X-World, Side Story (1) : Erron – Paid-Off

Hilangnya nama Ezio dari puncak daftar nama petinggi organisasi The Brotherhood of Chaos membuat beberapa anggota organisasi itu berpikir ulang mengenai status keanggotaan mereka. Beberapa orang memutuskan untuk tinggal, utamanya mereka yang loyal pada organisasi itu, dan yang lainnya memutuskan untuk pergi dengan alasan yang berbeda-beda.

Erron Black, salah satu orang baru di Brotherhood of Chaos yang telah berhasil membuat namanya cukup dikenal berkat reputasinya, memutuskan untuk hengkang begitu mengetahui bahwa Ezio telah mati. Dia menganggap perginya seorang Ezio Auditore berarti juga kepergian The Brotherhood of Chaos.

Keanggotaannya di organisasi itu merupakan sebuah perjanjian yang ia buat dengan Ezio. Ezio mati, berarti perjanjian selesai, berikut juga dengan keanggotaannya di organisasi itu.

Kembali menjadi tentara bayaran ‘freelance’ memang tidak mudah. Menunggu seorang klien yang ingin menggunakan jasanya bisa memakan banyak waktu, atau mungkin saja tidak ada yang mau menggunakan jasanya.

Tanpa tujuan dan arah yang jelas, Erron terus berjalan mengikuti kemanapun kakinya melangkah. Hingga akhirnya, ia tiba di sebuah domain bernama Apotos. Domain yang memiliki julukan ‘Domain Para Dewa’.

Di depan gerbang kota, terlihat Erron tengah berjalan sambil menenteng tas yang berisi senjata dan juga perbekalannya. Sambil berjalan, ia terus memperhatikan sekeliling. Tidak boleh lengah terhadap sekeliling, itulah prinsip yang terus ia pegang dimanapun ia berada.

Erron melewati gerbang kota, dan kini ia telah berada di dalam kota yang bernuansa Yunani kuno. Para penduduk yang berpakaian toga dan juga gelang emas di tangan dan kaki mereka lalu-lalang di sekitar Erron. Ini adalah kota kedua yang ia datangi dalam perjalanan tanpa tujuannya setelah pergi dari Brotherhood.

Seseorang berlari melewati Erron dan menabrak pundaknya. Orang itu tidak berhenti, tapi ia terus berlari dan baru meminta maaf kepada Erron begitu ia sudah jauh. Erron hanya menatap orang itu. Ia ingin mengejarnya, tapi ia pikir itu hanya akan membuang-buang waktunya.

Erron tiba di depan sebuah bar. Perut keroncongannya yang terus mengeluarkan suara rupanya membuat kakinya berjalan menuju tempat ini. Ia pun masuk ke dalam bar itu dan ia duduk di salah satu meja kosong.

Sambil menunggu pesanannya, Erron memeriksa perbekalan yang dibawanya, terutama senjata.

“6 di pistol dan 4 di tas. Totalnya 10.” Erron menutup silinder revolvernya sambil menggerutu pelan. Sepertinya ia perlu membeli peluru untuk senjatanya, tapi apakah ia bisa mendapatkan peluru di kota yang tergolong agak primitif ini?

Pesanan Erron datang, dan ia pun segera memakannya. Saat ia tengah sibuk menyantap makanannya, sekumpulan prajurit yang berbadan kekar masuk ke dalam bar. Prajurit tersebut memang tidak mengganggu pengunjung tapi mereka membuat keributan dengan mengganggu para pelayan wanita di bar itu.

Erron awalnya tidak peduli dengan para prajurit itu, tapi salah satu dari mereka telah berhasil mendapat perhatian dari Erron. Salah satu prajurit itu menyambar gelas minuman Erron dan menghabiskannya seolah itu minuman miliknya. Tanpa babibu, Erron berdiri dari mejanya membanting prajurit yang telah menghabiskan minumannya ke lantai bar.

“Heh, gendut! Lo dengerin gue baik-baik! Minuman itu nggak gue beli dengan gratis, dan karena lo udah berani nenggak semuanya ke dalam perut lo, sebaiknya lo serahin duit lo buat ngebayar minuman itu!”

Si prajurit hanya tertawa mendengar ancaman Erron. Rasa ragu-ragu Erron hilang. Dalam hitungan detik, sepatu boots Erron menghantam kepala prajurit itu hingga membuat wajahnya dipenuhi dengan memar. Prajurit itu pingsan, dan Erron langsung mengambil kantong berisi uang yang ada di pinggang prajurit itu.

Tindakan Erron sukses menarik perhatian orang-orang yang ada di bar, termasuk ketua dari para prajurit itu.

“Berani sekali kau menyerang anak buah.” Ucap si Ketua Prajurit.

“Lalu? Salahin anak buah lo yang udah berani ngabisin minuman gue trus main lari kayak banci. Kalo anak buah lo udah sadar, kasih tau dia. Lain kali kalo pengen minuman, pesen sendiri.” Si Ketua Prajurit itu langsung menghantam meja Erron hingga terbelah menjadi 2.

Erron bangun dari tempat duduknya dan memukul wajah pria itu. Si ketua prajurit itu terpental ke belakang. Para prajurit yang tidak lain adalah anak buahnya langsung menangkap si ketua agar tidak menabrak dinding setelah menerima pukulan dari Erron.

“Kurang ajar!”

Si ketua menyuruh semua anak buahnya untuk mengepung Erron. Keributan yang terjadi di bar membuat para pengunjung lain pergi, begitu juga dengan beberapa pelayan wanita di bar itu.

Erron membunyikan engsel-engsel di jarinya dan juga lehernya, “Ckh! Keparat. Siapa duluan yang mau tepar kayak temen lo barusan?” Serentak para prajurit itu langsung menyerang Erron bersamaan. Erron melompat naik ke atas kursinya, lalu ia melompat lagi untuk menghindari serangan para prajurit itu.

Para prajurit itu saling bertabrakan satu sama lain, karena gagal untuk menangkap Erron. Para prajurit itu kembali bangun, dan menyerang Erron satu persatu. Walaupun ukuran tubuh para prajurit itu lebih besar daripada Erron, tapi itu bukanlah masalah besar bagi Erron. Ia dapat dengan mudah mengalahkan mereka satu demi satu.

Tersisa satu orang yang masih berdiri dari para prajurit itu, yaitu si ketua. Melihat semua anak buahnya dapat dikalahkan dengan mudah, ia langsung menyerang Erron menggunakan potongan kayu dari meja yang telah ia hancurkan sebelumnya.

“Dasar pengecut.” Erron menghindari tiap serangan yang dilancarkan oleh si ketua. Ia menunggu waktu yang tepat untuk menyerang si ketua sekaligus menjatuhkannya.

Ketika si ketua tengah mengangkat potongan kayunya untuk menghantam Erron, Erron langsung bergerak dengan cepat dan menghantamkan pundaknya dengan kencang ke tubuh orang itu. Si ketua terpental ke belakang dan potongan kayu yang di pegangnya terlepas.

Kini si ketua tengah terbaring di lantai, dan Erron menindih tubuhnya di atas. Erron langsung melancarkan pukulan dengan kedua tangannya secara bertubi-tubi ke arah wajah si ketua. Erron tidak berhenti meskipun wajah lawannya tengah dipenuhi banyak memar.

Ia terus melontarkan pukulannya. Hingga akhirnya, seseorang menangkap tangannya dari arah belakang. Erron menengok untuk melihat siapa yang telah menangkap tangannya, tapi belum sempat ia dapat melihat wajah orang itu, sebuah pukulan keras sudah lebih dulu melayang mengenai wajah Erron.

Pukulan tersebut sukses membuat Erron terpental ke lemari bar. Dengan rasa sakit yang masih terasa di sekujur tubuhnya akibat benturan dengan lemari bar, Erron kembali bangkit dan menatap orang yang telah membuatnya terpental barusan.

“Arcas, apa yang telah terjadi?” Tanya orang itu pada si ketua prajurit yang telah dibuat babak belur oleh Erron.

“H… H… Hercules…” Pria itu hendak mengatakan sesuatu, tapi ia tidak mampu mengucapkannya karena kondisi wajahnya yang dipenuhi rasa sakit.

“Berani sekali kau menyerang perwiraku manusia!”

“Oh, jadi lo mau bernasib sama juga kayak dia?”

Dengan pedenya, Erron membiarkan orang bernama Hercules itu berlari ke arahnya. Hercules hendak menghantam Erron menggunakan tubuhnya, dan Erron pikir, ia tidak jauh lemah seperti anak buahnya yang lain.

Sayangnya ekspektasi itu salah besar dan sebagai konsekuensi dari rasa pedenya itu, Erron harus kembali menerima rasa sakit yang lebih parah dari sebelumnya di sekujur tubuhnya.

Hercules berhasil menghantam Erron dan membuat tubuhnya menabrak lemari bar, HINGGA menembus keluar menghancurkan dinding belakang bar. Erron terpental ke jalan di luar Bar. Erron berusaha bangkit, tapi mulutnya memuntahkan darah.

“Ckh! Keparat!” Gerutu Erron.

Hercules melompat keluar dari dalam Bar melewati lubang yang ia buat dengan menghantamkan Erron. Ia berjalan perlahan menghampiri Erron.

“HOAAA!!!”

Hercules menginjak tubuh Erron yang berusaha berdiri. BUM!!! Tubuhnya kembali menghantam tanah dengan keras dan untuk sesaat terdengar bunyi tulang patah dari tubuh Erron. Entah itu tulang punggung atau tulang rusuk dadanya yang patah, yang jelas saat ini Erron benar-benar dibuat tidak berdaya oleh Hercules.

Hercules mengangkat tubuh Erron yang sudah tidak berdaya, lalu ia menatap Erron yang setengah sadar.

“Kau mempermalukan pasukanku di depan para penduduk. Sekarang kau tau resiko mencari masalah dengan anak dari Zeus!”

Tangan kanan Hercules berancang-ancang, bersiap untuk melancarkan serangan terakhir yang mungkin dapat membunuh Erron yang sudah tidak berdaya. Dalam keadaannya itu, Erron masih sempat mempermalukan lawannya dengan meludahi wajah Hercules. Hercules yang tidak terima dengan perlakuan Erron, langsung melayangkan pukulan ke arah perut Erron.

*SWUP! JLEB!!!*

“AAAAARGH!!!” Hercules mengerang kesakitan karena sebuah benda tajam yang mendarat tepat di pelipisnya. Berkat benda tajam itu, Erron berhasil selamat dari maut. Sebuah pertanyaan cepat, siapakah yang melemparkan benda tajam itu?

“Lama tidak berjumpa, Black” Ucap seekor monster kadal yang berpakaian seperti ninja yang muncul dari tengah-tengah kerumunan orang di jalan.

“Rep… Tile…”

Setelah melihat orang yang menyelamatkannya itu, Erron jatuh pingsan. Monster kadal yang berpakaian seperti ninja itu membopong tubuh Erron dan berniat membawanya pergi sebelum Hercules berhasil mencabut kunai yang tertancap di pelipisnya, tapi sebelum pergi, Reptile menangkap bau familiar yang sama dengan bau Erron dari dalam bar.

Reptile masuk ke dalam bar sambil membopong Erron, dan ia menemukan tas milik Erron yang terbengkalai di atas lantai bar. Reptile mengambil tas itu, dan ia pun pergi dari Bar bersama Erron yang tengah ia bopong di pundaknya.

Hercules berhasil mencabut kunai yang tertancap di pelipisnya, dan ia menyadari kalau Erron sudah kabur bersama Reptile. Hercules kesal, dan ia melampiaskan kekesalannya itu dengan menghancurkan barang-barang yang ada di sekelilingnya.

“Akan ku dapatkan kau lain waktu!” Gerutu Hercules.

**

“Ugh! Lengan gue….” Ucap Erron seraya ia berusaha bangun dari kasur.

Akhirnya Erron tersadar dari pingsannya. Ia bingung, bagaimana dirinya bisa ada di dalam sebuah kamar penginapan? Padahal sebelumnya ia tengah terkapar di tengah jalan. Ia melayangkan pandangannya ke sekeliling, berusaha mencari sesuatu. Matanya kini tertuju pada barang yang ada tepat di samping kasurnya yang tidak lain adalah tas perbekalannya.

“Mau sampe kapan lo ngeliatin gue kayak orang tolol di atas sana?” Ucap Erron pada seseorang. Sepertinya dia menyadari bahwa ia tidak sendirian di dalam kamar itu.

“Masih kayak dulu. Mata lo emang masih tajem.” Reptile perlahan-lahan muncul. Rupanya ia tadi menggunakan kemampuan kamuflasenya dan bergelantungan di atas langit-langit kamar sambil menunggu Erron untuk siuman. Reptile turun dan berdiri di depan Erron.

“Ninggalin Royal Army of United Outworld tanpa alasan, dan sekarang gue nemuin lo lagi bikin keributan dengan salah satu dari penguasa di Apotos. Black… Black… Gue nggak pernah ngerti dari dulu jalan otak lo.”

“Terserah lo mau ngomong apa. Lo nggak tau urusan gue, jadi urus urusan lo sendiri.” Erron bangkit dari kasur, lalu mengambil tasnya dan berjalan pergi meninggalkan kamar. Ketika Erron hendak membuka pintu, Reptile mencegah Erron pergi dengan menahan pintu itu.

“Lo pikir lo mau kemana?” Tanya Reptile.

“Minggir.”

“Lo nggak bisa jalan-jalan bebas lagi di kota. Hercules pasti udah ngerahin tentaranya buat nyari lo.”

“Trus?” Tanya Erron cuek, “Gue nggak takut sama barbar brengsek itu.”

“Lagian kalo gue dikejar sama babon itu, gue nggak sendirian kan? Lo juga jadi salah satu targetnya selain gue.” Tambah Erron.

“Sebelum nama lo masuk daftar, gue udah dari dulu jadi incerannya. Itu juga udah resiko dari amanat Kotal yang harus gue jalanin.” Mendengar Reptile menyebutkan nama Kotal, Erron mendadak menghentikan langkahnya sesaat.

“Kotal Khan. Dia ngasih lo amanat apa?” Tanya Erron.

“Xexexe… Seorang Erron Black ternyata bisa kepo juga, xexexe.” Erron tidak menanggapi ledekan Reptile.

“Oke, oke. Jadi gini, dulu pernah ada pasukan Apotos yang nyerang United Outworld. Padahal saat itu, Apotos dan United Outworld lagi dalam perjanjian aliansi, dan udah jelas, hal itu bikin Kotal curiga. Perjanjian aliansi itu ditanda tanganin atas nama Kotal sebagai perwakilan United Outworld dan Zeus sebagai perwakilan dari Apotos.”

“Trus?”

“Dengan perintah Kotal dan ijin Zeus, gue disuruh nyari tau siapa yang bertanggung jawab atas serangan dari Apotos. Hasil investigasi gue menemukan kalo pelakunya adalah Hercules. Untuk seorang Demi-God, orang itu lumayan brengsek dan berbahaya.”

“Lo nemuin bukti kalo si barbar itu pelakunya, trus apa respon bokapnya?”

“Jalan pikiran Zeus nggak jauh beda sama Kotal. Zeus pengen Hercules dihukum mati.” Perbincangan keduanya semakin menarik. Erron makin tertarik dengan urusan milik Reptile yang dulu juga teman seperjuangannya sebagai tentara elit kerajaan Outworld (Domain Erron).

“Kapan gue bisa liat kepala barbar itu dipasung? Kayaknya gue bakalan nyempetin untuk dateng dan nonton acara itu.” Tanya Erron.

“Nggak secepet itu. Zeus tau kalo anaknya pasti akan berontak begitu tau kalo dia akan dihukum mati. Untuk menghindari pecahnya Apotos karena pemberontakan Hercules, Zeus minta tolong sama Kotal untuk ngebunuh Hercules diem-diem. Begitu Hercules mati, Zeus akan mengungkap pengkhianatan Hercules ke United Outworld buat ngelurusin semua isu-isu buruk yang beredar tentang Outworld.” Reptile selesai menjelaskan semuanya pada Erron.

“Itu amanat Kotal ke gue. Gue harus ngebunuh Hercules dengan rapih. Kalo lo masih di Royal Army sampe sekarang, Kotal pasti nyerahin amanat ini ke lo.” Reptile melemparkan sesuatu pada Erron. Erron menangkap benda yang dilemparkan Reptile kepadanya.

Sebuah medali berbentuk tengkorak dengan ukiran huruf ‘E’. Dulu benda itu jadi kebanggan bagi Erron, tapi sekarang, benda itu dianggapnya tidak beda jauh dari sebuah gantungan kunci.

“Barbar brengsek itu masih hidup sampe detik ini. Ada apa sama Reptile ‘The Noxious Poison’ yang dulu? Apa pertambahan umur bikin tulang-tulang lo ikut kaku?” Erron meledek Reptile. Reptile hanya tertawa mendengarnya.

“Lo sendiri? Lo baru dibogem sekali sama dia aja langsung kayak curut yang baru abis dikeroyok kucing,” Reptile menepuk pundak Erron, “Gue tau sekarang lo lagi dendam sama dia, jadi gue bikin ini simpel. Gue mau ngasih lo kesempatan untuk melampiaskan dendam lo ke Hercules secara fair. Ambil atau terima, gue tunggu lo di depan penginapan.”

Reptile keluar lewat pintu kamar meninggalkan Erron yang masih berdiam diri di depan pintu sambil menggenggam medali yang jadi tanda pengenalnya sewaktu ia masih menjadi bagian dari Royal Army.

Reptile paham betul dengan sikap temannya yang keras kepala dan pendendam itu. Oleh karena itu, dia memberi Erron kesempatan untuk membalaskan dendamnya pada Hercules. Ya, hitung-hitung juga agar pekerjaannya lebih terbantu sedikit dengan campur tangan dari Erron.

Kalau Erron menerima tawaran Reptile, Erron akan keluar dari pintu depan penginapan dimana Reptile tengah menunggunya saat ini, tapi jika tidak, Erron pasti akan keluar lewat jendela kamarnya di penginapan itu. Sama seperti yang ia lakukan dulu saat ia pergi meninggalkan Royal Army.

10 menit berlangsung, belum ada tanda-tanda dari Erron. Reptile masih mencium bau Erron di dalam penginapan, pertanda ia masih berada di dalam sana. Ini membuat Reptile cukup curiga. Berpikir panjang bukanlah gaya Erron Black yang ia kenal.

Bau Erron semakin tercium erat di hidung Reptile, pertanda Erron mulai mendekat ke arah pintu depan penginapan. Pintu penginapan terbuka, dan Erron pun keluar sambil menenteng tas miliknya.

“Abis mikir? Tumben banget tuh otak dipake?” Tanya Reptile.

“Di penginapan ini sama sekali nggak ada peluru yang bisa gue pake. Persediaan peluru gue makin tipis.” Ucap Erron.

“Oh, jadi tadi lo nyari peluru di dalam? Eh, gimana tawaran gue? Ambil atau….”

“Gue ikut untuk ngabisin barbar itu, tapi gue nggak mau balik ke Royal Army.” Ucap Erron.

“Oke, Black. Kita deal. Ngomong-ngomong, lo nggak bisa dapet peluru disini. Domain ini belum kenal yang namanya senjata api. Semua masih serba kuno, tapi mungkin masalah amunisi lo bisa diakalin.”

Reptil membawa Erron menuju tempat pandai besi. Mereka meminta pada pandai besi itu untuk membuat 6 set peluru dengan jumlah peluru per-set sebanyak 6 buah. Awalnya pandai besi itu menolak dengan alasan tidak mengetahui apa itu peluru. Erron pun memberikan 1 buah peluru miliknya untuk dijadikan contoh sebagai pandai besi itu untuk membuat peluru.

Pandai besi itu akhirnya setuju untuk membuatkan Erron 6 set peluru dalam waktu kurang dari 1 jam, tapi ia kekurangan satu bahan penting dalam pembuatan peluru, yaitu bubuk mesiu.

Reptile memutar otaknya untuk mencarikan si pandai besi bubuk mesiu. Ia bersama Erron pergi ke salah satu gudang senjata milik pasukan Apotos, dan mereka berhasil menemukan apa yang mereka cari. 1 karung bubuk peledak / mesiu sudah mereka amankan, dan mereka segera mengantarkan barang itu pada pandai besi.

**

6 set peluru telah siap, dan Erron meletakkan set-set peluru itu pada sabuk dan juga tali strap khusus peluru yang terpasang di bajunya. Kedua revolver Erron terisi penuh, dan kini ia siap untuk menuntaskan Hercules bersama Reptile.

**

Keesokan harinya, tepat tengah hari.

Erron dan Reptile tiba di depan jalan masuk menuju Istana Hercules yang terletak di tengah sebuah pulau kecil di utara Apotos. Istana Hercules di kelilingi tebing dimana tepat di bawahnya adalah laut dalam yang sangat berbahaya, karena dihuni oleh puluhan monster ular air yang disebut Serpent.

Erron dan Reptile melewati jalan masuk itu dengan cepat dan tanpa membuat para serpent sadar akan kedatangan mereka. Sesudah melewati jalan masuk, kini mereka tiba di hadapan pintu masuk besar.

“Kita harus memanjat—“ Belum sempat Reptile menyelesaikan ucapannya, Erron menendang pintu masuk besar itu dengan kakinya. Tidak diduga-duga, pintu masuk besar itu terbuka dengan mudah hanya dengan satu tendangan dari seorang manusia yang ukurannya ¼ kali ukuran pintu itu.

“Wow.” Reptile hanya menggeleng melihat ulah Erron. Mereka berdua lanjut melangkah masuk, dan mereka tiba di hall utama istana Hercules.

Tentu saja istana sebesar ini tidak mungkin tidak punya orang untuk menyambut tamu tak diundang seperti Erron dan Reptile. Tepat saat mereka baru 3 langkah masuk ke dalam hall utama, sambutan pertama bagi orang-orang seperti mereka muncul tepat dari atas mereka.

Makhluk besar berbentuk anjing dengan 3 kepala menerjang mereka berdua dari atas. Reptile dan Erron yang sudah terlatih untuk menerima serangan tiba-tiba dapat dengan mudahnya menghindar dari monster bernama cerberus itu.

“Ternyata bukan orang-orang Outworld doang yang hobi melihara monster di tempat tinggal mereka.” Ucap Reptile.

“Ya seenggaknya mereka melihara sesuatu yang lebih keren. Mantan bos gue Cuma bisa melihara kadal yang jago cosplay pake baju ninja.” Ledek Erron.

“B*ngs*t lo, Black.” Ucap Reptile sewot.

Monster cerberus itu kembali menerjang kedua penyusup istana. Sepertinya tidak butuh waktu lama sampai Hercules sadar akan kedatangan mereka di rumahnya. Suara berisik yang ditimbulkan salah satu dari hewan peliharaan Hercules itu membuat beberapa penjaga di istana yang sangat besar itu keluar untuk membantunya meringkus Erron dan Reptile.

“Lo mau yang mana? Monster atau pemanah?” Tanya Reptile pada Erron.

“Pemanah.” Jawab Erron cepat. Keduanya mengangguk, dan mereka pun mulai melakukan pekerjaan mereka untuk menjatuhkan target masing-masing.

Erron berlari memanjat dinding istana dan bergelantungan naik melewati lampu-lampu gantung yang ada di sekitar istana.

Dengan 1 peluru, Erron dapat meringkus 2 penjaga yang bersenjatakan panah sekaligus. Dengan persediaan peluru yang terbatas, ia harus berhemat untuk perjalanannya setelah ini. Sementara itu, Reptile terlihat cukup kewalahan dengan targetnya.

Reptile kembali memutar otak untuk menjatuhkan targetnya se-efisien mungkin seperti rekannya. Ia menggunakan kemampuan kamuflase miliknya untuk mengendap-endap mendekati wajah cerberus. Begitu sudah dekat, ia langsung menancapkan kunainya pada mata tiap kepala cerberus.

Ketiga kepala cerberus itu meraung dengan kencang, dan momen itu dimanfaatkan Reptile dengan baik. Ia menembakkan lendir racun miliknya sebanyak-banyaknya ke dalam perut cerberus itu melalui salah satu mulut kepala mereka yang terbuka. Beberapa saat kemudian, terlihat cerberus itu kembali meronta dengan keadaan perut mereka yang perlahan mulai menampakkan lubang.

Dari lubang-lubang pada perut cerberus itu, darah segar mengalir keluar membasahi lantai istana. Darah yang dikeluarkan makhluk itu cukup banyak, sampai-sampai membuat genangan setinggi mata kaki di hall utama.

“Sori aja. Gue lebih keren daripada lo.” Ejek Reptile pada tubuh cerberus yang sudah tidak bernyawa itu.

“APA YANG TERJADI DISINI?!! DIMANA PARA PENJAGA?!!” Gerutu Hercules yang baru datang ke hall utama istananya. Ia langsung tercengang begitu melihat seisi istananya dipenuhi oleh mayat-mayat pasukan penjaga dan juga hewan peliharaannya, begitu juga dengan ruangan utama istananya yang digenangi oleh darah.

“KEPARAT KALIAN!!!”

“Atas perintah Yang Mulia Kotal Khan, pemimpin United Outworld, dan juga izin dari Yang Perkasa Zeus dari Apotos, kami datang untuk mengklaim nyawamu atas pelanggaran yang sudah kau lakukan terhadap perjanjian aliansi Outworld-Apotos!!!” Ucap Reptile.

“Jadi kalian sudah mengetahuinya? HAH! Sudah sepatutnya kalian para makhluk rendahan Outworld tunduk pada kami para Dewa dari Apotos! Derajat kalian terlalu jauh rendah di bawah untuk disetarakan dengan kami! Kalian bahkan tidak pantas untuk dibiarkan hidup!” Ucap Zeus.

“Waktu barbar bajingan itu bilang makhluk rendahan, dia jelas-jelas natap lo.” Ucap Erron.

“Gak usah ngingetin gue, tadi gue juga liat.” Keluh Reptile pada Erron, “HEH! KENDI TURKI! JENGGOT RAPUNZEL! TURUN SINI LO KALO NYALI LO EMANG SEBESAR MULUT LO!!!” Reptile melampiaskan semua emosinya pada kalimat itu.

“BAH! Aku tidak perlu membuang-buang tenagaku untuk menangani 2 penyusup rendahan seperti kalian,” Hercules menjetikkan jarinya dan seketika muncullah seekor kuda putih bersayap di atas hall utama.

“Bersiaplah untuk mati di tangan pendamping setiaku yang paling perkasa, PEGASUS!!!” Ucap Hercules menyombong. Kuda terbang itu meringkih seolah ingin menunjukkan kehebatannya di depan Erron dan Reptile.

“HABISI MEREKA PEGAS—“

*DUAR!*

Mulut Hercules kalah cepat dengan tembakan Erron. Sebelum ucapan pria berbadan besar itu selesai, makhluk yang disebutnya sebagai pendamping setianya, yaitu pegasus, jatuh ke lantai hall utama yang digenangi oleh darah.

Hercules tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pegasus dapat dijatuhkan dengan mudah oleh lawannya hanya dengan sebutir peluru yang melesat melewati tubuh kuda terbang itu. Hercules berusaha menyangkal kematian pegasus, dan untuk sesaat terlihat Pegasus masih dapat meringkih dan berusaha untuk bangkit.

*DUAR! DUAR! DUAR! DUAR! DUAR!!*

Yap. Tamat sudah nasib kuda tukang pamer itu….

“Lo ngabisin satu set peluru Cuma untuk nyiksa kuda yang jelas-jelas bisa mati Cuma dengan 1-2 kali tembak?” Ucap Reptile.

“Kuda, terbang. Kuda terbang, yang perkasa.” Erron kembali mengeluarkan sarkasnya yang kini ditujukan pada Hercules.

Hercules melompat turun. Kini ia menatap Erron dan Reptile dengan sorot mata penuh dendam.

“Akan kubunuh kalian, dan kupersembahkan tubuh kalian pada Typhon!” Ucap Hercules dengan nada marah.

Hercules berlari ke arah Erron dan Reptile. Erron kembali menghabiskan satu set pelurunya untuk menjatuhkan Hercules, tapi gagal karena peluru-peluru tersebut malah memantul begitu menyentuh kulit Hercules.

Senjata api rupanya tidak mampu melukai Hercules. Erron pun beralih menggunakan tangan kosong dalam pertarungannya. Hercules dengan kekuatan fisiknya yang melebihi manusia normal, dapat dengan mudah mengungguli Erron dan Reptile. Keduanya cukup kewalahan walaupun mereka lebih unggul dari segi jumlah.

“Tubuh barbar itu lebih kuat daripada besi. Kita harus cari cara lain untuk ngebunuh dia dengan efisien.” Ucap Erron.

“Tidak mungkin. Kalau memang tubuhnya lebih kuat dari pada besi, itu berarti area sensitifnya juga—“ Bantah Reptile, tapi sebelum ia selesai dengan ucapannya Erron telah terlebih dahulu memotongnya.

“Terima kasih idenya.”

“Eh? Lo nggak serius kan, Black?!!”

Erron berguling menghindari pukulan Hercules. Tepat saat ia berada di bawah tubuh barbar itu, Erron langsung melancarkan pukulan ke arah area sensitif milik Hercules, dan hasilnya….

*PLANG!!!*

“HGH!!!!” Erron yang malang. Itu pasti sakit.

“Dia bener-bener nganggep omongan gue serius. Dasar bodoh.” Gerutu Reptile.

Reptile memuntahkan racun dari mulutnya ke tangannya. Lalu, dia mengusapkan kedua tangannya untuk meratakan racun itu di kedua telapak tangannya. Reptile melihat Hercules akan melancarkan serangannya pada Erron yang masih membatu sambil memegangi tangan kanannya yang memar, karena… Ya, kalian tau sendiri.

Reptile berlari dan menerjang Hercules dari belakang, lalu ia menggenggam wajah Hercules dengan kedua tangannya yang telah dilapisi racun. Hercules mengerang kesakitan begitu kuku ibu jari Reptile berusaha menancap lebih dalam di matanya. Ditambah lagi, racun yang ada di kedua telapak tangannya membuat kulit pipinya terkikis secara perlahan.

Kedua kaki Reptile berhasil mengunci gerakan tangan Hercules untuk sementara waktu. Melihat ini sebagai peluang, Reptile segera mengingatkan Erron akan kesempatan ini.

“Black! Tembak Hercules!”

“Apa yang harus gue tembak?” Tanya Erron.

“Pake otak lo! Lo punya otak kan?” Bingung dengan apa yang harus ia lakukan, Erron membiarkan instingnya mengambil alih tubuhnya. Tangan kanannya bergerak sendiri untuk mencabut revolvernya dari kantong senapan di pinggang. Kedua kakinya bergerak untuk mencari sudut tembakan yang tepat, begitu juga dengan tubuhnya. Apa yang ingin dilakukan oleh Insting Erron?

Sebuah tembakan dilepaskan oleh Erron. Peluru itu melesat dengan cepat dan tak disangka, peluru itu masuk ke dalam mulut Hercules. Dengan kecepatan tinggi, peluru itu memantul di dalam tubuh Hercules, menembus tiap organ dalam yang ada pada tubuhnya. Setelah memantul cukup lama di dalam tubuh Hercules, peluru itu mencuat keluar dari dalam mulut Hercules dan menghantam salah satu lampu gantung di hall utama.

Peluru itu jatuh dari atas, ke dalam genangan darah. Begitu juga tubuh Hercules yang sekarang sudah tidak bernyawa lagi. Reptile melepaskan semua cengkaramannya dari tubuh Hercules. Kedua rekan kerja itu menghela nafas lega, karena kini urusan mereka masing-masing telah terpenuhi. Hasrat balas dendam Erron tuntas, begitu pula dengan amanat kotal yang diberikan kepada Reptile.

“Tadi kalo gue nggak salah liat, peluru lo mantul ke dalam perutnya dan ngancurin beberapa organ dalamnya. Dari mana lo dapet inisiatif ngebunuh orang kayak gitu?” Tanya Reptile penasaran.

Erron mengarahkan jari telunjuknya ke arah kepalanya. Mengisyaratkan satu lagi sarkas yang ia tujukan pada Reptile. Reptile tertawa terbahak-bahak mengetahui jawaban dari Erron. Kedua orang itu pergi meninggalkan Istana Hercules sambil menyeret tubuh sang pemilik istana di belakang mereka.

Di jalan masuk menuju istana, terlihat sudah ada beberapa pasukan aliansi Outworld-Apotos yang telah menunggu mereka. Aneh, Reptile tidak mengingat kalau ia meminta bantuan atau bahkan memberitahu Kotal / Zeus, dia akan menyerang Hercules hari ini.

Saat Reptile menanyakan pada komandan pasukan aliansi itu tentang siapa yang menyuruh mereka datang, si komandan menjawab bahwa seorang pria tua yang bekerja sebagai penjaga penginapanlah yang memberitahu mereka tentang serangan yang akan dilakukan oleh Reptile. Perhatian Reptile, langsung tertuju pada satu orang yang tidak lain adalah, Erron.

“Jadi lo nggak nyari peluru waktu di penginapan?” Tanya Reptile.

“Nyari. Gue Cuma takut nanti Kotal sedih kalo dia kehilangan hewan peliharaan satu-satunya.” Erron menepuk pundak Reptile dan mengembalikan medali tanda pengenalnya yang sempat diberikan oleh Reptile, tapi ia kembalikan lagi padanya.

Erron berjalan pergi meninggalkan Reptile dan pasukannya. Kakinya kembali melangkah untuk mencari petualangan baru seorang diri. Jauh di belakangnya, Reptile sedikit tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kepergian rekannya.

“B*ngs*t lo, Black.” Ucapnya sedikit tertawa.

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Iklan

2 tanggapan untuk “X-World, Side Story (1) : Erron – Paid-Off

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s