In My Heart, Part44

“Eh, tunggu, kok lusa berangkatnya yah?” Tiba-tiba Dzikri yang sedang beristirahat memikirkan hal itu langsung. “Ah sial. Lupa. Kan, reuniannya ga jadi.”

 

Dzikri kembali beristirahat di kasur kamarnya dengan keadaan gelap dan musik yang membantu Dzikri tidur dengan volume kecil. Tak bisa tidur, Dzikri turun ke bawah untuk pergi menuju dapur, membuka kulkas lalu mengambil minuman bersoda dan dituangkannya ke gelas ukuran sedang ditambah dengan es batu.

 

Tak ada tontonan yang menarik bagi Dzikri saat berhadapan dengan televisi yang menyala. Dzikri kembali ke kamar untuk mengambil smartphone nya, lalu pergi menuju ke tempat semula. Keadaan memang sangat sepi. Dzikri lupa mengabari temannya bahwa reuni nya tidak jadi, tapi Dzikri menebak kalau mereka sudah tahu kalau tidak jadi.

 

Dzikri meneguk minumannya. Rasa kantuk telah menghampirinya kembali setelah beberapa jam berkutat dengan laptop. Dzikri akhirnya tidur. Dzikri tertidur sampai maghrib. Saat bangun, Dzikri mengecek kamar Melody, ternyata barang-barangnya masih ada. Dzikri pergi ke bawah menuju dapur sekalian mencuci muka, lho (?).

 

“Semalam tidur jam berapa? Sampe-sampe baru bangun jam segini,” kata mamah.

 

“Gatau, mah. Semalem kebangun, terus gabisa tidur lagi,” jawab Dzikri.

 

“Yasudah. Cuci muka dulu sana, sekalian bantuin Melody masak,” kata mamah.

 

“Iya, mah.” Dzikri melanjutkan kembali ‘perjalanan’ nya menuju kamar mandi. Setelah selesai mencuci muka, Dzikri pergi ke dapur untuk membantu Melody masak.

 

“Tumben dia. Kirain gue dia gabisa masak, hahaha,” pikir Dzikri.

 

“Tumben masak.” Dzikri sembari membuka pintu kulkas menanyakan hal itu kepada Melody.

 

“Ga papa kali, inisiatif aja sendiri,” jawab Melody. “Kamu kenapa coba? Tumben-tumbenan baru bangung jam segini, nge game ya.”

 

“Iyah. Semalem kebangun terus ga bisa tidur, akhirnya mutusin buat maen game deh,” jawab Dzikri. “Kamu mau masak apa?”

 

“Apa aja boleh.” Melody menyalakan api pada kompor gas.

 

“Mau dibantu?” tanya Dzikri.

 

“Dengan senang hati.” Melody tersenyum kearah Dzikri karena ia mau membantunya.

 

Dzikri dan Melody kini melakukan kegiatan masak. Gatau mereka masak apaan, Author nya juga ga dikasih tau mereka masak apa. Akhirnya mereka beres masak, semua masakan dihidangkan di meja makan yang sudah ditunggu oleh manusia-manusia yang lapar akan kasih sayang, eh maaf, pokoknya lapar butuh asupan makanan. Selesai makan, mereka semua beraktivitas masing-masing. Ada yang packing, menonton Tv, mengasuh anak, dan ada yang bekerja.

 

Dzikri dan Melody sudah siap dengan barang-barangnya untuk besok pergi ke puncak. Sesudah itu, Dzikri berbincang-bincang dengan Ayah-nya perihal Dzikri ingin menggunakan villa saat liburannya. Akhirnya Aya-nya Dzikri mengizinkan. Dzikri lalu menelfon Rizal.

 

“Zal, soal villa santai, bokap gua udah izinin.”

 

“Oh iya, bagus deh. Eh, Dzik, lu bisa ke rumah gua kagak? Gue lupa ngabarin lo kalo yang mau ikut liburan lagi ngumpul di rumah gue, gue lupa ngabarin lu.”

 

“Sekarang?”

 

“Iye.”

 

“Ok dah, gue sama Melody kesana sekarang.”

 

“Sip.”

 

Dzikri mengakhiri pembicaraanya. Dzikri pergi menuju kamar Melody, mengetuk dahulu sebelum masuk ke kamarnya.

 

“Masuk aja, Dzik.” Melody mempersilahkan masuk Dzikri.

 

“Kata Rizal, sekarang kita harus ke rumahnya, anak-anak lagi pada ngumpul di rumah Rizal,” kata Dzikri.

 

“Eh? Beneran? Yaudah deh, aku mau ganti baju dulu.”

 

“Mau dibantuin? Eh,” kata Dzikri mengajak bercanda.

 

“Ih, nakal yah,” balas Melody.

 

“Bercanda kali, hahaha. Aku juga mau ganti dulu baju.” Dzikri menutup pintu kamar Melody, lalu pergi menuju kamarnya sendiri untuk mengganti pakaian yang akan ia kenakan ke rumah Rizal.

 

Dzikri dan Melody sudah beres mengganti pakaiannya dengan gaya casual, mereka lalu berpamita dahulu, lalu pergi ke rumah Rizal menggunankan motor Dzikri. Penampilan Melody hanya memakai jeans berwarna biru muda dengan baju warna hitam dibalut dengan jaket berwarna navy blue, sedangkan Dzikri hanya memakai jeans dengan jersey Real Madrid dibalut dengan jaket hitam. Akhirnya mereka sampai di rumah Rizal, halaman rumah Rizal begitu banyak kendaraan, Dzikri dan Melody pun masuk ke rumah Rizal yang sudah ramai dengan teman-temannya yang lain. Ada Fadlan, Naomi, Sinka, Viny, Aldy, Gilang, Frieska, Jeje, Ve, Beby, Hamzah dan Elaine. Ternyata Naomi jadi ikut.

 

“Wey gela, udah rame banget.” Dzikr mengambil tempat duduk di sebelah Viny.

 

“Darimana aja?” tanya Viny.

 

“Rizal ga ngasih tau,” jawab Dzikri.

 

“Hehehe, sorry guys, gue lupa ngasih tau ke Dzikri tadi, untung aja dia tadi nelfon ke gue,” kata Rizal.

 

“Udah-udah, sekarang kita bahas aja buat keberangkatan besok,” kata Aldy.

 

“Jadi, besok mau kumpul di rumah siapa?” tanya Fadlan.

 

“Hmm. Gimana kalo sekarang kalian nginep di rumah gue, sekalian nemenin gue di rumah, kebetulan keluarga gue juga lagi pada liburan ke Jogja. Gimana?” tanya Rizal.

 

“Gue sih setuju-setuju aja,” jawab Gilang.

 

Yang lain nampak sedang berpikir, mereka akhirnya mengangguk setuju.

 

“Nah, jadi oke ya, nginep di rumah gue,” kata Rizal.

 

“Iyah.”

 

“Nah, soal transportasinya gimana?” tanya Naomi.

 

“Siapa aja yang bisa bawa mobil kesana?” tanya Dzikri. “Gue bisa.”

 

“Aku bisa kayaknya,” jawab Ve.

 

“Gue juga bisa, soalnya ada mobil nganggur di garasi,” jawab Rizal.

 

“Satu lagi, nih, siapa lagi yang bisa?” tanya Dzikri.

 

“Aku juga Dzik bisa,” jawab Beby.

 

“Nah, jadi fix ya, yang bawa mobil gue, Beby, Rizal sama Ve,” kata Dzikri.

 

“Yoi,” balas Fadlan.

 

“Hmm. Sekarang apa lagi?” tanya Aldy. “Oiya, soal persiapan buat besok udah?”

 

“Udah,” jawab semuanya hampir berbarengan.

 

“Nah, kegiatan di sana nya nih yang tinggal dibahas,” kata Sinka.

 

Mereka semua mendiskusikan apa saja kegiatan yang akan dilakukan di villa nanti. Mereka banyak mengutarakan kegiatan menurut mereka masing. Sampai akhirnya mereka menemukan kegiatan yang pas untuk dilakukan di villa nanti, saat sudah beres mereka membubarkan diri dahulu untuk membawa perlangkapan mereka agar langsung berangkat dari rumah Rizal.

 

Sekitar jam 9 malam, mereka semua sudah kembali ke rumah Rizal sambil membawa camilan untuk dimakan sambil ngobrol-ngobrol.

 

“Betewe, yang punya ide ini siapa?” tanya Gilang.

 

“Tuh, Sinka,” jawab Rizal.

 

“Aku, kak.” Sinka menjawab.

 

“Gitu yah,” kata Gilang.

 

“Emangnya kenapa, kak?” tanya Sinka.

 

“Ngga, nanya doang,” jawab Gilang.

 

Orang-orang yang sedang berkumpul bercanda gurau, tidak dengan Dzikri dan Rizal. Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu.

 

“Gue titip Melody yah Zal, kalo semisalnya gue ga ada lagi di kehidupan kalian,” kata Dzikri.

 

“Lo jangan ngomong gitu lah. Melody bener-bener sayang banget sama lo, Dzik,” balas Rizal.

 

“Gue juga sama halnya kayak Melody ke gue Zal,” kata Dzikri.

 

“Yaudah, gue jaga Melody sementara, tapi sisanya lo yang harus jaga Melody,” kata Rizal.

 

“Iyah.” Dzikri menepuk pundak Rizal dengan kepala tertunduk, lalu berkumpul dengan yang lainnya.

 

“Gue harap lo bisa dapetin apa yang lo mau secepetnya Dzik,” gumam Rizal. “Gue udah tau semuanya.”

 

*to be continued

 

@DPriatama23

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s