A Pair Of Doves Love

Mencoba sesuatu yg baru itu harus dilakukan oleh seorang penulis seperti aku ini. Kalau tidak mencoba hal baru maka kita tidak akan pernah maju-maju dalam usaha apa pun. Kali ini aku mau buat sesuatu yg beda dari yg lainnya. Siapa tau kali ini greget lagi seperti cerita yg kemaren-kemaren.

Sedikit info tentang burung merpati, burung merpati pernah di jadikan kurir pada saat perang dunia ke-2. Peran merpati pada saat itu sebagai kurir pengantar pesan dan banyak juga burung merpati di buru buat di jadikan makanan pada saat krisis pangan di india. Info menarik dari burung merpati itu adalah Burung Merpati adalah burung yg setia sama pasangannya, tak salah kue di pernikahan-pernikahan banyak hiasan sepasang burung merpati sedang terbang membawa rangkai bunga.

Di saat aku sedang sedih kala itu, seorang gadis menghampiriku dan duduk di sebelah bangku taman yg sedang aku duduki itu. Kelihatannya gadis yg duduk di sebelahku itu sedang sedih mungkin, seperti hal nya denganku yg di tinggal nikah sama tunanganku. Gadis itu kelihatannya sedang patah hati gara-gara baru di putusin sama pasangannya. Aku beranikan untuk meneggur cewek itu tapi keburu cewel itu pergi meninggalkanku sendirian. Tak kala itu suara desuhan angin dan nyanyian burung saling bersahut-sahutan. Aku yg tak mau kembali kedalam keterpurukanku mencoba melupakan masa laluku dalam sekejap itu juga. Dia yg aku sayangi sejak lima tahun lalu malah ninggalin aku dan nikah sama temen semasa ia SD dulu.

Tega emang, tapi mau bagaimana lagi? Dia berarti belum jodohku, kalau seandaiinya waktu bisa di putar kembali. Aku pengen sekali merubah kenang-kenangan indahku bersamanya dulu, agar dia ingat aku slalu. Masa keterpurukanku aku lalui begitu saja begitu juga waktu yg harus aku kejar untuk mengapai masa depanku yg sempat terhenti gara-gara dia. Perkenalkan nama saya Rio edy waluyo, Direktur utama di salah satu tambang terbesar yg ada di kalimantan. Umur ku sekarang 23 tahun, umur yg masih produktif untuk menjalani kisah cinta dan bahtera rumah tangga memang tapi pekerjaanku yg menyibukanku tak memberikanku waktu untuk beristirahat dan menjalani masa-masa muda dengan tenang dan santai.

Aku menjadi direktur utama di perusahan ayah aku yg telah dulu mendahuluiku sejak tiga tahun lalu pada saat aku masih S1 Jurusan Sastra Bahasa. Semenjak kematian orang tuaku itu aku semakin sibuk dengan kuliah dan urusan kantorku. Ibuku sendiri juga sibuk dengan salah satu urusan cabang restoran makanan di beberapa kota besar di indonesia.

 

Hari ini aku terbebas dari tanggung jawabku sebagai direktur, aku hanya akan fokus ke kuliahku yg sempat terhenti tiga tahun gara-gara aku sibuk dengan perusahaan. Aku menberi tanggung jawab besar kepada bawahaanku selama beberapa tahun buat mengantikanku sebagai direktur utama di perusahaan peninggalan papa aku itu. Saat aku sedang berjalan di koridor kampus, aku secara tidak sengaja melihat gadis yg kemaren sedih di sebelahku itu. Aku lihat cewek itu sedang kerepotan membawa buku yg segitu banyaknya dalam bekapan tangan kecilnya itu.

 

“Duh pakek jatoh segala sih ini buku, bikin repot aja deh..” sesekali aku mendengar gerutu dari cewek yg kemaren duduk di sebelahku. Aku yg kasihan di buatnya mencoba untuk memberi pertolongan ke padanya tapi dia berkata apa…?

 

“Tidak, Terimakasih. Aku bisa sendiri..”

 

Emang sih kalau di gituiin bawahannya pengen marah dan kesel sendiri, tapi aku cewek itu sedang dalam masa-masa sulit seperti yg aku alami kemaren. Setelah pulang dari ngampusku hari ini. Aku lihat cewek tadi pagi sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya di meja bawah pohon yg sangat teduh dan rindang itu.

 

“Aku boleh ikutan duduk nggak?” tanyaku sopan.

 

“Boleh, silahkan” balasnya tanpa melihat kearaku, sambil menyelesaikan pekerjaannya.

 

Aku langsung duduk di depan meja yg sedang di gunakan oleh cewek di depanku itu buat mengerjakan tugas kuliah hari ini. Aku juga mengeluarkan laptop dan setumpukan buku paket yg sangat tebal dari dalam tasku. Ku ketikan kalimat yg tertulis di buku paket depan ku itu ke layar laptop kata demi kata. Sekian lamanya aku mengetikan tugasku kata per-kata ke layar, tanpa aku sadari sejak tadi cewek yg duduk di depanku itu tadi tlah pergi meninggalkanku duduk sendirian di bawah pohon yg sangat teduh.

 

 

“Eumm siapa sih gadis yg aku temui kemaren, aneh banget deh? Setiap aku dekati pasti slalu menghindar begitu” pikirku dalam hati.

 

Tiga bulan lamanya aku melanjutkan study ku yg sempat terhenti selama tiga tahun itu, dan sampai saat ini aku belum tau nama dari cewek yg aku temui itu. Emang misterius benar cewek itu. Saat aku sedang berbelanja kebutuhanku di salah satu pusat perbelanjaan yg ada di Jakarta. Aku melihat Cewek yg kemaren itu sedang di ikuti oleh dua laki-laki berbadan besar dan kekar, aku yg mempunyai firsat tidak baik tentang cewek itu. Tanpa berfikir panjang langsung saja aku ikuti cewek itu sampai di parkiran mobil di pusat perbelanjaan di Jakarta. Dan benar saja dugaanku, aku lihat cewek itu sedang di todong menggunakan Pistol tepat di kepalanya.

 

“Serahin semua barang-barang lo, atau lo akan kami dor di tempat!!” kata salah satu dua orang itu sambil menodong pistol ke kepalanya, dan orang yg satunya lagi mengledah barang-barang yg ada di dalam mobil. Aku yg pada saat itu tidak bisa berfikir jernih itu, gara-gara orang itu menodongkan pistol ke kepalanya itu. Aku berfikir sejenak untuk melawan kedua orang perampok itu dengan tangan kosong tanpa bantuan dari senjata apa pun.

 

“Kalau aku lawan kedua perampok itu mungkin positif menang yg akan aku dapatkan hanya 30% nya saja. Kalau aku lawan mungkin aku tidak bisa menang, toh badan aku juga kecil. Kalau aku nggak lawan mereka berdua, nyawa gadis itu bisa melayang” ucapku dalam hati sambil terus berfikir jernih.

 

 

“Persetan dengan keselamatan, kalau gua gak nolongin cewek itu. Mungkin cewek itu tidak akan selamat” kataku lagi, sambil berlari kearah perampok dan menghajar salah seorang yg sedang menodongkan senjatanya itu.

 

“Siapa lo? Main campur urusan orang aja, mau ikutan mati ya lo?” kata salah seorang perampok sambil menembakan pistolnya kearahku. Seketika itu juga aku menghindar dari proyektil panas yg di tembakannya itu.

 

“Lepasin tuh cewek, kalau nggak gue akan habisin kalian berdua!!” kataku sambil berlari zig-zag menghindari setiap tembakan salah seorang perampok itu. Sedangakan salah seorang perampok laiinnya mengikat tangan dan kaki cewek itu di dalam mobil dan langsung membantu temennya yg sedang kwalahan adu jotos denganku.

 

“Hebat bener lo, lo bisa ngalahin temen gue segitu mudahnya tanpa lo kelelahan seperti itu. Tapi lo nggak akan semudah itu ngalahin gue” kata temen salah satu perampok tiba-tiba memukulku dari belakang tanpa aku sadari aku terjungkuk ke tanah.

 

Bugggzz!!!

 

“Jangan pernah sekali lagi lo ngebuat jatuh gue ketanah seperti ini. Atau lo akan gue abisin” kataku yg secara cepat memukul balik orang yg memukul ku tadi dari belakang. Aku hajar habis-habisan kedua perampok yg berbadan kekar dan tinggi besar itu. Setelah mereka terkapar di lantai parkiran mobil, aku langsung melepaskan semua ikatan cewek yg tadi di ikat sama salah satu perampok.

 

“Kamu nggak apa-….”

 

 

Dorrr!!!  Suara letupan senjata api terdengar dari arah belakangku, dan benar saja salah satu perampok itu menembak punggung belakangku sebelah kanan tepat. Kedua perampok itu membawa kabur hasil rampokannya dari area parkiran mall. Satpam dan polisi berdatangan ke TKP dan membawaku ke Rumah Sakit buat di rawat. Dan cewek yg sedang bersamaku membawa ke rumah sakit itu sedang menunggu di luar ruangan oprasi, gadis itu kelihatannya cemas sekali kalau-kalau hal buruk akan menimpaku, sedari tadi cewek yg membawaku ke rumah mondar-mandir di depan ruang oprasi. Saat dokter yg memimpin operasiku di punggung, cewek itu langsung menghampiri dokter yg menanganiku itu.

 

 

“Dok, gimana keadaannya cowok itu dok? Apa dia baik-baik saja dok?” Tanya Cewek itu dengan cemasnya.

 

“Maaf sekali mbak, harap kecil untuk hidup mas nya itu sangat kecil. Karena proyektil peluru panas yg di tembakan ke mas nya hampir saj mengenai jantungnya. Dan mas nya itu juga ke habisan darah, kami sudah mencoba membantu mas nya untuk hidup, tapi stock darah golongan mas nya itu langka sekali. Stock bank darah di rumah sakit ini sudah habis, dan kami sudah menghubungin Pusat Bank Darah PMI dan Bank Darah Golongan mas nya ini sudah habis sejak seminggu yg lalu. Mas nya bisa tetap hidup lagi, jika ada orang yg mau mendonorkan darahnya ke mas nya” ucap dokter.

 

“Emang golongan darah cowok itu apa dok?”

 

“AB positive..”

 

“Cepat dok, ambil darah saya saja, agar cowok yg sudah menolongku dari perampok itu bisa selamat” kata cewek itu.

 

“Emang golongan darah mbaknya apa?” tanya dokter.

 

“AB positive dok…” balas cewek itu.

 

“Baiklah kalau begitu, silahkan masuk keruangan…” ucap Dokter, seketika itu juga darah cewek yg aku tolong itu di ambil oleh dokter dan di masukan ketabung invus. Satu hari tlah berlalu dan cewek yg sudah menolongku dari maut itu masih tetap saja berada di pinggir tempat tidurku. Kakak dari cewek itu datang menjemput adiknya yg sedari satu hari lalu tidak pulang-pulang ke rumah nya. Saat kakak dari cewek itu sudah berada di dalam ruangan di mana aku tak sadarkan diri untuk waktu yg lama, kakak cewek itu memarahi habis-habisan adiknya di ruangan itu juga.

 

“Udah kak marah-marahnya?, kalau kakak mau marahin aku jangan di sini tempatnya. Lebih baik kakak ngomong diluar aja jangan disini” kata Adiknya sambil menarik kakak nya keluar dari ruangan.

 

Di luar ruangan tempat aku di rawat, kakak beradik itu masih saja ribut.

 

“Ngapain sih lu dek, pakek nungguin orang yg nggak kenal lo kayak gitu. Toh apa untungnya buat lo? Lo juga udah ngedonorin darah buat dia jadi impas kan gak ada balas budi-budian lagi. Sekarang lo pulang nggak, mama cemas tuh sama lo, ayo pulang” kakak si cewek itu menarik pergelangan tangan adiknya itu untuk pulang tapi si adiknya tidak mau mematuhi ucapan kakaknya.

 

“Emang sih kak, aku udah ngedonorin darah buat dia, tapi dia kan juga yg udah berjasa besar buat aku. Kalau nggak ada dia dulu di parkiran mobil, mungkin kakak dan mamah nggak akan bisa melihat aku lagi, jadi sebelum dia sadar masa-masa kritisnya aku nggak akan pulang. Kalau kakak mau pulang, pulang sendiri aja sana, nggak usah maksa buat adek ikutan pulang” kata si Adik sambil masuk lagi kedalam ruangan.

 

“Oke fine, kalau itu mau lo dek, dasar adek nggak berguna” emosi kakak nya sambil pergi pulang. Saat cewek yg sedari kemaren nungguin aku di rumah sakit sedang terlelap tidur, aku secara dikit demi sedikit menunjukan eksitansi kehidupanku mulai kembali lagi. Jari jemari ku sedikit demi sedikit ku gerakan perlahan, dan aku juga mencoba perlahan-lahan mencoba membuka kelopak mataku perlahan-lahan. Pemandangan kedua mataku masih kabur, pada saat pemandangan mataku sudah kembali, cewek yg sedang tidur di pinggir tempat tidurku itu terbangun dan mendapati aku sudah siuman dari koma ku yg sudah memasuki hari ke empat.

 

“Eh kamu sudah siuman ternyata..”

 

“Siapa kamu? Dan dimana aku sekarang ?” tanyaku ke cewek yg sedang duduk di sebelah tempat tidurku itu.

 

“Aku Sinka Juliani orang yg pernah kamu tolong dulu dari para perampok itu. Sekarang kamu lagi di rawat di rumah sakit”, kata cewek di depanku itu yg bernama Sinka Juliani.

 

“Oh, sudah berapa lama aku tak sadarkan diri disini?”

 

“Kamu koma sudah empat hari lamanya, tapi untunglah kamu bisa sadarkan diri dengan cepat, kata dokter kamu akan siuman dengan waktu yg sangat lama, karena peluru yg menembus punggungmu itu hampir saja mengenai titik vitalmu(jantung)” kata Sinka.

 

“Oh..”

 

Pada saat aku sedang berbincang dengan gadis yg bernama Sinka itu. Orang tua yg sangat aku sayang itu tiba-tiba masuk ke dalam ruanganku dan langsung menangis di pelukanku.

 

“Mama kenapa sih nangis kayak gini, Rio nggak apa-apa kok mah. Udah donk mama nggak usah nangis gitu, lagian juga Rio udah siuman juga kan?” Aku sambil menenangkan mamaku.

 

“Tapi mama cemas sama kamu sayang, kemaren pas mama lagi ada bisnis makanan di jepang. Mama dapat kabar dari temen kamu yg bernama Sinka, kalau kamu itu ketembak sama perampok. Mama pada saat itu shock dan terduduk terdiam di lantai cukup lama, untung ada teman-teman mama yg menenangkan mama sayang. Tapi kamu nggak apa-apa beneran kan?” Mamaku sambil menghapus air matanya.

 

“Iya mah, Rio nggak apa-apa kok” ucapku.

 

“Oh iya mah, ini kenalin temen baru Rio” kataku sambil memperkenalkan cewek di sebelahnya mamaku itu ke mamaku sendiri.

 

“Hai tante nama aku Sinka..” ucap Sinka sambil mencium tangan mamaku.

 

“Iya sayang, makasih ya kamu udah ngehubungi tante kemaren.”

 

“Iya tante sama-sama” balas Sinka sambil tersenyum.

 

Saat jam 12 set, pada saat itu mama ku sedang keluar makan siang sebentar di luar, gadis yg bernama sinka itu di suruh menemaniku di dalam ruangan rumah sakit yg pengap ini. Aku tanya soal perampokan yg kemaren ke sinka, sinka hanya menjawab kalau ia tidak apa-apa tapi barang-barang yg baru di belinya habis di bawa lari oleh para perampok itu.

 

 

Tokk!!

 

Tokk!!

 

 

Suara ketukan pintu terdengar, pada saat aku sedang asik berbicara dengan Sinka itu.

 

“Permisi mas-mbak, makanannya aku taruh di meja ya.” kata Suster sambil meletakan nampan di atas meja pojok dekat tempat duduknya Sinka.

 

“Iya sus, makasih.”

 

Suster yg menaruh makanan itu langsung keluar dari dalam ruangan tempat aku di rawat.

 

“Sin, kamu nggak pulang? Nanti keluarga kamu nyariin kamu loh, kalau kamu nggak pulang-pulang gini” ucapku sambil mencoba mengambil makanan di atas meja sebelahku, tapi sayang aku nggak nyampe nampan makanan yg ada di sebelahku itu.

 

“Jangan banyak gerak dulu kamu, kamu itu belum benar-benar pulih dari sakit kamu. Sini biar aku saja yg suapin kamu, lagian kamu juga belum bisa makan sendiri kalau keadaanmu masih seperti ini” kata Sinka mengambil makanan di atas meja sebelahnya.

 

“Tapi…”

 

“Suuusstt!!!.. Nggak usah banyak bicara dulu yg penting kamu sehat dulu, lagian ini juga balas budi aku ke kamu. Pada saat kamu nolongin aku dari para perampok itu” ucap Sinka sambil menyuapiku nasi, sendok demi sendok. Aku hanya diam saja dan sambil memakan nasi yg di suapi oleh sinka.

 

“Sekarang kamu minum obat dulu ya, biar kamu lekas sembuh dan menyelesaikan Kuliah kamu yg sempat tersendat selama tiga tahun itu” kata Sinka, deg seketika itu juga aku kaget, bagaimana dia tau kalau kuliahku sempat tersendat selama tiga tahun. Aku hanya membalas ucapannya Sinka yg barusan dengan senyum saja tanpa mengelontorkan satu kata bahkan dua kata pun tak aku glontorkan.

 

Setelah beberapa hari berada di dalam.rumah sakit dan luka bekas jahitan dokter pun sedikit demi sedikit juga sudah mulai pulih. Aku yg sudah kenal dengan cewek yv setiap kali aku dekati itu slalu menghindar, bahkan setiap hari atau sehabis kuliah. Aku slalu mengajak Sinka buat mengerjakan makalah bareng, perasaanku yg semakin campur aduk ketika dekat-dekat dengan sinka itu pun udah mulai tak tertahankan lagi. Hari ini adalah hari dimana aku akan menyatakan perasaanku ke Sinka. Di Taman belakang kampus, aku lihat Sinka sedang duduk sendirian di pinggir kolam air mancur sambil mengerjakan tugas skripsi akhirnya itu.

 

 

“Dorrr!!!…”

 

 

“Huuftt.. Kamu ini ngaget-ngagetin aku saja sih kerjaannya. Gimana tadi kalau aku jantungan hayoo?” kata Sinka sambil memukul bahuku.

 

 

“Hehehe… Maaf gendut etsss…” aku langsung menutup mulutku seketika itu juga.

 

“Apa yg barusan kamu bilang?” Sinka sambil melotot ke arahku.

 

 

“Nggak kok Sin, tadi aku bilang Maaf Cantik gitu aja” kataku Bohong.

 

“Beneran? Kayaknya tadi kamu bilang aku gendut deh?” ucap Sinka yg masih curiga.

 

“Beneran, aku tadi bilang kamu Cantik bukan Gendut kok” balasku, sambil menyakinkan Sinka.

 

“Hmm yaudah deh, aku percaya”,

 

“Emm.. Ngapain kamu datang kesini?” tanya Sinka

 

“Nggak apa-apa cuman mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu” kataku.

 

“Gini sin, aku lagi suka sama seseorang tapi kira-kira cewek yg aku suka itu suka nggak yah sama aku? Aku itu suka banget sama dia sejak pertama aku kenal gitu, tapi aku malu ngungkapin semua isi hati ku ke cewek itu” kataku.

 

“Nggak usah malu-malu lagi, toh juga kalau kamu nggak cepat-cepat ngungkapin isi hati kamu ke cewek yg sedang kamu suka itu entar cewek yg kamu suka di ambil orang loh.”

 

“Itu sih yg aku takutin sin, tapi kalau aku ungkapkan semua isi hatiku ke cewek itu. Dia mau nggak nerima aku ini” Aku sambil menatap kearah Sinka terus.

 

“Btw nih, kalau boleh tau aku, emang siapa cewek yg sedang kamu suka itu” tanya Sinka.

 

“Kamu…” ucapku tiba-tiba.

 

 

“Hah….!!! Jadi selama ini kamu punya hati sama aku gitu” Seketika itu juga Sinka menghentikan mengetikan kalimat demi kalimat kedalam laptop nya.

 

“Iya sin, aku suka kamu semenjak aku kenal kamu dulu, mau nggak kamu jadi pendamping hidup aku untuk selamanya” kataku, sambil berjongkok di depannya.

 

“Maaf yo, aku nggak bisa menerima kamu…” ucap Sinka sambil nangis dan langsung meninggalkan dari taman belakang kampus.

 

 

Satu minggu tlah berlalu semenjak aku mengungkapkan isi hatiku terhadap Sinka, selama itu juga Sinka tertutup sama aku, dan dingin banget sama aku. Sehabis selesai mata kuliah nya itu Sinka langsung pulang kerumahnya tanpa mengerjakan tugas akhirnya di kampus seperti biasanya. Pada hari ini aku berencana mencegat Sinka di depan pintu keluar kelasnya itu. Pada saat Sinka keluar dari dalam kelasnya, dan pada saat itu juga Sinka melihatku, sinka langsung berjalan menghindar dariku cukup jauh, aku langsung mengejarnya. Ada saatnya Sinka menghentikan langkah jalannya. Sinka langsung berbalik badan dan langsung menamparku dengan kerasnya.

 

Plakk!!

 

“Dengar ya lo, lo jangan pernah kejar-kejar gue lagi pokoknya..” kata Sinka sambil nangis, aku yg masih memegangi pergelangan tangannya sinka itu langsung memeluk badannya sinka.

 

“Tapi kenapa sin, kenapa kamu slalu menghindar dariku sin?” Tanyaku, tapi Sinka tetap saja tak mau menjawab dia sekarang malah meninggalkanku. Saat sepulang dari ngampus, aku langsung menghampiri rumahnya Sinka. Tapi tetap Saja aku di halang-halangi oleh kakaknya. Agar aku tak bisa ketemu sama adiknya itu.

 

“Tapi kak, aku pengen ketemu sama kak, aku pengen tau kenapa dia slalu menghindar dariku terus kak” ucapku  terus mencoba masuk kedalam rumahnya, tapi aku tetap saja tidak bisa masuk kedalam gara-gara kak Naomi, kakaknya Sinka mendorongku sampai aku tersungkur ke lantai.

 

“Dengerin ya lo, gara-gara lo, adek kesayangan gue itu nangis terus. Karna lo juga adek gue jadi jarang keluar dari kamarnya. Awas aja sampai lo ngeyel buat ketemu adek gue itu lagi, gue akan beri pelajaran lo. Lagian Sinka juga udah di jodohin sama Bokap gue, camkan itu. Jadi lo jangan harap akan bertemu dengan Sinka lagi” kata Kak Naomi sambil membanting pintu depan rumah di depan rumahku.

 

Seketika itu juga aku terdiam di depan pintu rumahnya. Malam hari nya tiba, aku masih tak percaya kalau gadis yg aku suka sejak pertama kali aku bertemu dengan doi itu jadi begini semua.. Aku yg tak bisa tidur kala itu, aku langsung berjalan-jalan di sekitar perkomplekan rumahku itu. Dan kebetulan juga rumahnya Sinka juga masih satu komplek denganku. Pada saat aku melintas di depan rumahnya Sinka, kala itu sudah menunjukan pukul 12 set malam. Lampu kamarnya Sinka masih menyala, kala itu juga aku mencoba melemparkan seekor burung merpati putih yg di kakinya sudah aku selipkan secarik kertas kecil. Burung merpati yg aku terbangkan itu mendarat pas di depan jendela kamarnya Sinka.

 

 

Tukk!!!

 

 

Tukk!!!

 

 

Tukk!!!   Patukan paruh burung merpati yg sedang mematuk kaca jendela kamarnya itu.

 

“Suara apa itu barusan ya?” ucap Sinka dalam hati sambil mencari tau darimana datngnya suara ketukan itu. Pada saat Sinka sedang mendekat kearah jendela kamarnya, Sinka melihat seekor burung merpati putih yg sedang berdiri di depan kaca jendelannya itu.

 

“Eh ada burung merpati..” Sinka langsung mengambil burung merpati putih itu.

 

“Eh kertas apa ini?” ucap Sinka penasaran, pada saat Sinka membuka gulungan kertas kecil itu. Sinka mendapati tulisan tangan di kertas yg ia ambil dari kaki burung merpati putih tadi.

 

Dear Sinka Juliani.

 

Maaf ya kalau selama ini aku punya salah sama kamu, aku nggak pengen kamu sedih lagi sin, aku pengen kamu tetap tersenyum setiap hari. Aku tau kalau kamu itu sudah di jodohin sama ayah kamu dengan cowok pilihannya itu. Maka nya kamu slalu saja menghindar dariku setiap hari. Aku nggak mau jadi orang ketiga di hubungan kamu dengan cowok pilihan ayah kamu itu. Maaf kalau dulu aku juga pernah bikin kamu marah+kesel, aku nggak akan pernah lagi menganggu hidup kamu lagi. (-:

 

Salam sayang Rio, anak perusak hubungan orang.  Begitulah isi dari secarik kertas yg aku ikatkan di kaki burung merpati yg aku terbangkan tadi kearah jendela kamarnya Sinka.

 

“Rio..!!” Ucap Sinka sambil menengok ke arah jendela luar kamarnya, dan tak di dapati aku yg sedang di luar.

 

Pagi hari nya, aku bangun dari tidurku dengan malasnya. Dan rasanya aku pengen tetap di atas tempat tidur untuk waktu yg lama sekali agar semua masalah-masalahku hilang begitu saja, tapi tetap aku harus bangun dari tidurku. Karena aktifitasku sebagai seorang mahasiswa di semester akhir harus di selesaikan segera. Di kampus, aku melihat Sinka yg tengah sedang belajar untuk quiz hari ini. Ia melihatku yg sedang duduk-duduk sendirian di bawah pohon beringin yg cukup besar dan teduh, sinka mencoba menghampiriku tapi aku mencoba menjauh dari nya agar aku dan dia sama-sama bisa melupakan masa lalu kita itu. Di kantin pada saat aku sedang makan siang tiba-tiba ada burung merpati yg terbang ke arahku, dan sempat membuat ke gaduhan juga bagi mahasiswa lainnya. Aku mencoba menangkap burung merpati putih itu tapi aku tidak bisa-bisa menangkap burung merpati putih itu. Sampai-sampai aku mendapatkan ide kotor buat menyelepet burung merpati itu menggunakan ketapel banci. Dan benar saja selepetanku mengenai burung merpati yg sedang terbang itu. Memang cara ku itu kasar dan tidak ber perikemanusiaan tapi mau di kata lagi, hanya itu cara satu-satunya agar burung itu mau mendarat ke tanah.

 

Saat burung yg aku selpet tak bisa terbang lagi, aku menemukan secarik kertas yg di ikat di kaki burung merpati putih itu. Aku baca tulisan tangan yg sangat bagus itu di secarik kertas kecil itu.

 

 

Dear Rio.

 

Aku harap kamu besok bisa datang ke acara pertunanganku itu. Walau pun aku tau kalau kamu itu tak mau datang ke acara tunanganku dengan cowok pilihan ayahku itu. Seenggaknya aku sudah memberi tahu mu dengan secarik kertas seperti kemaren kamu lemparkan burung merpati ini sampai ke depan jendela kamarku. Maaf kalau aku bikin sakit hati kamu, aku harap kamu besok bisa datang keacara pertunanganku dengan laki-laki pilihannya ayahku itu.

 

Salam sayang dan cinta Sinka Juliani *emot icon love

 

Aku yg tau pesan burung ini dari Sinka, aku langsung obati burung merpati yg aku selpet tadi menggunakan ketapel banci, secarik kertas kecil yg di ikat di kaki burung merpati itu langsun aku buang kedalam tong sampah. Hari diman acara pertunangannya Sinka dimulau, jam 7 set sebelum acara pertemunanganny Sinka denga  laki-laki pilihannya Ayahnya itu dimulai. Sudah banyak para tamu undangan yg sudah hadir di ballroom hotel tapi acara pertunangan itu belum dimulai-mulai. Sinka yg saat itu masih celingak-celinguk melihat kearah pintu itu pun langsung di hampiri oleh calon suami pilihan ayah nya hg bernama Rizal dinnur yg biasa di panggil Ical oleh kakaknya Sinka kak Naomi.

 

“Kamu kenapa celingak-celinguk seperti itu sayang. Ada yg sedang kamu tunggu ya?” kata Ical

 

“Nggak, yuki kita mulai saja. Acara pertunangan kita ini” b alas Sinka sambil melempar senyum palsu kearahnya Ical. Acara pertunangannya itu dimulai tanpa aku, aku yg masih di rumah dan mulai berbenah karena aku besok sudah harus terbang ke Jerman karena bisnis batu baraku di sana melonjak naik drastis. Jam 2 set aku flight dari bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Sehabis Sinka selesai kuliah, seperti biasanya Sinka duduk di tempat kesukaan kami  berdua dulu. Satu bulan telah berlalu semenjak aku tak pernah datang lagi ke kampus. Sinka setiap hari mencari tahu alamat rumahku ke teman-temanku dan perjuangan sinka selama ini membuahkan hasil yg manis. Sinka mendapatkan alamat rumahku dari kawan terdekatku. Setibanya Sinka di depan rumahku. Sinka di hampiri oleh satpam komplek rumahku, dan satpam yg aku titipkan surat jika ada cewek yg datang ke rumahku itu langsung saja serahkan surat yg aku titipkan itu ke cewek yg datang ke rumahku.

 

“Makasih pak..” kata Sinka, sambil membuka suratku, dan membaca semua isi surat yg aku jadikan satu di angklop.

 

 

“Apa kabar Sin?. Lama ya aku udah nggak masuk ke kampus lagi, maaf kalau kamu bertanya-tanya kenapa aku tak pernah datang lagi ke kampus?. Aku sibuk denga urusan bisnis batu bara milik ayahku yg ada di jerman sana. Setidaknya kan kamu udah nggak ada yg ngeganggu kamu lagi. Maaf ya kalau malam dimana kamu tunangan sama dia, aku nggak datang. Karena aku harus berbenah-benah. Kamu harus bahagia sama dia, jangan sedih ya? Aku nggak mau kalau orang yg aku sayang itu sedih kayak gitu. Lupaiin saja aku ya? Kamu harus bahagia sama dia ya. Aku di sini baik-baik saja kok sin, aku nggak akan balik lagi ke Indonesia. Aku di Jerman sana sudah hidup sama Calon Istriku kelak, kamu jangan nangis ya. Maaf ya  kalau aku buat kamu sedih+kecewa sama aku, aku pengen kamu ngelupaiin aku. Hiduplah dengan bahagia sama cowok pilihan ayah kamu itu.” 

 

Sinka yg sudah selesi membaca semua isi suratku itu sambil nangis, Sinka langsung pulang kerumahnya dan langsung mengunci pintu rumahnya. Hari dimana Sinka akan menikah dengan Ical, cowok pilihannya Ayah nya itu. Pada saat Sinka sudah selesai di rias oleh make up pengantin, Semenjak semalam jam 12 set’an Sinka sudah berbenah dan memasukan semua bajunya kedalam koper besar. Saat kedua orang tuanya dan kakaknya sedang berada di depan rumah, sinka mencoba kabur dari kamarnya dengan lewat jendela kamarnya. Sinka langsung menyetop Taxi yg akan membawanya ke bandara intenational Soekarno-Hatta Jakarta. Sampai saat ini Sinka sudah lulus dari S2an nya. Sinka telah merencanakan kabur dari rumah dan membatalkan perjodohan nya dengan laki-laki pilihan ayahnya itu sejak lama, pas sinka sudah selesai membaca semua isi surat-suratku itu.

 

“Mah pah, Sinka Kabur mah!!” Ucap kak Naomi sambil berteriak.

Orang tuanya Sinka panik dan kakaknya Sinka kak naomi menemukan sepucuk surat yg di tinggalkan Sinka di atas tempat tidurnya.

 

“Dear orang yg Sinka sayang selama ini.

 

Pasti kakak,mama,papa lagi nyariin Sinka ya?

Kalian nggak usah nyariin sinka ya, sinka baik-baik aja kok disini? Sinka kabur dari rumah karena sinka tidak mau di jodohin seperti zamannya siti nurbaya. Sinka mau ngejar cinta sejati sinka di jerman sana, kakak dan mamah jangan khawatirin Sinka lagi ya? Sinka udah besar, udah bisa jaga diri sendiri. Kaliam jaga kesehatan ya? Pasti sinka akan balik pulang lagi ke rumah setelah sinka udah dapetin cinta sejati sinka itu. Dan memperlihatkan keponakan Kak Naomi yg sangat cantik itu kelak. Maaf kalau Sinka selama ini bikin repot kak naomi terus, maaf juga kalau sinka banyak salah sama kak naomi. Salam sayang Sinkan Juliani”

 

 

Setelah kak Naomi membacakan Sepucuk surat dari Sinka adik tersayangnya itu. Kak naomi menitihkan air mata begitu juga dengan kedua orang tuanya itu. Jam 10 set pagi, pesawat yg akan membawa Sinka ke Negara Radikalisme itu pun tiba. Sinka sudah berada di dalam pesawat yg sedang mengudara ke negara para Nazi itu.

 

The ends…..

 

 

Tunggu saja bagian kedua dari A pair of doves love. Di jamin tidak kalah seru dengan bagian pertamanya ini. Maaf juga kalau ada sedikit typo tadi di atas. Maaf kalian ini gua nggak kasih Qoutes dulu,.karena baru bagian pertamanya.

 

 

Created:@lastwota

Iklan

5 tanggapan untuk “A Pair Of Doves Love

  1. Kalo gue boleh komen nih bang. Gue liat sudut pandangnya aneh bang. Orang pertama mana bisa mengetahui apa yang dialakukan orang kedua? Mendingan kalo gitu pake sudut pandang orang ketiga aja sekalian. Oke sehitu aje bang. Maaf kalo gue bikin lu tersinggung. Lanjut bang (y)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s