Wizard and warriors, Last Part

Pagi harinya aku terbangun dari tidur indahku, ketika Shania tadi malam aku pukul pakai batang pohon dan sudah aku ikat kedua tangannya gara-gara Shania tadi malam mau membunuhku dengan kekuatan sihir putihnya. Shania berteriak-teriak minta di lepaskan ikatannya, tapi aku biarin saja dan aku tinggal buat latihan di dalam danau yg di penuhi dengan ikan piranha dan belut-belut listrik yg setiap saat mengancam nyawaku jika aku salah menggunakan kekuatam sihir yg tak tau dari mana datangnya. 

Hiaakk!!!..”

Douarr!!!

 Douaarr!!!

 Dua ledakan besar di permukaan air danau tercipta ketika aku menebaskan pedangku kepermukaan air danau. Sontak para Ikan Piranha dan belut listrik yg sangat banyak mengarah padaku dan mencoba mengigit kakiku. Aku tebas semua ikan-ikan itu berkali-kali sampai tidak ada yg terisisa di danau itu lagi. Shania yg melihatku hanya diam saja dan terus mencoba melepaska ikatannya dari batang pohon. Saat ikatan tali di tangannya Shania kendor, Shania langsung menyihir ikat tali ditangannya menjadi Ular putih.

Shania yg sudah terlepas ikatan tangannya langsung melemparkan batang pohon Jati yg sangat besar kearahku.

Duarr!

Batang pohon itu langsung hancur berkeping-keping ketika aku mengerakan tanganku ke arah batang pohon kayu yg sangat besar itu.

“Hebat-hebat, apa sekarang kamu bisa mengalahkanku dengan ini.” puji Shania langsung menyerangku menggunakan golok ular putihnya.

“Maju saja kalau kamu bisa mengalahkanku.” kataku, terus menangkis semua serangannya Shania. Saat Shania memelintir tanganku aku langsung menangkap tangannya Shania dan aku totok agar tangan yg biasanya di gunakannya buat sihir kaku.

“Curang kamu!!” Ucap Shania, mundur kebelakang.

“Curang? Maksut kamu apa coba.” kataku.

“Ya curang masa kamu notok tangan kanan aku kayak gini, kan nggak adil namanya.” Protes Shania.

“Ya adil donk, kamu gunaiin Sihir lah aku gunaiin pedang saja.”

“Nggak adil pokoknya..” ketus Shania sambil mencemberutkan wajahnya. Bibir manyun kedepan.

“Lah malah ngambek, iya deh maaf.” kataku sambil terbang kearahnya Shania.

Tapi Shania malah mengeluarkan sihirnya ke arahku, badanku semua serasa mati rasa dan seperti terbakar ketika Shania mengangkatku keatas menggunakan sihirnya.

“Hahaha… Mudah ketipu ya kamu, cowok bodoh!.” kata Shania.

“Sialan benar Shania, awas saja kamu nanti.” Pikirku dalam hati sambil memfokuskan mataku kearah sorot matanya Shania. Seketika itu juga Shania melepaskanku dari Sihirnya, dan sekarang Shania sudah berada di bawah pengendaliaan sihirku.

“Sekarang kamu lepas semua baju kamu dan lompatlah kedalam danau itu.” Ucapku sambil menyuruh Shania masuk ke dalam danau besar yg ada di hadapan kami. Shania hanya menuruti saja apa yg aku printahkan. Shania langsung masuk kedalam danau, saat Shania sudah masuk kedalam danau. Aku sembunyikan semua pakaiannya di bawah batu besar.

“Eh kenapa aku bisa berada disini?.” ucap Shania tersadar dari kendali sihirku.

“Gimana enak?” kataku.

“Enak? Maksut kamu apa ya. Kamu aja nggak sama sekali ngelukaii aku” Tanya Shania Heran.

“Itu tuh, gimana rasanya berada di dalam danau tanpa semua pakaian melekat.” ucapku.

Shania terkejut dengan omonganku, dan benar saja saat Shania meraba-raba dirinya sendiri. Ia tidak mendapati satu helai benang pun terpasang di badannya.

“Kurang ajar kamu, balikin nggak semua baju-baju aku.” Seru Shania sambil marah-marah.

“Balikin? Enak aja suruh balikin. Ambil saja sendiri kalau bisa.” kataku sambil rebahan diatas batu.

“Awas kamu entar, akan aku bales perbuatan kamu.” balas Shania langsung menyihir dirinya menjadi ular yg sangat besar dan langsung keluar dari danau dan langsung melilitku. Pada saat aku sedang memejamkan kedua bola mataku. Lilitan tubuhnya Shania sangat kuat sampai-sampai aku tidak bisa bergerak gara-gara Shania.

“Rasaiin kamu, nggak bisa nafaskan kamu sekarang. Berani kurang ajar sih sama aku” ular yg sangat besar yg sedang melilitku itu berbicara.

“Nggak akan, lagian aku udah tau bentuk gunung kembar sama anunya cewek kayak gimana. Ternyata kecil gitu ya? Tapi yg aku kagumin itu gunung kembar punya kamu itu besar banget pink kehitam-hitaman lagi punya kamu. Huumm jadi pengen nyobaiin deh” kataku sambil mencoba melepaskan diri dari lilitan kuat Shania.

“Kurang ajar. Awas nanti kalau aku sudah jadi manusia lagi. Akan aku beri kamu.” Shania langsung memakai bajunya yg aku sembunyikan dibawah batu dengan sangat cepat sampai-sampai aku tak bisa melihatnya begitu jelas.

“Coba sini kasih pelajaran aku yg lebih berharga sini.” kataku sambil melemparkan bola api keShania. Tapi Shania menangkisnya dengan sangat mudahnya.

“Dance fire ball!!!”

Shania menendang-nendang udara disekelilingnya sampai berbentuk seperti bola api yg sangat besar dan banyak. Serangannya Shania mengarah kearahku dengan sangat cepat. Aku mencoba untuk berubah bentuk seekor naga Giok seperti halnya tadi shania berubah manjadi ular putih yg sangat besar. Tapi aku berhasil mengagalkan serangannya Shania menggunakan separuh badan Naga Giok ku.

“Hahaha.. Gagal berubah ya? Cuman separuh aja nih yg berhasil, separuh badannya nggak ikutan berubah juga.” ledek Shania sambil menertawaiku. Aku yg rasanya geram dengan kelakuaanya Shania langsung menyabet badannya Shania menggunakan separuh badanku yg berubah menjadi ekor Naga. Shania terbentur batu kepalanya sampai ia tak sadarkan diri ditanah.

“Rasaiin itu, makanya jangan suka ngehina orang.” Aku langsung berubah lagi menjadi seorang manusia seutuhnya.

Malam harinya Shania tersadar dari pingsannya. Aku yg sedari tadi membakar ayam hutan dan beberapa ubi yg aku temukan tadi sore di dalam hutan itu pun sudah matang.

“Dimakan dulu nih? Pasti perut kamu udah kelaparankan?” Ucapku sambil menyodorkan daun yg sudah aku taruh ayam dan Ubi bakar ke Shania. Tapi Shania pura-pura tidak mau, pada saat aku mengambil air di belakang. Shania langsung memakan makanannya.

“Enak ya makanannya..” kataku dari belakang tiba-tiba. Sontak membuat Shani tersedak oleh tulang ayam bagian sayap.

“Sini-sini biar aku bantu..” kataku sambil memasukan lidahku kemulutnya Shania. Sontak Shania kaget melihatku yg sudah mulai tidak waras lagi sebagai seorang silent rider yg dihormati. Aku berhasil mengambil tulang ayam dari dalam mulutnya Shania. shania hanya diam saja melihatku ketika aku sedang memainkan lidahku didalam mulutnya. Tapi lama kelamaan Shania juga membalas permainan lidahku. Memang sungguh waktu yg nikmat buat bermesraan padahal kita bukan seorang yg mencinta.

“Euuh sayang. Ayo cepat keluarin, jangan di dalam ya.” Kata Shania.

“Iya Shania sayang, sebentar ya ini juga mau nyampe kok.” balasku sambil mengeluarkan mualku ketika aku berciuman dengan Shania. Memang nikmat sekali berciuman dengan Shania yg nota bene badannya bongsor dan bibirnya tipis dan manis seperti bibirnya Yupi.

Pagi harinya aku mengajak Shania buat ke istana black tower, untuk membalaskan semua dendamku terhadap kepala silent rider. Saat aku melintasi pasar di negri Aurora, banyak melihat ke Shania seolah mereka takut terhadap Shania.

“Eh mereka itu kenapa sih, kok kelihatannya takut sama kamu sayang.” bisiku ketelinga Shania.

“Biasalah mereka, merekan udah tau aku itu salah seorang penyihir putih makannya orang-orang pada sinis dan benci pada aku itu” balas Shania sambil berbisik juga.

Saat semua anak-anak Silent rider melihatku sedang mengarah ke black tower dengan membawa salah seorang penyihir putih. Mereka semua langsung menghadangku di depan pintu gerbang masuk istana.

“Stop!! Lo nggak bisa jauh lagi melangkahkan kaki lo dari sini. Jika lo masih saja melangkah satu lagi kearah dalam, gue akan benar-benar bunuh lo berdua dengan kapak gue yg besar ini.” kata Sagha menodongkan kapaknya kearah kami berdua.

“Banyak omong kalian, cepat kalian minggir nggak atau kalian akan merasakan akibatnya.” kataku.

“Kami semua nggak akan minggir..” kata mereka semua.

“Oke kalau itu mau kalian.”

Aku langsung membuat mereka semua melayang-layang diudara dan langsung meledak diatas udara. Shania langsung menyerang para murid silent sider lain ketika para silent rider melontarkan panah yg sangat besar kearahku. 

“Blaz Thunder!!”

Duarr!!

Panah yg dilesatkan oleh para silent rider itu langsung tertahan oleh Shania. Aku langsung berlari menuju keruangan kepala sekolah silent rider. Saat aku mau masuk ruangan kepala sekolah. Kepala sekolah black thunder telah terbunuh oleh Melody. Melody yg tengah menyamar menjadi salah seorang murid cantik di silent rider.

“Kenapa lo ada disini?” tanyaku ke melody.

“Gue ada disini karena gue akan bantu lo buat nguasaiin negri Aurora ini.” kata melody.

“Gue nggak ada niatan buat nguasaiin negri Aurora, gue hanya ingin membalaskan dendam kematiannya Ical saja.” balasku sambil mengeluarkan dua belah pedang giok buatanku yg telah aku sambungkan menggunakan rantai.

“Gak berguna lo jadi orang, udah syukur gue bantuiin buat ngebunah pimpinan bodoh para silent rider eh lo malah nantang gue berkelahi. Oke kalau itu mau lo, gue akan layanin lo buat berarung.” kata Melody langsung terbang keudara seketika itu juga menara black tower langsung meledak.

Douarrr!! 

Aku langsung melemparkan kedua belah pedang giok ku kearahnya melody, tapi melody berhasil lolos dari ssbetan pedang giokku. Shania yg melihatku bertarung dengan melody itu pun langsung berubah menjadi ular putih yg sangat besar dan langsung terbang keatas.

“Oh lo mau bantuiin itu cowok buat ngalahin gue gitu? Oke kalau itu mau lo juga. Gue akan binasakan lo berdua disini.” kata Melody berubah menjadi naga berkepala tiga. Melody melesatkan bola api dari mulutnya. Aku yg belum sempat menghindar itu langsung di lindungin oleh Shania yg sudah berubah menjadi ular sangat besar. Shania kelihatannya kesakitan akibat terkena serangannya melody. Shania langsung kehempas ketanah dengan cepat akibat serangan mematikan miliknya melody.

“Kurang ajar bener lo ngebunuh Shania, akan gue habisin juga lo disini!!”

“Berubah!!!”

Grooaarr!!

Aku langsung menerkam ketiga kepala naga itu dengan satu gigitan, karena aku berubah menjadi seekor naga giok yg berukuran tiga kali lipat dari naga api biasannya. Melody hanya menahan rasa sakit yg ia deritannya yg bersal dari gigitanku.  Melody mengeram kesakitan, pada saat melody mau berubah bentuk menjadi seorang wanita lagi. Melody gagal berubah bentuk menjadi seorang wanita normal lagi. Aku serap semua energi kehidupannya Melody dari gigitanku yg telah mematikan titik vital kehidupannya itu.

Setelah aku bergelut dengan melody cukup lama, aku langsung menghampiri Shania yg tlah berubah normal menjadi seorang manusia normal.

“Bangun shania, jangan tinggalin aku shania!! Aku nggak mau kamu tinggalin Sendirian Shania.” ucapku sambil menyemburkan energi kehidupan ke dalam tubuhnya shania lagi. Sedikit-demi sedikit Shania tersadar dari tak sadarkan dirinya.

“Aku juga nggak mau kehilangan kamu kok.” kata Shania langsung menyangga kepalaku dengan tangannya. Aku langsung mencium bibirnya Shania seperti dulu aku mengisenginya di danau.

“Jangan tinggalin aku ya sayang. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi” kataku sambil mengangkat Anak pana yg sangat besar.

“Iya sayang. Kamu juga nggak boleh ninggalin aku ya, aku nggak pengen jika anak yg ada di dalam kandunganku ini nggak ada ayahnya.” kata Shania sambil mengelus-elus perutnya.

“Loh kamu hamil rupannya, sejak kapan kamu hamil. Padahal kamu nggak aku apa-apaiin sayang.” kataku terkejut mendengar ucapannya Shania.

“Memang kamu tidak pernah melakukan hal semua itu sama aku, tapi dulu aku pernah mencicipi sedikit tubuhmu sayang. Maaf ya?” kata Shania berterus terang kepadaku.

“Iya Shaniaku yg nakal.” balasku sambil menyalurkan sihirku ke anak panah yg sedang aku angkat ini.

“Ucapkan selamat tinggal dengan teman-teman penyihirmu itu sayang. Sebentar lagi tidak akan ada lagi kata penyihir putih dan para Silent rider di negri ini. Kita buat negri Aurora ini damai dan tentram, dan indah sebagai negri Impian kita berdua.” kataku bersiap meluncurkan anak panah yg sangat besar kearah gunung medusa tempat dimana semua penyihir putih berkumpul.

“Iya sayang. Lagian aku juga tidak suka dengan mereka semua, mereka semua suka jahatin aku. Aku pengen hidup dengan tenang dengan kamu dan dede bayi kita ini.” balas Shania sambil memeluku dari samping

Sueeesstt!!! 

Douaarrr!!!!

 Gunung medusa meledak seketika itu juga, ketika anak panah yg aku lesatkan kearah gunung medusa menghantam tanah. Semua para penyihir putih binasa semua, dan hanya menyisakan satu penyihir putih yaitu Shania yg sebentar lagi jadi calon ibu buat anak-anaku. Setelah aku dan Shania membuat negri Aurora damai dan tentram suasanannya aku mengajak Shania yg tengah hamil 5 bulan lamanya keduniaku. Aku juga membawa Shania kerumahku untuk aku kenalkan dengan kedua orang tuaku. Alangkah terkejutnya yupi, ketika aku pulang kerumah membawa seorang wanita muds yg tengah mengandung.

“Siapa wanita hamil itu kak?” Tanya Yupi menatap Sinis ke wanita Hamil ini.

“Oh dia itu Istri aku yupi, kenalin ini Yupi yg sering aku ceritaiin sama kamu itu sayang.” kataku ke Shania.

“Oh ini dia rupannya adek ipar aku, cantik dan lucu juga. Kenalin dek, kakak Shania. Salam kenal ya” ucap Shania manis ke Yupi, tapi yupi tetap saja dingin sifatnya ke Shania. Aku yg tau itu langsung menarik Tangannya yupi kebelakang rumah, dan Shania aku biarkan berbicara dengan mamahku yg kebetulan saja baru pulang dari Singapore.

“Kamu itu kenapa sih yup, kok kamu kelihatannya nggak suka banget sama Shania.”

“Kamu nggak usah banyak bicara ya kak, aku benci sama kakak pokoknya. Kakak udah buat aku kecewa, aku nggak pengen kenal sama kakak lagi pokoknya.” marah Yupi sambil memukuk-mukul dadaku. Aku hanya diam saja kala itu, biarkan yupi meluapkan semua emosi dan kekesalannya sama aku. Setelah yupi sudah mulai berhenti memukul-mukul dadaku, aku sekarang yg gantian ngomong sama yupi.

“Udah dek, marah-marahnya?.” tanyaku.

“Udah…”

“Aku tau itu dek, aku tau kalau kamu suka sama aku dan sayang sama aku. Tapi aku udah anggep kamu itu saudara aku sendiri yup, nggak ada rencana lain. Biarkanlah aku hidup bahagia dengan dia yup, kamu carilah cowok lain yg lebih baik lagi dari pada aku. Kalau memang kamu benar-benar sayang sama aku pasti kamu akan menuruti semua perkataan aku tadi. Udahlah kamu nggak usah nangis gitu, lagian kamu boleh kok manja-manjaan sama aku, lagian Shania juga udah aku bilangin kalau kamu itu adik aku satu-satunya yg paling aku sayang.” kataku sambil menyeka kedua air matanya.

“Baik kak, aku nggak akan nangis lagi. Aku akan mencoba ikhlasin kakak yg paling aku sayang buat kakak tiri aku kak shania itu.” balas Yupi sambil memelukku.

“Bagus kakau gitu. Itu baru namanya adek kakak yg paling kakak sayangi.” Aku sambil mengecup keningnya yupi dan langsung membawa yupi kembali ke ruang tengah dimana di ruang tamu sudah ada mama aku yg menanyakan kehamilannya Shania.

“Pada asik ngebicarain apa sih? Kok kelihatanya seru gitu.” ucapku.

“Ini loloh mama nanyain soal kehamilan temen cewek kamu ini.” kata Mamaku.

“Temen? Bukan temen mi. Itu Istri aku!.” ucapku yg langsung mengagetkan Nyokap aku sendiri.

“Apa? istri katamu. Sejak kapan kamu menikah? Padahal kamu masih sekolah, dasar anak bangor ya kamu. Nikah nggak bilang-bilang sama mamah dulu.” Mamaku langsung marah dan menarik telingaku.

“Ampun mah, ampun. Lagian aku juga harus bertanggung jawab mah. Pasalnya aku yg sudah buat dia sampai begini mah.” kataku.

“Yaudah nggak apa-apa tapi sekolah kamu masihkan?.”

“Hehehe.. Aku udah nggak sekolah lagi mah,hehehe” balasku.

“Riooooo!!! Dasar anak bangor sini kamu biar mama pukul kamu pakai rotan.” Nyokapku langsung ngejar aku menggunakan senjata utamanya. Disisi lain Yupi yg tadi bersalah ke Shania langsung meminta maaf sama Shania atas kesalahannya tadi.

“Iya dek udah nggak apa-apa kok. Lagian aku tau kamu itu nggak pengen kehilangan kakak cepet-cepetkan? Aku udah tau semuanya dari Rio, kalau itu adik satu-satunya. Kamu masih boleh kok mesra dan manja-manjaan sama Rio tapi jangan kelewatan dari itu ya.” kata Shania sambil merangkul yupi.

“Iya kak makasih ya.” balas Yupi sambil memeluk Shania.

The ends….

 

Created by:@lastwota

Cerita yg sangat simple sekali ya. Tapi di last partnya agak bisa buat orang ketawa juga kan? Hahaha maaf kalau masih ada unsur negatifnya dikit.hehehe kebiasaan aku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s