In My Heart, Part42

Dzikri dan Melody sudah siap untuk pergi, mereka lalu turun ke bawah untuk berkumpul dengan yang lainnya.

“Ada saran buat malem ini kita makan di mana?” tanya Rafif, sebagai suami dari Diasta.

“Aku ngikut ajadeh..,” jawab Dzikri.

“Hmm.. Ayah ada tempat yang pas buat makan sama keluarga,” kata Ayah.

“Tuh, Ayah emang paling jago kalo soal tempat makan mah,” sambar Yona.

“Yaudah. Kalian semua ikutin dari belakang yah,” kata Ayah.

“Iya, Yah,” balas Diasta.

Ayah lalu pergi menuju mobilnya bersama mamah dan Yona, sedangkan keluarga kecil Diasta masih menunggu Dzikri karena kunci motornya ketinggalan di kamar. Dzikri pun kembali ke teras depan rumah sambil menengteng 2 buah helm.

“Dzik, sama Aa aja motornya,” kata Rafif.

“Loh, tumben A,” kata Dzikri.

“Tuh, teteh kamu pengen berduaan pake motor.” Diasta hanya membalas dengan sebuah senyuman.

“Yaudah deh. Berarti aku sama Banyu dong,” kata Dzikri.

“Iyalah,” kata Diasta.

“Yaudah. Kunci mobilnya mana A?”

“Nih.” Dzikri dan Rafif menukarkan kunci kendaraan masing-masing.

Diasta dan Rafif pergi duluan, sedangkan Dzikri dan Melody baru mau berangkat. Dzikri dan Melody pun mengikuti mobil Ayah-nya dari belakang dengan mobil milik Rafif.

“Banyu ganteng banget yah pake baju ini,” kata Melody, sambil melirik ke arah Dzikri.

“Weitss.. Kado dari siapa dulu dong itu bajunya,” balas Dzikri, sambil menyetir.

“Ish. Kamu dasar..”

Melody dan Banyu terus bermain, Melody mengajak mengobrol Banyu dan mengajaknya bermain. Sedangkan Dzikri, dia hanya fokus dengan menyetir mobil.

Akhirnya, perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh Ayah dari Dzikri telah sampai. Mereka semua lalu masuk ke dalam.

Pelayan pun datang, menanyakan apa yang akan dipesan. Yang lainnya sibuk apa yang akan mereka pesan, kecuali Dzikri, dia sibuk dengan smartphonenya chatting dengan seseorang.

“Kamu mau pesen apa?” tanya Melody.

“Terserah kamu aja deh,” jawab Dzikri.

“Dih, dasar tukang nyamain,” kata Melody.

“Biarin.”

Tempat makan untuk 8 orang dengan tambahan baby chair untuk Banyu. Ada satu kursi lagi tersedia yang kosong.

Mereka pun menyebutkan apa saja yang mereka pesan. Sekarang, tinggal menunggu pesanan itu datang.

Dzikri akhirnya menyimpa smartphone nya dengan raut wajah senang.

“Kamu kenapa?” bisik Melody.

“Ga papa, kok.”

“Mulai deh main bisik-bisikannya,” kata Diasta.

“Kayak yang ngga pernah aja teh,” kata Dzikri.

“Ah, gaseru. Emang ada apa sih?” tanya Diasta.

“Ga ada apa-apa kok teh.”

“Terserah kamu aja deh,” balas Diasta.

“Oiya, kita buat kesepakatan gimana?” tanya Dzikri.

“Kesepakatan giman maksudnya, nak?” tanya Mamah.

“Jadi gini, Mah. Kita semua taro gadget masing-masing di tengah meja makan, terus kalo ada yang ngambil gadget duluan sebelum selesai makan, berarti dia yang bayar makan malem ini. Gimana?”

“Ayah setuju. Lagian, kita jarang-jarang bisa dapat quality time sama keluarga,” kata Ayah, setuju.

“Nah, iyah, boleh tuh,” sahut Rafif.

Mereka semua mengumpulkan gadget masing-masing di tengah meja.

Yona POV

“Coba aja Dimas bisa datang,” kata ku dalam hati.

Ah, rasanya ga mungkin kalo ngarepin Dimas bisa dateng ke sini. Dia kan sibuk banget sama komunitasnya akhir-akhir ini. Bahkan chat aku aja pernah gak di bales sama dia, saking sibuknya.

Rasanya aku ingin mengambil smartphone ku untuk menghubungi Dimas agar bisa mengajak Dimas makan bersama dengan keluarga ku. Tapi, aku telat. Aku bodoh. Kenapa hal ini baru terpikirkan, kenapa bukan daritadi. Ya tuhan.. Yona kamu bodoh banget.

Semua orang yang ada di meja ini sedang membahas keseharian Dzikri ketika dulu, tapi aku tidak ikut andil. Padahal, aku tau bagaimana Dzikri ketika sedang kecil. Mulai dari kelakuannya, paras wajahnya, dan yang lainnya. Aku hanya melamun, sampai dikagetkan oleh Dzikri.

“Kak Yona kenapa?” tanya Dzikri membuyarkan lamunanku.

“Eh, ngga kok dek, ga ada apa-apa,” jawabku berbohong. Padahal aku sangat iri kepada Dzikri dan Melody yang saling menyempatkan waktu satu sama lain untuk hal yang seperti ini.

Dimas, aku mau kamu dateng ke sini. Tapi, rasanya mustahil, karna aku telat memberi kabar padanya, kalau aku sedang berada di sini bersama keluagaku.

Pandanganku tiba-tiba gelap. TIDAK! Aku kenapa!? Tapi, kenapa begitu terasa hangat? Aku menyentuh apa yang menghalangi pandanganku itu, ternyata sebuah tangan. Ku turunkan tangan tersebut, lalu menoleh siapa yang menutupi pandanganku dari belakang badanku. Aku terkejut. Karna orang yang menutup pandanganku barusan itu adalah Dimas. Iya, dia pacarku. Tapi, satu yang menggangu pikiranku, ‘kok, Dimas bisa tau kalau aku sedang di sini?’. Aku tersenyum bahagia saat mengetahui kalo yang menutupi pandangannya adalah Dimas.

Dimas lalu duduk di kursi yang kosong sebelah Yona. Dimas mulai memperkenalkan dirinya kepada anggota keluarga yang lain. Perasaan senang yang aku rasakan sekarang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata maupun perilaku.

Author’s POV

Dzikri tersenyum melihat orang yang tadi dia hubungi lewat chat LINE akhirnya bisa datang. Ternyata, usahanya tak sia-sia.

“Kamu kok senyum-senyum gitu?” tanya Melody.

“Iyalah. Orang ini rencana aku, Mel,” jawab Dzikri.

“Eh? ini rencana kamu, dek?” tanya Yona.

“Iya, kak. Hee.. Maaf kalo ga bilang ke kakak,” jawab Dzikri.

“Ih, makasih banget yah dek,” kata Yona.

“Iya, kak. Sama-sama,” balas Dzikri.

Raut wajah Yona pun berubah menjadi senang.

“Akhirnya. Gue bisa berbuat sesuatu buat kak Yona,” kata Dzikri dalam hati.

Pesanan pun datang. Mereka yang berada di meja tersebut segera melahap santapan yang tersaji di hadapannya sekarang ini. Setelah mereka kenyang setelah menyantap makanan yang tadi tersaji di hadapannya. Kini mereka sedang berbincang-bincang ringan.

“Yak, gadget nya boleh diambil.” Masing-masing dari keluarga Dzikri mengambil gadget nya.

Dzikri mengambil smartphonenya, lalu memberikannya kepada Melody.

“Oiya, Pah, Mah, aku sama Melody duluan yah. Mau jalan-jalan dulu sebentar,” kata Dzikri.

“Oh iyah-iyah.”

Dzikri dan Rafif pun kembali menukarkan kunci kendaraan masing-masing. Dzikri dan Melody berpamitan kepada keluarga Dzikri, lalu mereka berdua menuju parkiran.

“Tumben banget handphone  kamu dikasih ke aku,” kata Melody.

“Ya, aku ngerti lah. Kali aja kamu pengen liat-liat aku suka komunikasi sama siapa aja, hahaha.”

“Ish. Aku percaya kok sama kamu,” kata Melody.

“Yaudah. Pegang aja sama kamu, Mel,” kata Dzikri. “Oiya, sekarang kita mau ke mana?”

“Hmm.. Enaknya ke mana ya?” tanya Melody.

“Terserah kamu deh. Aku udah ga ada lagi tempat.”

“Alun-Alun Bandung?” tanya Melody.

“Ah, jangan. Paling-paling entar kepala aku kena bola lagi. Bosen ah,” jawab Dzikri.

“Hihihi. Iya terus maunya di mana, Sayang?” tanya Melody.

“Bingung sih. Atau mau nongkrong-nongkrong aja gitu? Kayak anak muda jaman sekarang, haha.”

“Hmm. Boleh deh,” kata Melody.

“Bener nih? Ya, sekalian ajak Rizal aja gimana?” tanya Melody. “Atau Fadlan.”

“Hmm.. Boleh. Rizal aku telfon dulu yak,” jawab Dzikri. “Kamu nelfon Sinka, bujuk dia supaya mau ikut.”

“Iyah.”

Dzikri pun menelfon Rizal. Melody juga menelfon Sinka.

Halo Zal. Sekarang lu lagi di mana?”

“Di rumah gue, Dzik. Ada apa gitu?”

“Ikut gue, yuk!”

“Ah, males. Gue baru aja pulang abis jalan sama Sinka.”

“Nongkrong doang Zal.”

“Ah. Ok deh. Tapi, gue bingung ngajakin Sinka nya.”

“Sinka lagi dibujuk sama Melody. Cafe yang deket rumah lo aja.”

“Haa.. Ok deh. Gua nunggu kabar dari Sinka aja.”

“Ok.”

Dzikri pun mengakhiri bincang-bincangnya dengan Rizal. Menunggu Melody beres menelfon Sinka, Dzikri menaiki motor sportnya. Melody pun beres menelfon Sinka.

“Gimana?” tanya Dzikri.

“Sinka mau asal Rizal ngejemput,” jawab Melody.

“Ok deh. Aku mau kasih tau dulu Rizal.” Dzikri lalu mengirimka sebuah pesan singkat kepada Rizal.

Zal, Sinka mau. Dia tadi ngomong mau ikut asal lo yang jemput.

Begitulah pesan singkat Dzikri kepada Rizal. Rizal pun membacanya lalu membalas.

Ok.

“Yaudah, ayo. Kita ke cafe yang deket sama rumahnya Rizal,” kata Dzikri.

“Iyah.” Melody pun memakai helmnya, lalu menaiki motor Dzikri.

Dzikri menyalakan mesin motornya, lalu pergi menuju cafe yang dekat dengan rumahnya Rizal.

Di lain tempat, Rizal sudah siap untuk menjemput Sinka. Dia pergi menuju garasi rumahnya untuk membawa motor, lalu menjemput Sinka. Sesampainnya di depan rumah Sinka, Rizal mengirimkan sebuah pesan singkat.

Dut, aku udah di depan rumah kamu nih

Sinka lalu keluar dari kamarnya langsung ditanya oleh Ayahnya.

“Ke mana lagi, Sin?”

“Itu, Yah. Mau ke cafe deket sini kok. Dengerin temen curhat,” jawab Sinka.

“Yasudah. Kamu hati-hati ya.”

“Iya, Yah.” Sinka lalu berpamitan kepada Ayahnya. Langsug pergi menuju Rizal sambil menenteng sebuah helm.

“Maaf. Kalo aku buat kamu barusan nunggu,” kata Sinka.

“Ga papa kok. Sebentar ini nunggunya juga. Yaudah ayo, Dzikri sama Melody udah nyampe katanya.”

“Iyah.” Sinka memakai helmnya, lalu menaiki motor Rizal. Rizal dan Sinka pun pergi menuju cafe yang berada di dekat rumahnya.

*to be continued

Created by: @DPriatama23

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s