Cahaya Kehidupan : Aku Terminal Bus Part 24

Wuuuuss….
Bus melaju kencang, berhenti tepat di depan halte. Penumpang dan para
pengamen mulai memasukinya, bus berhenti sejenak.

Dhee mengangkat wajahnya yang satu jam terakhir menempel di kaca
jendela bus. Hidung dan dahinya membekas di kaca. Hembusan nafasnya
menyisakan embun. Perutnya tiba-tiba berbunyi, lapar.

Memeriksa saku celananya, masih ada beberapa lembar uang ribuan.
Memasukannya kembali, dan melamun. Memikirkan apa yang terjadi pada
Reza. Reza mengorbankan nyawa demi dia.

Sebelas tahun Dhee tinggal di Ibukota. Semuanya berlalu begitu cepat.
Rasanya seperti kemarin ia ditanya siapa nama ayah dan ibunya. Bertemu
Kak Melody dan teman-teman di rumah singgah. Berkelahi dengan
berandalan pasar.

Bus mulai melaju, terlihat seorang gadis berusaha mencari tempat
duduk. Kebetulan saat itu orang yang duduk di sebelah Dhee baru saja
keluar. Pergi entah kemana. Mungkin itulah pemberhentiannya. Jadi Dhee
kini duduk sendirian.

Gadis itu perlahan mendekat, duduk di sebelah Dhee. Tersenyum
memandang wajah Dhee, dan ia pun balas tersenyum. Kemudian kembali
melamun, menatap kosong jalanan.

Bus meliuk menikung, Dhee menyeringai. Jauh lebih bergoyang
dibandingkan tali baja gondola. Dhee dengan cepat mengusir pikirannya
barusan. Bukankah ia ingin melupakan semuanya? Melupakan eksekusi mati
Reza tadi malam? Melupakan masa-masa enam tahun yang membuatnya sesak?

Dhee akan menjemput kehidupan baru di kota lamanya. Kota tempat ia
dilahirkan. Kota tempat ia menghabiskan lima belas tahun di rumah masa
kecilnya. Lima belas tahun dengan sahabat-sahabatnya, X-Warriors.

* “Hey, ada apa Dhee?” Mengapa wajahmu memerah?” orang berwajah
menyenangkan tersenyum menggoda pasien di sebelahnya, seraya
menyenggol pelan bahunya.

Pasien yang duduk di sebelahnya reflek menoleh jauh ke sembarang arah.
Wajahnya ketahuan memerah. Mendadak pasien itu menyeringai malu. Dia
sungguh malu.

“Hey, tempat apakah ini Dhee? Mengapa kau ada disini? Disini tidak ada
siapa-siapa bukan?” orang berwajah menyenangkan makin riang menggoda,
tertawa melupakan kejadian seram yang baru saja mereka saksikan.

Bukankah seharusnya pasien itu yang banyak bertanya? Bertanya tentang
perjalanan mengenang masa lalu itu? Yang banyak bertanya seharusnya
bukan orang berwajah menyenangkan.

Baru saja berapa menit lalu tubuhnya terlempar ke dalam kumparan
cahaya. Sinar terang warna-warni menyilaukan. Melesat dalam putaran
gasing. Saat semuanya terasa nyaman kembali, matanya perlahan terbuka.
Dia sudah duduk di atas kursi paling belakang bus kota, menyaksikan
dirinya yang lain duduk jauh di depannya bersama seorang wanita.

Menyadari dimana ia berada sekarang, sontak wajahnya memerah. Tempat
itu, ia amat mengenalnya. Tempat itu? Pasien itu tersenyum sendiri,
tersipu malu. Di bus itulah pertama kali ia mengenal gadis itu. Cinta
pertama dan terakhirnya.

“Apa dia cantik, Dhee?” orang berwajah menyenangkan kembali menggoda.
“Apa? Apakah dia cantik?” tersenyum malu, pasien itu salah tingkah.
“Bisakah kau menceritakan kecantikannya, Dhee?” lagi-lagi dia menggoda.

Menceritakan kecantikannya? Bagaimana? Matanya hitam, agak cokelat.
Gigi-giginya lucu bak gigi kelinci. Rambutnya panjang, hitam pekat.
Lesung pipinya, aduh ia kembali salah tingkah.

Pertanyaan itu sulit dijawab. Apakah dia cantik? Dulu pun wanita itu
sempat menanyakan pertanyaan yang sama padanya, bertanya dengan suara
lemah. Tapi ia tidak bisa menjawabnya.

“Ayolah, seberapa cantik gadis itu? tertawa menggoda.
Pasien itu perlahan mengangkat kedua tangannya, mengacungkan sepuluh jarinya.

“Astaga? Sepuluh jari? Kalau begitu gadis itu benar-benar cantik,
Dhee?” orang berwajah menyenangkan pura-pura kaget, menepuk dahinya
dan tertawa lebih lebar.

Pasien itu berada di tempat yang sama dengan dirinya yang berumur 26
tahun. Satu tempat, satu waktu. Meski yang satu tidak bisa melihat
yang lain. Visualisasi masa lalu yang nyata.

Gadis itu mengenakan selendang hitam, tersampir rapi di kepala. Rambut
hitam panjangnya tergerai. Mengenakan baju hitam. Hitam? Duka cita?
Dhee tidak sempat bertanya waktu itu.

Dhee menelan ludah, masih sibuk curi-curi pandang separuh rembulan
miliknya. Dan gadis itu mendadak menoleh kearahnya. Dhee gelagapan,
aduh dia ketahuan. Dhee menyeringai amat buruk.

Sekejap bersitatap, dan gadis itu kembali menatap lurus ke depan.
“Dia menoleh kearahku. Dia baru saja menoleh. Oh, apa maksudnya?” Dhee
berbicara dalam hati.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s