Romansa di Kota Itu, Part8

“Tolong….”

“What? Siapa nih minta tolong, suaranya nggak asing banget”

Dendhi langsung menuju ke asal suara tersebut

“Viny?” tanya Dendhi kaget yang kemudian menghampiri Viny

“Dendhi, tolong aku” ujar Viny yang menangis sesenggukan

Ketika Dendhi menuju ke sana, tiba-tiba

“Sekali lagi kamu melangkah, cewek ini akan aku tembak” ujar seseorang dengan memegang pistol Revolver, wajah pria itu di tutupi oleh topeng sehingga Dendhi tak bisa melihat wajahnya, dan juga pencahayaan yang minim

“shit. I don’t have a choice” umpat Dendhi

“Keluarkan sandera kita” ujar orang itu

Tidak menunggu lama, keluarlah dua orang sandera dengan kepala yang ditutupi kain hitam, Dendhi hanya bisa berdiam diri menatap orang itu yang berjarak ratusan meter dari nya. Lalu orang itu berkata kepada suruhannya

“Buka kain itu”

Dengan sigap orang itu membuka kain yang menutupi kepala dari kedua Sandera itu

“Michelle.. kak Ve?” Ujar Dendhi kaget

“What do you want?” tanya Dendhi geram

“I just want to playing with you” kata orang itu

“Kalo kamu bener, semua sandera kita bisa kamu bawa pergi, kalo salah, mereka semua harus mati” kata orang itu tertawa sinis, Dendhi hanya bisa diam dan mengatupkan bibir, terlihat bahwa ia sangat gelisah.

“Berani?” kata orang itu

“aku kasih waktu kamu tiga detik, kalo kamu nggak jawab, aku akan menembak salah satu dari mereka, sayang kan, kulit mulus mereka harus ternodai oleh timah panas ini” tambahnya

“Satu”

“Dua”

“Tiiii..”

“Iya, aku mau” ujar Dendhi singkat sambil menahan emosi.

“baiklah, permainan nya cukup simple sih, kamu hanya ngomong jujur, mengerti?” kata orang itu

“iya” kata Dendhi

“hoiii.. kalo ngomong itu sambil sujud” ujar suruhan dari orang itu yang lalu menendang Dendhi hingga ia jatuh tersungkur

“Mengerti?” orang itu mengulangi pertanyaan nya

“I… iya” ujar Dendhi sambil bersujud, tak terasa air mata keluar dari matanya, sedangkan Michelle, kak Ve, dan Viny hanya menangis melihat adegan yang memilukan itu

“good., sekarang aku tanya, apa kamu suka sama orang yang sedang terikat di pohon itu? Nama nya Viny ya kalo nggak salah?” tanya orang itu. “Aku kasih kamu tiga detik buat jawab” kata orang itu lagi

“shit… aku harus gimana ini?” tanya Dendhi dalam hati

“Satu..”

“Dua”

“Tiii..”

“Iya, aku suka sama Viny” kata Dendhi setengah berteriak, Viny yang mendengar itu sedikit kaget, Orang itu melihat ke mata Dendhi

DAAAAAAR…

Suara Pistol terdengar yang di barengi oleh jatuh nya tubuh Viny, kepalanya tertembus peluru revolver.

“Vinyyyy…” Dendhi berteriak

“Bohong, aku kan sudah bilang, kalo kamu harus jujur” kata orang itu sedikit muak

“How dare you” Ujar Dendhi yang menuju ke arah orang itu, dengan sigap pula suruhannya menahan Dendhi, dan kemudian

DAAAAR…

Kak Ve menjerit kesakitan, timah panas kini bersarang di kaki nya.

“Aku kan sudah ngomong ke kamu, jangan beranjak dari posisi mu” bentak orang itu, orang itu lalu menuju ke arah kak Ve

“Maaf ya cantik, kalau seandainya adikmu itu nurut sama perintahku, aku pasti tidak kan menembak kakimu” ujar orang itu sambil membelai pelan rambut kak Ve

“Dendhi nggak salah, kalau perlu dia harus menembak kamu supaya kamu tau rasa sakit ini” ujar kak Ve yang marah

“Kurang ajar kamu” orang itu terpancing emosi nya, lalu ia menjambak rambut kak Ve.

“Stop, aku pengen denger pertanyaan selanjutnya dari kamu” ujar Dendhi sambil terisak

“Hmmm… baiklah, ini pertanyaan selanjutnya, aku adalah sebuah benda, orang tak akan hidup tanpaku, kehadiranku di nantikan banyak orang, apakah aku?” tanya orang itu

“Susah banget” kata Dendhi dalam hati, “Aku harus bener supaya mereka berdua selamet”

“Udara”

DAAAR…

Nasib yang sama dialami oleh kak Ve, kepala nya tertembus peluru Revolver

“F*ckkkkkk…” Dendhi berteriak lagi

“salah” bentak orang itu

“langsung aja ke pertanyaan terakhir” kata Dendhi

“Baiklah, ini pertanyaan terakhir, kamu kenal dengan Shani Indira Natio?” tanya orang itu

DEG

“Shani Indira natio?” tanya Dendhi lagi

“Iya.., kenal atau tidak” kata orang itu sambil menodongkan pistol ke kepala Michelle, sedangkan Michelle hanya menangis terisak-isak

“Iya..” aku kenal.

“Baiklah.. sepertinya kau bicara jujur” ujar orang itu sembari menjauhkan pistol nya dari kepala Michelle dan kemudian duduk, terlihat Michelle sedikit agak tenang.

“Sekarang lepasin dia” kata Dendhi

“Sejak kapan aku menyudahi pertanyaanku? Masih ada pertanyaan lagi” kata orang itu berdiri lagi dan mendekati Michelle

“Shit.. perasaanku nggak enak ini” ujar Dendhi dalam hati

“Kau tahu di mana lokasi nya sekarang?” tanya orang itu

DEG

“Aku aja nggak tau gimana wajahnya sekarang, kok malah di tanyain lokasi nya di mana” kata Dendhi lagi

“Cepat jawab” bentak orang itu

“Aku nggak tau di mana dia sekarang, tidakkah kau melihat bahwa semua omongan ku ini jujur?” bentak Dendhi lagi

DAAAAAR…

“Michelleeeeee…” Dendhi terbangun dari tidurnya yang lalu menangis, di lihat nya jam dinding yang ada di kamarnya

“Jam empat pagi” katanya pelan, lalu ia pergi bergegas ke kamar adiknya itu

CEKLEK

Pintu kamar adiknya terbuka, terlhat pemandangan sang empunya kamar sedang tertidur pulas, lalu ia menutup kembali pintu kamar adiknya dengan sangat pelan, di pikirannya kini hanya tertuju kepada sosok kakaknya, dengan langkah yang lemas ia menuju ke kamar kakak nya, di lihat kakak nya yang sedang tertidur.

Ia lalu beranjak menuruni anak tangga, ia menuju ke tempat di mana keyboardnya ada, ia terpikirkan untuk memainkan lagu.

Aku tak ingin terbangun, terbangun sendiri

Aku tak ingin terjaga, terjaga tanpamu

Kurangi, kurangi lukaku

Temani sepiku..

Suara lantunan piano yang Dendhi mainkan terdengar ke kamar Michelle, dengan berat ia membuka matanya

“Kak Dendhi lagi main Piano ya?” tanya Michelle pelan

Dengan semangat ia membuka pintu kamarnya, ternyata tak hanya Michelle yang terbangun, kak Ve ternyata sudah terlebih dahulu bangun

“haii.. udah bangun ya” tanya kak Ve

“Iya kak, kak Dendhi udah pake seragam sekolah, udah mau berangkat sekolah aja” kata Michelle pelan

Ku berjalan-berjalan memutar waktu

Berharap temukan sisa hatimu

Mengertilah ku ingin engkau begitu

Mengerti kau di dalam hatiku

Tak bisakah kau menungguku

Hingga nanti tetap menunggu

Tak bisakah kau menuntunku

Menemani dalam hidupku

PROK… PROK.. PROK

Terdengar suara orang bertepuk tangan

“Eh, kalian” ujar Dendhi yang kemudian berjalan ke lantai dua, sesampainya di sana, ia memeluk kakak dan adiknya dengan sangat erat

“Eh.. kak, kenapa?” tanya Michelle

“kalian jangan tinggalin aku ya?” pinta Dendhi, perlahan air matanya jatuh lagi

“Iya Den, kakak sama Michelle janji nggak bakal ninggalin kamu kok” ujar kak Ve sambil tersenyum manis

SKIP

Kini Dendhi sudah berada di kelas nya, Viny yang duduk di sebelahnya merasa aneh dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah jadi pendiam.

“Den, lu salah makan?” tanya Lidya

“nggak kok” jawab Dendhi singkat

“Kamu lagi mikirin apa Den?” tanya Viny lembut

“bukan urusanmu vin, aku lagi bingung. Udahlah, aku nggak mau di ganggu sama siapapun,” Dendhi agak menaikkan volume suara nya

“Maaf Den” ujar Viny yang mengambil tempat duduk di sebelah Rafles

“Raf.. aku duduk di sini nggak apa-apa kan?” tanya Viny

“Oh… monggo aja” kata Rafles, ucapannya bersamaan dengan masuk nya pak Paulus, guru Sosiologi di sekolah itu, pembelajaran di sekolah itu berjalan dengan biasa, sampai tiba-tiba. “Bagi tim futsal, harap menuju ke lapangan futsal indoor” suara itu menggema melalui pengeras suara yang terpasang di dalam ruang kelas. Dengan langkah malas Dendhi meminta ijin ke pak Paulus untuk ke lapangan futsal indoor.

“Kalian semua saya kumpulkan di sini karena ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan” kata pak Hendro, pelatih futsal

“Yang pertama, saya akan menunjuk kapten tim futsal ini, karena Ardi sudah mengundurkan diri dari tim futsal, karena dia sudah kelas dua belas, rencananya saya akan menunjuk Dendhi sebagai kapten tim Futsal, apa ada yang keberatan?” tanya pelatih lagi

“Kok saya pak? Skill saya nggak jago, Bukannya ada yang lebih jago skill nya dari saya?” tanya Dendhi

“rendah hati, Sifat Dendhi yang nggak pernah berubah” ujar Rafles sambil menggelengkan kepala nya

“jadi kapten itu nggak butuh skill doang, tapi dibutuhkan kemampuan untuk mengorganisasi rekan-rekannya, apalagi saya tahu latar belakang kamu, Rafles, dan Yoshi yang nggak mungkin saya buka di hadapan teman-teman kamu” ujar pak Hendro

“baiklah pak, Cuma saya ada permintaan, tolong undang anak yang namanya Ahmad Fahrezalical untuk latihan bareng kita” ujar Dendhi

“Baiklah, bapak akan undang dia, nanti sore kita latihan jam tiga, sekarang kalian bisa meninggalkan lapangan futsal indoor” ujar pak Hendro

Semua anggota tim futsal pergi meninggalkan lapangan futsal yang di barengi dengan bel istirahat, pasti kalian bisa menebak ke mana pergi nya Dendhi, Rafles, dan Yoshi ketika jam istirahat tiba, mereka bertiga bersama siswa satu sekolah sedang menuju ke kantin. Sesampainya di kantin Dendhi hanya duduk diam sambil mengeluarkan hp nya.

“Den, lu mau pesen makan apaan? Biar gue yang pesenin” ujar Kinal

“Nggak ah nal, aku lagi males” ujar Dendhi yang masih terpaku dengan hp nya

Kinal yang penasaran dengan sikap Dendhi melihat ke arah hp nya Dendhi, ketika di lihat ada foto Dendhi, Michelle, dan kak Ve ketika mereka bertiga masih kecil

“Kayaknya Dendhi lagi khawatir banget sama adik dan kakaknya” kata kinal dalam hati

“Den, kok kamu nggak aktif kayak biasanya sih?” tanya Ayana

Tak ada jawaban dari Dendhi, ia lalu berdiri dan mulai beranjak meninggalkan kantin, namun lagi-lagi ia di tabrak oleh rival nya

“Den, kamu nggak punya mata ya, hahaha” ejek Gio

Dendhi hanya menatap sinis Gio

“Suara nya orang yang di dalam mimpiku persis banget sama Gio” kata Dendhi dalam hati

“Aku nggak mau cari masalah sama kamu” kata Dendhi yang mulai meninggalkan Gio.

Dendhi lalu pergi meninggalkan kantin, ia lalu pergi ke taman sekolah, di sana terdapat empat tempat duduk, yang tiga diantaranya terisi penuh oleh siswa-siswi, ia pun lalu duduk, kepala nya mulai pening lantaran terlalu mencemaskan keadaan kakak dan adiknya, lalu tiba-tiba

“Boleh duduk di sini kak Dendhi?” tanya seorang wanita dengan lembut

“Eh, kamu Gre, boleh kok” jawab Dendhi sambil menyunggingkan senyum

“kayaknya kakak lagi ada masalah, boleh tau masalah kakak? Mungkin aku bisa bantu” kata Gre sopan

“hmmm.. bukan apa-apa sih sebenernya, aku tadi malem Cuma mimpi, mimpi buruk, hehehe. Oh iya, kakak mu sekolah di mana?” tanya Dendhi balik

“Katanya sih sekolah di sini, tapi tadi kak Reza bangun nya kesiangan, jadinya sendirian lagi deh ke sekolah” jawab Gre yang sebal akan tingkah laku Reza

“Reza nggak berubah ya? Dari dulu dia juga hobby nya bangun kesiangan,oh iya, kamu itu kan sepupunya Reza ya, kok aku nggak pernah liat kamu ya?” tanya Dendhi

“Iya, dari kecil aku sama orang tua ku di Jakarta, orang tua kak Reza dulunya di Banyuwangi, lalu di pindah tugas di New York, nggak lama kemudian, orang tua nya kak Reza meninggal karena kecelakaan mobil, Kak Reza waktu itu udah mau pulang ke Indonesia, tapi di larang sama orang tua ku. Kata papa ku mending kak Reza lanjutin sekolah di New York, biar papa ku yang bayar sekolah nya dia sampai tuntas,” jawab Gre detail.

“Oh.. yayaya, jadi orang tua nya Reza udah meninggal ya?” tanya Dendhi

“Iya kak” kata Gre

 

SKIP

 

Waktu menunjukkan pukul 13.15, siswa-siswi kini mulai meninggalkan sekolah, namun tidak dengan Dendhi, selain ia kini menjadi kapten futsal, ada dorongan tersendiri supaya ia tetap tinggal di sekolah, ia kini berada di lapangan futsal indoor, dengan malas ia mengetikkan sebuah pesan LINE kepada adiknya supaya ia pulang duluan dengan temannya.

“kak, udah lama ya di sini?” tanya seseorang

“Eh, kamu Alvin, kamu jadi ikutan futsal toh?” tanya Dendhi

“Iya kak, aku lolos seleksi tim futsal, oh iya kak, akum au ngucapin selamat buat kak Dendhi udah kepilih jadi kapten tim futsal” ujar Alvin

“makasiih vin”

“Bentar ya vin, aku keluar dulu” kata Dendhi sambil berlalu menuju keluar, Alvin hanya mengangguk pelan.

Suasana di luar sangat tenang, hanya ada hembusan angin, dengan langkah berat Dendhi menuju ke taman sekolah, ia lalu mencolokkan headset ke HP nya, lalu mulai memutar lagu, kini pikirannya sibuk mengingat-ingat suatu peristiwa

*FLASHBACK ON*

Kala itu, Dendhi, Yupi, Reza, dan Shani masih kelas lima SD. Mereka bersahabat bagaikan amplop dan perangko, susah sekali di pisah. Namun semuanya berubah saat orang tua Reza harus pindah tugas di New York

*Malam Hari di rumah Reza*

“Za, jangan lupain kita ya” kata seseorang dengan mata berkaca-kaca

“Iya shan, aku nggak akan ngelupain kalian” ujar Reza sambil menahan air mata supaya ia tidak menangis di hadapan teman-temannya

“Janji ya” kata teman yang satunya lagi

“Iya yup, aku janji kok, nggak akan ngelupain kalian” kata Reza lagi

“Pokok nya kalo kamu sempat, kamu harus pulang ke Banyuwangi Za, kota yang udah menyatukan aku, kamu, Yupi, sama Shani” kata Dendhi

“Kalo itu nggak usah kamu bilang Den, aku pasti pulang kok ke Banyuwangi” kata Reza

“Waah.. mumpung ngumpul. Ayo kita foto bareng” kata mama nya Reza sambil mengeluarkan kamera Polaroid

“Ide seru tuh, ayo” ujar Shani sambil menarik tangan teman-temannya

CEKREK

Tak lama kemudian, empat lembar foto itu keluar dari kamera itu

“Ini buat kalian ber-empat, simpen ya” ujar mama nya Reza sambil tersenyum

“I..iya tante, makasih banyak ya” ujar Dendhi, Yupi, dan Shani bersamaan

Keesokan hari nya, Dendhi, Yupi, dan Shani mengantar kan Reza dan orang tua nya ke stasiun. Uraian air mata terlihat jelas dari mata mereka berempat, Reza dan orang tua nya masuk ke dalam kereta api, dan perlahan kereta api itu mulai menghilang dari pandangan mereka. Ya, kereta api tujuan Banyuwangi – Surabaya mulai perlahan meninggalkan kota di ujung timur pulau jawa itu.

“Aku harus ninggalin Dendhi sama Yupi” ujar Shani yang berada di kamarnya

“aku terpaksa” kata Shani yang mulai menangis.

 

TOK.. TOK… TOK

 

Terdengar ketukan dari luar kamar shani

“Shan, ini mama, mama boleh masuk?” tanya seseorang di seberang pintu kamar nya

“Boleh kok ma, masuk aja. Kamarnya nggak di kunci kok” ujar Shani

“Shan, kamu udah ngomong sama Dendhi, dan Yupi?” tanya mamanya

“Belum ma” ujar Shani singkat

“Kapan kamu mau ngomong, kita besok udah mau pindah” ujar mamanya

“kamu abis nangis ya?” tanya mamanya lagi

“eng.. enggak kok ma” Shani terpaksa berbohong

“Ya udah, pokok nya nanti sore kamu harus ngomong ke mereka ya, biar mereka nggak salah paham sama kamu nak” kata mama nya yang lalu mengelus pelan rambut Shani, lalu mama nya mulai meninggalkan Shani di kamarnya.

Tapi sepanjang sore hingga malam hari Shani malah ketiduran. Hingga alarm membangunkan Shani dari tidurnya

“Jam berapa nih?” tanya Shani dengan mata yang masih tertutup, ia mencari jam weker nya

“Hah? Jam setengah empat” Dengan sukses mata Shani terbuka karena kaget

“aku harus masukkin barang yang masih di butuhkan” dengan sigap Shani memasukkan semua barang yang masih di butuhkan olehnya, perlu waktu satu jam untuk memasukkan barang-barangnya

Ia lalu mandi dan dengan cepat menuju ke rumah Dendhi, di ketuk nya pintu rumah Dendhi, namun yang keluar seorang wanita

“Cari siapa shan?” tanya wanita itu

“eh, kak Ve. Cari Dendhi kak, dendhi nya ada?” tanya shani sopan

“Aduh.. Dendhi nya masih tidur Shan, bentar ya. Kakak bangunin dulu” ujar kak Ve

“Jangan kak, aku nitip salam aja ke Dendhi, aku mau pindah, ini karena paksaan dari orang tua ku. Dia jangan salah paham, aku baru di kasih tau sama mama ku tiga hari yang lalu” kata Shani sedih, perlahan air matanya keluar

“Heii jangan nangis Shan” ujar kak Ve sambil mengusap air mata yang keluar dari pipi Shani

“Udah kak, itu aja. Makasih ya” ujar Shani yang keluar dari rumah Dendhi

Ia lalu berjalan menuju ke rumah Yupi, apesnya Shani. Pintu rumah Yupi tertutup rapat

Dengan langkah berat, gadis kecil itu kembali ke rumahnya. Jarum jam dengan cepat menunjukkan pukul tujuh pagi. Seperti biasa, Dendhi dan Yupi mengajak Shani bermain di sawah dekat rumah mereka. Namun begitu sampai di dekat rumah Shani, mobil Shani tiba-tiba keluar dan menuju keluar dari komplek perumahan mereka, Dendhi berusaha mengejar mobil Shani, namun ia malah terjatuh, Shani yang melihat dari kaca belakang mobil nya hanya bisa menangis melihat itu.

“Kenapa kamu ninggalin kita, Shan?” tanya Dendhi sedih

 

*FLASHBACK OFF *

 

“Kenapa kamu ninggalin aku, Shan?” tanya Dendhi

Ia melihat jam yang ada di HP nya

“Udah jam setengah tiga, aku harus balik ke lapangan futsal” kata Dendhi yang lalu meninggalkan taman sekolahnya

Sesampainya Dendhi di lapangan sekolah, mereka sedang di briefing oleh pak Hendro

“Maaf pak, saya terlambat” kata Dendhi

Pak Hendro hanya mengisyaratkan Dendhi untuk segera bergabung

“Pertandingan pertama, kita bergabung dengan wakil dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI Jakarta” kata pak Hendro

“Pak, apa mereka lawannya berat?” tanya Rafles

“Hmmm… mereka rata-rata punya fisik yang lebih tinggi dari kita” kata Pak Hendro

“Tapi kita punya pemain yang kualitas nya kualitas Eropa” kata Pak Hendro

Semua yang hadir di sana tercengang kaget

“Siapa pak?” tanya mereka lagi

“Dendhi, Rafles, Yoshi, dan satu lagi anak baru, namanya Ahmad Fahrezalical” kata pak Hendro, sontak mereka semua menoleh ke Dendhi, Rafles, Yoshi, dan Ical

“mereka dulu pernah bergabung dengan proyek Garuda I dari PSSI, Dendhi training dengan klub Manchester United selama se-bulan, Rafles sama klub Gamba Osaka selama se-bulan, Yoshi sama Klub Manchester City, ical di klub Cerezo Osaka selama se-bulan juga” kata pak Hendro

“Pantes permainan Dendhi, Rafles, dan Yoshi bagus banget, ternyata dia pernah ikut proyek Garuda I dari PSSI” celetuk salah satu pemain futsal

“Hari ini itu aja, kita akan melawan Jawa Tengah, empat hari lagi, tempatnya di sekolah kita” kata pak Hendro. “Sesi latihan akan diadakan besok pas jam pelajaran, saya sudah minta persetujuan kepala sekolah, dan beliau mengijinkan kita” kata pak Hendro lagi

Semua anggota tim futsal pulang, dengan cepat Dendhi mengendarai mobil nya kembali menuju ke rumah nya, butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah nya

“kak, udah pulang” ujar Michelle sambil menyantap makan sorenya

Dendhi hanya membalas dengan anggukan pelan.

“Kamu nggak makan Den?” tanya kak Ve

“Nggak kak, aku langsung tidur aja, capek aku” kata Dendhi, dengan pelan ia menuju ke kamarnya

Ia menyalakan HP nya, ada banyak sekali notifikasi, ada yang dari Facebook, LINE, dan Whatsapp, namun ia tertarik dengan notifikasi dari Twitter

“Shani Indira mengikuti Anda” begitulah notifikasi nya

“dia masih kayak dulu, nggak mau nyerah” gumam Dendhi lagi

“Ahh… udah lah, aku nggak peduli sama dia lagi” Dendhi lalu membanting HP nya di tempat tidur, lalu ia memejamkan matanya di tempat tidur nya

 

Bersambung

-DendhiYoanda-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s