The Legend of Moonlord, Part15 (Responsibility, Bag1)

WUUSSHH!!

Hembusan angin timbul akibat pukulan Sandy dan Sisil yang saling beradu. Sisil lalu melancarkan sebuah pukulan lagi dengan tangannya yang bebas. Tak mau kalah, Sandy menendang Sisil dengan kaki kanannya disaat bersamaan. Mereka pun terpental ke arah berlawanan.

‘Cih. Dia boleh juga rupanya. Kalau begitu akan ku gunakan salah satu teknik milikku.’ Sisil pun bangkit dan langsung menghilang.

Di lain sisi, Sandy juga mencoba bangkit. ‘Anak itu… Ternyata dia kuat juga. Tapi ini baru saja dimulai.

Skill : Maximum Endure

Ini adalah teknik pertahanan yang di ajarkan Master Dipo. Walaupun aku tak bisa menggunakannya sambil bergerak seperti Master, tapi setidaknya ini bisa mengulur waktu selagi aku memulihkan stamina.’ Cahaya putih melapisi setiap bagian tubuh terluar sandy.
“Hooo rupanya kau memasang mode bertahan ya. Kalau begitu cobalah bertahan dari seranganku!!” suara Sisil terdengar tanpa diketahui asalnya.

Phantom Strike

Meski tak bisa melihatnya, Sandy bisa merasakan kalau Sisil menyerangnya dari berbagai arah. Semakin lama serangan yang dilancarkan pada Sandy semakin banyak. Tenaganya pun terasa berbeda. Tiba-tiba seseorang muncul di depan Sandy. Orang itu tak lain adalah Shafa.

Limit Breaker

Melihat gerakan Shafa yang setiap menyerang disertai hawa membunuh. Sandy memfokuskan seluruh tenaganya diperut. Sesuai perkiraan, Shafa menusuk perut Sandy dengan tangan kosong. Meski sudah menahan dengan sekuat tenaga, tetapi Shafa masih mampu menghempaskan Sandy. Lelaki itu melesat kencang dan menabrak sisi arena hingga retak.

‘Kekuatan macam apa itu? Teknik pertahananku mampu ditembusnya. Jika saja aku terlambat menyadari hawa membunuhnya dan menitik beratkan perhananku di tempatnya menyerang, pasti sebuah lubang sudah menganga diperut ini.’

“Kau… Apa kau berniat membunuhku?” ringkih Sandy.

“Mungkin saja,” jawabnya dingin. “Tapi kau hebat juga bisa bertahan dari salah satu jurus mematikan milikku,” lanjutnya.

Shafa mengeluarkan sebuah dagger dan langsung melemparnya ke arah Sandy. Hal itu tentu mengejutkan tapi Sandy masih belum bisa bergerak.TING!Suara benturan antar besi terdengar disamping wajah Sandy. Dagger yang dilempar Shafa beradu dengan dagger yang datang entah darimana. Beberapa saat kemudian Sandy merasa seseorang mengincarnya dari belakang. Saat menengok, Shafa sudah disana menahan penyerang itu dengan kakinya. Meski sudah menahannya, orang yang berniat menyerang itu tetap terlempar jauh ke belakang.

“Hentikan ini!” teriak Shafa.

“Aku sudah melakukan sesuai dengan yang kau minta kan? Jadi, hentikan lelucon yang tidak lucu ini, Sisil!!”

Sisil. Itulah nama yang keluar dari mulut Shafa. Pemilik nama pun kembali berdiri setelah serangan tadi. Ia menyeka darah yang keluar diujung bibirnya.

“Sesuai? Kau hanya menggunakan separuh dari kekuatanmu dan itu tidak sesuai dengan apa yang kita bicarakan tadi,” balasnya.

‘Separuh? Jadi serangan yang tadi hanya separuh dari kekuatannya? Padahal aku menggunakan seluruh tenagaku untuk menahannya. Sebenarnya seberapa besar kekuatannya?’

“Kalau begitu bagaimana jika kau saja yang mencobanya? Seluruh kekuatanaku ini.” Aura hitam mulai keluar dan menyelimuti tubuh Shafa.

Sisil tidak menanggapi Shafa dan langsung pergi dengan wajah kesal, Shafa pun menyimpan energinya kembali. Sandy yang sudah hampir hilang kesadaran melihat Shafa mendekat. Setelah itu pandangannya menjadi gelap.

********

Keadaan begitu sunyi pagi itu. Meski pagi hari tapi Shadow Forest tidaklah terlalu terang. Tingginya pohon dan rapatnya dedaunan ditempat itu membuat cahaya sulit mendapat celah. Sandy masih terlelap setelah pertarungannya dengan Sisil. Hari ini adalah hati ketiga sejak kejadian itu, Sandy akhirnya membuka mata.

“Ugghh.. Aku dimana?” gumamnya pelan. Seketika rasa sakit diperut mengingatkannya pada pertarungan itu.

“Benar juga. Aku pingsan setelah bertarung dengan Sisil dan mendapat pukulan telak dari Shafa. Gadis itu benar-benar ya…” ketika menengok ke sisi kanan tubuhnya, Sandy mendapati Shafa tertidur diatas perutnya.

Waktu seperti terhenti sesaat. Ingatan Sandy melayang pergi ke masa lalu. Ia pernah mengalami kejadian yang hampir serupa. Ketika itu dia terlibat kecelakaan dan saat terbangun dirumah sakt, seorang gadis tengah tertidur disisinya. Gadis yang tak bisa diingat Sandy, baik nama ataupun wajahnya.

Setelah lama memperhatikan dalam diam, Sandy bermaksud membelai halus rambut panjang Shafa. Akan tetapi gadis itu terlebih dulu membuka mata, membuat niat yang sudah mencuat kembali disimpan.

“Pagi,” sapa Sandy.

“Pagi,” balas Shafa lemas. Ia lalu berdiri, mengucek mata dan berjalan keluar sambil menguap sesekali.

“Apa dia benar-benar sadar?” Sandy mendapati sebuah gelas kosong di dekat kepalanya. Tanpa pikir panjang. Ia lempar saja gelas itu pada Shafa.

Shafa berbalik dan menangkap gelas itu dengan mudah. “Ohh, aku hampir lupa mengambil benda ini. Terima kasih.” Ia pun meneruskan langkahnya.

“Benar-benar wanita yang dingin.” gumam Sandy.

Beberapa jam pun berlalu tanpa ada pembicaraan berarti diantara mereka. Hanya makan pagi biasa, duduk dikursi biasa dan tidak ada hal menarik lainnya. Merasa tak ada yang bisa dilakukan, Sandy bermaksud pergi keteras lagi.

“Mau membuang waktumu lagi?” ucap Shafa. Sandy pun terdiam. Gadis itu menutup bukunya.

“Ayo ikut aku.”

TING!! TING!!

Suara benturan antar besi sangat terasa disini. Sandy terkesima melihat banyaknya orang yang sedang berlatih. Mereka berada di Jungle Fort, tempat dimana para Assasin berlatih sekaligus menjadi pos penjagaan. Para Goblin yang berada di Shaded Woods sering kali mencoba masuk ke Shadow Forest dan menyerang desa-desa yang ada dibaliknya.

“Disini kami berlatih. Mengadu kemampuan fisik, keahlian bermain pedang dan tajamnya akurasi seperti…” ucapan Shafa terhenti bersamaan dengan langkahnya. Ia juga menghalau Sandy meneruskan langkahnya dengan tangan. Sandy tentu heran dengan apa yang dilakukan Shafa tapi…..

Wusshh!!

Tak sampai satu detik berlalu, sebuah anak panah meluncur deras di depan wajahnya. Begitu cepatnya hingga Sandy hanya mampu menangkap bayangan dan hembusan angin yang ditimbulkan.

“Seperti anak panah tadi yang diluncurkan dari jarak 100 meter diluar benteng ini menuju mata Goblin yang ada ditengah sasaran disebelah kanan,” Lanjut Shafa. Sandy sungguh tercengang melihat anak panah tadi tepat mengenai sasaran.

“Kenapa dia tak menghentikan tembakannya saat melihat kita akan melintasi jalur lesatan panahnya?” pertanyaan itu terlontar begitu saja.

“Itu karena…” Lagi-lagi ucapan Shafa terhenti ditengah. Ia membungkuk begitu juga Sandy yang dipaksa membungkuk oleh tangan Shafa. Dua buah dagger tertancap dihadapan mereka.

BUKK!!

Ketika menoleh kebelakang, Sandy mendapati seorang wanita yang sedang memegang sebilah pisau terhenti diudara akibat tendangan Shafa diperutnya, Shafa menarik kakinya kembali dan melakukan tendangan lagi. Sebelumnya wanita dengan pisau tadi sempat menyilangkan tangannya untuk meredam kekuatan Shafa. namun ia tetap terpental.

“Huh, mereka lagi,” keluh Shafa.

“Siapa mereka?” tanya Sandy.

“The Cursed Seven, pasukan clite Assasin. Kelompok yang tak pernah gagal sekali pun dalam misinya. Mereka selalu membantai habis Goblin yang menjadi targetnya. Kemampuan dari masing-masing mereka tak perlu diragukan lagi.”

“Hey, lihat itu The Cursed Seven.”
“Apa mereka coba menyerang Shafa The Black Lotus lagi?”
“Lebih baik kita menyingkir atau kita bisa celaka.”

Suara riuh dari pembicaraan orang sekitar begitu jelas terdengar ditelinga sandy. Orang-orang disekitar pun menyingkir, menyisakan kedua pihak yang berseberangan.

“Wanita berambut pendek yang aku serang tadi bernama Nia. Keahliannya adalah serangan kejutan. Kau akan sulit merasakan hawa keberadaannya. Lalu pria berotot disebelahnya adalah Deny. Kekuatan fisik yang diatas rata-rata membuatnya sanggup melawan Hobogoblin dengan tangan kosong. Selanjutnya, pria dengan rambut dikuncir yaitu Diky. Keahliannya adalah bernama pedang. Percayalah kau takkan mau mencoba serangan dekat padanya.

Kemudian wanita berkacamata dan berambut panjang dibelakang adalah Adelia. Seperti yang bisa kau lihat dari senjatanya, keahliannya yaitu akurasi. Jangan tertipu oleh penampilannya yang lugu dan ceroboh. Dia bahkan bisa memanah semut yang ada di puncak menara sana tepat dikepala dari tempatnya sekarang. Lalu ada si kembar Vlad dan Slad. Tubuh mereka yang ramping menjadi keahlian mereka yaitu pengalih perhatian dan juga penyerang jarak pendek. Kombinasi gerakan mereka berdua memang tak ada duanya.”

Shafa pun mengakhiri penjelasan panjangnya.

“Eh? Sudah? Bukankah mereka ada tujuh orang?” tanya Sandy heran.

“Satu orang lagi tidak perlu ku sebutkan karena kau sudah bertemu dengannya,” tegas Shafa.

“Hah? Apa mungkin dia…”

“Ya, Sandy. Orang itu adalah… Aku!” Sisil tiba-tiba muncul dihadapan Sandy dan bersiap dengan sebuah pukulan. Namun Shafa menepisnya. Sisil pun mundur dan berkumpul dengan The Cursed Seven.

“Ah, bener juga. Sandy, kau sempat mengatakan kedatanganmu kesini adalah untuk belajar, apa aku benar?” tanya Shafa.

“I-iya. Ada apa dengan itu?” Sandy balik tanya.

“Aku punya ide bagus,” ujarnya.

-to be continue

-dipolacubo-

Iklan

3 tanggapan untuk “The Legend of Moonlord, Part15 (Responsibility, Bag1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s