My Love Senpai, Part21

“Aku pulang…” Ucap Kak Kinal yang langsung melangkah menuju Ruang tengah.

“Kak…”

“Iya?” Dia langsung duduk berhadapan denganku.

“Aku boleh nanya?”

“Nanya apa?”

“Tadi jalan kemana? Sama siapa?”

“Tadi ke Cafe Earth kok sama teman. Emangnya kenapa?”

“Yakin cuma temen?” Kak Kinal hanya manggut, dan Aku langsung memperlihatkan fotonya tadi bersama Bagas.

“Eh.. Kok?!”

“Sejak kapan Kakak dekat sama Bagas?” Kak Kinal hanya diam lalu menundukan Wajahnya, dan sekali lagi aku bertanya seperti itu Kak Kinal masih diam.

“Oke… mulai sekarang, Masalah aku ya masalah ku. Masalah Kakak ya masalah Kakak. Aku udah gak mau perduli lagi, sekarang Kak Kinal gak jujur sama aku!”

“Oke, Kakak bakal cerita. Kakak mulai dekat sama Bagas sejak Kakak putus dari Rully, Kenapa Kakak gak cerita sama kamu? Karena Kakak takut kamu gak ngizinin Kakak kalau jadian sama sahabat kamu sendiri!”

“Seharusnya Kakak jujur sama aku, Malah aku dukung Kakak jadian sama Bagas! Sebab aku tau Kak. Bagas itu orangnya baik, dia juga perhatian sama Teman-temannya. Dan aku harap Kakak harus terus sama dia.” Tanpa di duga Kak Kinal langsung memelukku dan akupun membalas pelukannya dan menangis di dekapanku.

“Ma.. makasih kamu selalu pengertian sama Kakak, Kakak janji Kakak gak akan ngecewain kepercayaan kamu ini.” Ucapnya yang menangis di pelukkan ku.

“Yaudah Kak, Kakak istirahat aja ya? Soalnya Aku tahu Kakak pasti capek kan?” Aku melepaskan pelukanku. Kemudian Kak Kinal beranjak dari ruang tengah menuju kamarnya.

“Besok gua harus tanya juga sama Bagas, dan harus dapet kepastian untuk jadian sama Kak Kinal.” Fikirku.

Keesokannya, Aku sengaja menunggu Bagas di parkiran karena ada hal yang ingin aku bicarakan. Setelah memainkan beberapa Ronde di Game yang ada di handphoneku, Akhirnya orang yang di tunggu datang, dan seperti biasa dia selalu menyapaku ramah.

“Gas, Ada yang gua mau omongin sama lu!”

“Omongin tentang apa? Tentang Kak Naomi atau Kak Lidya?”

“Bukan itu….”

“Terus apa?”

“Kapan lu mau nembak Kakak gua?”

“Ehh?”

“Udahlah Gas, gua udah tau kok. Jadi kapan rencana lu buat nembak Kakak Gua?”

“Oh gitu, Sorry ya gua gak pernah cerita. Soalnya Kakak lu sendiri yang bilang jangan cerita dulu sama lu, dan masalah tentang gua mau nembak Kakak lu kapan itu masih gua fikirin…” Aku hanya manggut kemudian bagas bicara lagi. “Tapi Lu setuju kan?”

“Santai aja, gua dukung lu kok. Malah gua lebih percaya sama Temen gua daripada orang yang gak gua kenal!”

Setelah itu, aku dan Bagas beranjak dari parkiran menuju kelas. Karena bel pelajaran pertama akan segera di mulai.

Saat pulang sekolah, Aku sengaja mengajak Kak Lidya untuk mengantarku ke toko buku. Sebenarnya sih dia sempat menolak karena ada les sore ini, tapi saat aku bilang ada hal yang aku mau omongin ke dia akhirnya dia mau dengan syarat harus traktir makan.

Di perjalanan kami hanya diam dan sampai saat di persimpangan aku membelokan arah ke Taman komplek perumahaan ku.

“Lho Kok belok sini? Katanya mau ke toko buku?” Itulah kata yang terucap dari mulut Kak Lidya, Aku Hanya diam dan sampai saat di taman aku langsung turun begitu juga Kak Lidya.

“Kamu belum jawab pertanyaan aku! Kenapa kita malah kesini? Katanya ke Toko Buku.”

“Duduk dulu, Nanti aku jawab.” Kami berdua duduk di bangku yang berada di dekat pohon yang lumayan besar.

“Aku sengaja ajak Kakak ke sini karena ada yang aku mau omongin…” Kami saling membetulkan posisi duduk agar berhadapan.

“Aku mau bilang….” Kemudian aku meraih kedua tangan Kak Lidya lalu menggenggamnya. “Kakak mau kan jadi Pacar Aku?” Ekspresi wajah Kak Lidya berubah, Entah apa yang dia fikirkan tapi dia tidak melepaskan tangannya dari genggamanku.

Aku memastikan sekali lagi Kali ini Kak Lidya menundukan wajahnya.

“Gak apa-apa kok kalau gak di jawab sekarang. Ya aku harap Kakak ngasih jawaban yang terbaik, yaudah yuk ke toko buku.” Aku beranjak dari bangku taman menuju motorku saat aku baru memegang Helmku Kak Lidya langsung memeluk ku dari belakang.

“Aku mau kok jadi Pacar kamu….”

Aku memutar tubuhku agar berhadapan dengan Kak Lidya. Kami saling bertatapan, saling memberikan senyuman. Ya senyuman pertama di awal hubungan kami berdua.

“Jadikan ke toko bukunya? Dan inget kamu harus teraktir aku!”

“Siap Kak kalau itumah…”

“Lidya!” Aku hanya tersenyum. Kemudian aku memakai helm begitu juga Kak Lidya, setelah aku dan dia naik ke atas motorku kami langsung pergi menuju toko buku.

Sampai di Toko Buku, aku mencari buku-buku yang perlu aku beli untuk tugas Fisika. Sedangkan Kak Lidya Menunggu di bangku dekat kasir sambil membaca beberapa Majalah.

“Udah dapet nih…”

“Oh udah. Kita jadi makan Kan?”

“Jadilah Kak… eh Lid maksudnya.” Dia malah mencubit pinggangku, sakit sih tapi yasudahlah.

Setelah membayar buku yang aku beli, Kami langsung menuju Restoran cepat saji yang bertuliskan KFC.

“Gak apa-apa kan ya makan di sini?” Ucapku sambil melepas helm dan menaruhnya di atas tanki motor.

“Gak apa-apa kok, yang penting sama Kamu..” Ucap Kak Lidya, Kemudian dia meraih tanganku dan menggenggamnya, Yaps sekarang malah dia yang membawa ku masuk ke dalam padahal aku yang mengajaknya makan.

Setelah dapat tempat, Kemudian dia yang memesan makanan setelah sebelumnya aku memberikan uang karena aku yang mau neraktir dia. Yaiyalah, Masa sih cewek yang bayar cowok makan apa kalau gitu.

Tak lama, kamudian Kak Lidya membawa nampan bersis penuh dengan Ayam, Nasi, Soft drink, dan kentang.

“Gak salah kamu beli kentang sebanyak ini?”

“Ya habisnya aku lapar jadi Pesan super besar 2 buat kamu sama aku, terus Kentangnya 4 eheheh…”

“Gak takut tambah gembul nih pipi..” Ucapku sembari menusuk-nusuk pipinya.

“Ihh… Apaan sih! Gak akan pernah gembul!”

“Buset dah, baru juga pacaran udah ngambek aja. Tapi Lucuk juga sih ahaha..” Fikirku.

“Selamat Makan…” Ucapnya, Lalu menyantap kentang goreng terlebih dahulu. Akupun ikut makan dan larut dalam suasana memandang Kakak Kelas yang baru saja jadi pacarku makan.

“Jangan buru-buru ya makannya? Itu minuman cuma satu gelas lho, walaupun ukuran large tapi kan bakal habis…” Ucapku, dia hanya manggut dan terus melanjutkan Makannya.

Beres makan, kami langsung pulang dan terlebih dahulu aku mengantar Kak Lidya kerumahnya.

“Makasih ya untuk hari ini, walaupun terpaksa aku harus izin les.” Ucapnya Yang baru turun dari motorku kemudian aku juga melepaskan Helm yang aku pakai.

“Sama-sama, seharus aku yang bilang terima kasih. Karena kamu udah mau nerima aku…” Kak Lidya hanya tersenyum, kemudian perlahan mendekatiku dan…. Dia mencium pipiku.

“Di pipi doang?” Tanyaku, Seraya Tertawa kecil.

“Idih… Emangnya kamu mau di mana? Bibir? Gak ahh kita kan belum nikah!”

“Please….”

“Yaudah satu kecupan aja ya?” Aku hanya manggut. Kemudian dia Mendekat lagi dan memegang kepalaku Lalu mencium bibirku walaupun hanya satu kecupan.

“Udah kan? Yaudah aku masuk dulu ya.” Ucapnya, lalu berbalik arah menuju rumahnya.

“Anjirr… gak di tawarin mau mampir dulu atau enggak, mungkin dia lupa ya?” Setelah dia tak terlihat lagi alias masuk kerumahnya, aku langsung memakai Helmku dan melaju menuju rumah.

*BERSAMBUNG*

@ramboy99_

Iklan

7 tanggapan untuk “My Love Senpai, Part21

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s