Cahaya Kehidupan : Aku Pengorbanan Harta, Part 37

Enam bulan berlalu sangat cepat, bagai lesatan anak panah. Gadis itu
tetap periang seperti biasa. Berusaha menyembunyikan perasaannya.
Walau perlahan semua orang tahu tentang itu.

Takeshi-san dan istrinya sejak awal malah sudah mengerti mengapa Ve
sampai hati memilih pergi meninggalkan mereka berdua. Mereka pernah
merasakan perasaan itu waktu masih muda. Jadi dengan berat hati
membiarkan cucu kesayangan mereka pergi.

Gre juga sudah tahu perasaan Ve, urusan itu Gre ahlinya. Meskipun Gre
tetap menjomblo sampai sekarang. Dhee? Pada satu titik, beberapa
minggu setelah kebersamaan di biang lala itu Dhee menyadarinya.

Ia benar-benar mengetahuinya. Tetapi bunga itu mekar di waktu dan
tempat yang salah. Apakah rasa kosong ini karena istrinya pergi? Ya.
Apakah dengan adanya gadis lain yang menemani maka sepi itu akan
terusir? Tidak. Bagi Dhee, masalahnya tidak sesederhana itu. Ve hanya
adik. Tidak lebih, tidak kurang.

* “Apa yang terjadi?” Ve bertanya pelan, berdiri di belakang Dhee.
“Buruk sekali.” Dhee sama sekali tidak menoleh sedikit pun, mimpi
terburuknya sejengkal lagi akan segera menjadi kenyataan.

“Seburuk apa?” Ve kembali bertanya.
“Tidak ada lagi yang tersisa. Perusahaan ini bangkrut, mimpi-mimpiku
akan segera lenyap.” Dhee duduk di lantai keramik, seraya memeluk
lututnya.

“Bukankah kita bisa negosiasi ulang dengan konsorsium? Pinjaman
tambahan? Atau apa saja.” Ve bertanya beberapa pertanyaan pada Dhee,
menelan ludah.

“Tidak ada, taipan itu tidak memberikan kesempatan kedua. Seluruh
anggota konsorsium mengundurkan diri. Meminta seluruh dana yang mereka
tanamkan dikembalikan. Seluruh kekayaan perusahaan ini akan berpindah
tangan.” Dhee terlihat gelisah, ia panik.

“Apakah tidak ada cara lain? Apa saja?” Ve beranjak duduk di sebelah
Dhee, menatap wajahnya.
“Semuanya sudah terlanjur. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.” Dhee
memegangi kepalanya.

“Kakek! Kakek bisa memberikan bantuan, aku akan menghubunginya!” Ve
berseru riang, meloncat bangkit.
“JANGAN LAKUKAN!!!” Dhee seketika membentak.

“kenapa…” Ve menoleh, kaget dengan teriakan Dhee barusan.
“Aku tidak ingin melibatkannya.” Dhee menurunkan intonasi nadanya.
“Aku… apa salahnya memberitahu kakek? Hanya memberitahu saja.” Ve
menelan ludah, takut-takut melangkah mendekati meja.

Dhee masih duduk memegangi kepalanya. Ve sudah menyentuh gagang telepon.
“Bukankah sudah kukatakan, jangan lakukan!” Dhee mendesis.

Ve gemetar mendengar suara itu. Gagang telepon itu terjatuh.
Memperhatikan sorot matanya. Sama, sama tajamnya seperti mata yang ada
di lukisan itu. Itu matanya? Entahlah, Dhee pun tidak tahu siapa
pemilik mata di lukisan itu.

Ve sudah menangis. Takut, sayang, sedih buncah jadi satu di hatinya.
Apalagi menatap wajahnya yang begitu dingin, tatapan itu? Ve beringsut
mundur, menyeka matanya.

Ya Tuhan, padahal ia ingin sekali memeluk lelaki di hadapannya.
Mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Mengatakan ia masih memiliki
seseorang untuk melewatinya.

“Kau tahu, aku memulai semunya dari nol. Jadi apa salahnya kalau semua
kembali nol? Bukan masalah besar bagiku.” Dhee bangkit dari duduknya,
sementara Ve berlari menuju pintu ruangan.

* Ve ternyata nekad melakukannya. Menjelang tengah malam, setelah Dhee
selesai menatap langit. Setelah ia menangis memikirkan banyak hal. Ia
memutuskan menelepon kakeknya. Mengatakan apa yang terjadi. Meminta
sungguh-sungguh agar kakeknya menyelamatkan bisnis Dhee.

Telepon itu efektif sekali. Esok pagi, kakeknya segera berangkat ke
Ibukota. Dhee sedang bersama petinggi perusahaannya saat Takeshi-san
tiba, ia langsung saja masuk ke ruang kerjanya.

Pertemuan itu bubar saat Takeshi-san tiba. Yang lain dengan sopan
meninggalkan ruangan, menyisakan Ve. Gre menatap sedih mereka semua,
sesaat sebelum ia juga beranjak bubar. Dhee beranjak dari duduknya.
Menyambut Takeshi-san, memeluknya kaku.

Senyap sesaat, terlihat jelas oleh Gre wajah kesedihan itu. Gre yang
paling terakhir meninggalkan ruangan, menutup perlahan pintunya.
Mereka sudah duduk berhadap-hadapan. Dhee menatap tajam Ve yang
tertunduk. Takeshi-san sebaliknya, menatap tajam Dhee.

“Aku mengerti kalau kau tidak mau melibatkanku dalam bisnis hebatmu,
Dhee. Tetapi aku sungguh tidak mengerti kalau kau sampai tidak
meneleponku, aku mungkin bisa memberikan sedikit bantuan padamu.”
kata-kata itu terdengar tulus.

“Aku sudah bilang Ve agar tidak menelepon.” Dhee menatap datar Takeshi-san.
“Dia tidak menelepon pun aku pasti tahu. Kau terkenal, Dhee. Berita
itu tentu akan menyenangkan pesaing-pesaing bisnismu.” Takeshi-san
memukulkan tongkatnya ke lantai.

“Kami bisa mengatasinya. Itu bukan masalah.” Dhee mengangkat bahunya.
“Itu masalahnya, Dhee!!! Kau mungkin bisa memulainya lagi. Tapi kau
sudah kehilangan banyak waktumu. Bisnis barumu tidak akan lebih
seperti kontraktor rumah. Biarkan aku membantumu…” Takeshi-san
mendesis.

“Aku tidak butuh bantuan!” Dhee memotong kalimatnya.
“ANAK MUDA, KAU SUNGGUH KERAS KEPALA!!!” Takeshi-san berteriak, Ve
mulai terisak.

“Biarkan aku membantumu, ini semua untukmu. Untukmu Dhee, bukan untuk
siapapun. Aku rela jatuh miskin untukmu. Rela mengorbankan seluruh
kekayaanku. Kau tidak harus membayarnya setelah ini.” Takeshi-san
meletakkan tongkatnya diatas meja, Dhee mengusap kepalanya.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s