Wizards and Warriors, Part2

“Iya sama-sama yup..”

Setelah yupi makan siang di rumahku aku menghantarkan yupi pulang menggunakan sepeda motorku yg aku taruh di garansi, kenapa aku ke sekolah nggak pernah bawa motor karena aku males aja, enakan berangkat kesekolah ngegoes sepeda dapet kringet terus sehat deh,ahahaha. Alesan padahal pengen ngirit bahan bakar ya kan? Ga cuman ngirit bahan bakar tapi mengurangi polusi udara juga paham. Wah bijak-bijak.

Setelah sepulang dari rumahnya yupi, aku melihat bapak-bapak yg tadi pagi masuk ke perkebunan pisang itu sekarang udah keluar dari perkebunan pisang. Aku berpikir sejenak untuk mengikuti bapak-bapak itu sambil terus melajukan sepeda motorku sampai ke rumah.

“Gue harus ikuti bapak itu besok, kenapa bapak itu slalu masuk kedalam kebun pisang miliknya pak rt itu” ucapku dalam hati. Sambil terus menonton acara televisi kesayanganku itu.

Saat bapak-bapak yg biasanya masuk kedalam kebun pisangnya pak RT lewat rumahku. Aku langsung ikuti dia dari belakang secara diam-diam agar gua tidak ketahuan sama bapak yg kemaren. Di dalam perkebunan pisang. Aku melihat orang itu melangkahkan kakinya di antara celah pohon pisang lainnya yg seperti gerbang dan seketika itu juga bapak-bapak itu menghilang di hadapanku.

“Whatsss!!!…”

“Bagaimana bisa itu terjadi” ucapku dalam hati sambil mencoba berjalan di antara celah pohon pisang yg berjejer di kanan dan kirinya.

Syuuueett!!!!!!

“ARRRRRGHH!!!!…”

Aku terhisap masuk kedalam sebuah portal dimensi ruang dan waktu yg di lalui bapak-bapak itu juga tadi. Pada saat aku sudah keluar dari dalam portal aku sudah berada di tempat yg berbeda dengan sebelum aku masuk kedalam celah pohon pisang yg di lalui bapak-bapak tadi.

“Dimana aku ini?” ucapku dalam hati sambil melihat istana yg sangat megah yg terpampang jelas di hadapan mataku. Pada saat aku sedang mengelilingi taman istana itu dari arah belkangku sudah ada laki-laki paruh baya yg sedang berdiri.

“Oh jadi kamu tadi yg ngikutin aku dari tadi rupanya” tegur orang yg ada di belakangku itu. Sontak pada saat itu kaget mendengar orang yg menegurku dari belakang itu, pada saat aku menoleh kebelakang ternyata yg menegurku itu adalah bapak-bapak yg aku ikutin sedari tadi buat masuk ke dalam tempat yg bagus ini.

“Eh bapak..” ucapku.

“Ngapain kamu ngikutin aku kesini?” tanya laki-laki paruh baya itu.

“Nggak apa-apa pak, aku pengen menguak misteri rintihan gadis di pohon pisang tetanggaku itu aja” balasku.

“Oh gitu ya nak…” bapak-bapak itu sambil memukul tengkuk ku.

Takkk!!!

Aku dibawa pria itu masuk kedalam istana yg ternyata ada sekolahan, pria itu langsung meletakanku di dalam kantor kepala sekolah.

“Lapor pak,tadi ada anak muda ini mengikutiku sampai kesini. Apa yg harus aku lakukan dengan dia?” kata pria itu.

“Hmm…karena dia sudah mengetahui rahasia jalan ke sini dan ini juga kesalahanmu, jadi kamu Cal,kamu harus ajarin anak muda ini tentang apa-apa yg kita pelajari di sekolah kita ini. Paham kau cal?” kepala sekolah sambil bangun dan menaruh kedua tangannya di pundaknya Pria yg bernama Ical itu.

“Paham pak…” balas Ical sambil menganggukan kepalanya.

“Bagus kalau kamu udah paham, sekarang kamu sadarin anak muda yg sudah kau buat pingsan ini dan segeralah didik anak muda ini” kata Kepala sekolah. Ical langsung menyadarkanku dari alam bawah sadarku di bawah pohon yg sangat besar dan sangat lebat pula.

“Awwww…Dimana aku ini sekarang?”

“Udah sadar lo ternyata?” ucap bapak-bapak tadi yg aku ikuti.

“Siapa anda?” tanyaku.

“Nama gua Ical dan lo sekarang lagi di negri Aurora” kata bapak-bapak di depanku itu.

“Negri Aurora? Aku nggak pernah dengar negri yg seperti itu, dimana negri itu berada?” ucapku bingung.

“Biar gua jelaskan apa itu negri Aurora ke lo. Negri Aurora itu adalah Negri dimana langit-langit di negri ini selalu bercahaya warna-warni seperti di kutub selatan,di negri ini juga semua rakyatnya pada makmur semua dan jalan menuju ke negri ini hanyalah lewat celah-celah pohon pisang yg berjejer seperti di pohonnya pak RT itu..”

“Jadi kalau ada celah-celah pohon lain,aku masih bisa datang ke negri ini?”

“Kalau itu nggak bisa,hanya pohon pisang yg sudah di mantrai dengan sihir khusus yg bisa bikin kita sampai kesini” kata Ical.

“Dan soal yg tadi gue mukul tengkuk lo, gue minta maaf ya. Gue ngelakuiin itu semua ke lo karena negri Aurora ini sedang dalam siaga perang antara pasukan Jahat Penyihir putih dari alam yg berbeda dengan kita ini”  ucap ical.

“Ya nggak apa-apa bro, santai aja sama gue. Gue akan jaga rahasia tentang negri ini” kataku sambil bangun dari atas rumput.

“Baiklah kalau begitu, mari ikuti gue kedalam sekolahan itu” kata ical sambil menunjuk ke istana yg cukup besar itu.

*-*

Di dalam istana, aku di ajak Ical untuk melihat setiap sudut istana yg sedang aku dan ical kelilingi ini. Saat di belakang Istana,aku melihat anak-anai kecil yg kira-kira umurnya itu sekitar 7 tahunan sedang berlatih pedang bersama guru pembibingnya masing-masing.

“Wah hebat-hebat sekali anak kecil itu” aku terkagum-kagum saat anak kecil seusia yupi sedang mengayunkan pedang yg sangat besar dan berat ke arah pohon di depannya.

“Iya dia memang hebat, kalau lo belum tau semua tentang negri ini. Jangan pernah sesekali lo buat keributan dengan anak sekecil dia itu, anak itu berbakat dalam memainkan pedang yg sebesar itu bahkan seusiaku aja kewalahan menghadapi serangan anak kecil yg usianya 10 tahunan itu.” kata Ical.

“Woww…anak itu seperti Temen aku yg namanya Yupi tapi orangnya udah kelas X SMA sekarang,tapi tingginya aja yg sama seperti anak itu” ucapku.

Di tepi danau Istana Black Town, aku sedang di latih Ical untuk bermain pedang dengan benar. Ical melatihku sangat keras kalau-kalau aku salah gerakan bermain pedang sedikit saja, pasti langsung aku kena cambukan dari ical.

Ctarr!!

Ctarr!!

“Lo bermain pedang apa main tongkat,gerakan lo terlalu lambat, cepatkan sedikit ayunan pedang lo itu” kata Ical yg sedang duduk santai-santai dari bawah pohon yg rindang sambil memegang cambuk yg cukup besar dan panjang juga. Baru lima menit gue berlatih pedang bersama salah satu muridnya ical, gue udah kena cambukan dari Ical dua ratus kali di punggung gua, rasanya itu sangat sekali tapi gua mencoba menahan rasa sakit itu.

Tagggkk!!!

Tangggzz!!! 

“Akhirnya lo bisa juga ngalahin salah satu murid didik gue,hebat lo bro..” kata Ical sambil menghampiri gue yg sedang menodongkan mata pedangku ke depan muridnya Ical itu.

“Hebat banget kakak bisa ngalahin aku tadi,syalut sama kakak yg baru belajar pedang pertama kali.” kata Cwe yg aku ajak tanding pedang tadi.

“Kamu juga hebat kok” kataku.

*-*

Sore harinya saat aku sudah keluar dari dalam kebun pisang, aku langsung di cegat yupi di depan pintu rumahku itu. Yupi sedang menungguku pulang sambil asik mainan games di smartphonenya.

“Hai kamu kak,aku sudah dari tadi nungguin kakak disini lama tau, kemana aja kakak seharian ini?” tanya Yupi.

“Sehabis mengantar kamu kan aku pulang dek, terus kakak di ajak main futsal sama temen-temen kakak” balasku.

“Oh pantesan aku telphone dari tadi nggak kakak jawab”

“Iya. Ayo masuk dulu yuk,ntar habis maghrib aku anterin pulang kamu” ucapku.

“Iya kak…”

Created:@lastwota

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s