Cahaya Kehidupan : Aku Pertanyaan Kelima, Part 41

* Dhee keluar dari rumah sakit enam bulan kemudian. Semua operasinya
berjalan lancar. Tubuhnya berangsur-angsur pulih. Hanya kakinya saja
yang harus ditopang tongkat.

Masa-masa penuh paradoks itu datang lagi. Tapi kali ini Dhee
memutuskan untuk melawan takdir itu. Ia akan melihat sejauh mana
penyakit-penyakitnya itu akan menggerogoti hidupnya. Sejauh mana
langit tega melakukannya.

Tetapi Dhee keliru, ia tidak setangguh yang dibayangkannya. Bukan
ditahun ke empat atau ke lima sejak kepulangannya dari prosesi kremasi
Ve, tapi di tahun ke enam. Dhee akhirnya mengeluh kalah, mendesah
lemah.

Mengapa Tuhan tidak mengakhiri saja semuanya dengan cepat? Kenapa
harus dengan semua penyakit yang mengambil satu persatu kemampuan
fisiknya? Menghambat kesibukannya?

* Dua tahun berlalu, dua tahun bertahan melawan. Akhirnya hidup Dhee
benar-benar diisi oleh dua ruangan. Ruang rawat inap rumah sakit, dan
ruang kerja lantai tertingginya.

Seperti rumus matematika. Dua bulan sehat di ruang kerjanya, satu
minggu terbaring di rumah sakit. Dua bulan sehat, dua minggu terbaring
di rumah sakit, begitu seterusnya. Hingga jadi terbalik menjadi satu
minggu sehat, dua minggu terbaring di rumah sakit.

Tubuh itu perlahan tapi pasti mulai terkulai lemah. Wajahnya pucat,
matanya redup. Penyakit itu mulai menggerogoti mentalnya. Dhee
terjerembab dalam kepenatan hati.

* Enam bulan sebelum tubuhnya benar-benar terjengkang tak berdaya.
Enam bulan sebelum tubuhnya benar-benar tidak bisa bangun lagi dari
ranjang rumah sakit. Malam itu, untuk terakhir kalinya Dhee menatap
cahaya siluet langit malam di balik jendela kaca raksasa lantai gedung
tertingginya.

Rembulan itu amat indah, mempesona. Dhee menggigit bibir, matanya
redup mengukir wajah gigi kelincinya di separuh wajah rembulan. Dhee
tertunduk dalam, menangis.

Tangisan tanpa suara, tanpa air mata. Semua kenangan itu kembali,
menusuk. Dulu ia sendiri, sepi. Masa-masa menyakitkan. Sekarang ia
sendiri, sepi. Juga masa-masa menyakitkan.

Enam tahun yang menyakitkan. Enam tahun yang dipenuhi semua penyakit.
Dhee mendadak teramat rindu dengan gigi kelincinya. Ya Tuhan!
Andaikata ini memang penghujung hidupnya, kenapa kau tidak
menyelesaikannya dengan cepat? Dhee mendesah pelan, ia sungguh sudah
lelah.

Esok paginya, tubuh sakit-sakitan Dhee benar-benar jatuh terjengkang.
Dan tidak bangun-bangun lagi selama enam bulan. Dokter baru akan tiba
minggu depan dari Swiss dan Perancis. Bukan main, benar-benar tim
medis yang hebat.

Semua berkepentingan menyelamatkan nyawa orang tua diatas ranjang.
Pria pemilik kongsi bisnis terbesar yang pernah ada. Pria pemilik
imperium bisnis yang menggurita. Yang sayangnya, sekarang terbaring
tak berdaya dibelit infus dan banyak selang. Pemilik kongsi bisnis
yang sedang sekarat.

* Berpilin, terlemparkan, silau, memedihkan mata. Dan saat semuanya
terasa nyaman lagi, pasien berumur enam puluh tahun itu membuka
matanya. Ia sudah duduk di pinggir-pinggir ranjang.

Di ruangan yang sama. Rumah sakit yang sama. Jendela yang sama.
Rembulan bersinar indah di balik bingkai jendela. Orang berwajah
menyenangkan itu duduk di sebelahnya, tersenyum.

“Perjalanan yang hebat, Dhee. Bukan main, enam puluh tahun yang luar
biasa.” orang berwajah menyenangkan itu terkagum-kagum, sementara itu
pasien di sebelahnya hanya diam.

“Dan disinilah semua berakhir. Kita akhirnya tiba di pertanyaan
terakhirmu, Dhee. Pertanyaan kelima, pertanyaan yang setiap malam
muncul di kepalamu semenjak kau kehilangan gigi kelincimu. Seperti
empat pertanyaan sebelumnya, tentu saja aku akan menjawabnya.” orang
berwajah menyenangkan tertawa pelan.

Pasien itu mengusap rambut berubannya. Sejak orang di sebelahnya
menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, pasien itu memilih untuk
lebih banyak mendengarkan sekarang.

“Dhee, masa-masa menyakitkan yang kau alami sudah berakhir. Apakah kau
masih bisa merasakan pukulan sapu itu? Semuanya sudah terlampaui,
diberangus oleh waktu. Dimakan oleh detik-detik kehidupan.” orang
berwajah menyenangkan menatapnya sayu.

“Dhee, ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan
semua penderitaan, maka kau harus melihat ke atas. Pasti ada kabar
baik untukmu, janji-janji masa depan. Sebaliknya, ketika kau merasa
hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan.
Maka kau harus melihat ke bawah. Pasti ada yang lebih tidak beruntung
darimu. Hanya sesederhana itu, dengan begitu kau akan selalu
bersyukur.” orang berwajah menyenangkan menyentuh lembut bahu pasien
di sebelahnya.

“Baiklah, aku tidak akan berpanjang lebar. Kau terlihat enggan
mendengarnya, Dhee. Nah, sekarang mari kita lihat ke sebuah panti
dekat rumah masa kecilmu. Mari Dhee, kau akan menyaksikan dengan
matamu sendiri. Kau pikir hidupmu sudah amat menyakitkan, sekarang
kita lihat. Inilah jawaban sesungguhnya kenapa kau bisa sakit
berkepanjangan selama enam tahun terakhir, Dhee. AYO, IKUT
DENGANKU!!!” orang berwajah menyenangkan untuk pertama kalinya menatap
dingin.

* Berpilin, terlemparkan, silau, memedihkan mata. Saat semuanya sudah
kembali nyaman untuk dilihat, hujan deras langsung membuncah tubuh.
Membuat mereka basah kuyup. Petir menyambar membuat akar serabut di
langit kelam. Guntur menggelegar membuat ciut nyali yang mendengarnya

Malam karnaval hari raya yang terganggu itu? Perempatan jalan itu? Di
depan bangunan panti itu? Di bawah pohon jambu klutuk. Di ayunan ban
mobil Fuso yang berderit. Duduk gadis kecil yang memeluk boneka
beruang. Gadis kecil yang berurai air mata.

Menatap sendu tanah-Mu, ya Tuhan. Menatap sendu tetes-tetes hujan-Mu.
Menatap sendu langit-Mu. Mencari wajah-Mu yang katanya ada
dimana-mana. Bertanya tanpa suara. Bertanya tentang Ayah-Bundanya.

“Dhee, nama gadis itu Rena. Umurnya enam tahun.” orang berwajah
menyenangkan menunjuk gadis kecil yang sedang bersedih itu, Dhee
sedari tadi malah sudah sibuk memperhatikannya.

Dhee terdiam, ia tidak mengerti. Apa hubungannya ia dengan gadis kecil
itu? Apa hubungannya dengan pertanyaan kelimanya? Dan kenapa ia harus
ke panti itu? Kakinya mendadak gemetar oleh rasa takut.

“Kau tahu, malam ini pertanyaan gadis kecil itu menggetarkan langit
Tuhan. Malam ini tatapan matanya membuat segenap malaikat bergegas
bertanya. Lihatlah, kalau kau bisa melihatnya. Mata gadis itu
memancarkan cahaya menyilaukan yang menghujam ke atas langit gelap
bagai mercusuar tak terkatakan. Membuat terang alam semesta. Membuat
malaikat tidak henti memuji kebesaran Tuhan.” orang berwajah
menyenangkan itu menggigit bibir, bergetar oleh kalimatnya sendiri.

“Dhee, gadis itu yatim piatu sejak dilahirkan. Tidak pernah melihat
wajah Ayah-Bundanya yang selalu dirindukannya. Tidak pernah mendengar
suara yang selalu ingin didengarnya. Bagimanalah ia sempat? Janji
kehidupannya terenggut malam itu, dalam satu tepukan. Dan kau tahu,
Dhee? Siapa yang tega melakukannya?” suara itu mendesis, membuat Dhee
gemetaran.

“Kau ingat malam saat bergegas menuju rumah sakit?  Bergegas menemui
Ve yang sekarat kala itu? Enam tahun silam, kau ingat? Malam itu kau
membanting stir di perempatan ini. Malam itu yang kau tahu, kau hampir
bertabrakan dengan mobil lain. Tapi tahukah kau Dhee, malam itu kau
merenggut janji kehidupan anak kecil itu. KAU MERAMPASNYA!!! KAU
SUNGGUH MERAMPASNYA!!!” wajahnya tidak terlihat menyenangkan lagi.

“Mobil yang hampir menabrakmu itu oleng tak terkendali dua puluh meter
berikutnya. Lantas menghantam jeruji besi yang menyeruak disisi jalan.
Sementara kau sudah melesat pergi, bergegas mengambil jalan lain.”
wajah itu kini terlihat marah, bahkan kecewa.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s