Cahaya Kehidupan : Aku Kunjungan Pertama Part 26

Sejak malam itu, Dhee selalu mencari keberadaan gadis cantik itu.
Selalu sibuk mencari-cari dengan teropong bintang, duduk diatas palang
besi yang menjulang tinggi. Sungguh malam-malam yang menyenangkan
setelah penat bekerja seharian penuh.

Tidak ada, seperti biasa. Gadis itu mungkin lewat jalan lain. Dhee
semangat mengarahkan teropong kearah lain. Hatinya terjebak sebuah
perasaan. Apa mau dikata, langit pun terpaksa cemburu berhari-hari.

“Wah, bapak penasaran ya dengan gadis itu? Katanya hanya nenek-nenek.
Tidak ada, ya? Mungkin dia lewatnya siang hari. Hanya waktu itu saja
kebetulan lewatnya malam hari.” seperti biasa, setiap malam Gre selalu
menggodanya.

Itu bukan ide buruk, besok Dhee akan mencarinya di siang hari. Urusan
pekerjaan nanti saja, ada sesuatu yang lebih berharga. Sesuatu dalam
hati, entah perasaan apa itu. Sebelumnya Dhee tidak pernah merasakan
perasaan itu.

Esok pagi, Dhee memakai baju terbaiknya. Hendak mencari gadis cantik
itu. Melangkah seraya tersenyum. Buruh-buruh lain sibuk bertanya-tanya
kenapa mandornya seperti itu. Tapi Gre hanya tersenyum riang saja.

Baru saja keluar dari area proyek. Gre malah berteriak dari lantai dua.
“BERJUANG, PAK!!! DOAKU BERSAMAMU!!!” dan itulah awalnya gosip Dhee
menyukai anak kampung dekat situ menyebar dari lantai ke lantai.

Awalnya Gre hanya menyebarkannya di lantai dua saat mengaduk semen.
Menjalar ke lantai tiga saat batu bata dikirimkan. Tiba di lantai
empat saat karung dipikul. Lantai lima saat potongan besi-besi dibawa.
Dan lantai-lantai seterusnya, berantai.

Sementara yang digosipkan sedang berdiri kaku di sudut jalan. Menunggu
cemas dibawah pohon mahoni. Tersenyum? Bagaimana tidak, ia hanya ingin
bertemu. Cemas? Ya, dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah
bertemu.

Beberapa menit menunggu, Dhee mendesis dalam hati. Sebenarnya apa yang
sedang dilakukannya? Kenapa pula ia mencari gadis itu? Gadis itu bukan
siapa-siapanya, bukan?  Dhee membalik badan, memutuskan kembali ke
proyek gedungnya. Tetapi langkahnya terhenti.

Bagai sebatang besi panas membara yang dicelupkan ke dalam air dingin,
hatinya mendesis. Gadis yang ia cari tiba-tiba terlihat sedang
berjalan. Ke? Astaga, langsung menuju dirinya. Dhee panik, jantungnya
berdegup kencang.

Gadis itu mengenakan kemeja hijau. Manis sekali, gadis itu terlihat
cantik. Rambut panjangnya terurai, bergerak seiring langkahnya. Dhee
sudah terlanjur membalik badan.

Tapi hatinya berkata lain. Dhee reflek berhenti berjalan. Mendadak
malu, memalingkan wajahnya. Pura-pura menyaksikan indahnya cahaya
matahari pagi menerpa daun-daun pohon mahoni.

Dan gadis itu anggun melewatinya. Dhee menelan ludah. Apa yang akan
dilakukannya? Tidak tahu. Gadis itu mau kemana? Tidak tahu. Jadi
sekarang bagaimana? Tidak tahu.

Entah siapa yang menyuruhnya, Dhee mengikuti gadis itu. Ternyata gadis
itu pulang menuju rumahnya. Dhee sempat berpikir, kenapa ia
mengikutinya sampai kesana? Tidak apa, setidaknya ia bisa tahu
rumahnya.

Satu jam kemudian, tidak terasa Dhee terus memperhatikan gadis itu
dari halaman rumahnya. Mendadak gadis itu keluar, melangkah menuju
Dhee. Jantung Dhee kembali berdegup kencang. Sementara gadis itu hanya
diam, melewatinya saja.

* “Bagaimana, pak? Sukses?” Gre bertanya sambil tertawa dan juga
sedikit penasaran, Dhee melemparnya dengan kulit pisang yang pisangnya
hendak ia makan.

Gre menyibak kulit pisang yang menutupi wajahnya. Dhee sebal mendengar
pertanyaan itu. Gre memang baru sekali bertanya. Tapi dijumlah dengan
buruh-buruh konstruksi lainnya, maka hari ini ia ditanya puluhan
pertanyaan yang serupa.

Malamnya, setelah kejadian tadi pagi mereka duduk-duduk kembali di
tempat yang sama setiap malam. Dhee menyeringai, sementara Gre hanya
berdiam menatapnya. Malas menggodanya, dari pada dilempar lagi.

“Menurutmu bagaimana menarik perhatiannya?” Dhee bertanya.
“Perhatian apa?” Gre menatapnya.
“Wanita, kau kan seorang wanita.” Dhee memperjelas pertanyaannya.

“Aku tidak tahu, meskipun aku seorang wanita tapi aku merasa aku ini
laki-laki.” Gre tertawa, ternyata bertanya pada orang yang kurang
pengalaman tidak bisa membantunya.

Esoknya Dhee kembali menyaksikan wanita itu di balik halaman rumahnya.
Bagaimana menarik perhatiannya? Mendesis pelan. Dhee yang terpesona
tidak menyadari tangannya terjulur menyentuh potongan kaca dekat
halaman rumah gadis itu.

Sisa potongan kaca lemari gadis itu yang kemarin pecah. Tangan Dhee
justru mencengkeram ujung-ujungnya yang tajam, kaget. Bagaimana
menarik perhatiannya?

Lima menit berlalu, Dhee sudah duduk di teras rumahnya. Tangannya
dibalut oleh gadis itu. Dhee agak ragu menatap wajahnya dari dekat.
Dia bisa melihat bedak tipis yang tak rata menutupi pipi kanannya.
Mencium aroma tubuhnya, jantungnya bergedup kencang.

Dhee berusaha mengajaknya bicara, tapi rasanya tidak bisa. Tidak cukup
keberanian, masalah ini lebih rumit dari pada perkelahian dengan tujuh
berandalan dulu saat masih di rumah singgah.

Setelah gadis itu selesai membalut tangannya, Dhee langsung saja pergi
seraya berkata “Terima Kasih!”. Terlalu lama, ia tidak tahan lagi.
Dhee tidak tahan menahan jantungnya yang sudah lama bergedup kencang.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s