Cahaya Kehidupan : Aku Ve, Part 34

Media massa ramai meliput. Wajah Dhee menghias media massa. Pengusaha
muda paling mencuat sepuluh tahun terakhir. Pengusaha yang memiliki
insting setajam matanya. Dhee memutuskan bersembunyi, membiarkan
letnan-letnan bisnisnya yang mengurusi wartawan-wartawan itu.

* Satu tahun berlalu, konstruksi lantai demi lantai mulai terlihat.
Bagai tunas pohon yang bermekaran di musim hujan. Terus merambat naik,
benar-benar menjulang. Proses konstruksi berjalan lancar, pemandangan
yang menakjubkan.

Satu tahun berlalu dengan cepat. Dhee punya tempat hebat yang tidak
pernah dimilikinya selama ini untuk melanjutkan kebiasaan lamanya,
menatap langit. Di lantai tertinggi gedungnya.

“Bapak?” seseorang menegurnya.
“Kemari, Gre.” Dhee menoleh, tersenyum.
Gre menghampiri atasannya, berdua terdiam sejenak. Dhee menatap
rembulan yang perlahan tertutup awan.

Dari seluruh perjalanan bisnisnya yang hebat sepuluh tahun terakhir,
ada yang mulai tidak Dhee mengerti belakangan ini. Kalau semua
kenangan itu tidak terlalu mengganggunya, kenapa hidupnya terasa
semakin kosong? Setiap kali sedang menyendiri, setiap kali itu pula
semua terasa kosong.

Mengapa semunya terasa kosong? Dulu ia pikir kesibukan-kesibukan ini
akan membuatnya terhenti pada satu titik. Merasa cukup, senang dengan
apa yang telah dikerjakannya. Tapi semakin kesini, dia tidak pernah
merasa cukup.

Dia bahkan tidak pernah merasa lelah. Dia semakin merasa tidak senang
dengan apa yang telah dikerjakannya. Bahkan berusaha mengisi
kekosongan dalam hatinya.

“Besok aku akan kembali ke kota lama kita, Gre.” Dhee memecah sepi.
“Pulang? Mendadak?” Gre bertanya.
“Tidak juga, besok rekan bisnisku berulang tahun. Takeshi-san, sejak
sebulan lalu ia mendesakku untuk hadir. Dia bilang rindu, ada-ada
saja.” Dhee tersenyum kecil.

Undangan Takeshi-san bisa menjadi alasan lain kepulangannya besok.
Mungkin dengan kembali ke kota lamanya, dia bisa menemukan penjelasan
atas semua kekosongan ini. Mungkin makam istrinya menyimpan jawaban.

* Seminggu berlalu, pemakaman itu masih seperti dulu.
“Apa kabar, gigi kelinciku?” Dhee menyapa, duduk disebelah makam istrinya.

Lututnya terbenam di tanah merah yang bersih. Entah siapa yang
melakukannya, makam istrinya terawat. Sepanjang perjalanan menuju
pemakaman, ia berpikir akan menemukan nisan berlumut. Kuburan istrinya
bahkan bersih dari rerumputan liar.

“Maaf lama tak kembali, gigi kelinciku. Kini aku sudah mendirikan
gedung yang indah untukmu. Tempat yang hebat untuk menatap langit. Kau
tahu, aku sudah begitu jauh berlari sendirian. Mewujudkan mimpi-mimpi
kita, tetapi setelah kugapai kenapa semuanya terasa semakin kosong?”
Dhee menggigit bibir, diam.

Burung-burung beterbangan saling bercengkerama. Burung-burung itu
merasa lebih bahagia, sedangkan hidupnya? Semakin jauh ia berlari,
semakin tidak mengerti apa yang sesungguhnya ia kejar. Lihatlah, ia
tidak tahu nama kedua anak perempuan mereka. Kedua nisan itu tanpa
nama.

Terdengar suara dedaunan terinjak, Dhee menoleh. Seorang gadis mendekat.
“Kakak Dhee? Kakak Dhee, kan?” gadis itu bertanya, sementara Dhee
hanya diam menatap kosong.

* Nama gadis itu panjang, Dhee tidak bisa mengingatnya. Sehingga Dhee
hanya memanggilnya dengan sebutan “Ve”. Dia adalah cucu Takeshi-san,
rekan bisnisnya. Gadis itu cantik, umurnya kurang lebih dua puluh
tahun. Gadis itulah yang berbaik hati merawat kuburan istrinya.

“Kakek selalu bertanya kabar kakak.” ucap Ve.
“Aku akan datang nanti malam di pesta ulang tahunnya.” jawab Dhee.
“Sungguh?” gadis itu tersenyum, Dhee hanya mengangguk.

Mereka berpisah setengah jam kemudian. Dhee meluncur menuju rumah yang
pernah ia tinggali bersama istrinya.Rumah itu sudah direnovasi pemilik
barunya. Dhee hanya berdiri menatapnya dari kejauhan.

Beberapa tetangga lama mengenalinya. Sungkan menyapa, bagaimana tidak?
Dhee terkenal sekali sekarang. Pemilik bisnis yang menggurita. Dhee
hanya mengangguk seraya tersenyum, tidak banyak bicara. Kepalanya
sedang dipenuhi banyak kenangan.

* Dhee sengaja berbaring di sebelah makam istrinya, menunggu senja.
Memandang langit, tidak terasa sudah senja. Dhee sejenak diam melamun
di dalam mobilnya, menunggu gelap.

Selepas gelap, Dhee melesat pergi menuju rumah Takeshi-san. Dhee
memandang hamparan kota yang bercahaya. Lebih banyak kenangan yang
kembali, memenuhi tepi-tepi otaknya yang mampu merekam bagai selembar
foto.

Dhee menghela nafas, kenangan itu kembali lagi. Kenapa? Kenapa ia
tetap belum menemukan jawaban mengapa hidupnya terasa hampa? kosong?
Apakah kunjungan kesana tidak berarti apapun? Tidak juga, setidaknya
ia bisa melepas rindu.

Pukul delapan malam, pesta ulang tahun itu sudah dimulai satu jam yang
lalu. Dhee sengaja datang terlambat. Dia tidak ingin menjadi pusat
perhatian. Lagi pula, berkunjung kesana hanya alasan kedua datang ke
kota itu.

Mobil yang dikemudikan Dhee membelah jalanan kota. Ramai, kota
terlihat lebih hidup dibandingkan delapan tahun silam. Dhee tenggelam
menyimak siluet lampu-lampu sepanjang trotoar.

Tiba di perempatan itu, ia mendadak membanting stir. Terkutuk! Dhee
buru-buru berputar arah. Ia lupa, jika melewati jalan itu maka ia akan
melewati bangunan rumah masa kecilnya.

Hampir saja mobilnya yang mendadak berbelok menabrak kerumunan orang
di perempatan itu. Dhee tidak akan pernah bisa kembali kesana. Tidak
akan, meski hanya melewatinya. Dari seluruh masa lalu menyakitkan
miliknya, tempat itu akan selalu dihindarinya.

* Lima belas menit berlalu, ia melangkah memasuki ruang acara yang
besar dan mewah. Ramai, undangan memenuhi setiap jengkal ruangan.
“Ini dia… tamu kehormatan kita malam ini, Dhee.” Takeshi-san
menyambutnya, terkekeh.

Bisik-bisik menyebar bagai desis ular. Semua orang di ruangan pesta
mengenal reputasi pemuda yang sedang dipeluk Takeshi-san. Setidaknya
pernah membaca, mendengarnya.

“Apa kabarmu? Ah, tentu saja baik. Dewa matahari selalu memberkahimu,
Dhee” Takeshi-san menepuk pundak Dhee.
Dhee tersenyum hangat, balas menepuk pundak Takeshi-san.

“Bagaimana mungkin kau tidak mengajakku dalam konsorsium pembangunan
gedung tertinggi itu, Dhee?” tanya Takeshi-san.
Dhee menatap datar, menggeleng.

“Kita seharusnya tidak membicarakan pekerjaan, bukan? Nanti istriku
protes.” Takeshi-san terkekeh, sementara yang disebut-sebut sudah
melangkah mendekat.

Tersenyum lebar, Dhee ikut tersenyum. Memeluknya, membalas pelukan
hangatnya. Dulu istrinya amat dekat dengan istri Takeshi-san. Namanya
Haruka-san, mereka adalah keluarga Jepang.

“Tadi Ve bilang bertemu denganmu di pemakaman.” ucap Haruka-san, Dhee
mengangguk.
“Ve, mana Ve?” Haruka-san memanggil di tengah keramaian.

Gadis itu mendekat, dengan pakaian yang berbeda. Sementara yang lain
menggunakan pakaian khas jepang, Ve malah mengenakan gaun putih indah
dengan motif kelinci disana.

Ve tertawa lebar menyambut Dhee yang mendadak kaku berjabat tangan.
Menatap pakaian Ve, berusaha merangkaikan penjelasan. Entah apa maksud
baju berbeda yang dikenakan Ve.

Haruka-san tertawa, lalu membimbing Dhee menuju kue ulang tahun yang
besar. Malam itu, ia menghabiskan waktu di tengah keramaian. Sesuatu
yang dihindarinya selama ini.

Berdiri di sebelah Takeshi-san saat meniup lilin. Menerima potongan
kue kedua setelah istri Takeshi-san. Takeshi-san tertawa lebar saat
berbincang dengannya tentang banyak hal. Terutama tentang proyeknya
saat ini.

Beberapa saat kemudian musik dalam ruangan melantunkan lagu dansa.
Dhee masih bercakap datar dengan Takeshi-san saat Ve mendekat.
“Kakak mau berdansa denganku?” Dhee menatap gadis itu lamat-lamat, menggeleng.

“Ayolah, Dhee. Ve sepanjang hari membicarakanmu, bagaimana mungkin kau
menolak ajakan dansanya?” Haruka-san tertawa, wajah gadis itu mendadak
memerah.

Wajah Dhee masih datar. Haruka-san menarik tangan suaminya.
Melambaikan tangan, mereka turun ke lantai dansa lebih dulu.
Meninggalkan Dhee dan Ve yang berdiri berhadap-hadapan, kaku.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s