‘Touchdown’, Part16

Fanfict Touchdown png

“Hahaha, aku lagi duduk aja, tadi ada orang iseng ngasih cokelat,”

“Lha enak banget malem-malem ada yang ngasih cokelat, emang dari siapa?”

“Dion,”

Hening…

Entah kenapa diujung sana Falah merasa teriris hatinya saat tau Dion yang memberikan kue itu.

“Kok diem mas?”

“Eh kaga, ini gue sambil ngerjain PR, lagi nemu caranya aja,”

“Lha? Sempet-sempetnya ngerjain PR trus nelfon,”

“Tadi lagi suntuk soalnya hehe,”

“Yaudah kerjain dulu aja PRnya, kamu mah malah nelfon,”

“Iya iya, yaudah gue tutup yaa,”

“Iya..”

“Assalamualaikum,”

“Waalaikumsalam..”

 

Dan telfonpun dimatikan..

 

~

 

Hari H pertandingan.

 

“Oke, nggak kerasa kan? Udah hari H aja, jadi kali ini kita akan berhadapan dengan SMAN 8, siap?” tanya Guntur.

“Iya dong!”

“Nggak sabar malah!”

“Hajar!”

“Takis dah!”

Dan beberapa ucapan lain dari anggota Bad Rhinos.

Good,” Guntur mengangguk mantap.

“So, Let’s begin! Who we are!?”

Bad Rhinos!”

“Who will win this game!?”

“Bad Rhinos!”

“Bad Rhinoos!!”

“Run! Fight! And Destroy!!

 

Bad Rhino vs Pegasus

 

Anggota Bad Rhinos masuk ke lapangan, dari sisi berlawanan juga masuk tim Pegasus.

“Lha Bob, Falah kaga maen?”

“Ng, nggak tau, nanti kali mainnya,” ujar Boby sambil memakai helm proyeknya, eh.. pelindungnya..

 

“Pegasus! Pegasus! Pegasus!”

Sorakan dari penonton membuat lapangan semakin memanas. Maklum kali ini Bad Rhinos bertanding di kandang Pegasus. Jadi kalah sorakan.

“Jangan kalaaah Bad Rhinoos!!”

Penonton dari tim Bad Rhinos tidak mau kalah.

 

“Siap Tur?” tanya Boby.

“Kapanpun..” ujar Guntur.

 

Dan…

 

Pertandingan di mulai.

 

Kick off pertama diambil oleh tim Bad Rhinos.

Lagi, tendangan Sagha mengarah ke sisi kiri lawan.

 

“Maju!” teriak Guntur.

 

Bola berhasil di ambil oleh Boby.

Dengan cepat Boby melesat, Line Defend dari Pegasus menghalangi Bad Rhino untuk menjatuhkan Boby.

Boby melesat cepat.

 

“Dia anak SMA?” celetuk Lidya.

Hanna mengangguk sambil mencatat sesuatu di kertas.

“Larinya cepet banget, dia atlit ya?”

Sekali lagi Hanna hanya mengangguk.

“Dho!”

Edho sudah siap menghadang Boby.

Dan.. berhasil!

“Yak!”

Edho menjatuhkan badan Boby.

Falah tersenyum, ya latihannya tidak sia-sia. Saat latihan kamis kemaren, Edho memang sengaja diberi latihan khusus oleh Guntur dan Falah.

Dari mulai nangkepin ayam, sampe nangkepin kucing.

Nggak sia-sia ternyata ide absurd nya.

“Kalian brilian ya, jadi pelatih aja nanti,” celetuk Pak Dhika.

“Haha, idenya Guntur itu Pak,” ujar Falah sambil terkekeh.

 

Bola kini berada di tim Pegasus.

“Set! Hut! Hut!”

QB mereka mulai membidik. Boby targetnya.

Seolah mengetahui itu Ahmad yang berada di jalur Boby menghalangi.

“Hiyaah!!” QB tim Pegasus melesatkan lemparannya.

“Mad!” teriak Guntur.

Ternyata lompatan Boby lebih tinggi dari Ahmad.

“Cih.. kalo begini..” Ahmad mengayunkan lengannya.

Boby yang tadinya hampir mendapatkan bola terkejut saat bola itu justru terpental ke belakang Ahmad.

“Hehe, kalo nggak bisa ditangkep ya ditepis,” ujar Ahmad.

“Yosh!” Rizal sudah siap dibelakang untuk menangkap bola pentalan itu.

“Eh? Wuaa!” Rizal kaget saat di depannya sudah ada beberapa anggota Pegasus yang menubruknya.

 

Tapi Pegasus gagal mencetak angka, dan kini.. bola berada di tim Bad Rhinos.

 

“Nice Cal,” ujar Sagha.

“Palalu sonice, sakit bege,” keluh Rizal.

 

“Fal, masuk, Gha ganti,”

Sagha mengangguk, ia berjalan menuju bangku tim Bad Rhinos.

“Jangan sia-siain,” ujar Sagha saat berpas-pasan dengan Falah,”

“Siap..” ujar Falah sambil memakai helmnya.

 

“Siap! Set! Hut! Hut!”

Guntur menerima bola.

“Semuanya, hadang Falah!” perintah Boby.

Falah melesat dari sisi kiri, LB tim Pegasus sudah siap menghadang Falah.

“Eit!” satu orang dilewati.

“Hop!” dua orang.

“Rrr! Wirog!” teriak anggota Pegasus, kemudian ia melompat dan menubruk Falah.

“Aduh..duh..”

“Haha, akhirnya jatoh juga! Eh? Bolanya?”

“Hehe,” Falah tersenyum licik.

 

“Maju Caal!!” teriak Guntur. Ya ternyata bola tidak dioper ke Falah, Falah hanya sebagai umpan.

“Sial! Rebut rebut!”

Telat, tinggal beberapa meter lagi Rizal sampai di garis akhir.

 

Dan…

 

“Touchdown!” teriak Rizal.

 

“Yooooh!!!!” penonton bersorak ramai. Tim Bad Rhinos berhasil mengambil angka pertama.

 

~

 

“Congrats! Gila nggak nyangka Bad Rhino udah maju sampe sini,” ujar Boby sambil menjabat tangan Falah.

“Iya lah, ini kan tim, kalo cuma fokus sama satu orang bukan tim namanya, Pegasus juga makin mateng kok,” ujar Falah.

“Thanks ya! Kapan-kapan kita tanding lagi,”

“Bad Rhinos siap menjamu Pegasus,” ujar Falah.

 

Dan ya…

 

Pertandingan kali ini dimenangkan oleh Bad Rhinos. Mereka berhasil masuk ke final!

“Yoyoyo, masuk Final yo!” ujar Anto.

“Heleuh, jangan mulai ngerep deh,” keluh Rama.

“Tau nih, nanti aja di rumah,” ujar Hanna.

“Lha yang dengerin siapa?”

“Denger aja sendiri,”

Celetukan Lidya berhasil mengundang tawa Bad Rhinos.

“Nasib dah, kaga di cerita sendiri ya di cerita orang juga dibully,” ujar Anto.

“Ya seneng boleh, tapi jangan berlebihan,” ujar Pak Dhika,”

“Iya Pak siap! Siap pisan!”

“Beduwey, lawan di Final siapa?” tanya Kevin.

“Lha ya mana gue tau,” ujar Faisal.

“Han? Lid?” tanya Falah.

“Ng.. tadi sih ada laporan dari temen, yang menang…”

 

Semuanya menunggu lanjutan ucapan Hanna.

“Wey siapa?” ujar Eka yang sudah tidak sabar.

“Dragowall,”

“Heleuh… sudah kuduga,” ujar Rama dan Ahmad berbarengan.

“Lawan mereka lagi, tapi kali ini juga kita nggak boleh kalah, bagaimanapun!” ujar Dzikri.

Semuanya mengangguk setuju dengan ucapan Dzikri.

 

~

 

“Daah, sampe nanti,”

“Yop. Assalamualaikum,”

“Waalaikumsalam, tiati ya,”

Falah mengangguk, kemudian melajukan mobilnya. Ya tadi Falah mengantar Lidya pulang (lagi) karena Kak Vivo tidak bisa menjemputnya.

 

Hp Lidya berdering..

“Halo Assalamualaikum?”

“Halo Lid, baru pulang ya?”

Dion? Pikir Lidya.

“Kamu ganti nomer?”

“Iyap, yang kemarennya angus,”

“Hoo, ada apa?”

Ngg.. aku mau ngajak kamu makan besok, kamu mau?”

“Besok ya..”

Iya, mau yaa.. oke oke?”

“Liat besok deh ya, aku juga nggak tau bakalan ada acara nggak sama kakak,”

“Hmm gitu, yaudah tapi aku harap kamu bisa, aku tunggu kabar baiknya ya,”

“Hmm,”

“Yaudah deh, istirahat, jangan lupa makan, selamat malam,”

“Malam..”

Dan telfonpun ditutup.

Lidya menatap layar Hp nya yang masih terterakan nama Dion.

“Hhh..” Lidya menghela nafasnya. Dan melangkah masuk ke dalam rumah.

 

~

 

Esoknya.

 

Lidya POV.

 

“Hoaaah.. udah hari minggu aja, nggak kerasa.. ini udah jam berapa ya?” aku melirik ke arah jam di atas nakas. Udah jam sembilan aja.

Aku menatap ke bawah pakaianku. Astaga aku masih memakai bawahan mukenah. Abis ngantuk banget sih, males ngelepasnya kan.

Aku melihat catatan kecil di nakas, dari Kak Vivo.

Adik cantik, haha, kakak kerja dulu ya, lembur nih,”

Duh si kakak, kalo kerja ya nggak usah rajin-rajin amat, hari minggu kok maish kerja. Yaah jadi nggak ada makanan dong? Masak sendiri dong? Males banget iih!

Oh ya tunggu..

Apa aku terima ajakan Dion aja ya?

Matre banget nggak ya? Tapi kan dia yang ngajak? Maksa lagi?

Ah udah lah nggak apa..

Aku mengambil Hp setelah perdebatan kecil antara otak dan hati.

Ada Line dari Dion.

 

Dion.

Jadi? Aku jemput jam 11 kalo jadi.

Ngg.. aku kembali menimbang ajakan Dion. Sekarang jam sembilan.. masih bisa sih.

 

LidyaMD.

Boleh.

 

Tak lama balasan Dion sampai.

 

Dion.

Sip! Aku siap-siap dulu.

 

Aku hanya meng-read chat dari Dion. Dan dengan malas, ya saya tekankan kembali, dengan malas! Aku beranjak menuju kamar mandi.

 

~

 

And.. here I am. Di sebuah restoran yang sangat teramat tidak asing lagi. Ya karena dulu kami berdua sering kemari.

“Masih sama ya rasanya kaya dulu,” ujar Dion sambil melahap makanannya.

“Hmm..” aku mengangguk sambil mengunyah makanannya perlahan.

“Tapi orang yang di depan aku udah berubah deh rasanya,”

Aku menatap Dion.

“Jangan bikin hilang selera makan deh,” ujarku dingin.

“Haha, bercanda kook, oya gimana pertandingannya? Menang?”

“Menang dong!” ujarku semangat.

“Duh, kalo bahas tim aja seneng banget,” celetuk Dion.

“Eh? Ehehe.. maaf maaf,” ujarku sambil menunduk, sadar akan responku yang agak berlebihan.

“Tapi emang keren sih mereka,”

Aku mengangguk setuju. Sangat setuju!

Mereka yang menganggap anak Bad Rhinos itu awut-awutan, tidak becus, itu salah besar! Mereka itu keren tau!

“Sekretarisnya juga cantik,”

“Dioon, aku boleh muntahin ini semua nggak?” rengekku.

“Eh, haha kamu mah sensi ih, aku kan bercandaan doang,”

“Bercanda nya nggak lucu,”

“Iya deh maaf, maaf..”

Aku dan Dion kembali melanjutkan makan.

 

~

 

Selesai makan, aku meminta langsung pulang, bukannya tidak sopan, tapi aku baru inget besok itu ada ulangan harian..

“Kenyang?” tanya Dion yang kini sedang menyetir di sampingku.

“Iya Alhamdulillah, tapi..”

“Tapi..?”

“Tapi minumnya kurang hehe,” ujarku.

“Lha? Kirain apaan, haha, itu di dashboard aku ada air mineral,” ujar Dion.

“Eh? Boleh nih?”

“Iya ambil aja,”

Aku mengangguk, iya tadi aku salah pesan karena justru memesan jus apel.

Aku meneguk air dari botol itu.

“Hmm.. makasih ya,” ujarku.

Dion mengangguk.

Aku bersandar, menikmati alunan lagu jazz yang disetel Dion.

Hmm.. kenapa ini? Kok..

Apa ngantuk sehabis makan ya?

“Kamu ngantuk Ya? Tidur aja, nanti aku bangunin kalo udah sampe rumah,”

Aku mengangguk, kemudian mulai memejamkan mataku.

Dan entah sejak kapan aku mulai terbang ke alam mimpi.

 

TBC

@falahazh

Iklan

10 tanggapan untuk “‘Touchdown’, Part16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s