Pengejar Rahasia : Jeff The Killer, Part 6

Di kamar lain, Sinka tampak serius sekali membaca buku. Naomi yang
sedari tadi memperhatikannya, perlahan mendekat. Duduk di sebelah
Sinka yang masih terlihat serius.

“Baca buku apa sih?” Naomi tiba-tiba bertanya, Haruka mendadak masuk
kamar mereka.
“Permisi, ada yang liat Nabilah gak?” Haruka sudah membuka kamar
mereka, Sinka seketika menatap Haruka.

“Eh?” Haruka balas menatap Sinka, yang tatapannya terlihat mencekam.
“Sini duduk.” Sinka mengajak Haruka masuk ke kamarnya, Haruka duduk di
dekat Naomi.

“Lagi baca buku apa sih? Kok serius banget? Sampe-sampe ngeliatin
Haruka nya gitu?” Naomi kembali bertanya.
“Ini buku kisah nyata Jeff The Killer.” Sinka menatap mereka dingin,
ekspresinya datar.

“Siapa itu Jeff The Ripper?” Haruka bertanya polos.
“Bukan Ripper, tapi Killer (pembunuh). Ia adalah seorang psikopat gila
yang selalu tersenyum riang.” Sinka sekali lagi memperlihatkan
ekspresi dinginnya.

“Buku berjudul Jeff Si Pembunuh ini telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia. Awalnya berbahasa Inggris, berasal dari Amerika.
Kisah nyata Jeff sebelum ia menjadi gila, dan sebelum ia menjadi
seorang psikopat.” Sinka memperlihatkan bukunya.

“Buku ini menceritakan sepenggal kisah menyeramkan yang dialami Jeff.
Mulai dari ia yang di bully teman-temannya, adiknya yang rela
berkorban untuknya, sampai ia yang dibakar hidup-hidup oleh salah satu
teman barunya. Semua tekanan itu membuatnya gila, sampai ia tega
membunuh keluarganya sendiri. Termasuk membunuh adiknya yang sempat
rela dipenjara karna perbuatan Jeff.” Sinka masih memperlihatkan
bukunya.

Naomi terlihat takut mendengarnya, apalagi Haruka. Ia sejak tadi sudah
memeluk guling, bersandar pada Naomi. Sinka belum mulai bercerita,
tapi ekspresi dinginnya itu yang membuat mereka berdua ketakutan.

“PEMBUNUH BERWAJAH RIANG MASIH BERKELIARAN. Setelah beberapa minggu
terjadi kasus-kasus pembunuhan yang belum terungkap, pembunuh ini
masih berkeliaran dan melakukan aksinya. Setelah beberapa bukti
ditemukan, seorang anak laki laki yang selamat dari serangan pembunuh
ini mengisahkan apa yang menimpanya.” Sinka membaca judul dan sinopsis
buku itu, sejenak melihat ekspresi ketakutan Haruka dan kakaknya.

“Aku mengalami mimpi buruk dan terbangun di tengah malam. Aku melihat
jendela terbuka, padahal sebelumnya aku yakin jendela sudah terkunci
sebelum aku tidur. Aku bangun dan kemudian menutup jendela itu
kembali, lalu aku kembali tidur. Namun aku merasakan perasaan aneh,
seperti ada orang yang sedang mengincarku. Apa yang kulihat kemudian
membuatku nyaris melompat dari tempat tidur. Dalam remang-remang, aku
melihat sepasang mata. Mata itu aneh, gelap, dan tampak riang. Mata
itu dibatasi warna hitam, dan sungguh membuatku ngeri mengingatnya.
Saat itulah kemudian kulihat bagian mulutnya, sebuah bibir yang nampak
selalu tersenyum. Senyum yang lebar, bahkan terlalu panjang dan lebar.
Dia berusaha mengatakan sesuatu. Namun, apa yang dia katakan adalah
sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang gila. Dengan nada yang
bisa dilakukan hanya oleh orang gila saja. Dia berkata tidurlah, aku
pun berteriak. Dia mengambil sebuah pisau, berusaha menusuk jantungku.
Dia melompat ke ranjangku. Aku melawannya, berusaha menyingkirkan dia
dariku. Saat itulah kemudian ayah masuk ke kamarku. Pria yang
menyerangku melemparkan pisaunya dan mengenai bahu ayah. Mungkin dia
akan menghabisi ayah juga jika salah satu tetangga tidak menghubungi
polisi. Dia menuju parkiran, dan berlari menuju pintu. Dia terus
berlari menuju lorong. Aku mendengar suara kaca pecah. Ketika aku
keluar dari kamar, aku melihat jendela yang mengarah ke bagian
belakang rumah telah rusak. Aku melihatnya menghilang dalam kegelapan
malam. Aku dapat mengatakan padamu satu hal, aku tidak akan bisa
melupakan wajah itu. Wajah dingin itu, mata jahatnya, senyuman gila
dan sinting itu. Semua itu tidak akan pernah bisa pergi dari
pikiranku. Polisi masih mencari pria itu. Jika ada yang melihat orang
dengan deskripsi seperti diatas, hubungilah segera kantor polisi
terdekat.” Sinka membaca sepenggal buku itu.

“Jeff The Killer adalah seorang psikopat, seorang pembunuh yang
menjadi gila setelah tubuhnya terbakar ketika dia mendapatkan bully
dari anak lain. Pada awalnya anak-anak yang menyerangnya tidak mau
mengakui bahwa merekalah penyebab Jeff berkelahi. Jeff dianggap
sebagai biang keladinya, dan orang-orang mulai menyalahkannya. Namun
ketika salah satu dari mereka membakar Jeff, sehingga dia dilarikan ke
rumah sakit. Akhirnya mereka mengakui seluruh perbuatannya. Wajah Jeff
menjadi rusak, kulit wajahnya terkelupas putih, dan konon dia membakar
kelopak matanya sendiri (versi lain mengatakan bahwa Jeff mengirisnya)
sehingga matanya selalu terbuka, dan dia merasa selalu terjaga. Selain
itu juga dia mengiris pipinya sendiri, mengukir senyum panjang dan
lebar di wajahnya. Setelah kejadian pembunuhan terhadap keluarganya,
yang diyakini merupakan perbuatan Jeff. Dia kabur dan berkeliaran di
malam hari mengincar korban-korbannya. Ciri khas Jeff sebelum membunuh
korbannya, dia selalu berkata tidurlah dengan wajah riangnya. Jeff
masih berkeliaran di luar sana, membunuh siapa saja. Dia datang ke
kamar tidurmu suatu malam, membekap mulutmu. Dan kemudian berusaha
menenangkanmu, sebelum akhirnya menikamkan pisaunya ke jantungmu.”
Sinka menutup bukunya, ia hanya membaca di bagian awal dan akhirnya
saja.

“Apa Jeff benar-benar ada?” tanya Naomi.
“Aku tidak tau, tapi aku percaya pada buku ini. Buku ini dibuat
berdasarkan kisah nyata. Intinya, menurut aku sih Jeff benar-benar
ada.” Sinka akhirnya tersenyum.

“Jadi seperti kisah Jack The Ripper, ya?” tanya Haruka.
“Iya, tapi usia Jeff jauh lebih muda dari Jack. Dan Jeff juga seorang
anggota dari Creepy Pasta.” jawab Sinka.

“Apa itu?” tanya Naomi.
“Creepy Pasta adalah sebuah perkumpulan atau komunitas para pembunuh
gitu. Anggotanya ada Jeff The Killer, Jane The Killer, Slenderman
dll.” jawab Sinka.

“Slenderman ya?” Naomi tiba-tiba teringat saat ia salah menyebutkan
nama Slendrina, ia malah lari sambil berteriak Slenderman.
“Iya!” Sinka mangangguk mantap.

“Aku mau tidur, tolong antarkan aku ke kamar Nabilah.” Haruka memohon.
“Hufft, baiklah. Sampai depan kamarnya aja ya?” Sinka berdiri, menaruh
sembarangan bukunya di dekat Naomi.

Entah kenapa Haruka mendadak berkeringat dingin. Ia sangat takut,
sampai memohon agar Sinka mengantarkannya ke kamar Nabilah. Padahal
apartement itu sangat terang, tapi Haruka terlalu takut akan cerita
Jeff The Killer. Cara Sinka membawakan cerita itu membuat bulu kuduk
Haruka bergidik.

Tidak ada percakapan diantara mereka sepanjang jalan menuju kamar
Nabilah. Setelah sampai, Sinka pamit pada Haruka. Pergi kembali menuju
kamarnya, hendak tidur.

Haruka membuka pintu kamarnya, perlahan melangkah masuk. Terlihat di
dalam sudah ada Nabilah yang tiduran di kasur sambil memainkan
Smartphone miliknya.

“Tadi aku mendengarkan kisah serem.” Haruka menghampiri Nabilah.
“Aku juga.” jawab Nabilah, masih memainkan Smartphonenya.
“Hatchet The Killer!” seru mereka berbarengan.

“Civil War!” seru Nabilah, kemudian mereka tertawa bersama.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya tidur. Menunggu esok pagi,
liburan ke Amerika.

BERSAMBUNG

Author : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s