Fiksi dan Fakta part 26

Jaka dan Mike masih tertidur sekitar jam 9.

“Oy, bangun!” Kelpo menggeser-geser badan Mike dan Jaka.

“Hoaamm masih pagi jir..” Mike malas.

“Jam 9 lu bilang pagi? gua siram pake aer jamban nih..” Kelpo menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Au ah.. mau ke kamar mandi.. liat noh si kebo masih tedor!!” Mike berdiri setengah sadar sambil berjalan memasuki kamar mandi.

“Jak, notif lu!” Kelpo berusaha membangunkan Jaka dan memberi tau tentang notifikasi dari Michelle.

“Iye, Iye. Biarin aja, mungkin dia udah
berangkat..” Jaka masih menutup kepalanya dengan bantal guling.

“Tapi tanggepin gih..” Perintah Kelpo.

“Gimme 2 minutes,” Jaka mengangkat jarinya dan menunjukkan angka 2.

“Iye..” Kelpo lalu keluar dari kamar dan turun kebawah.

Nada dering Kelpo berbunyi, intro lagu ‘Freedom’ yang baru saja disetel Kelpo. Ya, akhir-akhir ini dia tertarik dengan Rage Against The Machine.

“Ya, Halo, Nyi?” Sambut Kelpo.

“Vin, hari ini ga ada rencana pergi, kan?”

“Emm.. gaada, Nyi. Kenapa emang?”

“Kita jalan yuk, rumah sepi.. males
nih..” Viny dengan nada malas.

“Hmm.. ke rumah aku aja, gimana?” Ajak Kelpo

“Ada yang lain disana?” Tebak Viny.

“Iya, ada Mike ama Jaka.”

“Ehh?”

“Oh iya, maksudnya Oscar ama Razaqa.” Kelpo mengklarifikasi.

“Emm.. oke.. orangtua kamu ada?”

“Emm.. mama aku berangkat, nemenin papa buat ngurusin kak Dirga yang udah mulai selesai tahap pemulihannya.”

“Kak Dirga kecelakaan ya?” Viny belum tau.
“Iya, padahal pake mobil. Dia kejebak didalem mobil, temennya sendiri yang nyelamatin dia..”

“Serius ampe separah itu? kejebak?”

“Kalo kamu liat bentuk mobilnya, pasti bingung kenapa kak Dirga bisa selamat.” Ucap Kelpo.

“Hah? emang gimana?” Viny penasaran.

“Hehehe.. kesini aja dulu deh.. baru lanjutin ceritanya..”

“Oke, Vin. Aku naik taxi aja nanti, sekitar jam 10 deh.” balas Viny mengakhiri panggilan.

Panggilan itu berakhir, Kelpo telah selesai membuat teh untuk teman-temannya.
“throw a party, huh?” Batin Kelpo.

Kelpo memutuskan untuk naik menuju kamarnya lagi.

Jaka tampak sudah terbangun dan duduk dipojok kasur.

“Thanks, Po.” Jaka mengambil segelas teh yang masih panas itu. Dengan santainya, ia minum begitu saja.

“Pyuuhhh!” Sembur Jaka kepanasan.

“Lah, nape lu?” Kelpo heran.

“Gapapa..” Jaka hanya menanggapi santai. Mungkin karena tingkat kesadarannya masih kurang ditambah fokusnya yang terus tertuju kepada gadget.

Kelpo memegangi permukaan luar gelas itu.

“Hahaha…” Kelpo tertawa terbahak-bahak.

“Yo..” Jaka datar.

“Bilang dong! Hahaha.. momen lucunya telat nih..” Kelpo terus tertawa keras.

“Lel-_-” Jaka hanya membalas datar.

Kelpo bingung dengan apa yang dilakukan Mike di kamar mandi.

“Oy!!” ketuk Kelpo keras pada pintu kamar mandi.

Kelpo memutar, dan ternyata tidak terkunci. Jaka menatap Kelpo yang masuk tanpa izin.

“Dah gila, lu?!” Kelpo kaget bukan main.

Mike terduduk di wc duduk itu, sambil bertelanjang dada dan menyulut rokoknya.

“Jendelanya?” Kelpo menatap jendela yang telah dibuka Mike.

Jaka berdiri dan bergegas melihat apa yang dilakukan Mike.

“Hadeh.. nape ga filter?” Keluh Jaka terduduk di sofa kamar Kelpo.

“Males ah, kretek gue..” Balas Mike tak beranjak dari wc duduk itu.

“Gatau deh, pusing liat lu.” Kelpo mengacak-acak rambutnya.

“Udahlah, maklumin aja..” Sahut Mike.

“Maklumin?” Jaka menatap Mike.
“Yo, depressed!” Mike terus duduk, tertunduk, dan menghisap rokok yang telah ia beli sejak kemarin.

Jaka dan Kelpo tak lagi bisa berkata-kata. Mungkin Mike benar-benar stress.

“Jak, lu dimane?” pesan dari Bobby.

“Rumah Kelpo, sini aja deh..” Balas Jaka cepat.

“Yo.. OTW” Jaka hanya me-read pesan itu.

“Bobby otw sini..” ucap Jaka disertai anggukan pelan Kelpo, dan tanggapan datar dari Mike.

“Ajak Andela kesini, Po.” Sahut Mike dengan nada berat.

“Ga, dia lagi itu..” Jawab Kelpo.

“Ohh.. iye-iye.” Mike paham.

“Bahas cewe cuma bikin gue pusing.” Jaka mengacak-acak rambutnya.

“Inyi otw sini.” Kelpo melihat kearah jam, tepat pukul 10.

“Gimana, sih? Kok Inyi maen kesini aje?” Mike menyahut.

“Gue yang ngajak kesini..” Balas Kelpo.

“Ahh.. males banget, gua ijin kunci nih pintu kamar mandi..” Mike dengan nada sedikit berteriak.

“Iye.. siapa juga yang mau nyuruh Inyi liat lu gitu..” Kelpo menggelng-gelengkan kepalanya.

Jaka terlihat bingung memulai harinya, sementara Mike terlihat berantakan
dengan hidupnya.

“Udah ah, gue turun aja..” Kelpo keluar dari kamarnya.

Kelpo turun dan duduk di sofa ruang keluarga.

“Ada apa ya? Mike jarang gitu.. dia anti-rokok kalo lagi waras..” Kelpo berkata dalam hati sambil menyaksikan kartun pagi.

Kelpo terus menonton TV tanpa menghiraukan seseorang yang telah memainkan gitarnya dikamar.

“Jak! enakan dikit lagunya!” Teriak Mike dari dalam kamar mandi.

“Rokok mah rokok aje! Serah gue,” Jaka terus memetik senar gitar tersebut.
“but I’m a creep.. i’m a weirdo, what the hell I’m doin’ here.. I don’t belong here.. yeah.. yeah.. she’s runnin’ out again…n… and she’s runnin’ out, she’s run! run! run! run…..n…” Jaka memainkan lagu RadioHead tersebut dengan penuh emosi di wajahnya, muka memerah, mata yang terus terpejam, dan suara yang seolah-olah mengikuti keinginan terbesar dalam amarah, ‘berteriak’.

“Lagu laen! Smashing Pumpkins!” Teriak Mike lagi.

“Bacot lu! gue mau mainin lagu yang gue suka!” Balas Jaka berteriak.

Tak lama, Kelpo benar-benar muak.

“Oy, ade ape sih?!” Tanya Kelpo yang terburu-buru membuka pintu kamar.

Jaka tak mendengarkan Kelpo, ia
hanya melihat kearah tangan kanannya yang memetik pelan gitar itu.

“Mike?!” Tanya Kelpo menggedor pintu kamar mandi.

“Yo?” Teriak Mike malas.

“Keluar deh, lu kaya orang goblok didalem..!” Perintah Kelpo.

“Yo, 5 menit lagi!” Balas Mike.

“Lu kenapa sih? kaya banyak masalah banget, cerita dong.” Ucap Kelpo kepada Jaka.

Jaka masih memperhatikan permainan gitarnya.

“Jak!” Teriak Kelpo menyadarkan Jaka.

“Ribut ah, gue juga gamau cerita..”
Jaka memegangi telinganya.

“Kita kan bisa saling nasehatin..” Kelpo menurunkan nadanya.

“Udahlah, Po. Gue lagi gamau dibacotin, sumpah motivasi-motivasi kalian itu bener-bener ga berguna buat sekarang..” Balas Jaka datar.

“Ga berguna? Motivator-motivator sukses merubah hidup banyak masyarakat, Jak!” Bentak Kelpo.

“Itu mereka! lu mau jadi Mario Teguh dadakan?! sumpah ga berguna, Po. Yakin ama gue..” Sikap Jaka begitu kasar.

“Pas lu deketin Shania, lu minta nasehat kita, kan?” Kelpo mengingatkan Jaka.

“Ya, bener. Gue emang deket sama dia,
tapi apa?! Mike sukses dengan teorinya soal kepercayaan atau apalah itu, tapi gue?! Mana kepastian dari Shania-nya? Mana?.” Balas Jaka yang mulai berdiri.

“Jika orang bisa sukses, lu juga bisa, Jak.” Kelpo menatap Jaka.

“Ya, emang. Mana tapi? Liat temen lu yang di toilet! Depresi ama idupnya!” Bentak Jaka.

Mike keluar dari kamar mandi.

“Udah, santai aja santai.” Mike menenangkan Jaka dan Kelpo.

“Gue tanya ama lu, Mike. Lu ga pusing ama cewe lu?!” Tanya Jaka asal.

“Gini, guys. Kita mulai hari ini dengan damai, gue gamau bahas yang aneh-aneh.” Mike duduk di sofa.

“Liat temen lu! Apaan sukses?!” Teriak Jaka kearah Kelpo sambil menunjuk Mike.

“Wah.. Anj*ng lu!” Mike berdiri dan hendak menonjok Jaka.

“Apaan lu, hahh ?!” Jaka bersiap.

“Udeh, kaya bocah lu pada! Ini rumah gue!” Teriak Kelpo menengahi.

“Kalian para anj*ng-anj*ng, boleh ribut! Tapi jangan bawa-bawa gue! Elaine! atau siapapun itu!” Mike menunjuk Jaka.

“Jadi apa gunanya bacotan lu beberapa bulan yang lalu?! Apa?!” Jaka menatap Mike terus.

“Gunanya lu idup, Apa?!” Balas Mike.
“Gue udah bilang!! Berenti!! atau keluar aja dari rumah gue! selesaiin diluar!” Bentak Kelpo keras.

Jaka duduk di ranjang, dan mulai menenangkan pikirannya, Mike duduk di sofa sambil menatap kearah dinding kamar Kelpo, Sementara Kelpo masih berdiri menengahi.

“Gue juga mikir, masa lalu gue separah itu..” Mike berkata pelan.

Kelpo hanya menoleh dan menatap Mike.

“Udahlah Mike, gausah dipikirin lagi..” Kelpo menenangkan.

“Gaada yang dateng daritadi..” Mike bergumam pelan.

Kelpo mengangguk, dan menoleh ke arah Jaka. Tak ada respon dari Jaka
yang melihat lurus kedepan sejak tadi.

“Apa gunanya gini?” Tanya Jaka melamun.

“Jangan larut dalam masalah, gue ya…”

“Drrttttt…” Nada panggil yaitu intro ‘Freedom’ berbunyi.

“Ya, Halo?” Kelpo mengangkat panggilan itu.

“Aku didepan, Vin. Rumah kamu sepi banget..” Itu dari Viny.

“Ohh, Iya-iya.. Aku turun sekarang!” Balas Kelpo cepat sambil mengakhiri panggilan dan menuruni tangga.

Kelpo membukakan pintu.

“Hai, Nyi..” Kelpo tersenyum.

“Hai juga, Vin.” Viny tersenyum begitu manis.

Tiba-tiba mobil sedan hitam berhenti didepan teras Kelpo. Kelpo memperhatikan.

“Itu siapa, Vin?” Tanya Viny bingung.

Seorang laki-laki tegap turun dengan rambut yang disisir rapi.

“Hei, Po!” Sapa Bobby akrab.

“Ehh, Bob. Jaka ama Mike diatas, langsung aja.” Kelpo memberi tau.

“Oke.. Ehh, ini siapa, Po?” Tanya Bobby menaikkan alis kiri-nya.

“Apaan dah-_- Ini Viny, dia temen gue dari kecil. Viny, ini Bobby, baru dapet izin keluar dia, hahaha..” Kelpo
mengenalkan.

“Njirr lu, Po.” Bobby menatap Kelpo malas.

“Ehh, Iya. Aku Viny! Ratu Vienny!” Viny menyambut tangan Bobby.

“Bobby! alias James Fello!” Kenal Bobby menahan tawa.

“Apa? James Fello? Jauh amat dari Bobby Abdillah -_-” Kelpo tak habis pikir.

“Hahaha.. ada-ada aja.” Viny tertawa.

“Hehehe.. yang penting bagus namanya..” Bobby menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Emm.. Bob? boleh dilepas tangannya?” Pinta Viny heran.
“Ehh.. Lupa!” Bobby buru-buru melepas tangan itu dan menepuk jidatnya.

“Udeh.. sekedar info, kalo Viny bakal jadi murid SMU48 tahun depan, Bob.” Kelpo memberi tau.

“Kamu pindah ke SMU48? Wihh.. seru nih..” Bobby ikut senang.

“Iya, SMA 48 tepatnya..” Viny nyengir :v.

“Hahaha… title SMA kita itu, SMU :v” Jawab Bobby menyenggol bahu Kelpo.

“Kita legend-nya SMU..” Kelpo dan Bobby tertawa bersama, diikuti Viny yang mulai enjoy.

“Gue undang temen gue kesini, gapapa kan, Po?” Tanya Bobby sembari berjalan mengiringi Kelpo.
“Siapa namanya?”

“Aria, dia temen di les. Tahun ini, dia masuk ke SMU48.” Balas Bobby.

“Sebagai pindahan?”

“Gak, dia emang baru lulus SMP.”

Viny hanya mendengarkan percakapan mereka berdua dari belakang. Mereka mulai menaiki anak tangga.

“Gile, temen les lu muda amat, cocoknya jadi om ama ponakan tuh..” Kelpo terkekeh.

“Njirr lu..” Bobby menyenggol bahu Kelpo.

“Iye-iye, dasar legend tanpa tanda jasa..” Kelpo merangkul Bobby yang kini mulai menatap Kelpo malas.
Pintu kamar pun dibuka.

“Nih, Kejutan pertama.” Kelpo mempersilahkan Bobby masuk terlebih dahulu.

“Wihh.. keluar juga akhirnya.” Mike berdiri dan tos dengan Bobby.

“Eh, Bob! Gimana proses explore-nya?” Jaka tos sambil menahan tawa.

“3 tahun yang melelahkan.. sumpah..” Bobby merendahkan bahunya.

“udah cukup kayanya jadi ‘Saksi Hidup SMU48’.” Mike menyahut.

Bobby mengangguk.

“Seiring dengan kondisi sekolah-sekolah di Bandung yang udah stabil, gue juga udah berubah sejauh ini..” Bobby menatap action figure koleksi
Kelpo sambil tersenyum sedikit.

Semuanya mengangguk. Kelpo yang sejak tadi berdiri didepan pintu, mulai menunjukkan kejutan lainnya.

“Nih.. kejutan kedua..” Kelpo mempersilahkan Viny masuk.

“Hai semua..”

“Eh.. Vin, apa kabar?” Jaka mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum simpul.

Viny hanya mengangguk dan tersenyum tanda baik-baik saja.

“Sendirian di rumah, Vin?” Tanya Mike yang berdiri untuk mengambil cd di lemari Kelpo.

“Iya, Car..”
“Udah, Mike aja..” Mike menoleh sambil tersenyum.

Viny yang tampak sedikit canggung hanya mengangguk.

“Yo, yo.. nape jadi canggung gini, sih?” Tanya Bobby membuat Mike dan Jaka saling tatap.

“Ehh..” Mike terhenti.

“Lu nua-in kali, Bob.” Ucap Kelpo terkekeh.

“Kami nungguin jokes elu, senpai,” Lanjut Jaka terkekeh.

“Hahaha… makan odol basi semua lu pada. Gini, kemaren kan ada konser di Jakarta, gue main-main aja kesana..”

“trus?” Mike penasaran.
Semuanya tampak serius menatap Bobby. Mungkin sedang mencari ‘dimana akan beradanya letak seru dari cerita itu’.

“Tatapannya serem-serem banget-_- kaya orang kesambet..” Bobby menyipitkan matanya.

“Lol, lanjut!” Perintah Kelpo yang juga penasaran.

“Hahaha, jadi gini..”

*Flashback On

Bobby berjalan menyusuri lantai bawah gedung itu, mencari tempat yang enak untuk menunggu dimulainya konser. Akhirnya, Bobby memilih sebuah ruang tunggu yang didalamnya sudah ada banyak calon penonton dengan seragam band favorit mereka.

“Boleh gabung, nih?” Bobby menghampiri kerumunan itu.

“Oke, silahkan bro.” Sambutan hangat dari mereka semua.

Sepanjang obrolan itu, hanya diisi pembahasan tentang band yang sebentar lagi akan tampil. Bobby mulai malas dengan topik obrolan itu.

“Perhatian untuk para calon penonton yang sudah memiliki tiket, bisa memasuki ruangan dari pintu I, II, dan III.. Konser akan dimulai dalam beberapa jam lagi.. Kalian diminta untuk…” Bobby langsung bergerak keluar dari gedung itu.

Tiba-tiba Bobby menghentikan langkahnya. Tampak ada satu bus yang diisi personil band dan peralatannya tersebut, tampak itu
adalah band pembuka. Bobby mendekati bus tersebut.

“Tara? Yoni?” Batin Bobby begitu kaget.

Bobby mulai berlari sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Tara! Yoni!” Panggil Bobby.

2 orang yang tampak saling menyalahkan itu menoleh.

“Bobby! Gue ga mimpi, kan?” Tara mendekati Bobby begitu saja.

Diikuti Yoni yang juga begitu antusias.

“Kalian ngapain disini?” Tanya Bobby cepat.

“Ini, Bob. Kita jadi band pembuka buat ‘S.I.G.I.T’.” Jawab Tara yang sejak tadi terus memperhatikan gadgetnya

“Wih.. Sony ama Falvi mane?” Bobby mencari-cari sosok Sony dan Falvi.

“Itu masalahnya, mereka belom juga berangkat. Kami gabisa batalin kesempatan ini..” Tara tertunduk malas.

“Kalian gabisa jalan kalo gaada drummer ama vokalis, kan?” Bobby bingung.

“Gue udah hubungin Wendy, ex-Klostrop.”

“Wah, Wendy? asik juga ngedrum-nya. Btw, maap gue belom beli album baru kalian.. hahaha..” Bobby menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

*Flashback Paused

“Hadeh.. -_- Sony baru berangkat
kemaren malem jirr..” Jaka mengacak-acak rambutnya.

“Hahaha.. acaranya mulai sore hari itu..” Sambung Bobby.

“Njirr.. bang Sony ama bang Falvi baru mau berangkat pas gue ke rumah lu, Jak.” Mike menyambung.

“Kapan lu ke rumah gue?”

“Kemaren malem, sebelum ke sini..”

“Lah, ngapain kesana?”

“Lu tau ndiri kan, hp gue mati. Jadinya, nebak-nebak aja kalian dimana._.” Mike tertunduk.

Tawaan memenuhi ruangan itu.

“Mau gue lanjut ga, nih?” Bobby menaikkan alisnya.

“Oke deh..”

*Flashback Lanjut :v

“Hahaha.. gapapa, Bob.” Yoni santai.

“Gue juga lagi galau mau ma-“

“Lu vokal gimana, Bob? lu bisa kunci-nya, kan?” Tembak Tara begitu saja.

“Ehh.. serius?! gantiin posisi Sony?!” Bobby kaget.

Tara dan Yoni mengangguk.

“Gue gatau lagu baru kalian..”

“Ehh, kite mainin lagu-lagu lama, kok. Lagian, album kite kan belum laku-laku amat disini. Beberapa lagu, lu bisa lah rhytm-rhytm biasa..” Tara menjelaskan.
“Oke, gue setuju. Sony ga marah?”

“Sony marah, Dunia kiamat.” Tara menahan tawa.

Mereka tertawa bersamaan. Tak lama, sosok Wendy datang. Mereka memutuskan untuk masuk lewat pintu samping yang sudah disiapkan.

“Kite cuma punya 25 menit untuk bahas ini.. manfaatin!” Instruksi Tara fokus.

Semuanya mengangguk setuju. Tara mengajarkan kunci-kunci di lagu-lagu Elm Street Circus dengan lebih detail.

“Gantiin posisi Sony itu momen paling gila menurut gue..” Bobby berkata kepada Tara, Yoni dan Wendy yang masing-masing sedang berkutat dengan peralatan mereka.
“Ntar dulu, gue kenal ama lu..” Wendy tak memalingkan pandangannya sejak perkataan Bobby tadi.

“Kite dulu satu panggung, Klostrop, ESC, Due-To-Style, Woo To A, ama Tidy Traffic.” Bobby tersenyum.

“Emm… pas pembukaan apa ya itu..” Wendy tampak berpikir.

“Gue juga udah lupa, pokoknya kita semua jadi band bayangan beberapa band gede..” Yoni tersenyum sambil jongkok menyetel senar gitarnya.

“Gue seneng banget bisa main sebelum Rosemary.. hahaha..” Bobby menyombongkan dirinya.

“Lol, ESC dapet siang-siang bolong jir..” Celetuk Tara malas.

“Hahaha.. gue inget nih.. Bobby
TidTraf? Tidy Traffic?” Tebak Wendy yakin.

Bobby hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Waduh, mantap! Ga salah liat gue?! Berapa abad lu vakum?” Wendy mendekati Bobby dan memeluk Bobby layaknya teman lama.

“Hahaha… biasa lah, benerin idup. Semua kegiatan diluar belajar, di cancel dulu..” Balas Bobby.

“Hahaha.. ceritanya tobat, Wen,” Sahut Yoni terkekeh.

“Lu lead guitar sekaligus backing vocal TidTraf, kan?” Tebak Wendy lagi.

Bobby hanya mengangguk.

“Sumpah, gue masih ga nyangka! Lu
seharusnya rekaman waktu itu, musik lu bener-bener cadas deh..” Puji Wendy lagi dan lagi.

Bobby hanya terus tersenyum tidak enak.

“Hahaha.. udah impressnya.. kita ditungguin tuh..” Tara menunjuk ke arah layar kamera menuju stage.

Anehnya, mereka juga meneriakkan nama ‘Elm Street Circus’. Seolah-olah mereka juga hadir untuk menonton sang band pembuka.

“Gimana ya, mereka pasti marah kalo gue gantiin posisi Sony..” Bobby malas.

“Iye sih, tapi mereka juga maklumin kali..” Yoni menyemangati.

“Semangat aja, Bob. Gue yakin lu
bisa..” Tara tersenyum.

Wendy ikut bergabung bersama barisan menuju stage.

“Gimana Woo To A?” Tanya Wendy cepat.

“Ehh? ‘Woo To A’ pake formasi baru. Michael Oscar juga udah keluar..” Jawab Bobby cepat.

“Ohh.. sayang ya.. jadi mereka tetep bawain lagu-lagu ‘Woo To A’ kan?”

“Iye, mereka juga bikin beberapa lagu.. Bagus juga sih, frontman nya si Ica..” Lanjut Bobby.

“Sisa Elm Street Circus doang nih.. wkwkwk..” Wendy tertawa kecil.

“hari gini, ‘Due-To-Style’ udah pada sibuk kerja..” Bobby terkekeh.

“Hahaha.. jaman kita dulu aja, mereka udah pada kuliah..” Yoni menyahut dari depan.

“Erik ex-DTS masih deket ama gue.. dia kan punya studio rekaman gitu.. jadi sering nemenin anak-anak take disana..” Lanjut Wendy.

“Ehh.. bukannya ga sopan nih, tapi kita harus masuk sekarang. Untuk intro, kite pake bacotan ala Sony. Wen, lu setel ini dibelakang..” Tara memberikan cd yang harus segera di setel.

“Oke.” Wendy segera berlari kebelakang.

“Bob, gue ama Yoni masuk duluan nanti..” Perintah itu hanya ditanggapi dengan anggukan dari Bobby.

“Tar..” Panggil Bobby membuat Tara
dan Yoni menoleh.

“Apa mereka bakal nerima gue?” Bobby masih tidak semangat.

“Pasti! Apalagi kalo mereka anak festival, pasti tambah seneng. Lu itu ex-TidTraf, Bob!” Tara menyemangati sambil tersenyum lebar.

“Hehehe.. thanks ya.. atas kepercayaannya..” Bobby tersenyum percaya diri.

Intro dimulai. Seperti kata-kata acak dari ‘Sony’. Terdengar ada sebuah pengumuman dari Tara dan Yoni.

“Yo, ma brotha!!!!” Teriak Tara setelah demo selesai.

Penonton membalas dengan teriakan semangat.
“Maaf sebelumnya, Sony dan Falvi gabisa gabung malem ini..” Semuanya merespon dengan sorakan kecewa.

“Eitsss.. bentar! bentar!” Lanjut Tara.

“Bentar guys! dengerin dulu..” Yoni ikut ambil andil.

Semuanya mulai tenang.

“Malem ini, kita bikin asik aje! kita punya drummer ex-Klostrop!” Lanjut Tara semangat.

“Woooo!!! Wendy! Wendy! Wendy!” Tampak semua penonton sudah mengenali nama beken itu.

“Belum selesai, guys.” Potong Tara.

“Gini, Tar. Kayanya belum ada yang sadar soal pengganti Sony..” Yoni melirik kearah Tara.

Dibelakang panggung,

“Gimana nih, Wen?” Cemas Bobby saat mendengar sorakan kecewa dari para penonton.

“Gue yakin lu bisa.. Sony dan elu punya kharisma yang setara.. pertahanin kekuatan fisik lu aja..” Pesan Wendy.

“Iya nih, gue gaada persiapan. Udah 2 tahun kurang, ga naik panggung gini..” Bobby menatap kedepan.

Wendy merangkul Bobby.

“We’re rised
from the very bottom of the long-bad journey.. so if ya saying about ‘get hated’, go check our own track record in the past..” Kata-kata yang membuat Bobby semakin semangat.
“Let’s do it, brotha!!!” Teriak Bobby yang mulai menaikki tangga.

Balik ke stage

“Gimana kalo sedikit flashback soal ‘Tidy Traffic’?” Tara berkata.

Semua penonton bersorak semangat.

“Bobby ‘Tidy Traffic’ returned!!! Here comes the show, ma baby!!” Teriak Tara semangat.

Bobby muncul dengan Epiphone yang telah disiapkan untuk Sony sebelumnya.

“Ga usah berlama-lama lagi, intinya gue disini buat gantiin Sony. Enjoy ya!!” Sapa Bobby hangat.

Penonton merespon baik.
“1..2..3.. Go!” Sore yang menakjubkan itu pun dimulai.

*Flashback off

“Wihh asik tuh, jadi selesai-nya gimana?” Mike semangat.

“Hahaha… dapet sorakan.. Sony nelpon gue, kakak lu itu greget pokoknya..” Bobby menepuk pundak Jaka.

Hari itu belum selesai, masih harus diselesaikan dengan obrolan hangat diantara mereka. Seorang rockstar telah kembali ke jalannya, sedikit cerita yang menjelaskan bagaimana mereka dapat menjadi seperti sekarang.

“Hari dimulai dengan garis start dan finish. Kau tak akan menghitung jarak untuk sampai ke finish. Tapi pada penghujung hari, kau pasti sampai k
garis itu. Hanya saja, beberapa orang memutuskan untuk terus berlari sehingga mereka menjadi pemenangnya, ada juga orang yang tak sanggup berlari sehingga ia berada di posisi pertengahan, dan yang paling parah adalah ketika orang tersebut bersantai saat perlombaan itu berlangsung. Hari akan berakhir, namun endingnya tetap milik kita..”

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s