Cahaya Kehidupan : Aku Keluarga Jepang, Part 38

Takeshi-san ringan hati memutuskan menjual seluruh kekayaannya untuk
menyelamatkan Dhee. Menutup seluruh pinjaman konsorsium itu dengan
hartanya.

Hanya orang bodoh yang melakukan itu. Tapi Takeshi-san tidak peduli,
mengalihkan seluruh kekayaan bisnisnya hari itu juga. Kakek tua baik
hati itu kehilangan segalanya.

Dhee mengantarkan Takeshi-san dan Ve malam harinya. Gadis periang
dengan mata sembab memutuskan ikut pulang. Mengakhiri masa-masa
belajar bersama Dhee. Ve merasa melakukan kesalahan dengan meminta
kakeknya datang menyelamatkan lelaki yang dicintainya.

“Aku tidak melakukannya karena Ve, Dhee. Meskipun aku tahu, gadis itu
amat mencintaimu.” Takeshi-san terkekeh memeluk Dhee, lalu masuk ke
dalam mobilnya.

“Aku melakukannya demi kau. Aku percayakan padamu seluruh kekayaanku.
Jalankan bisnismu dengan seluruh kemampuan yang kau miliki. Hajar
mereka semua, Dhee. Karena kau sungguh memiliki potensi besar.” mereka
melambaikan tangan, dan akhirnya pergi ke kotanya.

Dia bahkan tidak sempat berjabat tangan dengan Ve. Gadis itu masuk
mobil lebih dulu. Menahan tangis, wajahnya tertunduk. Matanya sembab
karena tangisan pilu itu.

Malam itu hingga subuh, Dhee duduk memandang langit malam dari balik
jendela kaca raksasa di ruang kerjanya. Semuanya sia-sia, ia tidak
akan pernah menemukan jawaban atas kekosongan hatinya.

Maka baiklah, Dhee memutuskan untuk benar-benar mematungkan diri dalam
pekerjaan. Besok pagi, saat cahaya selanjutnya menjejak lantai
tertinggi miliknya. Saat itulah ia akan kembali dengan semangat baru.
Setidaknya ia masih menyandang status pemilik gedung tertinggi, bukan?

* Empat tahun berlalu tanpa terasa. Sayang, empat tahun berlalu tidak
ada kemajuan berarti dari bisnis Dhee. Empat tahun terbuang percuma.
Hanya sibuk membayar hutang, menutup pinjaman lama dengan
pinjaman-pinjaman baru.

Malam-malam berlalu menyesakkan. Dhee memandang langit dibalik jendela
raksasa dengan tatapan kosong. Semua ini kapan berakhir? Gre masih
setia menemani. Tapi tanpa Ve, hari-hari berlalu senyap.

Empat tahun berlalu, telepon dari kota masa kecilnya datang. Kabar
buruk berikutnya melesat, Takeshi-san meninggal. Dhee segera melesat
memacu kendaraannya menuju rumah duka.

Empat tahun ini Dhee tidak pernah menghubungi Takeshi-san. Karena ia
bertekad tidak akan pernah kembali sebelum kekayaan itu terbayar
lunas. Sayang, kakek itu pergi lebih dulu.

* Haruka-san menyambut di rumah duka dengan wajah sembab. Membimbing
Dhee menuju peti mati suaminya. Haruka-san sengaja menunggunya sebelum
prosesi kremasi dimulai. Ve berdiri di sebelahnya, menunduk sepanjang
prosesi pembakaran.

Dhee menggigit bibir, mendekap erat Haruka-san. Suara api gemeretuk
terdengar membakar peti kayu. Takeshi-san tenggelam dalam kobaran api.
Ve tertunduk dalam, tidak kuasa menatap peti itu terbakar.

Tangannya mencari pegangan, Dhee mendekapnya. Panas menguar dari
dalam. Malam itu sungguh tidak ada yang peduli dengan Takeshi-san,
setelah ia benar-benar jatuh miskin. Kakek tua yang dilahirkan miskin,
dan mati juga miskin.

* “Apa yang akan kau lakukan?” Dhee bertanya pelan.
“Aku tidak tahu.” Ve pun menjawab pelan, seraya menabur-naburkan abu
jenazah kakeknya.

Gadis itu tidak terlihat muda lagi, tidak lagi periang. Semua
kesedihan itu membuatnya terlihat tua lebih cepat. Usianya baru
menjejak tiga puluhan. Seharusnya terlihat seperti wanita karir yang
matang oleh pengalaman. Sebaliknya, Ve terlihat sendu.

Dhee kembali ke Ibukota sore itu juga. Ia tidak sempat berkunjung ke
makam istrinya. Lebih tepatnya tidak menyempatkan diri. Untuk apa?
Yang mati sudah pergi. Tidak perlu dipikirkan lagi.

* Enam bulan berlalu sejak kematian Takeshi-san. Enam bulan berlalu
yang lebih banyak dihabiskan Dhee berkutat mencari modal, investor
baru. Saat semua pintu benar-benar tertutup untuknya. Saat seolah-olah
tidak ada lagi jalan keluarnya. Saat itulah kabar baik melesat
untuknya.

Kabar baik itu melesat tidak tertahankan. Berita yang bagai kilat
menyambar, menghentakkan seluruh relasi bisnis Dhee. Juga seluruh
pesaing dan pengkhianat-pengkhianatnya selama ini.

Hari-hari keberuntungan Dhee kembali, berlipat-lipat. Dhee mendapatkan
kembali kekayaannya dari tempat investor lamanya yang ia kira sudah
tidak ada harganya lagi. Tempat itu memberikan jalan bagi Dhee untuk
menguasai bisnis lainnya.

Dari lantai gedung tertingginya, bisnis Dhee menggurita lagi.
Tahun-tahun berlalu amat cepat, tanpa terasa. Dhee kini sudah
mengambil alih perusahaan taipan licik itu, pengusaha yang dulu
mengkhianatinya.

Usia Dhee kini 50 tahun, ketika ia berhasil mengambil alih secara
paksa bisnis taipan licik itu dengan serangkaian tipu-tipu yang dulu
bahkan tidak pernah dilakukannya.

Dhee menjalani rutinitasnya bagai air. Air bah yang menakutkan. Ketika
mulut taipan licik itu mulai kemasukan air yang mencapai lehernya,
Dhee menenggelamkannya.

* Usia Dhee 52 tahun, ketika telepon kedua dari kota masa kecilnya
tiba. Haruka-san meninggal dunia. Dhee langsung bergegas, mengemudikan
mobil menuju rumah duka. Mobil Dhee melaju membelah kota.

Tiba di perempatan itu, Dhee mendadak terhenti. Terkutuk! Buru-buru
membanting stir. Nyaris menabrak penjual makanan di perempatan. Dhee
mendesis dingin, mengambil jalan memutar. Ia tidak akan pernah bisa
melewati jalan itu. Tidak ingin sedikit pun melihat walau sejengkal
bagian dari bangunan rumah masa kecilnya.

* Tidak ada lagi prosesi pembakaran mayat yang sederhana. Dhee sudah
mengembalikan kekayaan Takeshi-san, berlipat-lipat. Tetapi itu semua
tidak bisa menghilangkan kesedihannya.

Dhee mendekap erat bahu Ve saat tungku bergemeletuk mulai membakar
peti mati Haruka-san. Aula rumah duka itu dipadati pengunjung yang
menangis terisak.

* Langit sore yang amat indah. Dhee dan Ve membawa abu Haruka-san.
Menaburkannya bersama-sama. Dhee menatap cakrawala di kejauhan.
Semuanya terasa berlalu sangat cepat.

Malam ini, mungkin Dhee akan mampir sebentar ke makam istrinya sebelum
pulang. Ve setelah sekian lama menangis, akhirnya beringsut mundur.
Dhee mendekap lembut bahu gadis itu, tersenyum. Senja semakin memerah.

“Maukah kau ikut kembali ke Ibukota?” Dhee bertanya.
Ve menyibak rambut panjangnya yang mengganggu sudut-sudut mata.
Menghela nafas pelan, menggeleng.

“Aku ingin menghabiskan waktu disini. Tempat dimana aku pernah merasa
bahagia.” Ve berkata lirih, tertunduk.
Dhee mengangguk, mendekap lembut bahunya.

“Tidak masalah jika sekarang kau enggan. Suatu hari jika kau ingin,
kau selalu bisa datang. Aku akan mengirimkan jemputan untukmu, Ve.”
setelah sekian lama, akhirnya Dhee memanggilnya dengan sebutan itu.

Ve mengangguk, matanya semakin redup. Saat hari mulai gelap, Dhee
mengantar Ve ke rumahnya. Berpelukan kaku, lantas memacu mobilnya ke
pemakaman gigi kelincinya.

Sudah lama ia tidak berkunjung. Entah, apakah makam itu sama bersih
dan rapi seperti dulu. Malam gelap, lampu belasan watt di sisi-sisi
pemakaman kurang memadai.

Dhee tersuruk-suruk mencari makam gigi kelincinya. Setelah bolak-balik
sekian lama baru ia berhasil menemukannya. Duduk di sebelah makam
istrinya, lututnya kotor.

Kunang-kunang terbang memenuhi langit-langit pemakaman. Suara burung
hantu terdengar dari kejauhan. Dan suara jangkrik pun ikut nimbrung
berderik, berisik.

Dhee tidak berkata apapun. Ia hanya rindu, rindu wajah tersenyum
istrinya. Menampakkan gigi-gigi kelincinya. Dhee menghela nafas,
membelai nisan. Merasakan gurat nama yang terpahat.

Hampir dua puluh tahun semua kenangan bersama istrinya terkubur
disini. Dua puluh tahun yang hampa, kosong. Dua puluh tahun yang
melelahkan. Naik turun imperium bisnisnya.

Dhee menatap dua makam kecil di dekat istrinya. Lihatlah, nisan itu
tidak bertuliskan nama. Tidak bertuliskan tanggal. Hanya sepotong
nisan. Ya, hanya sepotong saja.

Malam semakin matang. Langit nampak mendung, tak ada sedikit pun
bintang yang berpijar di sana. Awan hitam mengepung rembulan yang amat
elok. Sebelum hujan turun, Dhee beringsut kembali ke mobil. Pergi,
pulang kembali ke Ibukota.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s