You’re Mine part 5

LEON POV

“Bunda, Yupi laper” teriak Yupi saat turun dari gendongan Rizal. Yupi menghampiriku yang berdiri diambang pintu. Aku menggeleng kecil.

“Bunda udah pulang?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Udah dari tadi. Makan malam juga udah siap” balasku sambil menutup pintu setelah Rizal masuk. Kami bertiga berjalan menuju meja makan.

Di sana sudah ada Bunda yang tengah menata beberapa piring dengan sebelah tangan sedangkan tangan yang lain menyangga ponsel di telinga.

“Nggak usah aneh-aneh kayak gitu, Kamu bukan remaja lagi Rio” kata Bunda gemas.

Biar Aku tebak, Pasti Ayah saat ini sedang merengek meminta sesuatu yang kekanakan. Kali ini apa lagi? Setelah pada jadwal lembur sebelumnya Ayah meminta bunda untuk mengaktifkan video call semalam suntuk dan jelas saja hal itu membuat Bunda menggerutu.

‘Tapi Aku pengen denger suara Kamu, Vi’ suara Ayah di sebrang sana terdengar. Bunda memutar matanya.

“Udah dari setengah jam yang lalu Kamu denger suara Aku” kesal Bunda, mengambil nasi untuk Aku, Yupi, dan Rizal yang sudah duduk di depan meja.

“Kita semua mau makan malam. Selamat makan, Ayah!” tanpa menunggu jawaban dari Ayah, Bunda langsung mematikan sambungan sekaligus ponselnya. Kami bertiga yang memperhatikan Bunda tertawa kecil.

“Ayah minta apa Bun?” tanyaku. Bunda menengguk air putih dan menghela nafas.

“Ayah minta dinyanyiin lagu romantis.” jawab Bunda membuat Yupi dan Rizal itu tertawa. Aku hanya menggeleng.

Sepertinya Aku tahu dari mana Yupi mendapat bakat membuat orang lain kesal.

Yupi tidak sama dengan Bunda yang dingin dengan pembawaan tenang. Tapi Yupi persis dengan Ayah yang selalu saja mempunyai cara untuk membuat orang yang disayangnya kesal tetapi juga bahagia.

Lima belas menit berlalu, kami semua sudah menyelesaikan aktivitas mengunyahnya kecuali Yupi. Yupi masih saja mengunyah dengan mata yang fokus dengan deretan kalimat di depannya.

Yupi terlihat sangat serius membuat Rizal gatal untuk mengganggunya.

Mulai dari menarik rambut, menggeser mangkok berisi es krim itu sampai meniup-niup leher Yupi itu semuanya Rizal lakukan. Bahkan Aku ikut membantunya.

Decakan dan erangan kesal Yupi membuat Rizal dan Aku terkekeh.

Sampai suara ponsel Berdering. Ternyata ponselku yang berbunyi. Kedua alisku saling bertaut saat melihat id caller di layar ponselku.

“Ponsel bunda mati?” tanyaku. Bunda yang tengah membereskan meja makan dibantu oleh asisten rumah tangga mengangguk.

“Halo Yah?” sapaku saat sudah menggeser ikon hijau dan meletakkan benda persegi itu di atas meja. Aku sengaja menloudspeakernya.

‘Bunda mana?’ suara berat Ayah terdengar. Bunda yang tengah mencuci piring menoleh.

“Kalo masih minta dinyanyiin, bilang Bunda nggak ada” teriak Bunda. Yupi mendongakkan kepalanya.

“Kan nggak boleh bohong Bun” Bunda menghela nafas melihat ekspresi polos Yupi itu.

Terdengar kekehan kecil dari arah ponselku
Pasti Ayah tengah tersenyum menang sekarang.

‘Sepuluh menit lagi aku masuk ruang operasi, Cuma kamu yang bisa nenangin Aku’ kata Ayah membuat Bunda menghela nafas menyerah dan mengambil ponselku.

Bukankah sudah belasan tahun Ayah menjadi Dokter dan selama itu Ayah sudah melakukan banyak operasi? Kenapa dia masih perlu ditenangkan? Macam Dokter magang saja, Cibirku dalam hati.

Ini urusan orang dewasa tidak seharusnya kami ikut campur. Aku memberi isyarat supaya naik ke atas. Rizal mengangguk dan mengikuti ku.

Namun saat sudah di ambang pintu Rizal berbalik dan memutar matanya saat melihat Yupi belum juga beranjak dari kursinya. Ia menarik gadis itu untuk segera meninggalkan meja makan.

Yupi yang ditarik hanya diam dengan mata yang masih saja fokus dengan Novel di tangannya membiarkan Rizal menariknya.

***

RIZAL POV

“Yup….”

“Hmm?”

Aku memutar mata saat Yupi tidak juga menghiraukanku. Setiap kali Aku bertanya Yupi hanya mengangguk, menggeleng ataupun bergumam tidak jelas.

Aku menghela nafas bosan. Aku ada di kamar Leon, duduk dengan bosan di sofa bersebelahan dengan Yupi.

Gadis itu masih saja sibuk dengan bukunya sejak selesai makan malam tadi. Tidak jauh dengan kembarannya, Leon juga terlihat sedang sibuk memakan materi dari tumpukan buku Ensiklopedia di mejanya.

Jadi, di ruangan ini hanya Aku yang tidak memiliki aktivitas lain selain bernafas.

“Dasar nerd!” ledekku.

“Gue cuma—”

“Nerd.” ledekku lagi, Aku sengaja memotong kalimat Leon. Leon berdecak.

Yupi di sebelahnya terlihat tidak terusik sedikitpun. Gadis itu hanya melirik sekilas dan mencebik. Hanya itu setelahnya matanya hanya fokus pada kumpulan huruf yang membuatku pusing.

Leon tersenyum miring. Sepertinya ia menyadari kebosananku. Bagaimana tidak bosan hampir setengah jam Aku berusaha mengganggu Yupi tetapi tidak menghasilkan sesuatu.

Lelah, tidak juga berhasil membuat Yupi mengalihkan fokusnya, Aku memilih mengambil ponselnya dan membuka aplikasi Instagram.

Harusnya Aku ingat dari tadi bahwa kekasihku itu memang sangat sulit digoda jika sudah sibuk dengan kumpulan kertas yang disebut Novel itu.

Aku mengarahkan ponsel Yupi pada wajah Yupi yang terlihat sangat serius, Bahkan gadis itu tidak sadar kalau dia sedang aku potret. Kacamata dengan frame besar berwarna hitam membingkai wajah Yupi.

Krek

Sebuah foto berhasil diabadikan olehku. Senyumanku terukir sepanjang Aku memainkan ponselnya.

Aku tidak berniat mengupload foto Yupi, selama ini semua foto Yupi aku simpan rapi di galeri dan aku unggah ke sosial media jika itu merupakan foto Kami berdua.

Aku masih asik dengan akun Instagram milik Yupi yang hanya berisi 30 persen foto gadis itu, itu saja foto saat Bersamaku, Vinny ataupun Keluarganya.

Selebihnya adalah foto-foto alam maupun benda mati yang sederhana tetapi terlihat menakjubkan di tangan Yupi. Sepertinya bakat Fotografi Via menurun ke Leon maupun Yupi.
Walaupun tidak seluwes Via ataupun Leon setidaknya ia bisa.

Selesai dengan akun Yupi, Aku beralih membuka timelinenya dan di sana dia menemukan foto Sinka dan temannya.

Aku penasaran dan membuka profil gadis itu. Lumayan banyak foto dalam akun Sinka. Aku tersenyum kecil.

Sebenarnya Sinka cantik tidak kalah cantik dengan gadis yang berfoto dengannya tetapi karena kelakuan minusnya tidak heran jika Leon menganggap sepupunya itu hama yang harus dijauhi.

“Rizal, gue baper….”

Aku menoleh dan tersenyum kecil melihat Yupi yang sudah bersandar di bahuku. Jika Yupi seperti ini sudah bisa dia tebak kalau cerita yang baru saja selesai dibaca berakhir tidak sesuai dengan harapan Yupi.

“Gue pikir bakal happy ending” katanya. Aku melingkarkan lenganku di bahu Yupi.

“Emang gimana endingnya? Tokoh utamanya mati?” tanyaku. Yupi menggeleng.

“Nikah. Cowoknya nikah sama cewek cantik, baik pokoknya calon istri idaman” jelas Yupi sambil memainkan jariku. Aku menaikkan sebelah alisku.

“Lah bukannya harusnya seneng?” tanyaku. Yupi mendongak dan memukul dadaku.

“Itu sedih tau! Kan cewek sempurnanya pemeran ketiga bukan pemeran utama” jelas Yupi lagi dengan bibir mengerucut. Aku terkekeh.

“Coba ceritain dari awal sampe akhir” pintaku. Yupi menggeleng.

“Kalo mau tau baca aja sendiri!” ketusnya meletakkan Novel bersampul biru pastel itu di tanganku.

“Kok lo ngeliatin foto Elaine?” tawaku berhenti saat Yupi mengarahkan ponselnya tepat di depan wajahku.

“Oh itu, tadi dia foto sama Sinka trus iseng aja gue buka” jawabku santai. Yupi mengangguk dan menyimpan ponselnya di atas meja.

“Besok MOS terakhir, awas aja kalo lo modus sana-sini!” ancam Yupi. Aku mencolek dagu Yupi.

“Modusin lo boleh?” tanyaku santai. Yupi tergagap dengan wajah merona.

“Dih, pipinya merah.” ledekku

“Apaan sih, berisik” balas Yupi berlagak sebal. Dia menghentakkan kakinya keluar kamar.

***

“Yakin nggak mau ikut Leon? Pagi ini lumayan panas lho” tawarku. Aku sudah siap di atas sepeda Fixieku.

“Gue juga naik sepeda.” Leon muncul dari garasi bersama Fixie birunya. Yupi tersenyum lebar.

“Yeay! Ayo berangkat” Yupi bersorak dan menaiki Bmx hitamnya. Leon menggelengkan kepala melihat antusias Yupi yang menurutnya berlebihan.

“Gue duluan.” Pamit Leon mengayuh sepedanya terlebih dahulu. Aku dan Yupi mengangguk dan melambaikan tangannya.

“Ati-ati!” seru Leon. Aku tertawa kecil dan mensejajarkan sepedaku dengan Yupi.

“Gimana kalo lo gue bonceng?” tawarku. Yupi tersenyum.

“Tawaran yang menggiurkan” Yupi mengusap dagunya. Aku tertawa kecil.

“Tapi sayangnya gue nggak bisa” Yupi menekuk wajahnya murung.

“masa nanti gue harus naik Taksi buat ke tempatnya Kak Aden? Kan sayang uangnya” Yupi mencebik.

“Gue anterin.”

“Nggak! Lo bisa ganggu konsentrasi gue” tolak Yupi.

Dia menambahkan. “Lagian siang ini lo ada Demo Ekskul kan?”

Aku menghela nafas kecil.
“Jangan pulang terlalu malem, okey?” aku mulai mengayuh sepedaku keluar pekarang menyusul Yupi yang sudah pergi terlebih dahulu. Yupi mengangguk.

“Paling pulang pagi” ucapnya santai. Membuat mataku menajam.

“Siapa aja yang bakal main?” tanyaku mengintrogasi. Yupi mengangkat bahunya.

“Kayak biasa mungkin.”

“Ada cewek lain selain lo kan?”
Yupi tersenyum dan mengangguk.

“Kalau pun nggak ada, lo nggak lupa kan siapa Kak Aden?”

Aku menghela nafas kecil dan mengangguk. Mungkin memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku sudah mengenal orang-orang itu dan Aku pikir selama ini mereka bisa dipercaya.

“Nggak papa ‘kan gue nggak nonton lo Futsal?”

“Sejak kapan itu jadi masalah?” Aku menautkan kedua alisku seraya terus mengayuh pedal sepadaku. Yupi tertawa.

“Aku ingin berteriak!” Yupi mengayuh sepedanya lebih cepat dengan tawa berderai. Aku menggelengkan kepalaku.

“Aku ingin memelukmu!” Sahutku. Yupi menoleh ke arahku yang berada lumayan jauh di belakangnya.

“Catch me if you can!” Yupi menjulurkan lidahnya. Aku menyeringai.

Gadis itu. Aku tidak akan pernah membiarkan Yupi pergi menjauh dariku.

“Jangan harap gue lepasin lo kalo gue berhasil”

“Tangkep aja dulu”
Aku mencibir tersenyum miring dan menambah kecepatan sepedaku. Yupi juga tidak mau kalah, dia terus mengayuh sepedanya.

Matahari yang bersinar cerah dan angin sepoi mengiringi adu balap mereka berdua. Tawa renyah dan pekikan Yupi terdengar setiap kali Aku berhasil mensejajarkan laju sepeda kami.

Bersama Yupi semua hal sederhana selalu berhasil membuat hatiku melambung kegirangan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib diriku jika suatu saat ada sesuatu yang mengharuskan hubungan kami selesai. Karena Aku sadar tidak ada hubungan tanpa cela. Sekuat apapun kami berusaha.

***

Hari terakhir MOS berjalan dengan lancar. Anak-anak cukup antusias untuk melakukan bakti sosial maupun mencalonkan diri sebagai pengurus OSIS. Banyak anak yang sudah sibuk mengisi formulir pendaftaran yang merupakan syarat pertama untuk bisa melakukan seleksi tertulis maupun wawancara yang akan dilakukan oleh pembina dan para senior.

Tes wawancara senior hanya dilakukan oleh pengurus harian yang sudah kelas XII. Ada 7 orang pengurus harian kelas XII, di antaranya adalah Leon, Aku dan Lidya.

Sedangkan Vinny dan Yupi hanya seksi bidang. Yupi yang memang cukup mahir di bidang seni dipercaya untuk bergabung dengan sekbid apresiasi seni dan ketrampilan sedangkan Vinny, gadis itu ada di sekbid kepemimpinan bersama Andy dan dua anak kelas sebelas.

Kegiatan bakti sosial dan seleksi awal baru selesai pada pukul dua siang. Setelah ini kegiatan akan dilanjutkan dengan Demo beberapa Ekstrakulikuler dan pengisian angket yang sudah dibagikan kemarin.

Anak-anak kelas sepuluh yang baru saja diresmikan sebagai siswa sekolah ini sudah berkumpul di lapangan Basket untuk memperhatikan presentasi dari Kakak-kakak kelas mereka.

Yupi sendiri lebih memilih untuk pulang karena sudah tidak dibutuhkan lagi.

“Lo mau pulang sekarang?” tanyaku, menghampiri Yupi yang sudah menggendong tasnya di pinggir lapangan.

Aku sendiri sudah lengkap dengan pakaian Futsalku. Yupi mengangguk dan mengibas-ngibaskan sebelah tangannya karena kepanasan. Cuaca hari ini memang lumayan terik.

Aku terkekeh dan mengusap setitik keringat di pelipis gadis itu. “Mau langsung kesana?” tanyaku lagi. Yupi mengangguk dua kali.

“Udah pada kumpul semua” jawabnya. Aku mengangguk dan tersenyum.
Yupi balas tersenyum.

“Siapa yang udah ngumpul, Yup?”
Yupi sedikit kaget saat tiba-tiba saja Sinka datang bersama Elaine dan bertanya padanya.

“Ganggu aja sih lo?!” semprotku seraya menjauhkan tangannya. Sinka memutar matanya.

“Lo mau kemana? Gue ikut dong, Yup!” katanya pada Yupi tanpa menghiraukanku yang menatapanya kesal. Elaine yang datang bersama Sinka hanya tersenyum kecil.

“Ke tempat Kak Aden” Jawab Yupi. Sinka berseru girang.

“Wih, udah lama gue nggak ketemu dia. Ajak gue, ya ya?” Sinka menggoyangkan lengan Yupi.

“Lo kan harus ikut dengerin Demo Ekskul?” tanya Yupi sedikit bingung. Sinka menggerakkan sebelah tangannya.

“Gue kabur. Nggak perlu Demo, udah jelas gue masuk Ekskul Fotografi” jawabnya. Yupi tergelak.

“Nih ada Pak Waketos, emang diijinin?” tanya Yupi mengarahkan dagunya ke arahku. Aku menggeleng.

“Enggak gue ijinin!” seruku bersidekap dada. Sinka berdecak.

“Elah, pelit lo!” cibirnya. Ia menggoyangkan lenganku.

“Ayolah, kan gue bisa jagain Princess lo ini” rayunya melirik Yupi. Aku berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

“Oke deh, tapi lo harus jagain Princessnya Om Rio dan Queennya Rizal ini.” ujarku menepuk puncak kepala Yupi dua kali sebelum mengacak rambutnya. Yupi mendengus kecil.

“Jangan diberantakin juga” sebalnya dengan bibir mengerucut. Aku terkekeh. Sinka menahan senyum gelinya.

“Yaudah, ayo pergi!”
Yupi mengangguk dan berbalik pergi bersama Sinka.

“Elaine nggak ikut lo?” tanyaku menahan lengan Sinka. Yupi ikut berhenti.

“Ngapain ikut kan nggak ada urusan. Lagian dia juga pengen liat Kakak kelas favoritnya Demo” Sinka mengedipkan sebelah matanya. Elaine menunduk dengan wajah merona.

“Sinka, jangan buka kartu dong” desisnya yang membuat Kami semua tertawa.

***

AUTHOR POV

Setelah Yupi dan Sinka pergi, Rizal kembali ke tengah lapangan bersama Elaine. Gadis itu langsung bergabung dengan teman-temannya begitupun dia yang bergabung dengan beberapa temannya di depan. Gilirannya masih cukup lama.

Tim Futsal angkatannya akan melakukan pertandingan uji coba dengan Anak-anak kelas XI, jadi Demo Ekskulnya sengaja diletakkan di bagian akhir sekaligus sebagai penutup rangkaian acara selama tiga hari ini.

Kira-kira satu jam berikutnya baru gilirannya untuk melakukan permainan melawan Adik kelasnya. Selama permainan berlangsung tidak sedikit anak-anak perempuan yang meneriakan nama Rizal.

Apalagi saat pemuda itu berhasil mencetak gol ke gawang lawan. Gadis-gadis itu sepertinya menggunakan kesempatan ketidak hadiran Yupi dengan sebaik-baiknya. Karena selama tidak ada Yupi mereka bisa merasakan aman dan tenang untuk memuja Rizal secara terang-terangan. Walaupun mereka tahu ada ataupun tidak ada Yupi respon Rizal tetap sama, cuek. Bahkan lebih cuek.

***

“Minum?”
Rizal menoleh dan menerima sebotol air mineral dingin yang disodorkan kepadanya.

“Thanks” jawabnya singkat sebelum meneguk air dari botol di tangannya. Gadis di sebelahnya mengangguk dan tersenyum kecil.

Setelah pembicaraan singkat itu tidak ada lagi suara mereka yang terdengar kecuali suara deru beberapa kendaraan yang lewat di jalan tak jauh dari tempat mereka duduk.

Langit di atas mereka sudah berwarna jingga dan sebentar lagi akan berubah gelap. Sekolah sudah sepi, tidak ada murid lagi di dalam. Hanya ada mereka berdua dan seorang Satpam.

Rizal masih duduk di depan pos Satpam untuk mengistirahatkan kakinya sejenak. Permainannya tadi cukup menguras tenaga tetapi untunglah timnya bisa menang dengan skor yang cukup telak.

Rizal sudah kembali menggunakan seragam sekolahnya dengan rambut yang masih agak basah karena keringat. Dia mengeluarkan Ponsel dari saku celananya dan mengetik beberapa kata di benda tersebut. Sekilas dia melirik gadis di sebelahnya dan bersuara, bertanya lebih tepatnya.

“Lo nggak pulang? Nunggu jemputan?” tanyanya dua sekaligus. Gadis di sebelahnya mengangguk.

“Iya, katanya Kakak mau jemput” jawabnya. Rizal mengangguk dan kembali sibuk dengan ponselnya.

Diam-diam gadis di sebelahnya tersenyum saat melihat raut wajah Rizal yang berubah-ubah selama memainkan Ponselnya.

Mulai dari tersenyum, kening berkerut, berdecak. Lucu sekali dan tampan. Mungkin karena melihat gambar, artikel atau mungkin pesan dari seseorang. Entahlah.

“Ilen!”
Kedua remaja ini menoleh ke sumber suara walaupun sebenarnya hanya salah satu di antara mereka saja yang memiliki nama itu.

“Manggil lo?” tanya Rizal. Gadis yang duduk di sebelahnya mengangguk.

“Ilen itu panggilan di rumah” jawabnya. Rizal mengangguk.

“Sebentar Kak!” serunya seraya melambaikan tangannya pada seseorang yang ada di dalam mobil berwarna silver yang berhenti tak jauh dari mereka.

Rizal menautkan kedua alisnya. Ia seperti tidak asing dengan mobil itu.
“Bang Roby?” gumamnya saat melihat seorang laki-laki dan perempuan turun dari mobil itu berjalan ke arahnya.

“Ilen, ayo pulang!” ajak perempuan yang sudah berdiri sekitar dua meter di depan pos satpam. Elaine dan Rizal berdiri.

“Rizal? Ngapain lo?” tanya Roby dengan nada dinginnya. Rizal mengangkat kedua bahunya.

“Kakak kenal Kak Rizal?” tanya Elaine. Roby mengangguk dan terus memperhatikan Rizal dengan tatapan tajamnya.

“Selingkuh?” sinisnya. Rizal mendecih.

“Bukannya elo?” tanyanya balik. Roby menggeram.

“Oh jadi ini yang namanya Rizal. Hai, Rizal! Saya Yona” sapa perempuan cantik yang berdiri di sebelah abangnya mengenalkan diri. Rizal mengangguk sopan dan menjabat tangan perempuan itu yang terjulur ke arahnya.

“Pacar kamu, Len?” goda Yona pada adiknya. Elaine yang memang gampang merona, wajahnya langsung memerah.

Membuat sang Kakak tersenyum geli.
Roby tersenyum miring melihat Adiknya yang tengah menatapnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Adik laki-lakinya ini memang tidak pernah menunjukkan ekspresi apapun di depannya kecuali lusa kemarin saat dia terang-terangan memperhatikan Yupi dengan tatapan yang sudah bisa dia tebak tidak disukai Rizal dan akan mengacaukan emosi Adiknya itu.

“Ayo pulang Kak!” Elaine menarik lengan Kakaknya.

“Nggak pamit sama pacar kamu?” godanya. Elaine semakin merasakan pipinya panas antara malu dan juga merasa tidak enak.

“Dia bukan pacar aku Kak, dia juga udah punya pacar” bisiknya. Yona menahan senyuman gelinya.

“Duluan Kak Rizal,” pamit Elaine pada Rizal yang mendapat balasan anggukan kepala dari pemuda itu.

Tidak lama mobil silver milik Roby melesat membawa tiga orang itu pergi dari hadapan Rizal. Rizal menghela nafas dan kembali duduk di pos Satpam.

Dia belum berniat untuk pulang. Lagipula tidak ada gunanya dia pulang. Tidak ada sesuatu hal penting yang mengharuskannya untuk segera pulang ataupun seseorang yang menunggunya pulang.

#bersambung..

Zubaery Achmad

Iklan

Satu tanggapan untuk “You’re Mine part 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s