Cahaya Kehidupan : Aku Setia Sampai Mati Part 39

Dua tahun berlalu melesat begitu saja. Dua tahun berlalu, sekali
lagi telepon duka melesat dari kota masa kecilnya. Ve dilarikan ke
rumah sakit dalam keadaan kritis, sekarat. Dhee yang malam itu
menerima sendiri telepon tersebut memutuskan berangkat detik itu juga.

Dua tahun ini, Ve tidak pernah menghubunginya. Tidak pernah ada
kunjungan-kunjungan yang pernah mereka bicarakan dulu, saat prosesi
kremasi Haruka-san.

Ve memutuskan mengubur semua harapannya. Sendiri di rumah Takeshi-san.
Berteman kamar-kamar kosong membuatnya jatuh sakit. Benar saja,
terkadang kesunyian dapat membunuh seseorang.

Kasusnya sama seperti Dhee. Bertahan puluhan tahun, hanya langit
cakrawala saja yang menemani malam-malam sunyinya. Dhee mampu bertahan
dari kesunyian dunia. Tapi Ve? Ia bahkan tidak mampu bertahan dua
tahun saja dari kesunyian dunia.

Dhee baru akan tiba dua jam kemudian. Telepon itu bilang, Ve ingin
bertemu dengannya sebelum ia pergi. Dhee menggigit bibir, mobil itu
melesat membelah jalanan kota.

Gadis yang malang, Dhee mengusap wajahnya. Umurnya sekarang 54 tahun,
apalagi yang diharapkan Ve darinya? Ve benar-benar menyia-nyiakan masa
mudanya.

Di perempatan itu, Dhee sekali lagi berhenti mendadak. Terkutuk!
Membanting stirnya, satu mobil lain yang melesat cepat ikut membanting
stir. Kaget dengan manuver mendadak mobil yang dikendalikan Dhee.
Berdecit, hanya sesenti lagi. Nyaris saja tabrakan itu terjadi.

Dhee mengambil jalan memutar. Tidak mempedulikan mobil di belakangnya
yang masih berkutat mengendalikan stirnya. Mendesis, ia tidak akan
pernah melewati jalan itu. Menekan pedal gas, bergegas ke rumah sakit.

Tiba di rumah sakit lima belas menit kemudian. Berlari-lari sepanjang
lorong. Bergegas masuk ruang VVIP. Melihat tubuh Ve yang terkulai
lemah. Tubuhnya kurus, matanya sayu, wajahnya pucat.

Ve setengah sadar setengah tidak saat Dhee menggenggam jemarinya. Dhee
berbisik di telinga Ve. Kepala Ve memaksakan berputar, mencari suara
yang amat dikenalnya. Matanya menatap remang-remang.

Mencoba mengenali wajah Dhee, tidak bisa. Ve bahkan tidak lagi bisa
menggambarkan dengan utuh wajah orang yang selama ini dicintainya.
Kesadarannya semakin berkurang.

Dhee benar-benar datang tepat waktu. Beberapa menit setelah percakapan
tanpa kata itu terjadi, Ve pelan menutup matanya. Pergi untuk
selamanya. Dhee tertunduk dalam.

Wajah yang terlihat gagah itu mendadak matanya berkaca-kaca. Rambutnya
mulai beruban. Dhee menatap wajah damai Ve dengan hati terluka.
Lihatlah, gadis itu masih setia padanya. Setia pada cinta pertamanya,
tidak mau pada lelaki lain.

Sekarang Dhee benar-benar sendiri. Ia telah menyia-nyiakan orang yang
selama ini baik padanya. Orang yang selama ini perhatian padanya.
Orang yang selama ini mencintainya dengan tulus. Bahkan sampai maut
menjemputnya, ia masih setia menunggu.

* Esok lusa prosesi kremasi dilakukan. Dhee memutuskan membawa sendiri
abu perawan tua itu. Tanpa perlu menebarkannya, Dhee langsung saja
melempar kendi itu jauh-jauh. Tidak ada lagi siapa-siapa dalam
hidupnya. Benar-benar tidak ada lagi.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s