Death Game, Part8

“Jadi mau sampai kapan kita diem disini?” Kevin hanya mengangkat kedua bahunya, sementara Faisal menatap kosong ke arah lilin yang ada ditengah mereka bertiga.

Hampir seharian Yona, Faisal, dan Kevin berlari menghindari zombie. Meskipun mereka membawa senjata tapi jumlah zombie terlampau banyak. Sebisa mungkin mereka akan menghindari zombie zombie dahulu dan fokus akan misi mencari sebuah vaksin.

Disebuah  gedung perkuliahan, Kevin, Yona dan Faisal berdiam diri dipojok lorong yang ada di lantai empat. Hanya ditemani sebuah lilin yang mereka temukan disebuah ruangan yang ada di gedung ini.

Hari sudah sangat gelap, Faisal melihat ke luar gedung melewati jendela. Terlihat beberapa zombie masih berkeliaran. Mereka terkesan lebih aktif jika malam hari. Langkah kaki mereka pun terlihat lebih cepat, seperti ada energi tambahan jika mereka bergerak di malam hari.

“Kita istirahat disini aja,” kata Kevin.

“Hah… ok deh, kalau gitu besok kita lanjut lagi.” Yona beranjak dari tempatnya, ia kini mencoba membuka sebuah ruangan yang ada didekat mereka. “Aku tidur didalam kan?”

Faisal mengangguk, “Kita jaga diluar, kamu istirahat aja.”

“Awas loh jangan ninggalin,” kata Yona.

“Ga mungkin lah, kunci aja entar pintunya,” kata Kevin.

“Pasti kalau itu, udah ya, good night.” Yona pun menutup pintu ruang kelas.

Kevin tiba-tiba beranjak dari tempatnya juga. Ia membersihkan celana panjangnya dari beberapa debu.

“Mau kemana?” tanya Faisal.

“Toilet bentar.” Kevin langsung berjalan meninggalkan Faisal.

Ditemani sebuah senter yang berasal dari handphonenya, Kevin melangkah menyusuri lantai empat gedung itu. Seingatnya toilet ada dilong sebrang, ia hanya perlu berjalan lurus dari tempatnya berasal.

Saat ia melihat ke arah kiri, terlihat susasana diluar gedung. Beberapa zombie terlihat berkeliaran, ada juga yang hanya terdiam dibawah pohon. Seperti orang stress, zombie itu hanya menatap kosong ke satu arah.

“Zombie aneh.”

Baru saja beberapa langkah berjalan. Kevin melihat seorang zombie yang dikenalnya, berambut pendek dengan kemeja putih serta celana piyama.

“Viny?!”

“Duh… kebelet lagi ini, gue teriak si Faisal entar takut zombie yang dibawah pada nyaut, toilet dulu apa ke tempat Faisal dulu?”

“Ah bodo!” Kevin langsung berlari kembali ke tempat Faisal. Langkah kakinya terdengar jelas, sorot lampu senter itu makin mendekat ke arah Faisal berada.

“Ada apaan?” tanya Faisal.

“Ayo ikut,” ajak Kevin.

“Ke toilet? Minta dianter?”

“Bukan!” jawab Kevin kesal dengan ekspresi campur menahan kebelet.

“Ya terus apaan?”

“Itu itu….”

“Apaan?” Faisal makin tidak mengerti dengan ucapan Kevin.

“Viny!”

“HEH?!”

“Ya udah buruan ikut.” Kevin pun berlari lebih dulu sedangkan Faisal mengikutinya dari belakang.

Kevin pun berhenti ditempat tadi ia melihat Viny, tapi ia melihat Viny telah berjalan menjauh dari gedung.

“Itu!” tunjuk Kevin.

“Serius?”

“Iya, buruan ikutin dia!”

“Lah… kamu sendiri?”

“Toilet bentar, udah yak udah kebelet ini, entar nyusul deh kesana.”

Tanpa banyak omong lagi, Kevin langsung berlari meninggalkan Faisal. Sedangkan Faisal langsung turun ke lantai utama sambil mengumpat sendiri. “Sialan, pake ada acara kebelet segala. Ah iya itu Viny mau pergi kemana coba, emangnya si Falah ga ketemu sama dia.”

Saat sampai di lantai satu, Faisal mengintip dari dekat pintu masuk. Beberapa zombie berkeliaran terlihat lalu lalang, sedangkan Viny terus melangkah ke arah parkiran motor fakultas teknik.

Gedung yang mereka diami memang dekat dengan parkiran fakultas teknik. Terlihat Viny terus berjalan lurus ke arah parkiran motor. Ia berjalan dengan menyeret kakinya. Tiba-tiba Viny terjatuh dan menghilang dari pandangan Faisal.

“Loh kok ilang?!” tanya Faisal heran. “Ah iya! Disana ada selokan yang dalem, pake acara masuk selokan segala tuh anak, makin ribet lagi dah nangkepnya.”

“Gimana?” tanya Kevin yang baru datang.

“Jatuh ke selokan disana tuh,” kata Faisal.

“Lah serius?” Faisal hanya mengangguk.

“Coba kontakin Falah.” Kevin pun langsung membuka fitur pesan yang ada di jam tangan pintar miliknya. Tidak lama kemudian ada balasan dari Falah.

“Dia lagi diem di klinik kampus katanya, tadi dikejar-kejar zombie. Dan tau apa yang mereka temuin?”

“Vaksin?” Kevin mengangguk.

“Bagus, berarti kita tinggal tukeran tugas aja, sekarang gimana caranya tangkep Viny?” tanya Faisal.

“Apa perlu bangunin Yona?” tanya Kevin.

“Jangan, udah biarin aja dia isitirahat,” kata Faisal.

“Maju brutal aja gitu ya, lawan semua zombie-zombie?”

“Gila! Harus pake rencana lah.”

Faisal dan Kevin pun lalu duduk ditembol samping pintu masuk. Mereka beristirahat sambil berfikir mengenai rencana yang akan dijalankan.

“Bawa senjata Sal?” Faisal memperlihatkan sebuah pisau yang digenggamnya.

“Kita lawan aja tuh zombie-zombie, gimana?” tanya Kevin.

“Pisau doang mana cukup.”

“Bentar.”

Kevin beranjak dari tempatnya dan pergi mengambil sesuatu yang tergeletak dipinggir sebuah meja. Kevin mengambil sebuah sapu dan mengikatkan pisaunya diujung gagang sapu itu.

“Nah… jadi tombak.”

“Emang bakal ngebantu banget?” tanya Faisal.

“Paling engga menambah jarak jangkauan.”

“Tapi zombie diluar masih banyak.”

“Ya elah Sal, kalau kaga dibunuh kapan misinya kelar?” tanya Kevin.

Faisal pun terdiam, ia akhirnya ikut berdiri. “Tunggu bentar, aku mau cari sesuatu dulu.” Faisal pun berlari meninggalkan Kevin. Ia pergi menaiki tangga.

Tidak lama kemudian Faisal pun kembali membawa sebuah Kapak, yang entah ia temukan dari mana.

“Ready?”

“Gila, dapet darimana? Curang ah.”

“Nempel di lorong lantai dua,” jawab Faisal.

“Ya udah buruan maju,” kata Kevin.

“Ya elah situ dulu lah yang pake tombak.”

“Tombak apaan?! Ini sapu yang dimodifikasi sama pisau.”

“Ya udah barengan.” Kevin pun mengangguk.

Mereka pun berjalan keluar dari bangunan, terlihat beberapa zombie berjalan melewati depan gedung. Ada juga zombie yang berdiam diri dekat pepohonan. Ada juga yang hanya duduk di rerumputan.

Baru saja beberapa langkah keluar dari bangunan, sudah ada seorang zombie yang melihat mereka berdua. Zombie itu langsung mengaum dan menyeret kakinya mendekati Faisal dan Kevin.

“Hajar langsung!”

Tanpa ampun Kevin langsung menancapkan sapu yang sudah terpasang pisau diujungnya tepat ke kepala si zombie. Zombie itu hanya merongrong seperti kesakitan, saat pisau dicabut darah berwarna hitam pun menyemprot keluar dari kepala si zombie. Dan Zombie itu pun langsung tergeletak.

Tanpa mereka ketahui teriakan zombie itu seperti panggilan untuk zombie lainnya. Kini zombie yang ada disekitaran gedung mulai mendekat ke arah Faisal dan Kevin.

“Gimana ini?” tanya Faisal yang bersandar dibelakang punggung Kevin, mereka saling mengawasi semua zombie yang ada didepan mereka.

“Langsung bunuh lah!”

Kevin melangkah perlahan dan menancapkan pisau itu ke jantung para zombie. Setelah menusuk ia langsung menendang zombie itu agar terlepas dari pisaunya. Sementara Faisal langsung menebaskan kapaknya ke tubuh para zombie.

Kapak itu terus menebas beberapa tubuh zombie. Beberapa kepala juga sudah terpisah dari tubuhnya akibat tebasan kapak.

“Hahaha… bunuh terus!” teriak Faisal.

“Menikmati banget kayanya?” jawab Kevin sambil terus menusukan senjatanya kepada beberapa tubuh zombie.

“Bodo amat, yang penting games ini cepet beres! Hyaaa!!!!” Kapak itu tepat tertancap di kepala si zombie.

“Lah…. kalian ngapain?!” tanya Yona yang sudah berdiri didepan pintu masuk gedung.

“Heh… ga tidur Yon?” Yona menggeleng pelan.

“Kalian ngapain?” tanya Yona.

“Beresin misinya lah, lagian kita nemuin Viny!” kata Kevin.

“Viny?” tanya Yona.

“Iya, dia ada diselokan sebelah sana tuh, ini lagi ngeberesin zombie-zombie yang ada disini dulu,” kata Faisal.

Hampir sejam lebih mereka membersihkan zombie yang berada disekitaran gedung. Sementara Yona hanya duduk didepan pintu masuk gedung, melihat Faisal dan Kevin yang saling menebas beberapa zombie.

Pakaian mereka pun sudah dipenuhi oleh noda darah beberapa zombie. Bahkan lengan kiri Faisal berlumuran darah hitam yang berasal dari zombie itu. Tanpa terasa sudah tidak ada zombie yang berkeliaran didepan mereka.

“Gimana?” tanya Yona.

“Apanya?” tanya Faisal.

“Viny lah!”

“Oi… dia masih disini.” kata Kevin yang pergi ke arah selokan dekat parkiran motor.

“Ngapain dia?” tanya Faisal.

“Diem doang.” Faisal dan Yona pun pergi menghampiri Kevin.

Saat Viny melihat Kevin ia langsung meraung seperti kelaparan. Wajar, kini dimata Viny, Kevin bagaikan daging segar yang siap dilahap. Sialnya Viny tidak bisa meraih Kevin, ia tidak bisa mengangkat tubuhnya dari dalam selokan sedalam satu setengah meter.

“Gimanain nih?” tanya Faisal.

“Ya angkat lah,” jawab Yona.

“Entar di gigit Yon….,” kata Kevin.

“Berarti kepalanya harus ditutupin dulu,” kata Faisal.

“Tangannya juga harus diiket,” jawab Kevin.

“Ya udah tinggal lakuin,” jawab Yona.

“Nah itu yang jadi masalahnya Yon, takut kegigit,” kata Kevin.

“Lah… tadi aja berani nebas beberapa zombie,” kata Yona.

“Ya udah vin, buruan cari karung kek atau apalah buat nutupin mukanya si Viny,” kata Faisal.

“Kayanya bakalan ada deh di gudang yang ada digedung tadi,” kata Kevin.

“Ya udah buruan cari,” kata Yona.

Kevin pun pergi meninggalkan Yona dan Faisal.

“Wey… wey….” Viny mencoba meraih kaki Faisal, untung ia dengan sigap berhasil menghindar. “Jadi agresif gini ya?”

“Beneran jadi zombie ini si Viny,” kata Yona.

Tidak lama terdengar teriakan beberapa zombie mendekati Yona dan Faisal. Saat Faisal melihat kearah suara berasal, benar saja tiga orang zombie berjalan perlahan dengan menyeret langkah kakinya.

“Gimana tuh?” tanya Yona.

“Kita lawan aja,” kata Faisal.

“Lah aku ga bawa senjata ini,” kata Yona.

“Ya elah…. jadi aku sendirian nih?” Yona mengangguk. “Sial…. mana ada yang gendut lagi itu zombienya.”

“Ya udah tunggu bentar.” Faisal pun langsung berlari menghampiri zombie-zombie itu.

Ia kini pergi ke salah satu zombie dengan badan kurus kering. Mulut zombie itu menganga lebar. Faisal pun mengayukan kapaknya di leher si zombie. Dengan sekejap kepala dan tubuh zombie itu langsung terpisah.

Kini Faisal berlari ke arah si zombie yang bebadan lebih gemuk. Dari kulitnya tercium bau yang sangat busuk. Zombie itu berjalan lebih lambat dari zombie yang lainnya. Tubuh zombie itu pun lebih tinggi dari Faisal.

Kini Faisal mengayunkan kapaknya di dada si zombie. Sial, kapak pun menyangkut disana. Lengan zombie itu langsung mencengkram kepala Faisal.

“Errr…. sial!” gumam Faisal.

Tiba-tiba sebuah pisau menancap di mata si zombie itu. Tangan zombie itu terlepas dari kepala Faisal. “Hah… hah… hampir aja mampus,” gumam Faisal.

“Pas banget kan datangnya?” tanya Kevin.

“Faisal Kevin!” teriak Yona.

Saat mereka melirik ke arah Yona, ternyata ia sedang dikejar oleh seorang zombie. “Urus ya sana buruan,” kata Kevin.

Faisal pun berlari menyusul zombie itu. Saat sudah dekat, ia mengayunkan kapaknya tepat di pinggang si zombie. Pergerakan zombie pun terhenti, kini ia berusaha menyerang balik Faisal.

Untung Faisal buru-buru mencabut kapaknya. Kemudian ia mengayunkannya tepat di kepala si zombie dan zombie itu pun berhenti bergerak.

Sementara Kevin masih berusaha melawan zombie bertubuh gempal. Ia berusaha menusuk tepat di jantung si zombie. Tapi pisau itu tidak menancap dengan sempurna. Tidak lama Faisal datang membantu. Ia mengayunkan kapaknya secara brutal ke semua tubuh zombie. Zombie itu pun berteriak kencang, tidak lama ia terjatuh dan tidak bergerak.

“Hah… buruan tinggal si Viny,” kata Faisal.

“Hah… thanks ya Sal,” kata Yona.

“Santai aja, ini gimana Viny?” tanya Kevin.

“Udah tinggal iket dulu tangannya,” kata Yona.

Kevin pun turun ke dalam selokan itu, ia sengaja turun aga jauh dari tempat Viny. Viny pun bergerak mendekati Kevin. Dari belakang Faisal ikut turun juga dengan membawa sebuah karung yang diberikan Kevin sebelumnya.

Dengan sekali gerakan Faisal pun menutup dari wajah hingga pinggang Viny menggunakan karung itu. Viny pun berusaha meronta-ronta dari dalam karung itu. Dengan cepat, Kevin langsung membantu dan mengikat menggunakan tali rapia yang dibawanya.

“Buruan angkat-angkat!” kata Yona.

Kevin dan Faisal pun mengangkat Viny keluar dari selokan. Kaki Viny terus menendang-nendang, ia terus saja melawan.

“Bentar, Yon,” kata Kevin.

Kevin sengaja membuat beberapa lubang di bagian atas karung. “Biar bisa napas dia,” kata Kevin.

“Lah terus ini anak bawa kemana?” tanya Faisal.

“Sementara kita diem di gedung tadi aja,” kata Yona.

Kevin dan Faisal pun megangguk. Mereka bertiga langsung membawa Viny masuk kedalam gedung persembunyian mereka.

“Oiya vaksinnya udah ditemuin sama Falah, coba Yon hubungi dia suruh datengin kita aja gitu,” kata Kevin.

“Ok deh tunggu bentar,” kata Yona.

“Buruan masuk ke gedung, feeling ga enak nih, teriakan zombie kayanya punya efek manggil temen-temennya, soalnya dari tadi tiap ada yang teriak suka ada zombie baru yang muncul,” kata Kevin.

“Ya udah buruan,” kata Faisal.

*to be continued

 

 

 

 

Iklan

8 tanggapan untuk “Death Game, Part8

      1. Gw belum bisa nebak ceritanya sih, jadi belum tau seru apa kagak :3

        Kalo stop gak pa” juga sih, tp harus ada gantinya *maksa* hehe XD

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s