Cahaya Kehidupan : Aku Proyek Gedung, Part 35

“Aku sudah lama tidak melakukannya.” Dhee tersenyum tipis, terakhir ia
berdansa delapan tahun silam bersama istrinya.
“Kalau kakak enggan juga tidak apa-apa.” gadis itu tersenyum, menunduk
hendak beringsut pergi.

Dhee menelan ludah, menatap wajah kecewa itu. Apa salahnya? Gadis itu
pasti sengaja memakai pakaian yang berbeda untuk membuat kehadirannya
lebih nyaman. Apapun tujuannya, gadis itu sudah berbuat baik. Baiklah,
lima menit saja. Dhee menjulurkan tangannya.

* Esok siang, Dhee kembali ke Ibukota. Diantar Ve dan kakeknya.
Lihatlah, cucu satu-satunya pengusaha Jepang itu amat baik padanya. Ve
memeluknya, melepas di pintu keberangkatan.

Dhee tersenyum kaku. Semalam mereka berdansa lebih dari lima menit.
Gadis itu menyenangkan, tertawa riang saat Dhee tidak sengaja
menginjak kakinya. Bercerita banyak potongan kejadian lama, ternyata
sejak kecil ayahnya telah meninggal. Dan ibunya ada di Jepang.

Semalam Dhee tidak menyentuh makanan apapun. Di kota itu ia sama
sekali tidak lapar, tidak makan sedikit pun. Entah kenapa nafsu
makannya hilang saat menginjakkan kaki di kota masa kecilnya.

* Setahun berlalu, liputan proyek pembangunan gedung tertinggi Dhee
semakin ramai. Tidak hanya media massa Ibukota, reputasi konsorsium
bisnis Dhee mulai merambah ke negara-negara tetangga. Konstruksi
gedung sudah 90% jadi, devisi pemasaran Dhee sibuk merencanakan acara
peresmiannya tiga bulan lagi.

Kesibukan Dhee semakin bertambah, waktu tidurnya semakin berkurang.
Tapi ada yang berubah darinya setahun terakhir ini. Surat-surat itu,
Dhee selalu tersenyum senang menerimanya.

Surat-surat dari Ve, gadis itu rajin dua minggu sekali mengiriminya
surat. Selembar? Itu bulan-bulan pertama. Semakin kesini surat itu
semakin panjang, semakin tebal. Dan Dhee mulai merasa nyaman dengan
perhatian itu.

Semakin kesini, Ve lebih sering menulis tentang dirinya. Bercerita
tentang bisnis Takeshi-san. Bercerita tentang angan-angannya. Dhee
tidak bisa menjelaskan kesenangan apa yang sesungguhnya ia dapat dari
membaca surat-surat itu.

Tetapi belakangan ini ia malah menunggu surat-surat itu. Bertanya ke
staf yang menunggui ruang kerja apakah surat itu sudah datang. Dhee
sekali pun tidak pernah membalas surat-surat itu. Tidak pernah pula
menghubungi gadis itu.

* Tiga bulan berlalu. Peresmian gedung itu, bukan main. Tidak pernah
penduduk Ibukota mendapat pertunjukan se-spektakuler itu. Formasi
pesawat tempur, ratusan penerjun payung, ribuan balon-balon. Dan
pembukaannya dengan helikopter.

Presiden dan pejabat negara datang meresmikannya. Juga puluhan tamu
dari negara sahabat anggota konsorsium. Maka untuk kali keduanya,
Presiden tidak menemukan siapa yang bertanggung jawab atas pembangunan
proyek-proyek yang pernah diresmikannya.

Dhee tidak hadir di acara akbar itu. Dhee memang berada di lokasi
gedung, tapi tidak di bawah tenda-tenda raksasa itu. Dhee berdiri di
ruang kerjanya, lantai paling atas. Sendirian, menatap hamparan
Ibukota yang terik. Mimpi itu sudah terwujud, gigi kelinciku.

Lihatlah, usianya sekarang 42 tahun. Dhee menyentuh dinding-dinding
kaca yang dingin. Menyaksikan peresmian gedungnya dari lantai paling
atas. Pintu ruangan diketuk pelan, Dhee menoleh.

“Ah, ini dia seseorang yang tidak pernah merasa perlu menghadiri
peresmian proyeknya sendiri.” Takeshi-san memakai tongkat melangkah
mendekat dari balik pintu, terkekeh.

Dhee ikut tertawa menyambutnya. Kejutan yang menyenangkan. Ternyata
Takeshi-san tidak sendirian. Ada Ve di belakangnya. Benar-benar
kejutan yang menyenangkan. Dhee memeluk Takeshi-san, mengulurkan
tangan kaku ke Ve. Gadis itu malah memeluknya, malu-malu.

Dhee tertawa, mengajak Takeshi-san berkeliling. Melihat seluruh
ruangan, melihat keramaian di bawah. Dhee tidak akan pernah mengajak
Takeshi-san bergabung dalam konsorsium bisnisnya.

Ia terlalu baik, Dhee tidak akan menggunakan tatapan mengendalikan.
Lantas setelah kepentingannya tercapai menendangnya jauh-jauh. Tidak
akan, Takeshi-san terlalu baik.

“Lukisan yang bagus, Dhee.” Takeshi-san menatap satu-satunya lukisan
yang tergantung di dinding ruangan kerja itu.
“Dan mahal, amat mahal. Aku tidak pernah menyangka sebuah lukisan bisa
amat berharga.” Dhee tertawa.

“Kenapa lukisannya hanya sepasang mata? Tapi pantainya terlihat indah
dengan langit senja berwarna oranye. Sunsetnya terlihat begitu nyata.”
Ve menatapnya lamat-lamat, tersenyum memuji maha karya itu.

Ya, itu maha karya yang amat indah. Asal-usul lukisan itu sangat
misterius. Itu juga yang membuat Dhee ringan tangan membayarnya dalam
pelelangan meski tidak tahu sedikit pun siapa pelukis yang telah
membuat “master piece” itu.

Anehnya, ia seperti mengenali lukisan itu. Seolah-olah lukisan itu
dibuat khusus untuknya. Dan sejak membelinya, Dhee memperlakukan
lukisan itu amat istimewa di ruang kerjanya.

Dhee tidak pernah tahu siapa pelukisnya. Padahal dulu seniman itu amat
dekat dengannya, bahkan serumah. Ia adalah orang yang selalu
memperhatikan mata Dhee saat ia menatap langit senja bersama Epul di
atas rumah itu.

Setelah sibuk mengomentari lukisan itu, mereka beranjak memutari
ruangan menuju dinding seberangnya. Menatap sisi lain Ibukota. Menatap
perayaan di bawah. Diam sejenak, sibuk menyimak.

“Aku langsung pulang nanti sore, Dhee.” Takeshi-san memecah keheningan
bunyi tongkat.
“Titip salam buat Haruka-san.” Dhee menyentuh hangat bahu Takeshi-san.

Takeshi-san mengangguk.
“Tapi Ve tetap tinggal. Itu kalau kau berkenan.” Takeshi-san tersenyum
penuh arti, Dhee mendadak menghentikan langkahnya.

Dhee menelan ludah, apa maksudnya? Menatap wajah gadis di sebelahnya
yang menunduk, tersipu malu. Lihatlah wajah cantik mempesona gadis
itu, yang kini tertunduk malu.

“Ia bosan dengan bisnis kecilku. Ia bilang ingin belajar bisnis yang
jauh lebih menantang. Aku punya banyak kenalan, tapi soal
mempercayakan cucuku satu-satunya tidak ada pilihan selain kau.”
Takeshi-san tertawa kecil.

“Itu kalau kakak tidak keberatan.” Ve berkata pelan.
Apa yang harus ia katakan? Ia sungguh senang saat pertama kali melihat
Ve datang bersama Takeshi-san tadi. Sudah lama ia tidak menemukan
kesenangan itu.

Ve akan belajar padanya? Ve akan tinggal di Ibukota? Bukankah itu
berarti mereka akan sering bertemu?
“Bagaimana?” Takeshi-san menyentuh lembut bahu Dhee.

Dhee mengangguk patah-patah. Anggukan itu sangat pelan, kurang jelas.
Tapi Ve lebih dulu sudah berseru senang, bahkan memeluknya. Wajah Dhee
memerah, Takeshi-san terkekeh. Mereka meneruskan langkah memutari
ruangan itu.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s