Pengejar Rahasia : Victor Crowley, Part 8

“Kenapa kau terlihat takut?” tanya Sinka yang melihat wajah ketakutan Epul.
“Kau tidak tau ini rawa siapa?” Epul balik bertanya, ia amat takut.
“Victor Crowley…” Epul menggigit bibirnya, wajahnya cemas.

“Siapa itu? Kenapa kau terlihat sangat takut? Bukankah sudah biasa
bagimu menghadapi misteri-misteri ini, senior?” tanya Sinka.
“Kau sangat naif.” jawab Epul melenceng.

“Dulu, ada anak yang baru lahir…” ucap Epul.
“Hey, cepat sedikit jalannya” potong Boim.
“Kau anak baru, senang bisa mengenalmu.” Epul menyentuh lembut bahu Sinka.

“Nanti akan kuceritakan kisah legenda lokal ini. Itu pun jika kita
berhasil keluar dengan selamat dari rawa ini. Rumah Victor Crowley ada
di tengah rawa!” Epul berkata pelan, kemudian menyusul Boim.

Beberapa menit kemudian, Epul tiba-tiba gelisah. Ia panik, sangat ketakutan.
“Victor Crowley akan menghabisi kita semua!” seketika mereka
menghentikan langkahnya.

“Apa maksudmu?” tanya Boim.
“Kau tidak lihat di sekelilingmu? Banyak sekali darah. Bahkan ada juga
organ dalam.” Epul semakin panik.
“Dia benar! Semakin kita ke tengah rawa, bekas pembunuhan ini semakin
jelas.” Nabilah membela Epul.

“Lihat itu, aku tidak pernah melihat usus yang berceceran.” Epul
menunjuk sesuatu.
“Aku takut.” Haruka memeluk Naomi, tiba-tiba terdengar suara rintihan.

Mereka seketika diam, senyap sesaat. Suara itu berasal dari tengah
rawa. Seperti suara teriakan, namun agak aneh. Suara itu lebih seperti
auman. Ada juga suara lain, seperti suara gesekan kapak.

“Apa itu? Datangnya dari tengah rawa, kita harus kesana!” Rusdi
berlari semakin dalam ke tengah rawa.
“Oh, sial!” Epul jengkel.
“Tenanglah! Kita punya banyak sekali senjata. Kau tidak perlu takut.”
Boim tersenyum.

“Kalian tidak tau apa yang akan kalian hadapi.” Epul kemudian menyusul
mereka semua ke tengah rawa.
“Aku harap bisa keluar dari rawa kutukan ini dengan selamat.” pikir Epul.

Mereka berhenti berlari. Tepat di tengah rawa, ada sesuatu yang
bergerak di semak belukar.
“VICTOR CROWLEY!!!” Epul tiba-tiba menembak semak-semak dengan
beberapa rentetan peluru kaliber.

“Kau ini kenapa?” tanya Rusdi kesal.
“AKU MAU PULANG!!! AKU BENCI DISINI!!!” Epul berteriak kencang, ia menangis.
“Pulang aja sendiri, sejak awal aku tidak pernah mengajakmu kesini!”
Rusdi semakin kesal.

“Kau tidak boleh egois! Kau ini pemimpin, tapi kenapa sikapmu seperti
itu? KAU EGOIS!!! Bahkan pada pacarmu sendiri kau egois!” Epul
membentaknya, Rusdi diam sejenak.

“Ini adalah misteri ke 26 kita, mungkin ini misteri terakhir kita.
Angka 26, angka pembawa kesialan!” Epul masih membentaknya, Rusdi
kemudian memukul keras Epul tepat di pipinya agar ia tidak gelisah
lagi.

“Sudahlah! Kita ini tim, seharusnya tidak bertengkar satu sama lain!”
Boim memotong perkelahian mereka.
“Sebaiknya kita istirahat dulu.” Nabilah melerai mereka.

“Di rawa ini tidak ada tempat yang aman untuk kita istirahat! Victor
Crowley menguasai rawa ini.” tangisan Epul semakin sendu, ia
benar-benar sangat takut.

“Lihat! Disana ada sebuah rumah. Kita istirahat aja disana!” Sinka
menunjuk sebuah rumah tua.
“Ayo kesana!” Rusdi berjalan mendahului mereka semua.

“Astaga! Ini di tengah rawa, mungkin aja itu rumah kediaman Crowley!”
Epul menyeka matanya.
“Ayo.” Nabilah tersenyum, menuntun Epul.

Beberapa langkah kemudian, tiba-tiba ada sosok menyeramkan keluar dari
rumah itu. Sosok itu tiba-tiba keluar, ia berteriak keras sebelum
Rusdi benar-benar masuk ke dalam rumah itu. Seketika Rusdi
menghentikan langkahnya.

Sosok itu tinggi besar, kira-kira lebih dari dua meter. Mengenakan
baju kodok, seperti petani atau peternak zaman dulu. Mengenakan sepatu
pantopel, menggenggam erat sebuah kapak kecil di tangannya.

Wajahnya hancur tidak karuan, sangat menyeramkan. Terlihat otot lengan
dan dadanya yang besar terbentuk begitu sempurna. Ya, Itulah Victor
Crowley. Ternyata legenda lokal itu benar-benar nyata.

Mereka menjerit histeris, sangat ketakutan. Tiba-tiba Rusdi melawan
Victor, menendang perutnya dengan kuat. Tapi Victor menendang balik,
hingga ia terpental berguling-guling.

Epul tiba-tiba membuka tas nya, mengeluarkan sebuah granat. Ia
melemparnya kearah Victor. Mereka semua menjauh dari rumah itu. Rusdi
yang terjatuh ditarik oleh Boim agar ia menjauh.

Seketika granat itu meledak. Rumah Victor hancur berkeping-keping.
Terbakar, sama seperti saat kematiannya dulu. Saat-saat terakhir
bersama ayahnya, sebelum ia benar-benar menjadi seorang monster
repeater.

Dari balik api, Victor melemparkan kapaknya. Kapak itu melayang,
menancap tepat di dada Epul. Seketika Epul tumbang. Nabilah hendak
menolong Epul, tapi Sinka menahannya.

Victor berlari kearah Epul yang sekarat. Boim tidak bisa melihat
sahabatnya mati. Boim berlari kearah mereka. Memukul wajah Victor,
sementara yang dipukul hanya mengeluarkan suara auman seram saja.

Sejak dilahirkan Victor memang tidak bisa berbicara, ia hanya bisa
mengaum dan berteriak saja. Seumur hidup Victor tidak memiliki teman,
tidak ada yang mau berteman dengannya karna wajahnya yang menyeramkan.

Victor menarik kerah Boim, sementara Boim mencekik lehernya. Perlahan
Victor mengangkat tubuh Boim. Tinggi mereka sangat berbeda. Jika
disebut manusia, Victor benar-benar aneh. Selain itu ia juga sangat
kekar jika disebut manusia normal.

“Aku tidak akan membiarkan temanku mati! Dasar bodoh!” Boim berteriak
tepat di depan wajah Victor.
Victor kesal, seketika ia memukul Boim tepat di jantungnya.

Tanpa di duga, Victor mencengkeram kuat jantung Boim. Kulit Boim
terkelupas, jantungnya ditarik keluar oleh Victor. Boim kesakitan,
berusaha berteriak sekeras mungkin. Tapi Victor telah mencabut
jantungnya. Memisahkan dari tubuhnya.

Boim sudah mati, tubuhnya terkapar di tanah. Seketika para wanita
berteriak histeris. Victor bukan manusia, hantu juga bukan. Di luar
dugaan, ternyata Victor mampu membunuh seseorang dengan cara seperti
itu. Ia benar-benar sangat kuat.

Nabilah terbelalak menyaksikan dua temannya mati. Epul benar, Victor
ternyata mampu melakukan hal itu. Membunuh dengan cara tidak rasional,
tidak manusiawi.

Victor masih menggenggam jantung Boim dengan tangan kirinya. Ia
mencabut kapak yang tertancap di dada Epul dengan tangan kanannya.
Victor kembali berteriak, sesekali mengaum.

“LARI!!!” Rusdi memberi aba-aba, tim Pengejar Rahasia lari tak tentu arah.
Sama seperti misteri sebelumnya, mereka terpisah. Haruka lari kearah
lain, berbeda arah dengan Rusdi dan yang lainnya.

BERSAMBUNG

Author : @RusdiMWahid

Iklan

Satu tanggapan untuk “Pengejar Rahasia : Victor Crowley, Part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s