Shinta Naomi : Ambisi Menuju Ibukota, Part 2

Sambil tertawa orang gila itu terus mengejar mereka, berlari
mengelilingi kampung. Epul dan Naomi terus berlari, berteriak
gelagapan. Anak-anak bahkan ada yang tertawa saat Naomi mengangkat
roknya sambil berlari.

Setelah mengelilingi kampung, kini orang gila itu kehilangan jejak
mereka. Ia menengok ke kiri dan kanannya. Tidak ada, orang gila itu
sempurna kehilangan jejak mereka. Berlalu bergitu saja, pergi menjauh.

“Hufffttt, cape… untung gak ngejar lagi.” Naomi menghela nafas.
“Iya, untung dia gak tau kita disini.” Epul lalu meloncat ke bawah,
meninggalkan Naomi di atas sana.

“Epul!!! Bantuin atuh!” Naomi cemberut.
“Iya-iya, bawel teh Omi!” Epul bersiap menangkap Naomi yang hendak
melompat dari atas pohon.
“Siap nyah!” Naomi hendak melompat.

Tadi saat mereka berhasil lolos dari orang gila itu, mereka dengan
cepat menaiki pohon mangga. Bukannya berlari terus, mereka malah
bersembunyi. Ya, bersembunyi diatas pohon mangga. Naomi melompat,
kemudian Epul menangkapnya.

Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk berbincang-bincang di dekat
sawah setelah Epul selesai dari pekerjaannya. Naomi rela menunggu
berjam-jam disana. Bahkan sesekali membantu Epul menanam padi.

Setelah pekerjannya selesai, Epul dan Naomi mencuci tangan dan kakinya
di aliran sungai kecil yang arusnya mengalir melewati sawah-sawah
disana. Jarang-jarang Naomi mau membantu Epul menanam padi.

Mereka lalu duduk-duduk di pinggir sawah. Kaki Naomi diletakkan di
aliran sungai kecil itu. Sesekali mereka berbincang-bincang seraya
melihat pemandangan indah pedesaan.

“Jadi, Omi teh mau ngomong apa?” tanya Epul.
“Omi mau jadi artis di Jakarta.” Naomi memandang kosong jauh ke depan.
“Caranya?” tanya Epul.
“Omi mau ke Jakarta besok pagi.” Naomi kini menatap Epul.

“Hah? Kamu teh yakin?” tanya Epul terkejut.
“Yakin atuh, yakin seyakin-yakinnya. Omi teh pasti bisa jadi artis
terkenal di Jakarta!” Naomi sangat bersemangat.

“Epul boleh ikut?” tanya Epul.
“Bukannya gak boleh, tapi Omi teh mau usaha sendiri. Mau mandiri,
merintis karir di Jakarta sendirian.” Naomi menyentuh lembut bahu
Epul.

“Yaudahlah, hati-hati ya Omi.” Epul menatapnya prihatin.
“Hati-hati kenapa?” tanya Naomi.
“Hati-hati, orang Jakarta teh jahat-jahat. Kalo misalkan Omi teh
dipegang pipinya, jangan mau. Itu laki-laki jahat.” Epul terlihat
serius.

“Hahaha, iya atuh Epul iya.” Naomi tertawa melihat ekspresi serius Epul.
“Ish, dibilangin teh malah ketawa-ketawa. Sini Omi, Epul kelitikin!”
Epul menggelitik Naomi, Naomi tertawa sambil meronta-ronta.

Naomi berhasil lepas, ia berlari-lari kecil dipinggir sawah. Epul
terus mengejarnya, pura-pura tidak bisa menangkapnya. Itu mungkin hari
terakhir mereka bisa bersenang-senang. Karna esok Naomi akan merintis
karir ke Ibukota, mungkin akan sangat lama ia kembali ke desanya.

Malamnya, Naomi meminta izin pada ibunya. Ia sangat yakin bisa sukses
di Ibukota. Sinka hanya diam, ia sedih mendengar bahwa kakaknya akan
pergi ke Ibukota.

“Kamu teh yakin mau ke Jakarta?” tanya ibunya.
“Yakin atuh umi, yakin seyakin-yakinnya. Omi teh mau sukses di
Jakarta!” Naomi menatap ibunya, melihat tatapan itu ibunya jadi tidak
tega.

“Yaudahlah, nanti umi pecahin celengan umi buat ongkos sama modal kamu
di Jakarta.” ucap ibunya.
“Yesss!!! Hatur nuhun umi!” Naomi memeluk ibunya.

Dua jam kemudian, kini Naomi sudah berada di kamarnya. Ia kesulitan
menghitung uang recehan. Ibunya sangat baik, bahkan rela memecahkan
dan menyerahkan seluruh tabungannya pada Naomi.

“Asyik! Lumayan, ada seratus tiga puluh dua ribu.” Naomi selesai
menghitung uang recehan ibunya, kemudian memasukkan uang recehnya ke
dalam kantong kresek.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
“MASUK!!!” teriak Naomi, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang tua itu.
“Teh Omi?” Sinka masuk.

“Eh, Sinka!” Naomi bangun.
“Teteh yakin mau ke Jakarta?” tanya Sinka, kini ia sudah duduk di sisi Naomi.
“Atuh yakin, seyakin-yakinnya!” Naomi kembali mengulangi kata-katanya.

“Sinka jangan sedih, teteh pasti pulang kok.” Naomi tersenyum, Sinka
lalu menatap wajah kakaknya.
“Iya atuh teh.” Sinka memeluk kakaknya, Naomi balas memeluknya.

Malam ini mungkin terakhir kali mereka bisa berpelukan. Sebab esok
Naomi akan merintis karir di Ibukota, dan akan sangat lama ia bisa
kembali ke desanya. Ia sangat yakin bisa sukses di Ibukota. Yakin,
seyakin-yakinnya.

BERSAMBUNG

Jika kalian punya pertanyaan tentang bahasa Sunda yang tidak
dimengerti, silahkan mention ke @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s