Cahaya Kehidupan : Aku Enam Tahun Penghabisan, Part 40

* Dan entah apa muasalnya. Enam tahun terakhir, persis sejak
kepulangan dari prosesi kremasi Ve. Ketika imperium bisnisnya
menggurita tak tertahankan, Dhee mulai jatuh sakit-sakitan.

Tak pernah terbayangkan, di penghujung tahun keenam saat berbagai
penyakit tersebut benar-benar mengungkung tubunya. Dhee yang kenyang
dengan pahitnya kehidupan, tumbuh dengan bekas luka lebam di jalanan.
Besar dengan pukulan sapu, akhirnya mendesah tertahan menatap langit.

Bertanya mengapa Tuhan tidak menjemputnya saja langsung. Mengapa ia
harus mengalami semua rasa sakit itu? Apakah langit tidak puas
melemparkannya ke dalam pahitnya kehidupan? Enam tahun itu berlalu
menyedihkan.

* Persis satu bulan sepulang dari prosesi kremasi Ve, saat menuruni
tangga di gedungnya tiba-tiba Dhee jatuh terjerembab. Tubuh Dhee jatuh
terguling. Gre yang melihatnya berteriak kalap. Menyambar tubuh itu,
berseru-seru memanggil.

Wajah Dhee pucat, tubuhnya dingin, ujung-ujung bibirnya membiru. Dalam
hitungan detik, Dhee sudah tidak sadarkan diri. Tubuh Dhee dilarikan
secepat teknologi saat itu bisa membawanya ke rumah sakit.

Helikopter darurat dikirimkan. Gre gemetar memeluk tubuh Dhee
sepanjang penerbangan. Berbisik tentang mimpi-mimpi yang belum
terwujud. Berbisik tentang pekerjaan-pekerjaan yang belum
terselesaikan.

Dhee terkena serangan jantung. Dua kali lagi seperti itu, nyawanya
tidak akan tertolong. Dhee sudah siuman beberapa jam kemudian. Gre
menemani Dhee menginap di rumah sakit.

“Aku baik-baik saja, Gre. Kau tidak perlu menemaniku sepanjang hari.”
Dhee bergurau, menunjukkan lengannya yang berotot.
“Aku takut, pak.” Gre menelan ludah.

“Takut apa?” Dhee bertanya pelan.
“Takut bapak kenapa-napa saat saya tidak ada.” Gre menjawabnya
terang-terangan, Dhee menatap rembulan yang elok lewat jendela rumah
sakit yang tirainya terbuka.

Rembulan? Indah sekali, seperti backroundnya. Langit malam dan bintang
gemintang. Malam itu Dhee justru berpikir sederhana, mengabaikan
kecemasan Gre.

Seandainya ia tidak terselamatkan, mungkin saat ini ia sedang bahagia
bersama gigi kelincinya. Terbang di gumpalan awan-awan. Nabilah? Apa
kabar?

Tiga hari kemudian, Dhee memutuskan pulang. Ada banyak pekerjaan di
kantor. Dokter tidak bisa mencegahnya, menghela nafas. Berpesan agar
lebih sering berolahraga. Dhee tertawa melepas baju, memperlihatkan
tubuhnya yang atletis.

* Satu bulan berjalan normal. Hingga malam itu, perut Dhee tiba-tiba
terasa sakit sekali. Dhee terjerembab, berusaha mencari pegangan. Gre
tiba-tiba datang memegangi tubuh Dhee.

Wajah itu meringis menahan rasa sakit. Tubuhnya bergetar hebat, Dhee
terduduk. Ginjalnya mendadak meradang. Gre bergegas membawanya ke
rumah sakit. Jendela yang sama, dokter yang sama. Yang beda hanyalah
penyakit yang kini diderita Dhee.

Dhee tidak diperbolehkan kemana-mana. Tetap di tempat tidurnya hingga
masa istirahatnya usai. Selama dua minggu Dhee mengendalikan bisnisnya
dari ruang rawat inap rumah sakit. Gre menemaninya, tidak kenal lelah
dan bosan meski hanya menghabiskan waktu duduk diam di sebelah ranjang
Dhee.

Sebulan kemudian, Dhee sudah kembali ke ruangannya. Tenggelam dalam
rutinitas yang sama. Tidak peduli kalau ia baru saja dua kali masuk
rumah sakit. Fisiknya kuat, otaknya cerdas.

Hingga satu tahun setelah kematian Ve. Dhee jatuh sakit untuk ketiga
kalinya. Kali ini ia roboh di ruang kerjanya. Seperti biasa, ia sedang
menatap langit senja Ibukota. Saat itulah perutnya melilit tak
tertahankan.

Bagai ada ribuan anak panah menghujam. Megap-megap, Dhee merangkak
mendekati meja kerja. Mengangkat telepon, memanggil staf yang berjaga
di luar. Rusuh sepanjang sore di lantai tertinggi itu. Gre yang datang
beberapa detik kemudian membopong tubuh Dhee, membawanya ke rumah
sakit.

Kali ini benar-benar serius. Ginjal Dhee tidak terselamatkan, nyawanya
terancam. Rumah sakit yang sama, ruangan yang sama, jendela yang sama.
Dokternya yang sekarang berbeda.

Tiga dokter didatangkan dari Amerika, sekalian paket cangkok ginjal.
Tidak ada masalah dengan biaya operasi itu. Bukan main, semua
berkepentingan menyelamatkan satu orang.

Yang jadi masalah bagi Dhee, setelah operasi ia harus beristirahat
penuh selama dua bulan. Ruangan rawat inap terpaksa dipindahkan ke
rumahnya. Bosan, Dhee benar-benar merasa bosan.

Maka setelah masa-masa istirahat itu lewat, saat ia akhirnya diijinkan
kembali bekerja di ruangannya. Gre membuat pesta kecil penyambutan.
Semuanya bahagia karena atasan mereka telah pulih dari penyakitnya.

Tetapi entah apa maksud semua ini. Baru seminggu Dhee menjejakan
kakinya di lantai gedung tertinggi miliknya, baru seminggu ia
merasakan kehidupan normal. Pagi hari ketujuh, saat hendak mengambil
air minum di kulkas kakinya mendadak mati rasa.

Dhee menggigit bibir berusaha menggerakkan kakinya dengan seluruh
tenaga. Tetapi tidak bisa. Dhee mencengkeram pahanya, memaksa. Kakinya
tetap tidak bergerak.

Pagi itu, amat menyedihkan menyaksikan Dhee yang mendadak takut akan
segala kemungkinan. Dhee gemetar menyambar gagang telepon, berbisik
lemah. Tubuhnya digendong Gre menuju rumah sakit secepat mungkin.

Kaki itu mati rasa, lumpuh begitu saja. Dhee menelan ludah, menggigit
bibirnya. Apapun menyebabnya, itu sangat menyakitkan. Malam itu persis
dua tahun setelah kepulangannya dari prosesi kremasi Ve.

Dari jendela besar ruang rawat inap rumah sakit, Dhee menatap langit
malam. Dhee mulai resah tatkala ia menatap rembulan. Kenapa dua tahun
terakhir semua sakit ini datang padanya? Dhee tertunduk menatap
kakinya yang bagai seonggok daging tidak berguna.

* Setelah berbagai operasi, malam-malam panjang yang sesak. Kaki itu
akhirnya tertolong. Tertolong? Sebenarnya tidak juga. Dhee harus
menerima kenyataan memakai tongkat. Kaki kanannya tidak akan pernah
mampu lagi menopang tubuhnya. Tertolong? Karena kakinya tidak perlu
diamputasi.

Gerak hidupnya mulai terhambat. Ia bisa kembali ke ruang kerjanya,
tapi ia kehilangan seluruh semangatnya. Semua ini benar-benar omong
kosong. Lihatlah, bertahun-tahun hidupnya kosong.

* Satu tahun berlalu dengan pertanyaan itu. Dhee tidak selincah dulu
lagi. Dhee lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya. Memimpin
rapat evaluasi.

Sayang, urusan sakit itu tidak pernah usai. Persis di penghujung tahun
ketiga setelah kepulangan dari prosesi kremasi Ve, Dhee jatuh
terjerembab untuk kesekian kalinya.

Sekali lagi di ruang kerjanya. Pegangan di tongkat melemah. Tongkat
itu terpelanting bersamaan dengan tubuh Dhee yang jatuh menghujam
lantai keramik.

Tubuh itu tidak sadarkan diri. Dua jam tergeletak di bawah pancaran
cahaya langit malam. Hingga akhirnya Gre menemukan tubuh itu. Gre
gemetar merengkuh tubuh dingin itu.

Serangan jantung kedua. Ditambah beberapa penyakit baru. Tubuh itu
terbaring tak berdaya di rumah sakit. Selang infus dan belalai lainnya
menghujam ke tubuh Dhee. Satu minggu masa-masa kritis terasa berlalu
amat lambat.

Gre berkali-kali mendesah ke langit-langit ruangan. Menangis tersedu
meminta agar Tuhan berbaik hati kepada Dhee. Mendesis pelan, jangan
biarkan orang sebaik Dhee harus pergi begitu cepat. Masih banyak
pekerjaan yang belum diselesaikan. Masih banyak mimpi-mimpi yang belum
terwujud.

Seminggu Dhee tidak sadarkan diri. Saat Dhee akhirnya sadarkan diri,
kondisinya sudah jauh membaik. Gre menyeka pipinya, tersenyum lebar
amat senang. Menyentuh lembut bahu Dhee.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s