Cahaya Kehidupan : Aku Reza, Part 18

Dhee menoleh kearah sumber suara. Terlihat seseorang menyapanya.
“Siapa kau?” tanya Dhee yang masih tiduran.
“Siapa aku? Kau tidak mengingatnya? Aku saja mengingatmu. Kau Rusdi
kan?” tanya orang itu.

Dhee melonjak terbangun. Ia terkejut, seketika terduduk. Nama “Rusdi”
sudah ia buang jauh-jauh. Tapi kenapa tiba-tiba ada seseorang yang
entah siapa memanggilnya dengan nama itu lagi? Siapa orang ini?

“Siapa kau?” Dhee kembali bertanya, tapi yang ditanya hanya menyeringai.
“Selama ini aku mengenalmu, tidak pernah lupa wajahmu. Aku Reza,
bagaimana mungkin kau bisa lupa padaku?” ternyata ia adalah Reza,
salah satu sahabatnya dulu.

Dhee berdiri menghadap orang itu. Lalu orang itu dengan lembut
berjabat tangan dengan Dhee. Seperti orang yang baru saja bertemu
sahabat lama. Memang itu benar sekali, Reza adalah satu-satunya
sahabat Dhee yang masih hidup.

“Kau mau minuman, Rusdi? Aku baru saja pindah kesini, warga baru.
Mari, ikut aku.” orang itu langsung balik kanan tanpa perlu menunggu
jawaban ya atau tidaknya, seperti kalian yang menawari seseorang dan
yakin sekali orang itu akan menerima tawaran tersebut.

Entah apa yang dipikirkannya, Dhee langsung saja mengikuti orang itu.
Sesampainya di rumah orang tersebut, Dhee langsung dipersilahkan masuk
ke ruang tamu. Rumahnya cukup besar, lima kamar? Mungkin saja.

Dhee sungkan duduk di sofa empuk ruang tamu. Orang itu tersenyum,
menyuruhnya duduk. Kemudian orang itu pergi ke dapur, mengambil
beberapa makanan dan minuman.

Beberapa menit kemudian, orang itu kembali dari dapur dengan membawa
dua gelas cokelat panas dan beberapa makanan. Mengepul, menyajikan
kehangatan dan kenikmatan dari semerbak aromanya.

Dhee akhirnya duduk di sofa itu. Menerima segelas cokelat panas di
sore hari. Sungguh menyenangkan tinggal di rumah petak itu, walaupun
kamarnya sangat sempit. Tapi kebahagiaan di rumah singgah tidak ada
duanya, tidak bisa digantikan.

Sore itu Dhee mendapatkankan kembali salah satu sahabatnya. Walau Dhee
masih belum yakin, apakah ia benar Reza atau bukan. Tapi Dhee sangat
senang, ia ramah sekali bak sahabat. Mungkin ia benar-benar Reza
Saputra.

Reza mengaku pindah dari kota lain. Reza berasal dari Bogor, pernah
satu SMP dengan Dhee. Mendengar nama Bogor, Dhee jadi teringat
rumahnya dulu. Kenangan kelam masa kecilnya. Tapi ia telah pergi jauh,
merantau ke Ibukota. Tinggal tiga tahun di rumah singgah, dan tinggal
dua tahun di rumah petak.

Menatap langit malam di teras rumahnya dulu, menatap langit sore dan
langit malam di atas rumah singgah, dan menatap langit sore di tengah
lapangan yang sunyi. Hanya suara ilalang yang terdengar, seperti
sedang bernyanyi.

Selama dua tahun terakhir ini Dhee kesepian. Hanya ilalang dan hewan
liar yang menemaninya. Itu pun di lapangan. Dan akhirnya rasa kesepian
itu terbayar sudah, sahabatnya dulu telah kembali.

Pekerjaan Reza hanya berdagang, entah barang apa yang di jualnya. Reza
bertanya banyak hal, Dhee hanya menjawab pendek. Tidak banyak yang
harus ia ceritakan. Dhee malas bercerita soal masa lalunya.

* Seminggu kemudian, Dhee dan Reza semakin akrab. Dhee pun semakin
terbuka, ia menceritakan pengalamannya tinggal di Ibukota. Lima tahun
terakhir ini ia tinggal di Ibukota. Reza hanya berkomentar “oh” saja,
dan kembali bertanya beberapa hal.

Dhee bercerita tentang kebahagiaan di rumah singgah, perkelahian
dengan berandalan, dan kematian teman sekamarnya. Dhee sama sekali
tidak menceritakan sedikit pun tentang masa-masa kelam di rumah masa
kecilnya.

“Kau sendirian? Mereka bertujuh? Bukan main, kau hebat. Aku bangga
padamu, Rusdi sahabatku.” Reza terkagum-kagum, mereka baru saja
membicarakan perkelahian Dhee dengan tujuh berandalan.

Lihatlah, seharusnya semua orang yang mendengar kejadian itu
memberikan respon seperti Reza. Bukankah Dhee melakukan hal yang
hebat? Hal yang membanggakan? Menbela anak-anak rumah singgah.

“Kau hebat Dhee, kau bukan sekedar anak jalanan. Kau cerdas, berani,
dan memiliki fisik luar biasa.” seperti biasa, Reza selalu memujinya.
Menurutnya, Dhee adalah anak yang luar biasa. Apanya yang luar biasa?
Dia hanya pengamen.

“Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu yang lebih hebat dari pada
mengamen?” Reza bertanya serius, tidak seperti biasanya yang selalu
tersenyum riang.
Dhee tidak mengerti apa maksudnya ia mengatakan itu.

* Seminggu kemudian, Dhee akhirnya mengerti maksud perkataan Reza.
Malam itu Dhee mampir ke rumah Reza. Ruangan tempat ia dan Reza biasa
mengobrol tampak gelap. Mati lampu? Entahlah.

“Kemari, Rusdi! Hati-hati, lampunya sengaja kumatikan.” suara Reza
terdengar dingin.
Dhee menelan ludah, perlahan melangkah mendekati Reza yang terlihat
seperti bayangan hitam.

Reza memperlihatkan sebuah kotak kecil. Kemudian membukanya perlahan.
Bersinar, sebuah benda terlihat berkerlap-kerlip.
“Kau lihat?” Reza berkata pelan.
“Itu kan? Berlian?” Dhee tampak sangat terkejut melihat benda indah itu.

“Kau tahu, Rusdi. Berlian ini berharga setidaknya ratusan juta.
Mungkin juga milyaran.” Reza mendesiskan sesuatu, bersiap menjelaskan
rencana besarnya.
Apa tadi yang Reza katakan? Harga berlian? Ratusan juta? Milyaran?

“Inilah pekerjaanku, Rusdi. Berdagang berlian. Tapi aku tidak pernah
membeli, hanya menjual saja. Aku mencurinya dari sebuah bank. Di bank
itu terdapat banyak sekali berlian. Tapi aku hanya mencurinya
segelintir saja.” Reza menyeringai.

“Aku akan menawarkan sebuah pekerjaan hebat padamu, Rusdi. Apa yang
pernah ku katakan? Kau anak jalanan yang luar biasa. Ini adalah harga
seperseratus dari harga berlian yang akan kita ambil. Kita akan
melakukan sebuah pencurian terbesar yang pernah ada, mencuri berlian
seribu karat.” Reza tertawa, sungguh tawa yang mencekam.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s