oh, yaudah! Masuk aja, ruang casting ada di sebelah kiri. Lurus aja,
nanti belok kiri.” balas security itu.

“Makasih, pak!” ucap Naomi, ia sedikit mengangguk.
“Iya sama-sama” balas security itu, lalu Naomi berjalan menuju tempat
yang ditunjuk security tadi.

Sesampainya disana, Naomi terkesiap saat ia melihat banyak sekali
orang yang hendak casting.
“Mereka semua teh pasti calon artis.” pikir Naomi.

Naomi lalu duduk dibangku paling belakang, menunggu selama beberapa
jam. Ia amat bosan selama menunggu disana. Tapi ia harus sabar, semua
ini demi cita-citanya.

Ia melihat orang-orang tengah sibuk memainkan gadgetnya masing-masing.
Kelihatannya seru, Naomi iri pada mereka. Tapi Naomi tidak punya
gadget, ia hanya diam menunggu giliran.

Setelah beberapa jam bosan menunggu, akhirnya giliran itu tiba. Naomi
perlahan melangkah masuk ke ruangan casting. Dengan percaya diri ia
berakting di dalam ruangan itu.

Ia lolos, sutradara film itu menyukai aktingnya. Castingnya hanya
beberapa menit, tapi ia menunggu selama beberapa jam. Penantian itu
tidak sia-sia. Ia harus melewati seleksi selanjutnya, di gedung lain.

Naomi harus mencari gedung casting selanjutnya. Ia berkeliling, tapi
ia hanya menemukan Monas. Malam ini ia tidur di emperan toko dekat
Monas. Ibukota benar-benar sibuk, bahkan tengah malam pun masih banyak
orang berlalu lalang disana.

Pagi itu, Naomi tidak sholat subuh. Ia kesiangan, jika pemilik toko
tidak membangunkannya mungkin kini ia masih terlelap. Padahal ia
sangat rajin sholat. Semenjak menginjakan kaki di Ibukota ia jadi
jarang sholat, alasannya tidak tau dimana masjidnya.

Pagi itu Naomi tidak mandi, ia hanya menyikat giginya saja. Memakai
parfum dan sedikit berdandan. Ia masih mengenakan pakaian kemarin.
Rambutnya ia sisir rapi.

Setelah dirasa cukup rapi, Naomi pergi dari selasar toko itu. Ia pamit
pada pemiliknya, berterima kasih karna telah mengijinkannya berdandan
disana selama beberapa menit.

Naomi harus tiba di gedung itu esok harinya. Ia tidak boleh
buang-buang waktu lagi. Naomi bertanya alamat gedung itu pada penduduk
sekitar. Tidak tau, itulah jawaban mereka.

Naomi lelah, ia menatap lesu kertas alamat yang ia genggam. Melangkah
dengan tatapan kosong. Naomi tidak sadar bahwa ia sudah melangkah
cukup jauh, sudah ke tengah jalan raya.

Tiba-tiba dari arah lain mobil melaju kencang. Naomi terkesiap, ia
amat terkejut saat mobil itu tiba-tiba mengerem. Pemiliknya turun
menghampiri Naomi.

“Kamu enggak apa-apa, kan?” tanya pemiliknya.
“Enggak.” jawab Naomi singkat.
“Kamu mau kemana? Kok nyebrang jalan gak liat-liat? Aku anter ya?”
tanpa perlu jawaban, pria itu langsung membawa Naomi masuk ke dalam
mobilnya.

Di dalam mobil, pria itu memulai pembicaraan. Kini mobil sudah melaju.
“Oh iya, kenalin! Nama aku Rusdi.” ucapnya.
“Naomi.” Naomi berjabat tangan dengan pria itu.

“Kamu yakin enggak apa-apa?” Rusdi menyentuh pipinya, Naomi terkejut.
“Ahhhh!!! Jangan pegang-pegang!” Naomi berontak, menepis lengan itu
dari pipinya.

“Ternyata Epul teh bener! Orang Jakarta teh jahat-jahat! Saya mah mau
turun disini aja! Pak! Bapak! Saya mau turun!” Naomi terlihat panik.
“Pak, turun!” Rusdi tersenyum, membiarkan Naomi turun tergesa-gesa.

Naomi terlihat kesal saat ia turun. Ia pergi, melangkah menjauh.
Sesekali bergumam karna sikap tidak sopan pria itu. Baru pertama kali
Naomi diperlakukan seperti itu, bahkan Epul tidak pernah memegang
pipinya. Hanya Sinka dan ibunya yang boleh.

Setelah cukup jauh, tiba-tiba Naomi merasa ada yang kurang. Tadi ia
memegang sekantong uang receh. Sekarang? Kemana uangnya? Naomi kembali
terlihat panik, kali ini lebih panik dari sebelumnya.

Ternyata uang receh pemberian ibunya itu masih disana, tertinggal di
dalam mobil pria tadi. Naomi pasrah, ia kini terjebak di Ibukota. Ia
tidak bisa pulang. Apapun yang terjadi ia harus melanjutkan
perjalanannya, walau tanpa uang sepeser pun.

Naomi terduduk lemas, tidak tau apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Saat Naomi sedang dilanda kebinguangan, tiba-tiba muncul dua orang
lelaki menggodanya.

“Eh, lu mau duit gak?” tanya lelaki itu, Naomi hanya menatapnya bingung.
“Kalo mau lu harus ikut, mau ya cantik!” lelaki satunya mengusap dagu Naomi.
“Eh! Kalian teh kenapa sih?” Naomi marah.

“Kok marah? Jangan marah-marah mulu dong!” kembali mengusapnya.
“Ih! Saya teh wanita baik-baik! Kalian ini apa-apaan sih?” Naomi
semakin jengkel.
“Sok jual mahal banget lu!” ucap lelaki satunya.

Saat mereka hendak menyeret Naomi, tiba-tiba ada yang memukul lelaki
satunya hingga terjengkang. Lelaki itu tak berkutik lagi, ia memegangi
hidungnya yang berdarah.

“Eh? Kang Ulung!” Naomi lalu bersembunyi di belakang Ulung.
“Kamu enggak apa-apa kan?” tanya Ulung.
“Enggak kang! Makasih ya!” jawab Naomi.

“Berani banget lu mukul temen gue!” lelaki itu marah, lalu menyerang Ulung.
“MAJU LU!!!” teriak Ulung, lalu mereka berkelahi.
“Eh!” Naomi ketakutan.

Ulung berhasil menendang dada lelaki itu, hingga ia terjenggang.
Lelaki itu kesakitan, lalu kabur membawa rekannya yang masih memegangi
hidungnya. Mereka kalah, tidak berkata apapun lagi saat mereka lari.

“Kamu teh enggak ikut temen-temen kamu?” tanya Naomi.
“Enggak lagi, saya bosen jadi preman! Kalo boleh saya mau ikut kamu
tinggal di kampung, boleh ya?” Ulung memohon.

“Boleh aja, tapi bantu saya dulu nyari alamat ini.” Naomi menunjukan kertasnya.
“Ini saya tau, yuk berangkat!” Ulung mendahului Naomi.

“Maap, saya mau tanya. Kok kebanyakan orang Jakarta teh jahat-jahat?”
tanya Naomi.
“Selamat datang di Jakarta, dimana tempatnya orang-orang jahat
berkeliaran bebas!” jawab Ulung tersenyum, merentangkan tangannya.

BERSAMBUNG

Jika kalian punya pertanyaan tentang bahasa Sunda yang tidak
dimengerti, silahkan mention ke @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s