‘Touchdown’, Part14

Fanfict Touchdown png

Di rumah Lidya..

 

“Makasih udah mau nganterin,”

“Njeh, sama-sama Bu,” ujar Falah sambil mengangguk.

“Haha, apa deh pake bu buan segala,” ujar Lidya.

“Gue nggak perlu sok-sokkan keluar duluan, terus muter dan ngebukain pintu buat lo kan?” tanya Falah.

“Haha, nggak kok nggak usah, aku masih bisa buka pintu sendiri, kamu mau mampir?”

“Ngg, sepertinya nggak deh, mau langsung pulang, mau bobo ganteng,” ujar Falah.

“Idih najis, sokkan ganteng kamu,”

“Oke ralat, mau bobo manis,”

“Heleeuh, makin males,’ ujar Lidya.

“Aduuh udah deh bawel, gih sana masuk ke rumah, terus cuci kaki, dan cuci tangan, juga cuci muka, terus obob,”

“Yee, emangnya aku anak kecil dibilangin begitu,” Lidya mengerucutkan bibirnya.

Falah hanya terkekeh mendengarnya.

Hening…

Falah menatap Lidya yang tidak mau juga beranjak dari tempatnya.

“Ngg.. ada yang salah?” tanya Falah.

No, hehe.. yaudah aku masuk dulu,” ujar Lidya.

“Ngg.. ok,” Falah mengangguk.

Setelah masuknya Lidya ke dalam rumah, Falah menjalankan mobilnya.

“Huaah kasuuur,” Lidya merebahkan tubuhnya. Entah kenapa pikirannya kembali terlintas saat Dion memukul Falah tadi.

“Tuh anak kaga ada kapoknya,” gumam Lidya sambil menggelengkan kepalanya.

Lidya menoleh, ia melihat foto yang ia taruh di meja kecil samping kasurnya. Foto ia saat berdua dengan Viny di suatu photobox. Lidya tersenyum miris. Haruskah ia marah kepada sahabatnya itu?

“Ah kenapa jadi mikirin dia gini, udah ah,” Lidya akhirnya memejamkan matanya, ia tidur tanpa mengganti baju terlebih dahulu.

 

Sementara itu di rumah Falah.

 

“Aduh, ada Tante Melody, mau ngapain lagi coba, semoga nggak ganggu tidur siang gue deh,” gumam Falah sambil memarkirkan mobilnya.

“Assalamualaikum,”

Sepi…

“Lha? Kaga ada yang jawab, apa pada di belakang ya? Ah yaudah deh mumpung kaga ada yang tau,” ujar Falah sambil mengendap menuju kamarnya.

“DOR!”

Kedua bahu Falah terlonjak saat tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Falah menoleh, “Desy?” tanyanya sambil melihat orang yang membuatnya tersenyum yang kini malah cengengesan.

“Ciye kaget ya? Hahaha,”

“Kok ada lo?” tanya Falah bingung.

“Emang kenapa kalo ada gue?” tanya Desy.

“Yaa.. nggak apa sih,” Falah kembali berjalan menuju kamarnya. Tapi kemudian ia berhenti saat menyadari Desy mengikutinya.

“Lo mau ikut ke kamar gue?” tanya Falah.

“Eh? E.enggak, a.aku Cuma disuruh Mamah untuk manggil kamu ke halaman belakang,” ujar Desy.

Falah menatap Desy malas..

“Bisa bilangin gue cape nggaaak? Aseli mau bobo,” rengek Falah.

“Idih kayak anak kecil lo, yaaa, nanti gue bilangin, tapi paling tante Ve malah ke kamar lo hehe,” ujar Desy.

Falah berpikir, iya juga…

“Yaudha deh, gue ganti baju dulu,”

“Hihi yaudah, ditunggu yaa,”

Falah mengangguk, ia segera ke kamarnya, mengganti baju, tidak lupa juga mencuci muka, daaan… tidur? Nggak deng, daripada ia harus terkena siraman air mending nurut.

“Kenapa Bu?” tanya Falah begitu berada di belakang Ibunya.

“Oh ini, tolong belikan bahan makanan ini di supermarket, bareng Desy gih, Ibu mau masak bareng sama Tante Melody,”

Ingin sekali berucap ‘tidak’ tapi… nanti kualat.

“Yaudah deh Bu, uangnya mana?”

“Ambil aja di kamar, di dompet Ibu, jangan banyak-banyak,”

Falah mengangguk kemudian menuju kamar Ibunya, mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompet Ibunya.

“Kakak mau kemana?” tanya Yansen saat Falah baru keluar dari kamar Ibunya.

“Mau belanja, kamu mau ikut?”

“Eng.. hehe, enggak deeeh, lagi panaas gini, Yansen di rumah aja bantuin Ibu, hihi,” Yansen langsung ngacir sebelum akhirnya ia dipaksa ikut.

“Elah tuh anak, tau aja mau gue suruh,” gumam Falah.

Falah keluar menuju garasinya, “Yuk Des,” ujar Falah. Desy mengangguk dan masuk ke dalam Mobil.

 

Selama perjalanan Desy lebih sering membuka pembicaaran, Falah sendiri bingung seorang Desy bisa menjadi bawel seperti itu.

“Lo ternyata aslinya bawel ya Des?” tanya Falah.

“Eh, hehe.. kebanyakan ngomong ya? Maaf deh,” Desy menutup mulutnya dan menunduk.

“Oh, nggak kok, kaga ngapa, biar gue juga kaga ngantuk haha,”

Wajah Desy bersemu.

“Udah sampe nih, “ Falah melepas seatbeltnya.

Desy mengangguk dan keluar dari mobil.

Falah mengambil troly belanjaan dan mendorongnya, “Oke kemana dulu nih?” tanya Falah sambil melepas jaketnya dan mengikatnya di pinggang.

“Ke bagian daging dulu,” ujar Desy sambil melihat catatannya. Falah mengangguk kemudian ia mengikuti Desy.

“Beli ini, ini dan ini,” Desy mengambil beberapa jenis daging.

“Weit weit, banyak amat,” ujar Falah.

“Lha ini ditulisnya begitu,” ujar Desy.

“Ke bagian bumbu,” ujar Desy.

“Mba, kalo kaya gini gue kaya babu mba,” sunggut Falah.

“Duh, iya iya deh sini gue yang ngedorong,” Desy berusaha mengambil troly nya.

“Eh kaga usah, iya iya ayo ke tempat bumbu,” ujar Falah.

Desy tersenyum saat melihat Falah yang seperti itu.

Mereka kembali belanja dari tempat satu ke tempat satunya.

 

Sejam berlalu dari awal mereka memulai belanja, dan kini mereka sudah berada di depan kasir.

 

“Udah nih?” tanya Falah

“Kayaknya sih udah,” ujar Desy.

“Lha kayaknya, jangan kayaknya, nanti males ah kalo harus balik lagi,” sunggut Falah.

“Yee, yaudah cek ulang aja sendiri, orang dibilangin udah semua,”

Falah mengerucutkan mlutnya.

“Ngg.. Mba Mas, itu silahkan maju,” ujar seorang pembeli yang berada di belakang mereka,”

“Eh iya Mas maaf,” ujar Falah. Falah segera mendorong troly belanjaannya.

“Yaudah deh gampang nanti sekalian di cek,” ujar Falah.

Well, Falah bersyukur tidak harus balik lagi sepertinya karena memang belanjaannya sudah komplit.

“Oke, mari pulang, lalu makaaaan,” ujar Falah.

“Makan mulu gendut,” ledek Desy.

“Yee biarin,”

Falah melajukan mobilnya menuju rumah.

 

~

 

“Kami pulaang,” ujar Desy dan Falah bersamaan.

“Nih Bu,” ujar Falah sambil menaruh belanjaannya di meja makan.

“Makasih ya, yaudah kamu istirahat dulu sambil nunggu makanannya mateng,”

“Yooo,” Falah mengangguk, ia menuju ruang keluarga.

Falah menyalakan TV dan mencari acara yang menarik menurutnya.

“Nih minum dulu,” ujar Desy yang duduk di sebelah Falah sambil memberikan segelas es jeruk.

“Thanks yoo,”

“Fal, gue mau ngomong deh,” ujar Desy.

“Hmm?” Falah berdehem karena ia sedang meneguk es jeruknya.

“Gue suka sama lo,”

 

TBC

– @falahazh –

Iklan

9 tanggapan untuk “‘Touchdown’, Part14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s