Cahaya Kehidupan : Aku Pernikahan, Part 29

Enam bulan berlalu. Antusiasme dan kesenangan. Lokasi konstruksi
gedung dipenuhi janur kuning. Berderet-deret, berbaris-baris. Halaman
depan gedung dipadati kursi-kursi. Tenda besar terpasang. Hiasan
lampion menggelantung di tiang-tiang bambu.

Hari ini, Dhee menikahi gadisnya. Pekerja konstruksi gedung ramai
bersorak. Berseru-seru, bahkan bersulang seperti di pesta-pesta. Dhee
sering tersenyum, memegang erat lengan istrinya.

Gadis itu mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Mempesona,
rambutnya disanggul. Ketika Dhee duduk bersebelahan dengannya, ia
merasa menjadi laki-laki paling bahagia di dunia. Aduh, istrinya
cantik sekali. Lihatlah gigi kelincinya yang lucu.

Umurnya 27 tahun, Dhee bersiap membuka lembaran baru hidupnya. Dia
akan memiliki keluarga yang sebenarnya. Dhee sangat mencintai
istrinya. Istrinya juga sangat mencintainya.

Kini mereka tinggal di rumah Nabilah. Tempat baru yang menyenangkan.
Setiap pagi Dhee dan istrinya bisa berdiri di teras rumah, berpelukan,
membisikkan kalimat-kalimat mesra. Melupakan masa lalu yang
menyakitkan, masa-masa gelap Dhee.

Hanya ada dua orang yang mengetahui persis kejadian di lantai 48 itu.
Satu orang sudah meninggal di tiang gantung. Satu orang lagi
tersenyum, memeluknya saat pertama kali mendengar cerita itu.

“Seharusnya aku menemui Reza untuk terakhir kalinya.” Dhee mengusap wajahnya.
“Tidak sayang, masa lalu itu sudah berlalu.” istrinya menatap hangat wajah Dhee.

* Sore itu, Dhee sengaja pulang lebih cepat dari pekerjaannya. Dia
menyempatkan membeli setangkai bunga mawar merah di tepi jalan.
Bersenandung riang sepanjang perjalanan. Tidak sabar bertemu dengan
istrinya.

Masuk rumah mengendap-endap. Hendak memberikan kejutan. Istrinya sibuk
memasak di dapur. Memakai celemek, wajahnya cemong. Dhee tiba-tiba
memeluknya dari belakang. Istrinya terperanjat, hampir memukul Dhee
dengan sendok besar. Keluarga muda yang harmonis, tertawa bersama.

“Aku punya sesuatu untukmu, gigi kelinciku.” Dhee berbisik, memeluk.
Istrinya menoleh, tersenyum. Dhee menyelipkan bunga mawar itu di
telinga istrinya.

“Terima kasih sayang, tapi bagiku itu bukanlah yang terpenting. Yang
paling penting bagiku adalah kau ikhlas mencintaiku. Itu saja sudah
cukup bagiku, sayang.” Nabilah tertawa, lesung pipinya terlihat jelas.

Nabilah tertawa melihat Dhee menggerakkan bibirnya, mengikuti
kalimat-kalimat terakhir istrinya. Nabilah mencubit pelan perut Dhee,
tapi Dhee berpura-pura kesakitan.

Itulah kebiasaan Nabilah setelah menikah. Dia selalu saja mengatakan
kalimat itu. Ikhlas dengan semua bla-bla-bla. Persis seperti Kak
Melody dulu yang sering berbicara sesuatu tentang masa depan.

“Terima kasih bunganya.” Nabilah memeluk Dhee, Dhee mencium kening Nabilah.
“Tapi aku tidak habis pikir. Bagaimana mungkin wajah cemong, memakai
celemek, gigi jelek seperti kelinci bisa terlihat cantik dengan bunga
itu.” perut Dhee dicubit, tertawa bersama.

* Waktu melesat tanpa terasa, bagai desing peluru. Delapan belas bulan
sejak pernikahan mereka. Dhee memakai baju yang belum pernah
dipakainya. Istrinya membantu memakaikan dasi. Mereka berdua berangkat
menuju gedung yang akan diresmikan.

Petinggi kota datang, memadati kursi-kursi. Sirine peresmian berbunyi.
“Wah, sudah berapa bulan?” Gre yang duduk jongkok menyaksikan
peresmian dari belakang tenda undangan bertanya.

Dhee tidak terlalu suka berada diantara undangan yang keren-keren itu.
Dia menyingkir, memutuskan duduk bersama buruh lain. Gre memberikan
dua kursi plastik untuk Dhee dan istrinya.

“Sembilan bulan, Gre.” jawab Nabilah.
“Dengar-dengar bapak pindah ke proyek lain, ya? Mungkin ini pertemuan
terakhir bersama anak-anak.” Gre menyeringai sedih, Dhee hanya
mengangguk saja.

“Anak-anak sudah dapat proyek baru?” Dhee bertanya.
“Rata-rata sudah, tapi mungkin tidak akan mendapatkan mandor sebaik
bapak.” Gre kini menatap sedih mantan atasannya.

“Kita akan selalu bersama. Meskipun jarak dan waktu yang memisahkan.
Tidak ada yang terpisahkan dalam hati. Tidak ada yang hilang dalam
sebuah kenangan. Kita sungguh akan selalu bersama.” Dhee mengatakan
kalimat itu, kalimat Kak Melody dulu.

Gre dan teman-temannya menunduk, menelan ludah. Satu dua buruh menyeka
air mata. Kalimat itu benar-benar ajaib. Bisa mengendalikan perasaan
seseorang yang baru pertama kali mendengar lima kalimat mutiara itu.

Istrinya memeluk Dhee lebih erat. Kata-kata itu indah sekali, lebih
indah dibandingkan gedung di depan mereka. Istrinya perlahan menatap
wajah Dhee yang ditimpa kilauan cahaya lampu gedung.

Lihatlah, ia amat beruntung bisa mendapatkannya. Semua masa lalu
kelamnya tertebus sudah. Pelan meletakkan kepalanya di bahu Dhee,
tersenyum bangga padanya.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s