Fiksi dan Fakta part 25

“Mike!!” Teriak Elaine.

Mike kaget bukan main, ia langsung melepaskan pelukan gadis itu.

“E..E..Elaine?” Mike terbata-bata.

Gadis bertubuh proposional dengan gaya yang fashionable itu membulatkan matanya.

“Oh iya, Elaine ini kenalin namanya…”

“Hey!” Gadis itu melarang.

“Kalian apa-apaan?!” Tanya Elaine keras.

“Aku bisa jelasin ke kamu..” Ucap Mike dengan nada lemah.

“Kami cuma temen, udah lama ga ketemu..” Gadis itu mencoba
mengklarifikasi.

“Huaaa… kalian pembohong!” Elaine berlari hendak keluar dari bioskop.

“Elaine!!!!” Panggil Mike.

Mereka bertiga sukses menjadi perhatian saat itu. Elaine kecewa karena pelukan dari gadis yang bahkan bukan saudara Mike itu begitu erat, Sama seperti Elaine memeluk Mike dalam diamnya.

“Ehh.. Maafin aku.. sampai jumpa ya..” Mike langsung berlari mengejar Elaine, melewati sang gadis yang bahkan belum sempat ia tanya namanya.

“I..Iya, Maaf ya..” Gadis itu tertunduk.

“Oy, Jak! Itu Elaine lari kenapa?!” Kelpo berdiri khawatir.
“Ehh, iya ya..” Jaka memperhatikan.

Semua pengunjung hanya menoleh dan menyaksikan tanpa bertanya apapun.

“Sial! Udah duluan dia!” Keluh Mike.

“Ehh itu Oscar!” Shania menunjuk kearah Mike.

“Gue kejar ato gimana, Po?” Tanya Jaka ragu.

“Biarin mereka nyelesaiin masalah mereka..” Kelpo menjawab pelan.

“Vin, Kita gapapa gini?” Viny tak enak.

“Maksudnya, Nyi?” Tanya Kelpo disertai tatapan dari yang lain kearah Viny.

“Tanpa Oscar, tanpa Elaine. Kan
gaenak..” Viny tertunduk.

“Hmm.. kita tunggu mereka ya…”

“Kalo mereka ngabarin, gapapa tiket ini angus..” Sahut Jaka cepat.

Yang lain hanya mengangguk mendengar jawaban Jaka.

Kejadian barusan terlupakan begitu saja, semua pengunjung kembali ke fokus mereka masing-masing.

Sementara itu,

“Len..!” Mike berhasil menahan tangan Elaine.

“Lepasin!” Elaine masih menangis terseduh-seduh.

“Kamu harus dengerin aku, Len.” Mike mencoba menenangkan Elaine.

“Kamu mau alasan apa? akhir-akhir ini kita ga sedeket dulu, aku tau sendiri..”

“Tau apa?” Mike menatap Elaine yang tak mau melihatnya.

“Aku tau kalo kamu..”

“Diem..” Mike meletakkan jari telunjuknya di bibir Elaine.

Elaine diam.

“Kamu sayang kan sama aku?” Tanya Mike cepat dengan menurunkan nadanya.

Elaine mengangguk.

“Keyakinan dan Kebebasan? komitmen kita sejak awal, kan?” Mike mengingat janji mereka waktu itu.
“Ehh..” Elaine melihat kearah lainnya.

“Kamu udah lupa sama ‘Kebebasan’, kenapa kamu ga bilang soal perubahan aku?” Mike menunduk, mencoba menatap mata Elaine yang selalu memalingkan pandangannya.

“A..Aku.. Aku takut kamu marah..” Elaine memejamkan matanya yang masih berlinang air mata.

“Marah? Kamu ga yakin ama aku?” Mike sukses membuat Elaine menyesali perbuatannya.

“Maafin aku..”

“Tatap mata aku, sayang..” Mike menaikkan dagu Elaine.

“All i wanted is you, the moment when we’re drown together over the unexpected day..” Elaine pelan.

“Panggilan aku berubah, kan? Maaf kalo panggilan nama aku bikin kamu ga nyaman..” Lalu Mike memeluk Elaine.

Elaine memejamkan mata dalam pelukan hangat itu. Dada bidang Mike yang begitu ia sukai, bahkan sangatlah nyaman.

“Jangan pernah raguin aku.. Aku beda ama yang lain..” Mike membiarkan Elaine menyelesaikan tangisnya.

“Air mata itu akan ku seka, Sayang. Oscar disini untuk ngelindungin kamu..” Mike mencium kening Elaine.

“Ayo.. kita balik..” Ajak Mike.

Elaine menggeleng.

“Kenapa?” Mike bingung.

“Aku malu kesana, kita cari suasana lain, yang.” Elaine berharap dan dijawab dengan senyuman dan anggukan dari Mike.

“Biarpun keliatan ditutup-tutupin, semoga Elaine ga masalah dengan Ve..” Batin Mike seraya menghela nafas panjang beberapa kali.

Mereka pun meninggalkan mal. Mike memarkirkan mobil pada sebuah tokoh es krim di Bandung.

Elaine tersenyum senang.

“Kamu pesen duluan ya? aku mau ngabarin yang lain.” Mike berkata kepada Elaine.

“Iya..” Elaine tersenyum lalu meninggalkan Mike.
“Jak, gue ijin ya, maap udah nyia-nyiain traktiran lu.. mohon pengertiannya Jak.” Pesan Mike kepada Jaka.

“Po, gue ijin ga ikut, maap udah kecewain kalian, mohon pengertiannya.” Pesan Mike kepada Kelpo.

2 pesan itu sudah cukup.
“Oke, Mike. Yang sabar ya..” Balasan dari Jaka.

“Sip Mike, dibawa tenang aja..” Balasan dari Kelpo yang juga bersamaan dengan balasan Jaka.

Mike lalu menyusul Elaine memasuki kedai es krim tersebut.

“Hai hai, pesen apa jadinya?” Mike tiba-tiba datang dan duduk disamping Elaine
“Kaya biasa, sayang. Vanilla dan coklat.” Balas Elaine tersenyum.

“Tumben standard, kan masih ada rasa yang lain?” Mike bingung.

“Hehehe.. dulu kita kan janji, kalo beli es krim harus vanilla sama coklat.” Elaine flashback.

“Hahaha.. bisa aja kamu,” Mike tertawa sumbang.

“Hmmm.. flashback? oke kita tambah levelnya..” Mike berkata dalam hati.

Mereka tertawa bersama siang itu, dengan menyantap es krim seperti yang mereka sering lakukan bersama.

“Yang, selfie yuk?” Ajak Elaine tersenyum.

Mike mengangguk.

Beberapa hasil jepretan kamera hp Elaine yang sangat berarti bagi Mike.

“Kita jalan-jalan yuk?” Ajak Mike ketika Elaine sedang berkutat dengan gadgetnya.

“Oke oke.. :D” Elaine tersenyum lebar.

“Pasti kangen sama tempat-tempat ini..” Mike berdiri dan berlari keluar dengan cepat.

“Ihh.. ihh.. tunggu atuh Mickey…!!” Elaine mengejar Mike.

Mike menghampiri mobilnya di parkiran sambil tertawa sendiri.

“Ayo naik..” Ucap Mike saat Elaine telah sampai di parkiran.

“Huh.. kamu tu ya.. capek tau..” Keluh
Elaine.

“Idih, lagian siapa yang nyuruh ikut lari..” Mike menahan tawa.

“Ihh kamu.. nanti kamu tinggalin aku lagi..” Elaine cemberut.

“Daripada ngambek, mending naik sekarang ya? mau ya?” Mike membujuk.

“Gak” Jawab Elaine singkat.

“Ga seru nih, kalo marah gitu..” Mike memanyunkan bibirnya.

“Gak salah lagi, ngoehehe..” Ucap Elaine tertawa terpingkal-pingkal.

“Njirr ngetroll :v,” Mike ikut tertawa.

Mike tak menyangka pacarnya sempat meng-troll dirinya.

Mereka pun meninggalkan parkiran dan menuju salah satu tempat wisata di Jawa Barat. Ya, menuju Tangkuban Perahu.

*Skip

“Filmnya seru banget..!!” Shania senang.

Jaka hanya tersenyum kearah Shania.

“Inyi rekomendasinya keren..” Puji Kelpo.

“Hehehe.. lagi tepat aja perkiraannya Vin,” Tanggapan Viny santai.

“Ini popcorn-nya masih banyak, ayo..” Andela menyodorkan popcorn kepada Shania dan Jaka.

“Nih, Jak.” Kelpo memberikan.

“Gausah.. tadi kan udah abis..” Jaka menolak.

“Ehh.. gapapa kok, tambah seru filmnya kalo sambil makan popcorn.” Shania merampas begitu saja, sambil terus antusias kedepan layar bioskop.

Jaka menatap Shania dari samping. Entah kenapa, Shania begitu semangat dengan filmnya, sampai-sampai tatapan Jaka tak ia rasakan. Jaka tersenyum.

Jaka cukup malas siang itu, karena dia juga bosan dengan alur ceritanya di tengah.

“Kenapa jadi full drama gini sih-_-” Jaka berkata dalam hati, sambil mengganti ekspresinya.

Jaka membuka instagramnya. Terlihat
foto dari akun Elaine, foto Elaine bersama Mike.

“Captionnya simpel tapi pas..” Gumam Jaka dalam hati.

“Po..” Jaka menyenggol bahu Kelpo.

“Yo?” Kelpo menoleh.

Kelpo memperhatikan foto itu. Ia mengangguk tanda mengerti.

“Bagus deh, dah baikan..” Kelpo tersenyum santai.

“Hmm.. mereka berantem karena apa ya?” Seribu pertanyaan menghantui Jaka.

“Shan, aku keluar ya?” Jaka pamit kepada Shania.

“Ehh.. kenapa?” Shania sadar akan
Jaka yang mulai berdiri hendak keluar.

Kelpo, Andela, dan Viny hanya memperhatikan mereka.

“Aku gaenak badan, disini terlalu dingin. Sweater-ku tembus..” Ucap Jaka berbohong.

“Hati-hati ya.. aku lanjut gapapa kan?” Shania menatap Jaka.

“Hehehe.. gapapa kok..” Jaka tersenyum lalu bergerak keluar.

“Jak, ati-ati..” Pesan Kelpo.

“Get well soon, Raz..” Kata-kata Viny yang sukses membuat Jaka berhenti dan menoleh. Kini mata mereka saling bertatapan.

“Thanks, Vin..” Jaka tersenyum dan sepenuhnya keluar.

*Skip

35 menit berlalu, akhirnya film selesai. Jaka hanya duduk didepan pintu keluar sambil fokus melihat gadgetnya.

“Zidane update foto..” Gumam Jaka dalam hati.

Foto Zidane bersama seorang wanita, wanita yang terus memberikan semangat disaat Zidane kehilangan kedua orangtua-nya.

“Yona ikut Zidane?” Jaka tak percaya bahwa gosip yang beredar ternyata benar.

Zidane memutuskan untuk pindah ke USA, tepatnya ke New Jersey. Namun, di foto itu tampak Zidane dan Yona membahas kehidupan baru mereka di
daerah Alaska. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, mereka berdua percaya satu sama lain.

“Razaqa!!” Teriak Shania semangat.

“Ehh..” Jaka mencari sumber suara itu.

Terlihat seorang gadis bertubuh jangkung menghampirinya.

“Tadi film-nya seru banget loh..” Shania duduk disamping Jaka, tampak bola matanya menunjukkan kebahagiaannya.

“Endingnya?” Tanya Jaka tersenyum.

“Hmm.. bisa dibilang salah satu ending terbaik diantara film-film rating 4.” Shania mengira.

“Rating 5 aku mah film-film kaya The Three Stooges, atau Gangster Squad.”
Jaka menahan tawa.

“Hahaha.. kamu mah. Gimana? udah enakan?” Shania perhatian.

“Hmm.. lumayan juga sih..” Jaka kembali ‘menatap kosong’ dinding didepannya.

“Shan! Kami nyariin kamu!” Andela keluar dengan panik.

“Aku kira kamu masih didalem, Shan-_-” Kelpo menghela nafas.

Viny keluar dan tersenyum kearah Jaka. Seolah berkata bahwa ‘Kau baik-baik saja, kan?’. Langkah Viny begitu tenang, terkesan anggun namun tidak juga terkesan pendiam.

“Kita kemana dulu, nih?” Tanya Kelpo.

“Makan dulu, deh..” Shania memegangi
perutnya.

Jaka tersenyum.

“Aku ngikutin kalian aja..” Jaka pelan.

“Kamu gimana, Ndel?” Tanya Kelpo.

“Hah? Aku? Emm.. boleh kalo mau makan dulu..”

“Kamu, Nyi?” Kini pertanyaan kepada Viny.

“Emm.. boleh..” Viny santai.

Mereka pun memutuskan untuk memilih salah satu restoran khas nusantara.

*Skip

“Udah sampe, Len..” Mike membangunkan Elaine yang tampak
tertidur selama perjalanan.

“Ehh, udah sampe ya?” Elaine setengah sadar.

“Idih.. ilernya kemana-mana..” Mike tertawa.

“Ehh? serius?” Mike sukses membuat Elaine tersadar sepenuhnya.

“Ihh, aku ga ngiler, dasar kamu.” Elaine mencubit Mike yang masih tertawa keras.

“Aduh, sakit.” Mike merintih.

“Itu tuh balesannya, kalo suka boong..” Elaine memanyunkan bibirnya.

“Aku ga boong kok..” Mike serius.

“Tapi kamu ngetroll!” Elaine melipat tangannya sambil terus
mengerucutkan bibirnya.

“Huahaha… bener!” Mike tertawa.

Tanpa terasa, mereka turun dan menikmati suasana Tangkuban Perahu bersama. Mereka duduk berdua, menatap kedepan. Sampai akhirnya mata mereka dipertemukan saat keduanya menoleh bersamaan.

“Len..” Mike lirih.

“Akankah ini berakhir, yang?” Tanya Elaine tetap tak mengacaukan fokus Mike kepada matanya.

“Selama kita saling percaya, ga ada akhiran..” Mike memeluk Elaine.

Sosok gadis yang memeluk Mike tadi, sukses hilang dari bayangannya. Kini dipenuhi dengan ‘Elaine’ yang sepertinya membuat Mike ‘jatuh cinta
lagi’.

*Skip

Jam 16.40, Mike memutuskan untuk mengajak Elaine ke suatu tempat. Mike teringat akan ‘hari kosong’ di rumah Viny. Matahari tenggelam adalah sesuatu yang sakral bagi suatu hubungan. Kelpo memiliki cerita sendiri tentang tenggelamnya matahari, yang membuat Mike dan Jaka yakin akan jurus ini.

“Kita masuk, dan langsung ke atep ya?” Instruksi Mike.

Tempat itu seperti perkumpulan. Elaine sebenarnya takut saat memasuki tempat itu. Seperti bangunan tua yang dijadikan kantor.

“Mike, apa kabar?” Sambut beberapa orang yang berjaga disana.

“Baik, brother.” Mike tos bersama mereka.

“Doi, Mike?” Seseorang bertanya.

“Hahaha.. ini Elaine, masa lupa?” Mike tertawa.

“Astaga, jadi ini yang sering lu ceritain?” Mereka kaget.

Elaine diajak kenalan.

“Ini semua temen-temen aku, Jaka, sama Kelvin. Kami perkumpulan yang isinya bergerak di kesenian, anti-bullying, gamers,dll.” Ucap Mike menjelaskan.

“Ohh, Seneng bisa ketemu kalian.” Elaine tersenyum.

“Oh iya, ada apa, Mike?” Seseoran
bernama Ferdi bertanya.

“Pinjem ‘Himawaroom’..” Bisik Mike pelan.

“Ohh.. gue paham, nih kuncinya,” Ferdi memberikan sebuah kunci.

Mike dan Elaine naik. Terlihat ada banyak suara gaduh di lantai 2. Ada suara alat-alat musik yang bermain bersamaan. Pemandangan full grafiti di dinding-dinding dan kerajinan-kerajinan tangan yang ditempel di sepanjang lorong.

Mike bertemu seseorang yang menjaga lantai 3.

“Ehh, Mike! Apa kabar?!” Orang itu antusias.

“Baik, Roy. Gue pinjem ‘Himawaroom’ ye?” Ucap Mike.

“Oke, silahkan. Ehh..” Langkah Troy terhenti.

“Nape, Roy?” Mike bingung.

“Tahun ajaran baru, jangan lupa Mike..” Roy menahan tawa.

“Hahaha.. pasti jirr..” Mike tertawa lalu menuju lantai 3.

Pintu itu terbuka. Terlihat pemandangan taman diatas gedung yang begitu indah. Bunga-bunga yang ditanam begitu cantik, Penjemuran kerajinan di sudut kanan, dan anehnya terdapat tempat duduk yang dibiarkan diatas atap itu.

“Duduk, Len.” Mike mempersilahkan.

Elaine mengangguk.
“Takut ketinggian?” Mike menebak.

“Hmm.. kalo disini gapapa, kalo liat kebawah, ya takut.” Elaine menatap Mike.

“Hahaha… Misalnya aku meninggal besok, gimana Len?” Pertanyaan aneh dari Mike.

“Maksud kamu?! Jangan main-main.” Elaine dengan nada marah.

“Hahaha.. gamungkin juga sih, selama ada kamu, aku gaakan meninggal, janji woo..” Mike tersenyum lebar.

“Hahaha… itu kamu tau..” Elaine membalas senyuman itu.

Beberapa obrolan singkat mengenai Mike yang dulu.

Elaine tau sedikit demi sediki
kenakalan Mike saat SMP.

“SD? gimana?” Tanya Elaine penasaran.

“Ehh.. SD?” Mike gugup.

“Iya, waktu kamu SD..” Elaine menatap Mike dalam.

“Emm… aku SD pendiem, gapunya temen deket sih..” Bohong Mike.

“Gaada pengalaman seru gitu?” Elaine menatap Mike sendu.

Mike menoleh dan menatap Elaine. Kenangan tentang Ve dan puncak memenuhi pikiran Mike.

“Hmm.. gaada sih, cuma dulu pernah buang air di kelas..” Mike memberi tau pengalamannya saat kelas 2 SD.
“Hahaha… serius kamu?” Elaine tertawa puas.

“Suerr..” Jari Mike membentuk tanda ‘peace’.

Tak terasa jam menunjukkan pukul 17.46.

“Len, aku gaperlu jelasin ke kamu, apa yang bakal kamu liat bentar lagi, itu yang aku, Razaqa, dan Kelvin selalu kagumin..” Mike menatap kedepan.

“Aku paham..” Elaine mulai fokus.

“Ya.. makasih udah paham..” Mike merasakan tangan kanan Elaine yang menggengam erat tangan kirinya.

Sore itu berakhir. Elaine menyukai senja di kota hujan tersebut.

Kini mereka sudah dalam perjalanan
pulang.

*Skip

“Po, stick lu rusak nih, ada cadangan ga?” keluh Jaka.

“Itu di lemari, laci no. 2 dari bawah.” Kelpo sibuk mengutak-atik gadgetnya.

“Wihh, banyak banget.” Kagum Jaka kala melihat  tumpukan stick yang sebagian besar masih dalam kondisi baik.

“Jak, Mike kemane sih?” Kelpo khawatir.

“Buka path dia, liat terakhir dia update..” Jaka sibuk dengan game-nya.

Kelpo menuruti perkataan Jaka.

“Jam 16.30, di Tangkuban Perahu?
Kelpo bingung.

“Dah gila nih anak, Tangkuban Perahu,” Kelpo berkata kepada Jaka.

“Hahaha.. greget mereka berdua..” Jaka tertawa sambil terus fokus.

“Belom diread chat gue..” Kelpo heran.

“Ga bawa PB kali dia, jadi lowbat.” Sahut Jaka.

“Bener juga, yak.” Balas Kelpo.

“Udeh ah, mending sini temenin gue maen. Lagi pusing gue hari ini..” Jaka tampak begitu terobsesi dengan rasa pusingnya akhir-akhir ini.

“Jadi aneh lu, Jak-_-” Kelpo menyipitkan matanya.

“Au ah, sambil nunggu Saurus. Kan
boring,” Jaka asal ceplos.

“Bener juga sih,” Kelpo lalu bergabung bersama Jaka.

Sementara itu,

“Makasih ya, Sayang.” Elaine tersenyum kala dirinya sudah sampai didepan teras rumahnya.

“Iya, salam buat ortu-mu ya.. Enak kan makanannya tadi?” Ucap Mike terus terlihat gembira.

“Hahaha.. enak! banget!” Elaine senang.

“Hahaha.. oke bye!!” Mike pamit pulang.

“Sip, hati-hati ya.. bye!” Mike berlalu setelah itu.
Mike bingung harus kemana. Hp-nya mati sejak jam 19.00 tadi. Naluri-nya menunjukkan kearah rumah Jaka.

“Kesana aja deh,” Mike menuju rumah Jaka.

*Skip

Mike telah sampai, terlihat ada Sony dan Falvi disana.

“Bang, ada Jaka gak?” Tanya Mike tiba-tiba.

“Ehh, Car. ko lu kesini?” Sony bingung.

“Lah.. mau ketemu Jaka ama Kelpo bang.” Balas Mike cepat.

“Si Jaka nginep rumah Kelpo,” Sony memberi tau.

“Yaelah, meleset tebakan gue-_-” Mik
malas.

“Lu di kerjain ato gimana?” Falvi bertanya.

“Ehh, ga nyadar ada bang Palpi.” Mike lalu tos.

“Yo..” Falvi membalas tos itu.

“Ga dikerjain ko bang. Tadi nebak-nebak aja, hp gue mati nih.”

“Ohh, kirain mereka ngerjain elu,” Sony terkekeh.

“Lol, btw ngapain bang? pake acara bawa tas-tas gitu? ngerampok rumah ndiri?” Ceplos Mike.

“Gile lu, Ndro. Kaga lah.. mau berangkat car..” Balas Sony.

“Promosi album bang? tur pulau jawa,
kah?” Tebak Mike.

“Njirr.. cuma Jakarta, Car.” Sony menggeleng-gelengkan kepalanya malas.

“Hahaha.. di Bandung aja ga ngetop, mau maen full jawa aja.” Celetuk Falvi menahan tawa.

“Moga-moga di Jakarta ngetop bang. Biar gausah balik ke Bandung lagi,” Mike menahan tawa.

“Hahaha..” Falvi tertawa.

“Cot lu, ga ketemu gue aja udah galau lu, Car.” Sony terkekeh.

“Au ah, ga abis-abis nih bacotan. Mari bang Son, bang Fal.” Mike pamit sambil terus tertawa kecil.

“Hahaha.. iye. Bang Sat sekalian,” Sony
tertawa.

Falvi hanya ikut tertawa.

*Skip

Mike sudah sampai di rumah Kelpo, tepat pada jam 21.10.

“Tok.. tok.. tok..” ketuk Mike pada pintu kamar Kelpo.

“Iye masuk,” Kelpo berteriak.

Pintu terbuka.

“Anjay, udah maen ps aja.” Mike masuk dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur.

“Tengok jam, jeg. Wajar kalo kami udah main duluan.” Ucap Kelpo.

“Hadeh, mau tidur aja w mah..” Mike
lalu terlelap.

“Liat noh, jam segini aja udah give up.” Sahut Jaka.

“Liat, Jak!” Kelpo menyenggol tangan Jaka.

Jaka menoleh.

“Wey anjeg! bagi-bagi tempatnya-_- lu tidur malang melintang kaya adonan batagor.” Jaka menggeser-geser badan Mike.

“Anjay berat dia, Jak. Naik berapa kilo lu?” Kelpo ikut membantu Jaka.

“Husshhh.. rusuh lu pada..” Mike malas.

“Makanya misi!” Jaka menyuruh.

“Iye-iye, diem dah, ganggu mulu,” Mike
mulai mengganti posisi tidurnya.

“Pfuhhh..” Jaka menghirup nafas lega.

“Mindahin anak kingkong, berat amat dah,” Kelpo menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Yaudah, Po. Lanjut lagi!” Jaka mengajak.

“Abis ini PES, ye?” Pinta Kelpo.

“Jangan! ntar lu kalah kalo PES.” Jaka menahan tawa.

“Oy jancoeg, diem napa.” Mike melempar bantal kearah Jaka dan Kelpo.

“Wahh udah berani lu.” Kelpo mengodei Jaka.

“Eksekusi, Po!!!” Teriak Jaka.

Kelpo dan Jaka menggelitiki Mike. Jaka memegangi, Kelpo yang menggelitiki.

“Udah ah, udah ampun, candanya gaenak! oy udah oy!” Mike panik.

“Mampus lu.” Jaka terus memegangi Mike.

“Iye maaf, maaf iye, aduh geli.” Mike benar-benar panik.

“Huahaha.. jangan dilepasin.” Kelpo tertawa jahat :3.

Akhirnya, Jaka dan Kelpo berhenti ketika Mike mulai mengeluarkan keringat dinginnya.

“Hahaha.. Ntap!” Jaka dan Kelpo tos.

“Ga lucu lu pada..” Mike kini terduduk
di lantai, dengan nafas yang tidak teratur.

Kelpo dan Jaka terus tertawa dan mengolok-olok Mike.

“Udeh ah, males..” Mike terus tertunduk.

“Besok Michelle berangkat kan?” Kelpo memastikan.

Jaka yang masih tertawa hanya mengangguk kepada Kelpo.

Malam itu berakhir. Mereka terus melanjutkan permainannya. Seperti saudara kandung, mereka begitu dekat. Mike melanjutkan tidurnya saat nafasnya mulai teratur.

“Kasian juga si Saurus.. kelewatan candaan kita tadi, Po.. hahaha..” Jaka menoleh kearah Mike

“Hahaha.. kita ga canda.. tadi itu guyon…” Kelpo tertawa.

“Anjer, bedanya dimana jeg?” Jaka menjitak Kelpo.

“Gebleg lu, beda di tulisannya..” Kelpo memegangi kepalanya.

Mereka melanjutkan malam itu dengan keseruan sepenuhnya. Anehnya, hari ini terlihat begitu panjang bagi mereka masing-masing.

“Alaska! so great to stay here, ofcourse w/ ya all #explorealaska #exploreusa ” Caption Zidane Irtivan pada foto yang tadi ia post, disertai tag didalam foto. Tag kepada ‘Yona’, teman hidup Zidane.

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s