“Directions The Love and Its Reward” Part 2

Saat aku berbalik tiba-tiba…

“Wah…!!! Kuntilanak rambut sebahu…!!!” teriakku sekenanya dan berlari hingga aku menabrak meja.

“Aduh…!!! sstt aw!” erangku kesakitan.

“Rendy, kamu kenapa?” ucap Tanteku panik mendengarku berteriak dan berlari menghampiriku karena melihat aku terjatuh menabrak meja.

“I-ituTante, di situ ada kuntilanak. Ta-tapi aneh, rambutnya Cuma sebahu” ucapku terbata-bata masih mengontrol nafasku.

“Hah? Kuntilanak? Ada-ada aja kamu ini. Ini pasti…” ucapan Tante Citra terpotong, karena kuntilanak yang kulihat di ruanng tamu tadi berlari menghampiriku.

“Rendy…!!!” teriaknya.

“Huah!!! Itu Tante kuntilanaknya!” ucapku bersembunyi dibalik punggung Tante Citra.

“Astagfirullahaladzim. Yona, Yona… kamu itu bikin Rendy takut aja. Ini pasti kerjaan kamu kan?” tanya Tanteku pada gadis menyeramkan itu. Eh tunggu dulu!!!

“Yona?” tanyaku meyakinkan.

“Ihh… Mamah! Ini kan surprise buat Rendy tau. Lagian Rendy nya, masa aku dibilang kuntilanak rambut sebahu. Padahal juga cantik begini dibilang kuntilanak. Huft” ucap gadis berambut sebahu itu cemberut.

“Ya nggak gitu juga. Kamu ini jahil banget sama Rendy. Sifat kamu masih belum berubah juga.ck ck ck” Tenteku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanteku kini menoleh ke arahku yang berada di belekang punggungnya.

“Oh hampir lupa. Kamu udah lama nggak ke sini ya. Ini nih, saudara kamu Yona yang dulunya cengeng dan manja itu. Liat, beda kan sekarang? Hati-hati, jahilnya masih ada” ucap Tanteku.

“Iyaaa!!! Ini aku Rendy. Sepupu kamu, masa kamu lupa?” ucapnya cemberut.

“Ini bener Yona kan? Viviyona Apriani?” tanyaku meyakinkan lagi.

“Iya Rendy, ini aku. Huh… masa sama saudara sendiri lupa” ucapnya semakin cemberut.

“Ya lagian kamu beda banget sih dari yang dulu. Dulu kan kamu cengeng, manja, dan lain-lainnya. Tapi sekarang…” ucapku menggantung.

“Sekarang apa? Cantik kan?” tanyanya, PD banget nih anak.

“Nggak, sekarang kelihatan gendut wlee” ucapku meledek.

“Tuh kan Mah… Rendy mah masih gitu. Sukanya ngeledek aku terus ih! Aku ngambek nih” ucapnya.

“Iya sorry-sorry. Kamu kelihatan cantik kok. Beda banget dari yang dulu. Sekarang kamu udah makin dewasa, pasti udah punya pacar nih?” tanyaku menyelidiki.

“Eh-eh belom punya kok. Kamu juga sekarang kelihatan beda banget Ren. Sekarang kamu badannya tinggi,keren, dan ganteng banget lah pokoknya. Jadi pangling nih” ucapnya memujiku.

“Ngerayu nih ceritanya? Nggak bakalan mempan Yon. Ah masa sih cewek secantik kamu belom punya pacar?” tanyaku lagi.

“Iya, sumpah beneran belom kok” Yona mengacungkan dua jarinya ‘peace’.

“Ciah…!!! Jones lu wlee” ucapku meledek dan langsung berlari.

“Ihh… Rendy…!!!”.

“Tante tolongin aku tan!” ucapku.

“Awas ya kamu Ren!” Yona sudah membawa buku,sapu,dan juga topi penyihir. Mungkin kalo marah dia jadi penyihir kali (?) Dikira mungkin bisa aja aku di sihir jadi kodok gitu. Ngeri juga *_* nih anak.

“Hya!!! Rasain nih! Cinkara hoy!” dia ngelempar bukunya tepat di kepalaku. Ngelempar buku pake mantra juga kali ya. Tapi asli mantep banget nih buku kena kepala. Pusing tujuh keliling nih kepala. Dilihat kok banyak burung di atas kepalaku muter-muter dah.

“Hmmm… hadeuh… kalian berdua ini, kelakuannya nggak pernah berubah. Tetep aja masih kayak anak kecil. Udah-udah Yon, kasian Rendy mau istirahat. Dia kan baru nyampe ke sini” Tanteku menggeleng-geleng.

“Awas ya! Kali ini kamu selamet. Lain kali, aku sihir kamu jadi pangeran kodok” ucapnya mengancam.

“Rendy, Yona, sini makan siang dulu!” ucap Tante Citra memanggil kami.

“Iya” ucap kami bersamaan.

—o0o—

“Mmm… Tan, ngomong-ngomong, om Andre kemana?” tanyaku sembari mengambil piring berisi nasi yang sudah disiapkan Tante Citra.

“Ya biasalah Ren, om kamu itu sibuk sama kayak Papah kamu. Tapi untuk beberapa bulan ini, om kamu lagi ada urusan di luar negeri. Katanya sih ada kerja sama dengan perusahaan asing” ucap Tanteku menjelaskan.

“Oh gitu ya, banyak banget yang berubah ya di sini Tan” ucapku.

“Iya, terutama Yona tuh. Tapi dia asli kangen banget tuh sama kamu. Nggak ada temen yang bisa diajak ribut katanya” ucap Tante Citra sedikit menahan tawa.

“Ah Mamah gitu, ga asyik” ucap Yona menggembungkan pipinya.

“Oh iya Ren, besok kamu udah bisa sekolah di sini. Kamu satu sekolahan sama Yona, tapi nggak tahu satu kelas apa enggak” ucap Tanteku.

“Sekolahnya Yona itu ya sedengan lah dari sini jaraknya. Soal Papah dan Mamah kamu akan Yona jelasin sekolahan kamu itu kayak gimana” ucap Tanteku melirik ke Yona. Aku hanya menengok ke Yona dan memberi kode, kayak gimana sekolahannya? Jelasin dong.

“Ya oke,oke. Jadi gini. Sekolahanku itu sekolah paling elite di kota Jakarta ini. Sekolah yang menghasilkan generasi juara. NEM minimal di sana yaitu 36,00. Sedangkan NEM ku 38,00” sombong banget nih anak -_-

“Punya gedung dengan struktur bertingkat dan ada juga yang nggak bertingkat. Fasilitas dari mulai tekhnologi,internet,lapangan, dan lain-lain juga komplit” ucapnya dan aku hanya mengangguk tanda mengerti.

“Peraturannya sih hampir mirip sama sekolah biasa, tapi Cuma diperketat aja” ucapnya.

“Oh tante hampir lupa. Setiap siswa diwajibkan setidaknya harus mengikuti salah satu dari ekstra kurikuler di sekolah” tambah Tante Citra sambil meminum air putih.

“Nah, itu juga Ren, kalo ruangan-ruangan di sekolahan bisa aku jelasin dikit. Di gerbang itu selalu ada pos satpam yang memantau setiap murid yang keluar masuk sekolah sekaligus bertugas menutup gerbang jika sudah waktunya. Waktu paling lambat yaitu jam 07.15 harus udah sampe, kalo nggak ya nggak boleh masuk sama satpamnya. Mau pake cara haram? Nggak bisa. Kalo ketahuan nyogok bakalan di laporin ke guru Bimbingan Konseling (BK)” ucap Yona

“Tertib banget sekolahannya” ucapku masih fokus mendengarkan.

“Kalo letak ruang kelas sih, Cuma sedikit yang aku tahu. Ruang kelas X ada di paling bawah atau lantai satu. Ruang kelas XI ada di lantai 2. Terakhir ruang kelas XII ada di lantai 3 atau paling atas” jelasnya.

“Ngerti-ngerti” aku hanya manggut-manggut.

“Eits masih ada lagi. Nah, di sekolah kamu nggak bakalan bisa ngelakuin apa pun secara sembarangan. Setiap ruangan dan juga kelas dipasangi CCTV untuk memperketat keamanan. Tau sendiri lah, takut ada yang hilang barang lah, ini lah, itu lah. Namanya juga kota metropolitan”.

“Itu sekolah atau kantor polisi” -_-

“Ya mau gimana lagi, emang gitu kok kenyataanya”.

“Dan lagi nih Ren, Mamah sama Papah kamu bilang, sekolahnya mau dianter supir atau nyetir sendiri? Tuh Tante udah siapin mobil Honda Jazz putih buat kamu” ucap Tanteku.

“Hmm… tante, boleh nggak kalo aku pake motor aja? Boleh ya, boleh… please…” ucapku memohon.

“Tapi…”.

“Boleh ya Tan” ucapku semakin memohon.

“Huh iya deh iya, Tante kalah deh kalo keponakan tante yang satu ini udah minta sampe segitunya. Yaudah nanti malem, kita ke diller motor dan kamu boleh pilih motor mana yang kamu suka” ucap tanteku baik.

“Makasih Tanteku yang paling baik” ucapku memeluknya.

“Ngomong-ngomong, masakan Tante ini enak banget loh. Kangen banget sama masakan Tante. Masih nggak berubah, selalu bikin ketagihan” ucapku memuji masakan yang kumakan saat ini.

“Sebenernya Ren, ini bukan masakan Tante” ucap Tanteku.

“Lha terus, siapa dong?” tanyaku, dan Tante Citra hanya menganggukan dagunya ke arah sebelahku.

“Ah nggak mungkin dia bisa masak Tante. Orang cengeng,manja, dan tomboy kayak gitu” ucapku nggak percaya.

“Ish tuh kan, dia ngeledek aku terus Mah. Yaudah kalo kamu nggak percaya” Yona menggembungkan pipinya.

“Aw sakit tau ih” aku mencubit pipinya.

“Iya, percaya kok, percaya. Hebat banget yah kamu sekarang hahaha” ucapku

“Yaudah, sekarang kamu istirahat aja dulu di kamar. Yona, kamu tolong anterin Rendy ke kamarnya ya” ucap Tanteku.

“Iya Mah” jawab Yona. Aku dan Yona membawa barang-barangku menuju lantai dua rumah ini. Tepatya di kamarku dulu.

Perlahan ku buka pintu dan masuk ke dalamnya. Kamarnya masih bersih, terawat, dan terjaga. Mungkin Tante Citra memang sudah sengaja meyiapkan ini untukku. Terlihat beberapa foto-fotoku dulu yang masih kecil bersama Yona dan juga teman-temanku dulu. Aku baru ingat, sebelum aku masuk  TK (Taman Kanak-kanak), aku untuk terakhir kalinya ke sini. Terakhir kalinya bertemu teman-temanku dulu saat aku berusia 5 tahun tepatnya. Kulihat lagi ke samping kiri ternyata masih ada. Kalian ingin tahu?

Itu adalah koleksi mainan lego ku dulu yang disimpan di rak. Mulai dari NINJA GO dan lain-lainya. Terlihat juga beberapa koleksi action figure The Avangers di rak paling atas. Nah, ini yang paling aku suka. Koleksi mini figure Transformer mulai dari Autobots bahkan sampai Decepticons. Karakter yang besar kupajang di rak tengah yaitu Limited Rare Edition action figure Bumblebee. Karakter robot di Transformer yang paling aku suka hingga saat ini.

“Kamar ini nggak berubah ya” ucapku.

“Iya, semenjak kamu pergi, aku agak kesepian aja” ucap Yona sambil menaruh barang-barangku dan menatanya di lemari.

“Yaudah, kamu istirahat ya Ren. Jangan sakit loh.” ucap Yona.

“Siap Tuan Putri!!!” aku berlagak hormat dan dia hanya terkekeh. Aku langsung saja membuka jaketku dan merebahkan tubuhku di kasur. Masih empuk kayak dulu, dengan sprai Transformer juga. Yona mendekat dan menyelimutiku dengan selimut.

“Nice dream” ucapnya.

“Thanks,  I gonna sleep now. Bye” aku menutup mataku dan menuju gerbang perbatasan alam mimpi *lebay *plak*.

—o0o—

*Tok *Tok *Tok

“Rendy, udah bangun?” ucap serorang gadis dari luar kamarku mengetuk pintu. Aku mengucek mataku dan mulai berjalan ke arah pintu. Ku buka pintu dan terlihat Yona sudah rapi dengan dress putihnya.

“Loh Yon, mau kemana?” tanyaku.

“Dasar pelupa, malem ini kan kita mau ke diller beliin kamu motor” ucapnya.

“Oh iya, lupa. Yaudah bentar aku mandi, ganti baju sama siap-siap dulu”.

“Cepetan ya! Mamah udah nungguin di bawah tuh” ucapnya.

“Bawel ah” batinku. Dengan cepat, aku mandi dan berganti baju. Sekarang, aku sudah rapi dengan kemeja kotak-kotak coklat krem dan juga celana jeans hitam polos.Tak lupa rambut klimis dan sepatu Ph*enix (merek disamarkan) berwarna hitam dengan corak orange menyala. Sentuhan terakhir yaitu jam tangan hitam. Aku segera turun menghampiri Yona dan Tante Citra di bawah.

Saat aku datang, Yona malah ngelamun nggak jelas ngeliatin aku. Ini anak kesambet apa gimana. Apa penampilanku norak? Ah nggak mungkin, ini udah standar kok.

“Yon, Yona… Yona!!!” aku melambaikan tanganku di depan wajahnya.

“Eh iya, ayo buruan tuh Mamah udah nungguin” ucapnya langsung tersadar dan menarik tanganku masuk menuju mobil. Ini anak, padahal dia tadi yang ngelamun nggak jelas -_-

“Pelan-pelan Yon. Lama-lama putus ini tangan” ucapku.

“Wah anak Mamah udah cantik, keponakan Tante juga udah ganteng” ucap Tante Citra yang duduk di depan, tepatnya di tempat menyetir. Sebentar, kok Tante di situ. Setahu ku kan tante Citra  nggak bisa nyetir.

“Loh Tan, supirnya mana?” tanyaku.

“Biasa kalo malem emang tante nyetir sendiri. Lagian jalan Jakarta kalo malem itu macet” ucapnya. Di sini aku mulai ngerasa aneh.

“Loh, tante kan nggak bisa nyetir. Sini biar aku aja yang nyetir” ucapku.

“Ah siapa bilang, pasang safety belt nya. Kita akan berangkat” ucapnya memakai safety belt dan kacamata hitam. Begitu pula aku mengikutinya menggunakan safety belt

“Udah siap?” tanyanya. Aku dan Yona hanya megangguk.

“3..

2…

1…

Let’s Go…!!!”.

Brummm…!!!

Cklek…

Ngung….!!!

“Anjir…!!! Tante!!! Pelan-pelan…!!!” teriakku dan Yona. Mobil kami melaju dengan kecepatan tinggi menyalip keramaian dan menerobos kemacetan.

—o0o—

Brumm…!!!

Ckit….!!!

“Nah, kita udah sampe” ucap Tanteku.

“Hadeuh, hah..hah… atur nafas dulu. Astagfirullahaladzim. Bisa mati pusing, deg-degan ini” nafasku tersengal-sengal. Ini tanteku semenjak aku nggak ada di sini jadi anak Racing kali. Yona menyenggol bahuku dan berbisik

“Sebenernya aku udah tahu kalo Mamah kayak gini. Hmm… kamu inget nggak piala besar di tengah-tengah ruang tamu itu?” tanya Yona berbisik.

“Iya, inget hah, kenapa hah… hah” nafasku masih tersengal-sengal.

“Itu tuh piala juara 1 balapan liar jalanan Mamah di cirkuit Bandung minggu lalu” ucap Yona.

Ya ampun, ini semua udah berbalik arah. Udah kebalik semua kayaknya. Dulu Tante Citra itu feminim banget, tapi sekarang waduh… tomboy sampe jadi anak Racing. Yona juga gitu, dulunya tomboy tapi sekarang udah feminim. Mungkin ini bukan bumi kali ya? Kayak alien semua isinya. Siapa aja tolongin gue!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Yak kenapa Ren? ^^~”.

“Nah, untung ada lu di sini Thor. Selametin gue napa +_+”

“Orang yang anda ajak omong, sudah tidak dapat dihubungi lagi. Cobalah beberapa juta tahun cahaya lagi”

“What The… -_-“

—o0o—

“Nah Ren, kamu tinggal pilih aja mau yang mana, Tate tungguin di sini” ucap Tanteku. Aku berjalan-jalan ke sana ke mari. Akhirnya ketemu juga nih.

“Yang itu aja Tan” ucapku menujuk motor Ninja Kawasaki RR bercorak biru putih.

“Oh yaudah. Permisi pak, saya ambil yang itu aja” ucap Tanteku pada staff diller itu.

“Baik bu, bisa ditanda tangani. Besok pagi akan kami kirim ke alamat Ibu” ucap staff itu.

“Iya, terima kasih Pak. Yuk Ren, Yon. Kita pergi lagi” ajak Tanteku.

“Iya” ucap kami bersamaan. Mati nih kayaknya bakalan mual-mual lagi di jalan kalo Tante Citra lagi yang nyetir.

Sampe di parkiran, Tante Citra berbalik dan ngelemparin kunci mobilnya ke arahku. Reflek aku langsung tangkep.

“Kamu yang nyetir ya Ren” ucapnya

“Hah? Oke deh Tan” aku bukakan pintu untuk tante dan Yona *biar kayak cowok romantis gitu *plak. Langsung saja tancap gas entah kemana.

—o0o—

Di perjalanan, aku bertanya

“Kita mau ke mana Tan?” tanyaku.

“Mah aku laper nih” ucap Yona merengek. Oh iya, hampir lupa. Tadi kan belom makan malam.

“Ya udah Ren, kita ke restoran yang deket-deket sini. Kebetulan di depan itu ada restoran sea food ala Jepang” ucap Tanteku.

“Iya ke situ aja Mah, aku mau makan sushi” ucap Yona.

“Oke deh” aku melajukan mobil menuju restoran yang berjarak kira-kira 2 kilometer di depan.

Setelah lama berkelok-kelok mengikuti jalanan, tak lupa juga menerobos kemacetan, akhirnya kami sampai di restoran. Langsung saja ku parkirkan mobil dengan mulus dan menuju restoran.

“Ayo Tan, Yon” ajakku.

“Tante enggak deh, pesenin aja udang sama tariyaki. Tante udah makan soalnya tadi sambil nunggu kalian. Nanti kalian pesenin biar Tante makan di rumah” ucap Tanteku.

“Oh gitu, ya udah. Ayo Yon” ucapku.

Kami berdua mulai menuju restoran. Saat masuk tepatnya di pintu, tiba-tiba saja Yona menggenggam tanganku. Aku melihat ke arahnya dan dia hanya memberiku kode seperti bilang ‘udah diem aja, awas loh. Biar nggak keliatan jomblonya’ itu sih cuma feelingku. Yah, aku hanya nurut aja lah daripada ntar disihir jadi pangeran kodok.

Kami masuk dan duduk di meja bertuliskan angka 7. Yona langsung saja memanggil pelayan. Pelayan itu mendekat dan mulai mencatat pesanan kami.

“Mas sushinya 2, orange jus 1 sama… kamu apa Ren?” tanya Yona padaku.

“Cappucino Ice Presso aja mas” ucapku

“Baik saya ulangi, sushinya 2 porsi, orange jus 1, dan Cappucino Ice Presso 1. Ada tambahan?” tanya pelayan itu.

“Nggak udah itu aja. Makasih mas” ucap Yona

“Baik mbak dan mas nya bisa ditunggu” ucap pelayan itu dan pergi. Tiba-tiba aja ini kayaknya kebelet pipis nih. Langsung aja ngomong ke Yona

“Yon, aku mau ke belakang dulu ya. Udah nggak tahan nih” ucapku

“Ya udah sana. Dasar beseran” ucapnya tapi aku hanya menghiraukannya.

Langsung saja aku menuju toilet pria. Ya toilet pria dan wanita bersebrangan. Kalo sampe salah masuk bisa berabe nih urusannya. Karena kebelet banget, langsung aja masuk ke toilet laki-laki dan keluarin semuanya di sana. Lega juga udah keluar nih. Sekarang tinggal lanjut makan aja, laper juga nih. Sebelum itu, kulihat kancing kemeja ku yang paling bawah terlepas. Aku membenarkannya sambil berjalan keluar dari toilet. Tapi tiba-tiba…

“Aduh! Aw…!!!” aku menabrak seorang gadis. Untung saja belum jatuh dan masih sempat aku tahan. Ku pandangi wajah gadis itu. Ya Tuhan… Cantik,putih,dan imut sekali ciptaan-Mu ini. Matanya berbinar dan berkilauan dengan rambut panjang yang digerainya. Sangat lama kami bertatapan hingga kami saling tersadar.

“Ih apaan pegang-pegang! Elo lagi, elo lagi. Modus lo ya! Oh gue tau, lu pasti cowok mesum!” ucap gadis itu. Yaelah nih cewek nyolot lagi ternyata. Udah untung ditolongin, ditahan biar badannya nggak jatoh. Bukannya terima kasih, malah nyolot, ngatain mesum lagi *_* apa salah gue?

“Enggak kok enggak. Masih untung juga mbak saya tolongin” ucapku.

“Untung kata lo? Ish… ogah banget ya gue. Dasar mesum” cewek nyolot itu langsung aja pergi meninggalkan dunia ini *eh salah maksudnya meninggalkan aku di toilet.

“Dasar cewek aneh” batinku. Saat aku hendak menuju ke meja makan lagi, aku berpapasan dengan seorang gadis. Gadis cantik yang senyumnya nggak bisa aku lupain.

“Loh Rendy, kita ketemu lagi” ucap gadis itu yang ternyata adalah Kak Ve.

“Eh Kak Ve, kok bisa ya? Mungkin jodoh kali” ucapku asal ceplos.

“Ah kamu ada-ada aja, sama siapa kamu ke sini?” tanyanya.

“Itu, sama itu…” kataku menunjuk seoran gadis yang duduk di meja makan nomor 7.

“Oh sama pacarnya, ya udah Kakak mau ke toilet dulu” ucap Kak Ve pergi masuk ke toilet.

“Belom juga dijawab, lumayan juga ketemu sama Vedadari di sini” batinku.

“Hai Yon, nungguin lama?” tanyaku.

“Iya nih pesenanya udah dateng tau. Aku nungguin kamu buat makan bareng. Yuk kita makan bareng” ucap Yona dan kami makan bersama.

Setelah kami selesai makan, kami membayar makanan kami. Kulihat Yona makannya belepotan ada saus di pipinya. Langsung saja inisiatif aku bersihin.

“Kalo makan tuh pelan-pelan. Udah gede makannya masih belepotan” ucapku mebersihkan saus di pipinya. Dia hanya terpaku memandangku. Kesambet lagi kali ini anak -_-

“Yon, shut heh” ku coba memanggil Yona.

“Oh sorry-sorry” ucapnya buyar dari lamunannya. Langsung saja kami membayar dan tak lupa memesan udang dan tariyaki pesenan Tante Citra. Kami berjalan menuju mobil tapi, aku merasakan hangat di tanganku. Ternyata Yona menggenggam tanganku dengan sangat erat. Biarlah, kami langsung saja masuk ke mobil dan perjalanan pulang ke rumah.

—o0o—

Singkatnya kami udah sampai di rumah. Terlihat semuanya sudah mulai mengantuk. Tak sadar juga, aku melihat ke arah jam tanganku sudah menunjukkan pukul 22.00. Ternyata sudah cukup larut juga. Langsung saja kami menuju kamar masing-masing, tetapi sebelum itu ku parkirkan mobil Tante Citra di garasi. Aku mulai masuk kamar dengan langkah gontai karena memang udah ngantuk banget. Ku buka pintu dan langsung saja ku rebahkan tubuhku di kasur. Ku lepas sepatu dan mulai tidur di kasur. Tapi sebelum itu…

*Tok *Tok *Tok

“Rendy, udah tidur?”.

“Belum, masuk aja Yon. Nggak dikunci kok” ucapku.

“Ren, sebelumnya makasih ya buat malam ini. Istirahat ya, inget besok kita sekolah loh” ucapnya tersenyum. Terlihat dia sudah mengganti baju dengan piyama tidur.

“Iya sama-sama. Udah, gitu doang?” tanyaku dan dia hanya mengangguk. Aku melanjutkan tidurku dan mulai menutup mataku.

Ini apa ya? Kok kayaknya ada yang nyelimutin aku. Karena terlalu ngantuk, aku Cuma bisa ngelihat samar kalau ada seorang wanita yang membentangkan selimut untukku. Dia mendekat ke arahku dan berbisik

“Good night. Nice dream, my hero”.

CUPZZ

Terasa hangat di dahiku. Apaan ini? Ah udahlah nggak usah dipikirin. Rasa kantuk memenangkan perannya saat ini. Aku mulai tertidur, terlelap dan menunggu hari esok.

Hari yang berat? Mungkin saja (?)

Hari yang menyenangkan? Semoga saja (?)

-To Be Continued-

@rezalical

Hai gimana bro? Sorry kalo masih ada banyak typo. Sorry juga kalo ada bagian-bagian yang gaje. Oke terima kasih sudah membaca. Kritik,saran, dan komentar bisa dituliskan di kolom komentar. Sekian dan terima kasih ^^~

Iklan

4 tanggapan untuk ““Directions The Love and Its Reward” Part 2

  1. overall, bagus..
    gw suka sama ceritanya, but agak perhatiin sama tulisan2 yg salah, kaya diller yg seharusnya dealer..
    nice job

    Suka

  2. gue sih kgk tpi ngerti tntang overal atu EYD, gue cman slalu suka aja baca crita klo bisa dibilang yah hobo gue baca cerpen gtu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s