Legend of Moonlord, Part16 (Responsibility bagian 2)

“Hey, The Cursed Seven!” teriak Shafa lantang.

“Kenapa? Apa kau ingin mengatakan permohonan terakhirmu sebelum mati?” jawab Deny sombong.

“Sebelum kalian coba melakukan itu, mari kita buat perjanjian. Jika aku kalah, maka kalian akan jadi wakil pimpinan selanjutnya. Tapi jika kalian kalah, maka kalian harus melatih anak ini sampai dia menjadi seorang Assassin. Apa kalian setuju?”

“Cih! Persetan dengan itu semua!!” Deny langsung menyerang maju.

“Aku anggap itu sebagai persetujuan.”

Deny melancarkan pukulannya, disaat bersamaan Shafa menghilang. Seujung jari lagi dan Sandy akan terkena pukulan itu.

“Sial! Kemana perginya dia?” gerutu Deny.

“Deny, dibawahmu!” teriak Adelia. Namun terlambat sudah.

Limit Breaker

Deny pun terpental hingga membentur dinding benteng. Tapi ia bangkit kembali seperti tak terjadi apapun. Sandy mematung. Padahal dengan pertahanan penuh, Sandy dibuat tak sadarkan diri oleh serangan itu, tapi Deny hampir tidak terpengaruh sama sekali. Benar-benar ketahanan fisik yang hebat.

Deny kembali maju dan kali ini Nia, juga si kembar ikut maju bersamanya. Vlad dan Slad berlari menyilang. Mereka juga menyerang Shafa tanpa henti. Merasa Shafa sudah teralihkan, Nia datang begitu cepat dari belakang lengkap dengan pisau yang diposisikan menusuk. Vlad dan Slad juga menusuk ke arah Shafa secara bersamaan dari depan. Tapi pada akhirnya….  Tak ada satu serangan pun yang dapat mengenainya.

Shafa justru berdiri diatas belati yang dipegang Nia. Raut terkejut di wajah Nia seketika berubah menjadi senyum licik. Deny datang dari belakang Shafa dengan tangan yang siap menangkap dan meremas musuhnya. Shafa melompat untuk menghindar dan diwaktu yang sama, anak panah yang dilepaskan Adelia meluncur deras menuju dirinya.

“Taktik kalian boleh juga, tapi…” Shafa lalu menghilang. Anak panah pun berlalu begitu saja.

“Sial. Aku meleset,” keluh Adel.

“Tidak, kau tidak meleset sama sekali. Kombinasi serangan tadi harusnya membuatnya tidak fokus padamu. Seharusnya anak panahmu tak bisa dihindarinya. Kalaupun bisa, dia tidak akan lolos tanpa luka,” jelas Sisil.

“Kalian semua cepat kembali!! Shafa telah…” belum sempat menyampaikan maksud perkataannya, Sisil merasakan sesuatu.

‘Energi ini…’

Wind Punch

Nia, Deny, Vlad dan Slad terhempas begitu kuat. Mereka terlempar hingga membentur tembok benteng dan membuatnya retak. Segumpal bola angin juga datang dan menghajar Adelia. Dari kelimanya hanya Deny yang masih sadarkan diri meski ia sanggup lagi berdiri. Shafa lalu memperlihatkan dirinya kembali. Aura gelap menyelimuti tubuhnya tatapannya berubah dingin.

“Sebaiknya kau pindah ke dekat pria berkuncir itu,” perintah Shafa pada Sandy. Tanpa banyak bertanya, Sandy menuruti perkataan Shafa.

“Ternyata kau menanggapi ini dengan serius ya, Shafa The Black Lotus?” ucap Sisil.

“Ya, mau bagaimana lagi. Aku sedang tidak ingin terluka dan kombinasi serangan bawahanmu terlalu bagus. Aku tak bisa menghindar jika tidak serius,” balas Shafa.

“Apa boleh buat kalau begitu, aku juga akan menggunakannya. Kita tentukan dipertarungan ini.” perlahan Sisil melangkah maju.

“Hooo, ini akan jadi menarik.” mereka tidak saling berhadapan.

“First Ability : Assasin’s Soul”

Aura gelap yang sama seperti Shafa mulai menyelimuti Sisil.

**************

“Nah, Shafa. Ayo kita mulai.”

“Dengan senang hati.”

Strike and Shadow

Satu kedipan mata dan mereka berdua hilang dari pandanganku. Buk… Buk… Buk… Hanya suara dari pukulan merek yang dapat ku tangkap.

“Hey, nak. Apa kau bisa mengendalikan Magical Power?” tanya pria disebelahku. Kalau aku tidak salah ingat namanya Diky.

“I-iya, bisa,” jawabku.

“Fokuskan sebagian Magical Power milikmu dimata dan pertajam penglihatanmu, maka kau akan bisa melihat gerakan mereka,” ujarnya. Aku pun mengikuti saran Diky. Benar saja, aku bisa melihat gerakan Shafa dan Sisil.

Mereka bergerak dengan sangat cepat. Beradu pukul diudara, jatih sambil mengadu tendangan, lalu setelahnya mengambil jarak dan mengulangnya lagi. Sesekali mereka juga menghindar dengan menjauh pergi dari lawannya. Pertarungan yang tadinya berimbang, kini mulai terasa aneh.

“Apa kau bisa merasakannya?” tanya Diky.

“Ya, gerakan Sisil mulai melambat,” jawabku”Kau benar. Sejak awal Sisil memang bukanlah tandingan Shafa,” Diky setuju dengan pendapatku.

“Tapi jika memang tak punya kesempatan menang, kenapa Sisil masih saja meladeni Shafa?” tanyaku heran.

“Pertarungan ini bukan soal menang atau kalah, tapi ini soal harga diri dan kehormatan. Sisil tak mau kelompok yang dipimpinnya dianggap remeh oleh yang lain karena bisa dikalahkan seorang wanita, sekalipun itu Shafa The Black Lotus. Dia ingin menunjukkan kalau kelompoknya tidaklah lemah. Dia ingin mengatakan kalau musuhlaj yang terlalu kuat bahkan untuk The Cursed Seven yang dijuluki Pasukan elite Assasin,” jelas Diky.

“Pada siapa Sisil menunjukkan itu semua? Hanya kita yang tersisa disini bukan?”

“Mungkin benar didalam benteng ini hanya ada kita, tapi banyak orang yang memperhatika dari luar sana. Jika kau bisa menggunakan teknik sederhana agar bisa melihat pertarungan ini, maka mereka bisa menggunakan teknik yang lebih rumit untuk menganalisa apakah pertarungan ini rekayasa atau sungguhan.”

BUK! BUK! BUKK!!

Sisil terhempas keras menghantam diding. Tubuhnya yang sudah lemah meluncur deras menuju tanah, Diky dengan sigap menangkap tubuh gadis itu. Sementara dipihak lain, Shafa tengah berlutut. Ia kelihatannya kehabisan nafas. Meski sekuat apapun, ia pasti punya batasan stamina juga. Hal lain yang membuatku yakin kalau ia sudah mencapai batas yaitu aura gelap disekujur tubuhnya mulai menghilang. Aku pun menghampirinya.

“Shafa, kau baik-baik saja?”

“Iya, aku tak apa, Sandy,” jawabnya.

“Hey, Sisil.” Panggilan Shafa menghentikan langkah Diky yang sedang menggendong Sisil.

“Pertarungan yang bagus, tapi belum cukup bagus untuk bisa mengalahkanku. Cobalah lagi lain kali,” lanjutnya. Setelah Shafa selesai bicara, Diky kembali meneruskan langkahnya.

“Masih perlukah kau mengejeknya seperti itu?” ucapku jengkel.”Itu bukan ejekan, tapi pujian.”

“Hah? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” aku dibuat bingung, lagi.

“Haha, kau akan mengerti jika sudah waktunya.”

Beberapa Assasin lain datang dan menawarkan bantuan baik kepada Shafa maupun The Cursed Seven. Sebagian dari mereka membantu membawa orang yang terluka ke tempat kakek Magina untuk di obati. Sebagian lainnya membenahi tempat yang dibuat porak-poranda oleh Shafa dan Sisil.

Aku dan Shafa juga mendapat bantuan untuk membawa Shafa pulang. Karena kondisiku tidak memungkinkan untuk membawa gadis yang terluka itu kembali ke tempat tinggalnya, tawaran itu pun diterima. Satu hal menarik yang ku perhatikan setelah semua ini adalah wajah Shafa terlihat lebih bahagia setelah bertarung dengan Sisil. Aku tidak tahu apa sebabnya tapi itulah yang terjadi. Aku masih harus banyak belajar!

-To be continue

 

created by: dipolacubo

 

Iklan

3 tanggapan untuk “Legend of Moonlord, Part16 (Responsibility bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s