Romansa Di Kota Itu, Part11

Viny yang melihat Dendhi kaget mulai penasaran

“Den, kenapa?” kalimat itu terlontar dari mulut nya

“Nggak ada apa-apa kok” ujar Dendhi

Wanita itu kaget setelah ia melihat wajah Dendhi, namun ia berusaha bersikap tenang

“perkenalkan nama kamu” ujar guru itu

“Halo semua, nama aku Shani Indira Natio, aku pindahan dari Jogja, mohon bantuannya ya” ujar wanita itu.

“Baiklah Shani, kamu duduk di samping Rafles” ujar guru itu.

Shani langsung melangkah ke tempat Rafles

“Nice to see you again” ujar Rafles sambil tersenyum dan menjabat tangan Shani, Shani hanya tersenyum

 

~oOo~

 

Jam Istirahat kini tiba, Shani lalu menuju ke tempat Dendhi dan Viny masih duduk.

“Haii Den, aku mau minta maaf buat kejadian itu” ujar Shani yang wajah nya tertunduk

“nggak perlu minta maaf, ke mana kamu saat itu di saat Reza pindah ke New York, asal kamu tau ya, Yupi itu meninggal” Dendhi membentak Shani

Viny yang tak tahu apa-apa lebih memilih untuk bungkam

“Maafin aku Den, tapi aku udah nitip salam ke kak Ve” ujar Shani tertunduk

“emangnya kamu nggak bisa apa ngomong langsung ke aku? Hah?” bentak Dendhi

“wis lah, sekarepmu” ujar Dendhi yang lalu meninggalkan Viny, Shani, dan Rafles ke taman sekolah.

Emosi Dendhi kini memuncak, ia lalu membantingkan tubuhnya ke tempat duduk.

“kenapa kok kamu keliatan bete Den?” tanya Reza yang ternyata duduk di sebelahnya

“dia balik lagi Za” ujar Dendhi dengan ekspresi sebalnya

“Dia? Shani maksudmu?” tanya Reza penasaran

Dendhi hanya menganggukkan kepala nya

“Ya Bagus dong, kita bisa ngumpul lagi kayak dulu” balas Reza

“nggak Za, aku masih nggak bisa maafin dia” ujar Dendhi yang berlalu meninggalkan Reza

 

*Kelas*

“haii shan, nama aku Viny, salam kenal ya” ujar Viny sambil menjabat tangannya Shani

“Iya, nama aku Shani, salam kenal juga ya” balas Shani

“Kamu nggak ke kantin?” tanya Viny yang hanya di balas oleh gelengan kepala dari Shani

“kantin yuk daripada kamu nggak ada kerjaan” kata Viny yang lalu di balas oleh senyuman manis dari Shani. Mereka berdua lalu pergi ke kantin.

“Eh vin, siapa tuh?” tanya Lidya yang sedang duduk di dalam kantin

“Ini anak baru, nama nya Shani” ujar Viny yang mengenalkan Shani kepada teman-temannya

“Hai Shan, gue Dhike” ujar Dhike

“aku Michael”

“Gue Kinal”

“Aku Sando”

“Aku Yoshi”

“Aku Ayana”

“aku Ilham”

“Oh iya Shan, yang tadi bareng sama lu itu suka sama ketua OSIS nya di sekolah ini” ujar Lidya

“apaan sih kamu Lid?” ujar Viny dengan pipi yang memerah

“emangnya siapa ketua OSIS di sekolah ini?” tanya Shani penasaran

“Dendhi, itu orang nya” ujar Kinal sambil menunjuk Dendhi

“jend. Gabung sini napa sih?” tanya Kinal.

Dendhi yang hanya membuang muka nya ke arah penjaga kantin

“kak, beliin nasi goreng dong, lapar nih” ujar seseorang

“iya-iya, minumnya kayak biasa kan? Jus Alpukat” tebak Dendhi, Michelle hanya terkekeh.

“Michelle, sini gabung sama kita” ujar Kinal, Kinal tahu bahwa kalau ia ingin mengajak Dendhi, ia harus mengajak adiknya, karena biasanya Dendhi tak akan duduk jauh dari adiknya

Michelle yang berjalan diikuti dengan Dendhi menuju ke arah Kinal, Michelle lalu duduk di sebelah Shani, diikuti oleh Dendhi yang duduk di sebelah Michael.

“Kayak pernah kenal, siapa ya dia?” tanya Michelle dalam hati

“Kenapa kamu ngelirik aku terus Michelle?” tanya Shani penasaran

“Kakak kak Shani?” tebak Michelle

“Iya” jawab Shani

“waaaah… kakak berubah banget, sekarang tambah putih dan tinggi pula” ujar Michelle sambil tertawa

“Den, kenalin ini Sha…” ujar Dhike yang di potong

“Iya, aku tau, dia Shani Indira Natio, pindahan dari Jogja” jawab Dendhi dingin.

“nih anak salah makan kali ya? Jutek amat” ujar Kinal dalam hati

“Den, kamu masih belum bisa maafin aku ya” ujar Shani tertunduk

“nggak” ujar Dendhi yang berjalan meninggalkan kawanan nya

“oiii thor, kawanan, kamu pikir itu hewan, mereka manusia oiii” ujar Dendhi sewot

“Alah, lu banyak bacot, gak kasih jatah mie instan kapok lu” ujar Author

“jangan lah thor.. aku anak kost. Kalo nggak di kasih jatah mie instan, kelar idup aku” ujar Dendhi memelas. *Abaikan

 

SKIP

 

Jam sekolah menunjukkan pukul 13.15, Dendhi dan Michelle sedang berada di parkiran, mereka sedang menunggu Reza dan Gracia.

“Kak, kapan kakak nembak kak Viny?” tanya Michelle

“hmmm… masih belum tau, udah jangan ngurusin soal itu, kamu masih bau kencur” ujar Dendhi tertawa lepas

“Bau kencur? Emangnya aku bumbu dapur apa kak?” ujar Michelle sambil menggembungkan pipinya

“Bukan itu, maksud aku kamu itu masih under 17, jadi kalo saran aku jangan pacaran dulu ya” ujar Dendhi.

“Iya deh” ujar Michelle lesu.

“Kalian udah nunggu lama?” tanya seseorang yang tiba-tiba mengagetkan mereka

“eh, kamu Za. Nggak kok. Baru aja nyampe di parkiran” ujar Dendhi yang menggaruk kepala nya.

“Mana si Gre?” tanya Dendhi lagi

“Gre lagi ngerjain tugas kelompok di rumah Anin” kata Reza.

“ya udah. Pulang yuk” ajak Dendhi.

Mereka pulang ke rumah masing-masing, baru saja sampai di simpang lima Banyuwangi, mereka melihat seseorang yang tak asing sedang duduk di emperan toko

“Den, itu Shani kan?” tanya Reza

“Mana sih?” tanya Dendhi balik

“Itu, lagi duduk di emperan toko” kata Reza sambil menunjuk Shani.

“dia lagi ngapain sih?” tanya Dendhi dalam hati.

“Za, coba kamu nyamperin Shani, aku tunggu di depan Dapur Using ya” kata Dendhi

“Lha, kok aku?” tanya Reza

“Aku kan lagi nyetir Za” ujar Dendhi, sedangkan lawan bicaranya hanya menunjukkan ekspresi datar

“Oke, aku bakal turun” kata Reza yang lalu turun dari mobil Dendhi, kini hanya menyisakan Dendhi dan Michelle

“Kak, kakak itu masih marah sama kak Shani?” tanya Michelle

“hmm… masih sedikit, kenapa sih?” Dendhi balik bertanya

“Kak, udahlah kak, lupain kesalahan nya kak Shani, aku yakin kak Shani pasti ada alasannya ninggalin kakak sama kak Yupi waktu itu” kata Michelle.

“Tapi Yupi itu percaya penuh ke Shani kalo dia bakal kembali waktu dekat, tapi nggak tau nya sampai dia meninggal si Shani nggak kembali juga” kata Dendhi.

“kakak percaya deh sama aku, kak Shani nggak bakal ninggalin kak Dendhi” ujar Michelle tersenyum sambil menyodorkan jari kelingkingnya.

“Ekspresi dan perkataannya kayak yupi” ujar Dendhi dalam hati

“Kok ngelamun sih kak?” tanya Michelle cemberut

“Janji nggak?” tanya nya lagi

“Iya, kakak percaya sama kamu” ucap Dendhi sambil mengaitkan jari kelingking nya dengan jari kelingking Michelle.

“Den, maaf lama” ujar Reza sambil menggandeng tangan Shani.

“Shan, rumah kamu di mana sekarang?” tanya Reza.

“masih tetep kok” ujar Shani.

“kayaknya aku emang nggak bisa di maafin lagi sama Dendhi” ujar Shani dalam hati.

Sepanjang perjalanan Shani hanya terdiam sedangkan Dendhi masih berkonsentrasi di jalanan kota Banyuwangi

“Kak, nanti malem nonton film yuk, sama kak Shani juga” ajak Michelle

“hmmm. Boleh juga, kalo kakak ngajak Viny gimana?” tanya Dendhi

“Boleh” ujar Michelle singkat

“Gimana kak Shani, mau nggak?” tanya Michelle

“hmmm… boleh deh” ujar Shani sambil melihat foto lama mereka (Shani, Dendhi, Reza, dan Yupi), Shani melihat sekilas wajah Dendhi yang tersenyum.

 

DEG

Pundak Shani tiba-tiba berat. Ketika ia melihat ke samping, ternyata Michelle tidur di pundak Shani. Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Gracia,

“Den, makasih ya buat tumpangannya” kata Reza yang lalu turun dari mobil Dendhi.

“See you tonight Za” ujar Dendhi.

“Den…”

 

To Be Continued

@Dendhi_yoanda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s