Cahaya Kehidupan : Aku Pengorbanan Nyawa Part 22

* “Tahukah kau, Dhee. Pagi itu Reza kembali sesak oleh janji masa lalu
yang selama ini menghantui hidupnya.” kalimat orang berwajah
menyenangkan itu memotong kenangan.

Mereka kini sudah berpindah tempat. Berada di tengah lapangan luas
yang dipenuhi ilalang liar. Lapangan yang amat dikenali pasien berumur
enam puluh tahun itu.

Pagi datang menjelang, semburat merah terlihat di ufuk timur. Pasien
itu menoleh, tidak mengerti apa yang dikatakan orang berwajah
menyenangkan. Selalu saja begitu, mengatakan sesuatu yang tidak ia
mengerti.

“Reza memang orang jahat, jauh berubah seratus enam puluh derajat dari
sifat kecilnya. Sejahat apapun Reza, ia tidak akan mengorbankan
sahabatnya sendiri. Tidak akan meninggalkan partnernya.” orang
berwajah menyenangkan menepuk pelan bahu pasien di sebelahnya.

“Inilah muasal dari pertanyaanmu, Dhee. Apa arti cinta? Bukankah
pertanyaan itu berasal dari sahabat-sahabatmu? Baiklah, mari saksikan
kenangan masa lalumu lagi.” untuk kesekian kalinya orang berwajah
menyenangkan itu tersenyum.

* Pukul 07:30, Masjid mengumandangkan khotbah hari raya.
“Jangan iri dan jangan dengki. Sesungguhnya Allah SWT membenci
orang-orang yang takabur.” pengkhotbah berkata lirih, usianya pasti
tidak lagi muda.

Reza masih diam memandang kosong kearah Dhee. Suara sirine mobil
polisi tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Kecil sekali, Reza
mengangkat wajahnya. Apakah mobil itu menuju kemari? Sirine itu
melemah, hilang. Ternyata hanya kebetulan saja.

Tapi sirine itu terdengar lagi. Apakah? Reza berjalan tertatih. Reza
memeriksa keadaan Dhee. Tubuhnya panas, tapi tangannya masih
menggenggam erat kertas janji masa lalu itu.

Suara sirine benar-benar mengencang. Mengalahkan suara speaker Masjid.
Mobil itu menuju kemari. Reza menelan ludah. Cepat, ia harus berpikir
cepat. Apa yang akan dilakukannya? Tidak ada yang meninggalkan teman.

Reza bisa saja kabur lewat pintu belakang. Tetapi polisi akan
menemukan Dhee di kamar ini. Sungguh membingungkan sekali. Reza
mengusap wajahnya, apa yang harus dilakukannya?

“YANG ADA DI DALAM SEGERA KELUAR!!! KAMI SUDAH MENGEPUNG SELURUH
RUMAH!!!” suara komisaris polisi tertengar membahana melalui toa,
petugas berlarian mengambil posisi untuk mengepung rumah Reza.

Suara khotbah mendadak terhenti. Jamaah Masjid sibuk menolehkan
kepala. Beberapa bahkan tega menyingkap sarung, mengambil sandal, lari
mendekat. Ada tontonan lebih menarik dibanding kalimat-kalimat
bermajas tinggi.

Reza mengusap wajah untuk kedua kalinya. Peluh semakin deras mengucur,
membasahi seluruh tubuh Reza. Ia harus cepat memutuskan. Tapi
mengambil keputusan bukan keahliannya, menghitunglah keahliannya.

Kepalanya tidak bisa berpikir normal sekarang. Kenangan masa lalu itu
buncah memenuhi kepalanya. Ia harus bisa memenuhi janji itu, harus
pokoknya. Tidak akan mengabaikannya lagi.

Penonton diluar semakin banyak. Lebih banyak dari jumlah polisi.
Berbisik-bisik, ikut mengerubungi polisi. Tangan Reza gemetar
mengangkat tubuh Dhee dari atas ranjang. Ia sudah memutuskan apa yang
akan dilakukannya.

Reza terus menggendong Dhee, tertatih-tatih. Membuka pintu kamar
rahasianya. Reza tidak akan melarikan diri. Tidak bisa meninggalkan
sahabatnya. Maka Reza meletakkan Dhee diatas ranjang kamar rahasia
itu. Mengeluarkan pistol, menggigit bibir.
“DOR!!!”

* “Itulah yang dilakukan Reza.” orang berwajah menyenangkan menyentuh
bahu pasien yang mendadak menutup wajahnya, jerih melihat kejadian di
depannya.

“Reza menembak pahanya sendiri. Lantas tertatih mengunci kembali kamar
itu. Keluar dari rumah dengan kedua tangan terangkat. Reza memutuskan
untuk menyerahkan dirinya. Berharap dengan demikian ia bisa
melindungimu, Dhee.” orang berwajah menyenangkan senyap sesaat.

“Itu tidak mungkin dilakukannya.” Dhee mendesis.
“Lantas apalagi penjelasan baiknya atas keberhasilan yang kau peroleh
setelah pencurian itu? Kau melukai dua petugas malam itu, Dhee. Dan
salah satunya meninggal.” orang berwajah menyenangkan tertawa.

“Petugas yang selamat dari tembakanmu mengatakan hanya melihat satu
orang pelakunya. Mengatakan ia berhasil menembak paha si pencuri.
Untung saja saat itu Reza terkapar, tidak terlihat jelas oleh petugas
itu karena gemercik hujan.” orang berwajah menyenangkan kembali
tertawa.

“Semua penjelasan itu cocok dengan Reza yang menyerahkan diri. Luka
tembak di paha. Sungguh itulah jawaban atas pertanyaan kedua mu, cinta
sahabat yang sebenarnya.” orang berwajah menyenangkan tersenyum
menatap langit.

“Kau pikir Reza tertangkap di rumah itu, sementara karena kau di
sembunyikan di kamar rahasia tidak tertangkap? Polisi tidak sebodoh
itu, Dhee. Mereka bisa saja menggeledah rumah itu. Tetapi Reza
mengatakan dialah pelakunya, sendirian. Polisi urung menggeledah,
hanya mengumpulkan barang bukti yang dengan sukarela ditunjukkan Reza.
Memborgol Reza, membawanya ke penjara.” orang berwajah menyenangkan
kini menatap wajah pasien di sebelahnya.

“Di pengadilan, Reza mengakui pembunuhan petugas itu. Sementara kau?
Apa yang kau lakukan beberapa bulan berikutnya? Kau hanya menyimak
berita-berita itu.” orang berwajah menyenangkan bertanya halus.

“Setelah proses pengadilan yang panjang, Reza akhirnya dihukum gantung
enam tahun kemudian. Malam-malam menyedihkan, hingga akhirnya eksekusi
mati dilaksanakan. Kau ada dimana saat eksekusi itu ramai diberitakan?
Kau hanya meringkuk di kamar sewaan barumu. Lantas esoknya pergi
meninggalkan Ibukota, pulang ke kampung halaman.” orang berwajah
menyenangkan menatap pilu.

Dhee menggigit bibir, semuanya benar-benar mengejutkan. Benar-benar
baru diketahuinya. Ternyata Reza bertahun-tahun yang akan datang
memberikan sesuatu yang tidak ternilai dalam hidupnya. Sesuatu yang
membuatnya bisa memulai imperium bisnisnya.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s