Bangsal7

Sepulang sekolah ketika aku sedang melintas jembatan ampera, aku melihat seorang gadis yg sedang duduk sendirian di tepi jalan sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan yg melintas di depannya. Saat aku menengok ke sebelah dan benar saja gadis itu pernah aku kenal dulu di salah satu fanfictionku yg lama yg judulnya Kisah cinta yuvia. Anak kecil yg dulunya sangat acuh kepadaku tapi sekarang masih saja tetap acuh dan cuek denganku. Mungkin aku dulu pernah berbuat salah sama dia? Ah tidak, aku nggak pernah berbuat salah sama dia. Saat aku turun dari atas sepeda motorku. Gadis itu langsung berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkanku sendirian diatas trotoar jembatan. Perkenalkan namaku Rio, umur masih kayak cabe-cabean 16 tahun. Tinggal di? Tak penting aku tinggal di mana yg penting alur cerita ini tetap jalan terus. Aku sekolah di SMA 48 Jakarta. Sekolahan cukup besar tapi orang-orangnya slalu saja acuh dan cuek sama orang dibawah mereka tapi alhamdulilah aku tidak seperti mereka semua. Aku masih punya hati buat membantu orang-orang kecil buat bangun dari kertepurukan mereka sendiri. Contoh saja. Para pecandu Narkoba, korban Sodomi dan masih banyak lagi. Aku berhasil menyembuhkan penyakit mereka satu persatu dari nol. Memang aku masih belia umurnya tapi aku bertindak seperti orang dewasa saja.

 

Sepulang sekolah aku langsung membantu para suster Rumah Sakit Jiwa deket-deket mampang prapatan untuk mengurusi pasien kejiwaan yg baru datang kemaren. Pasien yg aku bantu memang dari kalanga korban KDRT, Bullying dan korban pemerkosaan. Tapi banyak pasien rumah sakit jiwa yg suka denganku tak termasuk para wanita belia yg korban dari kekerasan orang tua dan korban bullying.

 

 

“Kak Rio cepat bantuiin aku buat nanganin pasien ini donk.” kata Sinka, memintaku untuk membatunya membius pasien Rsj yg sedang mengamuk.

 

“Baik sus..” aku langsung mengikat kaki dan tangan korban dari pemerkosaan.

 

Memang ada-ada saja kasus kejiwaan di rumah sakit jiwa ini. Salah satu nama pasien yg bikin aku sangat tercengang adalah Yupi, cewek yg aku temui kemaren di jembatan ampera dan juga mantan pacar aku dulu. Entah apa penyebabnya Yupi bisa sampai begini. Aku tanyakan ke dokter yg menanggani Yupi. Katanya sih habis jadi korban kejahatan jalanan gitu. Tapi aku juga masih kurang pasti soal kejadiaannya.

 

Sore harinya saat aku mau pulang, aku menyempatkan diri buat menengok Yupi yg di masukan Bansal Nomer 7. Bansal yg dibuat khusus buat mendekam untuk orang-orang yg baru masuk kedalam rumah sakit jiwa. Aku lihat Yupi sedang sangat depresi berat, dia slalu melemparkan benda apa saja kearahku. Aku hanya sedih di buatnya.

 

 

Saat aku sedang mengeluarkan sepeda motorku dari parkiran. Aku melihat Suster Sinka, suster yg sejak dulu sangat aku impi-impikan agar bisa jadi pacarku itu. Karena aku terlalu sayang sama anaknya dan juga anaknya juga terlalu acuh sama cowok. Aku mencoba menawarkan tumpangan pulang ke Sinka, tapi apa jawabannya?

 

“Maaf Rio. Aku udah dijemput sama papa aku, maaf banget. Lain kali ya.” Kata Sinka, menolak halus ajakan pulang bareng denganku.

 

Tapi aku tak mudah putus asa dengan tolakannya Sinka itu. Masih ada hari esok buat aku ajak jalan Sinka. Setibanya aku dirumah aku langsung mengerjakan semua tugas-tugas sekolahanku. Yang masih pada numpuk belum satu pun yang aku kerjakan.

 

Jam bel istirahat berbunyi, saat aku sedang makan siang di kantin. Tiba-tiba aku mendapatkan pesan singkat dari Sinka.

 

 

“Rio cepat kamu kesini, Yupi ngamuk!!” isi pesan singkat Sinka.

 

Aku langsung segera meminta ijin kepada kepala sekolahku agar aku diberi ijin untuk ke rumah sakit jiwa tempat Yupi dirawat dan di sembuhkan disana.

 

“Baik, kamu bapak ijinin buat nenangin teman kamu disana, salam buat bapak pemilik rumah sakit jiwa tempat kamu mengabdi ya nak.” kata kepala sekolah memberi ijin, untuk aku tidak mengikuti sisa mata pelajaran selanjutnya.

 

Setibanya aku di rsj dan benar saja Yupi memang sedang ngamuk, banyak suster yg mencoba menenangkannya tapi tidak ada satu pun yg berhasil menenangkan Yupi.

 

“Biar aku saja yg menangkan Yupi, kalian tunggu diluar saja.” kataku sambil mengasihkan tasku ke Naomi. Naomi adalah kakaknya Sinka, memang kakak beradik ini mengabdi dirumah sakit ini. Karena mereka berdua juga pernah mendekam di dalam rumah sakit ini juga. Aku dapat informasi dari suster dan dokter yg menangani mereka dulu itu. Karena mereka berdua pernah patah hati gara-gara di tinggal pergi pacar mereka buat cewek lain. Suster dan dokter yg mencoba menangani Yupi itu langsung keluar dari dalam bangsal tempat Yupi di bekam. Aku mencoba mendekati Yupi secara perlahan-lahan, Yupi masih kelihatannya masih takut denganku. Yupi sambil mundur kebelakang dan melempariku dengan bantal-bantal.

 

“Pergi kamu, pergi kamu, jangan sakiti aku. Pergi..” Begitulah kata yg slalu keluar dari mulut kecilnya Yupi ketika aku mencoba slalu mendekat ke Yupi.

 

“Tenang yupi. Aku bukan orang jahat seperti apa yg kamu pikirkan. Aku Rio, aku dulu orang yg paling kamu sayang Yupi.kamu masih ingatkan sama aku?” Aku sambil mengambil sesuatu dari dalam kantong saku ku.

 

“Rio? Aku tak tau siapa kamu, cepat kamu pergi dari sini. Jangan sakiti aku.” Kata Yupi sambil berteriak keras.

 

“Kalau kamu lupa dengan nama aku, pasti kamu masih ingatkan dengan ini.” Ucapku, sambil mengeluarkan Permen lollypop dari sakuku. Aku sambil menjulurkan permen lollypop yg dulu paling disuka Yupi. Tapi Yupi tetap saja tidak mengingat Siapa aku, dan Yupi masih tetap saja mengamuk. Dokter yg menangani Yupi pun langsung masuk kedalam bangsal dan memberikan obat penenang buat Yupi. Setelah Yupi tertidur pulas. Aku berpesan ke Naomi agar Permen Lollypop ini di taruh di samping tempat tidurnya. Siapa tau ia menginggat kembali kenangan-kenangan indah dulu yg pernah kita jalani dulu.

 

Jam 12 set malam, Yupi terbangun dari tidurnya. Yupi melihat kesebelahnya di situ Yupi melihat ada Permen, Yupi memegang permen lollypop itu dan mencoba mengingat soal permen lollypop ini.

 

“Rio!!” Satu kata keluar dari dalam mulutnya Yupi.

 

Saat aku tengah terlelap tidur di alam mimpiku yg sangat indah. Aku di telphone oleh pihak rumah sakit agar aku segera datang ke rumah sakit sekarang. Aku langsung bergegas langsung kerumah sakit, tanpa aku menganti baju terlebih dulu. Setibanya di rumah sakit aku diberitahu oleh Naomi, kalau Yupi memanggil-manggil nama aku sedari tadi. Aku langsung meminta kunci kepada penjaga agar aku di bukakan pintu ke bangsalnya Yupi.

 

“Rioo.. Kamu dimana Rioo!!” Panggil Yupi terus menerus.

 

“Aku disini Yupi.” ucapku. Yupi langsung memelukku, dan menangis diatas dadaku. Aku hanya bisa mengelus-elus dan menenangkannya.

 

“Aku Kangen kamu, aku sakit sekarang. Aku tidak ada yg menemani disini, adek aku sendiri tega nikung aku dari belakang. Aku mohon kamu jangan tinggalin aku ya?” kata Yupi menangis sejadi-jadinya sambil masih memeluku dari samping dan meletakan kepalanya di atas dadaku.

 

“Udah kamu jangan sedih terus gitu ya. Kamu itu cewek yg paling kuat yg pernah aku kenal, kamu harus sembuh dari sini. Aku nggak akan ninggalin kamu sendirian disini kok. Kamu cepat-cepat sembuh ya Yup.” Aku sambil mengelus-elus pundaknya dan mengambilkan Yupi segelas Air putih. Yupi langsung meminum air putih itu sambil aku hapus air matanya dari pipinya. Yupi terlihat tenang di pelukanku, tapi ketika aku tinggal pergi. Yupi selalu mengamuk dan meminta suster agar yg merawatnya itu aku.

 

 

Hari ini aku meminta ijin lagi kepada kepala sekolahku agar aku diberi ijin untuk tidak mengikuti pelajaran seperti hari-hari biasanya. Pagi hari ini, aku mengajak bermain Yupi di taman bersama para pasien Jiwa lainnya. Kelihatannya Yupi sangat senang aku ajak bermain di taman bersama para pasien lainnya, terlihat jelas dari raut wajah Yupi yg terukir senyum manisnya itu.

 

“Tunggu sebentar disini ya Yup, aku ambilin dulu kamu makanan. Kamu tadi kan belum sarapan.” kataku sambil beranjak dari atas rerumputan tapi Yupi malah menahanku untuk pergi.

 

“Kamu disini aja nemenin aku aja, biar yg mengambilkan makanan itu suster-suster itu saja.” kata Yupi. Aku hanya pasrah dan menyuruh Sinka untuk mengambilkan yupi. Setelah Sinka datang membawa Makanan, aku langsung menyuapi Yupi sampai sendok terakhir.

 

“Sin, lo udah ngesel kan Sin. Nolak Rio seperti itu. Padahal Rio itu anaknya udah baik, Romantis dan perhatian lagi sama mantan pacarnya itu.” kompor Melody.

 

“Ah nggak juga teh, Itu anak kan perhatian ke pasien itu karena anak itu kasihan saja sama cewek yg sedang dilanda stres berat seperti itu.” balas Sinka.

 

“Halah!! Ngaku aja deh lu Sin, jangan bohong sama gue. Lo sebenarnya cemburu kan sama pasien yg bernama Yupi itu. Gue udah tu kalau lo itu cemburu sama Rio, udah terlihat jelas dari raut wajah lo yg murung itu.” kata melody.

 

“Udahlah teh, nggak usah dibahas lagi soal Rio itu. Lebih baik teteh ngurusin saja tuh Si Alvin yg bikin berantakan kamar pasien yg lainnya.” kata Sinka sambil pergi dari duduknya.

 

“Ciee ada yg lagi ngambek cieee” goda Naomi kakaknya Sinka.

 

 

Setelah Yupi selesai aku suapin, Yupi langsung aku suruh buat minum obat penenangnya. Tapi Yupi tidak mau membuka mulutnya.

 

“Yupi jangan gitu donk. Bagaimana Yupi bisa cepat sembuh kalau Yupi malah gini, buka mulut Yupi donk. Entar kalau nggak di minum obat ini. Yupi nggak aku ajak ke pasar malam loh.” kataku sambil mencoba merayu Yupi agar Yupi mau membuka mulutnya lebar-lebar.

 

“Beneran ya, kamu akan ajak aku ke pasar malam?.”

 

“Iya yupi, tapi yupi harus sembuh dulu, baru aku ajak yupi untuk jalan-jalan ke pasar malam.” kataku.

“Yeee.. Makasih Sayang.” Satu kata lagi terlontar dari mulutnya Yupi, aku yg mendengar itu hanya mengembangkan senyumku saja kearahnya. Sambil aku kasihkan obat ke Yupi agar Yupi meminum obat penenang itu.

 

“Yupi yuk, yupi balik lagi ke kamar Yupi yuk. Udah mau malam nih, besok main lagi deh.” kataku.

 

“Nggak ah, aku masih pengen berduaan sama kamu nih.” Balas Yupi masih menyenderkan kepalanya di bahuku.

 

“Tapi ini udah mau maghrib loh, anak gadis nggak boleh diluar rumah kalau mau maghrib. Kata orang zaman dulu sih nanti diculik sama om genderuwo sama tante kunti gitu, emang kamu mau apa di culik sama om genderuwo.” kataku.

 

 

“Nggak,aku nggak mau. Aku maunya di culik sama kamu saja, kalau aku di culik sama kamu kan. Aku pasti disayang-sayang kayak gini, kalau sama om genderuwo pasti aku nanti di marah-marahin.” balas Yupi langsung membantuku berdiri dari atas rerumputan. Aku langsung suru Yupi buat naik keatas punggungku, aku langsung mengendong Yupi sampai ke bangsal nomer 7 lagi.

 

“Terbang!!!…” Aku berucap seperti itu agar Yupi merasa senang, sambil aku menyuruh yupi merentangkan kedua tangannya.

 

 

Malam harinya Sinka masuk secara diam-diam kebangsalnya Yupi, yupi yg kala itu sedang terlelap tidur langsung terbangun dari atad tidurnya.

 

“Eh suster ngapain disini, ini bukan kamar suster. Suster keluar nggak?” kata Yupi.

 

“Tenang yup tenang, kamu pengen cepat-cepat sembuh dari sini kan? Agar kamu bisa pergi ke pasar malam dengan cowok yg tadi pagi kamu ajak main ditaman itu kan?.”ucap Sinka sambil mengeluakan Sesuatu dari kantongnya.

 

“Iya sus, bagaimana caranya sus? Cepat kasih tau sama aku sus. Aku tak sabar pengen lihat reaksinya ketika Rio lihat aku yg sudah sembuh.” Kata Yupi Antusia.

 

“Ini caranya. Kamu habiskan semua obat ini tanpa ada yg tersisa, setelah kamu meminum obat ini kamu akan sembuh total.” kata Sinka sambil mengasihkan sepuluh bungkus obat penenang. Yupi pun langsung meminum semua obat yg dikasihkan oleh Sinka itu. Setelah Yupi meminum semua obat-obatan itu. Tiba-tiba badan yupi kejang-kejang, dan dari mulutnya yupi mengeluarkan busa putih. Saat itu juga Sinka langsung membereskan Sisa bungkus plastik yg ia kasihkan ke Yupi itu.

 

Pagi harinya saat aku bangun dari tidur, aku mendengar kabar bahwa Yupi pasien yg aku tanganin itu tewas tadi malam, gara-gara overdosis. Aku sangat sedih mendengar berita tentang kematiannya yupi, orang yg slama ini aku sayang, meninggal dengan kondisi tak wajar seperti itu. Setibanya aku di rumah sakit banyak polisi yg mengintrogasi para dokter dan suster rumah sakit yg menangani Yupi itu. Dan banyak yg tidak mengaku kalau Yupi itu meminum obatnya sendiri.

 

 

“Yupi!! jangan tinggalin aku Yupi, aku belum memenuhi janjiku ke kamu buat mengajak kamu untuk ke pasar malam jika kamu sudah sembuh, tapi kamu malah duluan pergi sebelum aku menuhin janji aku ke kamu itu.” Aku sambil menangis histeris diatas badannya Yupi yg sudah terbujur kaku di rumah sakit.

 

Setelah Yupi dikebumikan, aku masih saja berads diatas makamnya Yupi. Sambil menangisi penyesalanku, kenapa tadi malam aku tidak menemani kamu? Agar kejadian ini semua tidak terjadi pada kamu. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan lamanya aku tidak bisa melupakan kenangan-kenangan indahku dengan Yupi dulu. Sampai-sampai tetangga yg kasihan denganku langsung membawaku ke rumah sakit jiwa tempat dimana aku dulu pernah merawat yupi sampai ajal yupi menjemputnya itu.

 

 

Sinka yg kala itu yg merawatku itu pun langsung mengasihkan obat penenang seperti halnya Yupi yg terbunuh gara-gara Sinka. Aku langsung buang semua obat penenang itu keluar jendela.

 

“Kamu harus minum obat ini. Agar kamu lekas sembuh dari sini Rio.” kata Sinka.

 

“Nggak mau, aku pengen seperti ini aja. Aku tidak pengen sembuh, gara-gara obat penenang Yupi mati. Kalau itu satu-satunya cara buat bertemu dengan yupi lebih baik aku mati dengan tragisnya seperti Yupi. Cepat kamu ambilkan Obat penenang yg banyak.” kataku memerintah Sinka. Tapi Sinka tidak bergerak sedikit pun dari berdirinya.

 

“Kenapa kamu diam saja disini, cepat kamu ambilkan obat penenang yg banyak buatku.” aku Sambil mencekik Sinka. Sinka langsung meminta tolong ke suster laki-laki agar segera mengikatku di tempat tidurku.

 

“Maafkan aku yo, aku tidak bisa menenuhi permintaan kamu yg satu ini. Maafin aku yo.” ucap Sinka dalam hati sambil menghapus air matanya itu.

 

 

Malam harinya aku berteriak-teriak agar aku dilepaskan Ikatan yg mengekang sedari tadi pagi. Tapi tidak ada satu pun yg mau mendengarkan perkataanku. Sinka yg melihatku dari celah-celah jendela hanya terdiam dan menangis. Sinka langsung membukakan ikatanku, dengan kesempatan yg bagus ini aku langsung mendorong Sinka kepinggir tempat dudukku. Dan aku berlari keluar dari bangsal nomer 7 untuk mencari obat yg akan membawaku bertemu dengan Yupi. Sesampainya aku di tempat penyimpanan obat, aku langsung meminum semua obat-obat itu tanpa ada yg tersisa. Sinka yg kala itu tidak bisa mengejarku hanya menagis menyesal sambil memanggil bantuan kepada suster-suster lain. Aku terbujur kaku di ruang penyimpanan obat, Sinka hanya terus menangis kepergianku. Setelah Sinka ikut menghantarkanku ke tempat peristirahatanku terakhir. Sinka di hantarkan oleh kakaknya langsung menyerahkan dirinya ke polisi dan mengakui semua kalau yg membunuh Yupi itu dia, dan mengenai soal kematianku itu juga dia. Sinka di hofonis hukuman mati oleh kejaksaan agung, kakaknya itu sangat sedih. Bagaimana bisa Sinka sekejam itu gara-gara Kecemburuan saja. Tapi dengan kematianku ini. Aku bisa hidup bahagia dengan Yupi diatas sana.

 

 

The ends….

 

 

Created by: @lastwota

Iklan

2 tanggapan untuk “Bangsal7

  1. Lanjut terus bang. Tapi kali ini ada yang dikit aneh ya. Diperhatiin P.O.V.nya bang. Kalo pake P.O.V. orang pertama ya cuma bisa ngerasain apa yang orang pertama lakuin. Mana mungkin misal P.O.V. orang pertama di rumah kok bisa tahu kejadian yang di rsj? Agak aneh bang. Kalo gitu mendingan pake P.O.V. orang ketiga aja. Sekian dari gue kalo kurang berkenan ya mohon maaf +_+

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s