Pengejar Rahasia : Misteri Baru, Part 5

Esok pagi, mereka kembali berkumpul di ruang apartement. Termasuk
anggota baru mereka, Haruka dan Sinka. Mereka menunggu kedatangan
klien baru, untuk misteri selanjutnya.

“Kapan klien itu datang?” tanya Boim.
“Sebentar lagi, tunggu aja.” jawab Rusdi santai, sementara Naomi terus
memperhatikan gerak-gerik pacarnya tersebut.

Tak lama, ada yang mengetuk pintu apartement.
“MASUK!” teriak Naomi.
“Biasa aja kali, gak usah teriak-teriak gitu!” Sinka berbisik pada Naomi.

Dari balik pintu, terlihat seorang gadis melangkah masuk secara
perlahan. Gadis kecil, terlihat lebih muda dari Sinka. Kira-kira
umurnya terbilang belasan tahun. Mungkin masih sekolah dibangku SMA.

Gadis itu mengenakan kaos kemeja lengan pendek, celana jeans, dan
memakai sepatu warrior lengkap dengan kaos kaki putih. Rambutnya
tergerai lurus, memakai kacamata. Pakaiannya sangat sopan.

“Maaf kak!” sikapnya pun juga sopan.
“Iya, jadi kamu klien baru kita?” tanya Rusdi sopan.
“Iya, nama saya Seena.” jawab gadis itu yang bernama Seena.

“Jadi, apa misi kita?” tanya Boim tiba-tiba.
“Saya kehilangan kakak, namanya kak Melody. Saya harap kakak-kakak
sekalian bisa membawa kembali pulang kakak saya.” tatapan Seena
terlihat sendu.

“Dimana terakhir kali kau melihat kakakmu?” tanya Epul.
“Di rawa Victor Crowley.” jawab Seena.
“APA??? VICTOR CROWLEY??? Tidak! Aku tidak mau kesana!” Epul tiba-tiba
terlihat sangat takut.

“Hey, tenangkan dirimu!” Boim berkata kasar.
“TIDAK!!! Ini bukan soal ketenangan! Dia ingin membunuh kita semua!”
Epul menunjuk-nunjuk Seena.

“Misteri kali ini aku tidak mau ikut! Kalian saja, itu pun jika kalian
ingin mati.” Epul pergi menuju kamarnya, meninggalkan mereka.
“LUPAKAN SAJA!!!” Boim berteriak.

“Jadi, kenapa kalian bisa terpisah?” tanya Rusdi.
“Awalnya kami mengikuti tour horror malam hari menggunakan sebuah
kapal. Kira-kira ada dua puluh orang. Tapi aku terpisah dengan
kakakku.” Seena menyeka matanya.

“Baiklah, besok kita akan ke rawa itu. Dimana lokasinya?” tanya Rusdi.
“Di daerah pedesaan Honey Island Swamp, tepatnya di Amerika.” jawab Seena.

“Amerika ya? Baiklah, tapi kami tidak menjamin bisa menemukan
kakakmu.” Nabilah tiba-tiba berkata.
“Kira-kira berapa tiket pesawat ke Amerika?” Boim bertanya-tanya,
memandang langit-langit apartement.

“Kalian gak perlu khawatir soal biaya. Aku akan mengurus semuanya.”
Seena tersenyum dalam kesedihannya.
“Asyik! Liburan ke Amerika nih…” Sinka terlihat bahagia, begitu pula
dengan yang lainnya.

“Maafkan saya kakak-kakak sekalian. Saya doakan semoga kalian selamat
di rawa Victor Crowley. Semoga kalian bisa membawa pulang kembali kak
Melody…” pikir Seena, berkata dalam hati.

Malamnya, Nabilah memutuskan untuk berkunjung ke kamar Epul. Seharian
Epul tidak keluar kamar. Teman-teman yang lain tampak biasa saja.
Sudah biasa, di setiap misteri Epul memang selalu terlihat takut.

Lain lagi dengan Nabilah. Ia sangat khawatir dengan Epul. Epul memang
selalu terlihat takut, tapi di satu titik Epul selalu melawan rasa
takutnya. Entah kenapa Nabilah seperti merasakan ada kejanggalan di
misteri kali ini. Sehingga ia memutuskan untuk berkunjung ke kamar
Epul.

“Epul?” Nabilah memasuki kamarnya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Nabilah, pergi sana! Jangan coba-coba membujukku, aku tidak akan ikut
kali ini.” Epul mengusirnya kasar.

“Tapi misteri kali ini di Amerika, liburan! Seena membayar semua
biayanya, kita hanya tinggal mencari kakaknya aja disana.” Nabilah
tersenyum.
“Aku tau!” Epul kembali duduk di kasurnya.

“Kau selalu terlihat takut di setiap misteri. Tapi aku tidak pernah
melihatmu setakut ini. Bahkan aku tidak pernah melihatmu menolak
seperti tadi. Apa yang membuatmu sampai setakut ini?” Nabilah duduk di
sebelah Epul.
“Kau tau siapa itu Victor Crowley?” tanya Epul, menatap wajah Nabilah.

“Menurut legenda lokal, ia adalah anak dengan fisik kurang sempurna.
Sehingga tubuhnya dianggap mengerikan oleh orang lain. Ia dan ayahnya
Thomas Crowley tinggal di tengah rawa itu. Pada malam Halloween,
anak-anak yang iseng melemparkan petasan yang berubah menjadi api yang
membakar kediaman Crowley. Sang ayah mencoba membuka pintu itu dengan
kapak, namun tak tau kalau sang anak tengah bersandar di balik pintu
itu. Victor pun mati dalam kecelakaan itu. Setelah sang ayah mati,
mulai banyak orang yang menghindari rawa itu hingga secara resmi
ditutup. Banyak yang mengatakan di hari kematiannya, ia akan membunuh
siapa saja yang mendekati rumahnya. Atau masuk ke rawanya. Konon
Victor adalah seorang Repeater, yang mampu bangkit dari kematian pada
malam selanjutnya setelah ia mati. Victor selalu membawa kapak kecil,
sehingga ia dikenal sebagai Hatchet (kapak). Ia membunuh siapa saja
yang masuk ke rawanya. Dengan cara tragis, tidak manusiawi!” Epul
tiba-tiba menggigit bibirnya, merinding menceritakan kisah lokal itu.

“Mungkin kakak klien kita itu sudah mati dibunuh Victor Crowley.”
tubuh Epul mendadak dingin.
“Kita tidak akan tau sebelum kita kesana.” Nabilah tersenyum simpul.

Nabilah menenangkan Epul, tadi ia serius sekali mendengarkan Epul
bercerita. Nabilah mengusap-usap punggung Epul. Membujuknya untuk
kembali bercerita. Ia harus tau secara detail, seperti apa misteri
selanjutnya. Sepertinya Epul lebih tau misteri yang akan mereka
hadapi.

BERSAMBUNG

Author : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s