Announcement

Ditujukan untuk para penulis yang menitipkan cerbungnya ke KOG.

Akhir-akhir ini jadwal posting cerita sedikit berantakan, atau mungkin berantakan banget kayanyanya yak. Ga sesuai dengan jadwal aslinya atau sebelumnya.

Maka dari itu, untuk para penulis yang menitipkan cerbung ke blog ini, mohon konfirmasi ceritanya di posting hari apa. jika ada yang sama-sama lupa, bisa milih untuk di posting di hari apa setiap minggunya. Tulis aja cerita apa diposting hari apa, atau yang mau rubah jadwal postingan tulis aja ceritanya apa, minta dirubah hari apa.

Konfirmasinya bisa komen dibawah, atau line ke admin >>> rizalical7

Mohon kerjasamanya, thankyou :)))

Kos-Kosan Bidadari S2, Part3

Sekarang di meja sebelah udah ada 6 orang duduk saling berhadapan dan fokus pada gadget di tangan mereka. Mereka semua adalah orang yang dateng untuk walk in interview, sama kayak gue.

Ya, gue masih belum menyerah untuk menyelamatkan diri dari kosan biadap itu. Salah satu caranya adalah dengan mencari pekerjaan baru, ngumpulin duit untuk tempat tinggal dan selanjutnya bertahan hidup seperti biasa. Oleh sebab itu gue dateng ke tempat ini yang katanya lagi buka lowongan. Iklannya ada di medsos makanya gue bisa tau. Lanjutkan membaca “Kos-Kosan Bidadari S2, Part3”

Iklan

Cinta Palsu : Without Permission II

Malam pun tiba…

Mereka berdua tampak sedang menikmati makan malam bersama. Banyak makanan yang di sediakan di atas meja makan kecil yang sederhana itu. Deva tidak langsung melahap makanan di piringnya, melainkan dirinya masih sekedar mencicipi disana. Sedangkan Ve terlihat gugup ketika Deva mulai mencicipi masakannya. Ia merasa seperti sedang mengikuti kontes memasak, dimana Deva yang menjadi juri yang akan menilai masakannya.

“Gimana.. Dev?”

Deva menyimpan sendok dan garpu itu dengan menyilang, di atas piringnya yang masih penuh dengan makanan. Kemudian ia beranjak dari kursinya dan pergi ke suatu tempat. Di sisi lain, Ve nampak murung karena Deva tidak menghabiskan makanan buatannya.

“Hei.. Sini,” seru Deva. Dirinya kini berada di dapur.

Ve yang mensahutnya pun menghampiri Deva disana.

“Coba praktekan lagi cara lo masak bahan makanan,” katanya.

Ve melihat ke arah Deva. “Tapi bahan makanannya hanya tersisa sedikit, jadi..,”

“Masak saja apa yang ada,” potongnya.

Ve terhenyak, lalu dirinya mulai mengambil beberapa potong sayur dan juga rempah-rempah.

Sesekali Ve melirik ke arah Deva. Yang ia tau, sekarang Deva begitu fokus memerhatikan aktivitasnya untuk memasak. Namun ketika Ve hendak mengupas bawang, Deva langsung menghentikannya.

“Tunggu dulu…,” serunya

“Lo mau masak apa?” lanjut Deva.

“Mau masak capcay. Bahan-bahan makanannya tinggal sisa segitu. Gak bisa di olah jadi apapun kecuali capcay tumis.”

Deva terkekeh. “Kenapa harus pakai bawang bombay?”

“Soal itu.. um..,” Ve terdiam seribu bahasa.

Deva mulai menghirup nafas panjang dan hendak menasihati Veranda.

“Sejak kapan lo mulai memasak?” tanya Deva lagi.

“Um.. S-Sejujurnya.. Aku baru mulai memasak sekitar 2 minggu yang lalu.”

“Oh..? Belajar sendiri kah?”

Ve menggeleng. “Kinal yang mengajariku. Tapi sebenarnya aku juga sering memasak di dapur, tapi tidak terlalu menekuninya.”

Deva tidak berkomentar ataupun bertanya lagi. Ia melihat bekas panci serta penggorengan yang sebelumnya digunakan Ve untuk memasak. Ia menghirup aroma dari kedua benda itu, kemudian Deva menarik pergelangan tangan Ve. Tentu Ve terkejut atas perlakuan Deva, sampai-sampai dirinya terpaku menatap ke arah Deva.

Lalu tanpa di duga Deva mencium bau dari tangan Ve. Hal itu membuat Ve bergidig seperti merasa kegelian.

“A.. Anu.. Deva..?” serunya. Dengan pipinya yang mulai memerah.

Deva terkekeh. “Yah.. kalau hanya sekedar masakan rumahan, mungkin masih bisa lo buat. Tapi setidaknya jagalah kebersihan saat sedang memasak.”

Ve tertegun. “A-Aku paham Dev..,” katanya.

“Dan juga jangan terlalu banyak memasukan rempah-rempah ke dalam masakan. Kecuali rempah-rempah itu sudah di haluskan terlebih dahulu. Jadi tidak akan tercium aroma apapun setelahnya..,”

Ve hanya mengangguk.

“Kalau gitu sebaiknya lo mandi sekarang. Gw mau langsung tidur…,” Deva meninggalkan Ve.

Sementara Ve terlihat shock disana. Itu karena Deva tidak menghabiskan masakan yang sudah susah payah di buatnya. Ia mulai meneteskan air mata sambil bergeming di tempatnya.

Setelah suasana hatinya mulai membaik, dirinya pun mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.

Sekitar 30 menit lamanya Ve berada di kamar mandi. Bukan lama membersihkan tubuhnya, melainkan Ve berlama-lama di kamar mandi karena dirinya terus merenung di bawah guyuran air hangat dari shower itu.

Ve menyadari bahwa dirinya sudah sangat lama berada di kamar mandi, dan ia pun mematikan shower itu. Ve mengambil handuk lalu mengeringkan badannya.

Usai mandi, Ve lekas pergi ke kamar untuk mengambil beberapa pakaian. Namun saat dirinya sampai di meja makan, ia mendadak bergeming ketika melihat meja makan itu. Bagaimana tidak, itu karena semua makanan yang ada di meja makan telah habis tanpa sisa. Dan lagi-lagi Ve meneteskan air matanya, sebuah air mata bahagia karena masakannya tersebut masih di hargai oleh Deva.

Kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju kamarnya. Akan tetapi Ve lupa bahwa kini Deva sudah ada di dalam kamar itu, sementara dirinya sudah terlanjur masuk dengan hanya mengenakan handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya.

Di samping itu, Deva terlihat sibuk memainkan handphonenya. Ia seperti sedang memainkan sebuah game sambil bersandar di bantalnya. Ve pun menghentikan aktivitasnya yang kini tengah mencari beberapa pakaian. Kini ia memerhatikan Deva yang sedang asik-asiknya bermain game.

“Jadi selama ini kamu gak pernah tidur di bawah jam 9 malam ya,” seru Ve.

Deva sedikit melirik ke arah Ve, lalu dirinya menyimpan handphone itu di atas perutnya.

“Sejak kapan gw bisa tidur di bawah jam 9 malam,” timbal Deva.

Ve terhenyak. Ia tidak berkomentar lagi karena apa yang dikatakan oleh Deva memanglah benar. Ia pernah menjadi kekasihnya selama beberapa bulan, oleh sebab itu dirinya tau dan kembali teringat tentang kebiasaan tidur malamnya Deva.

“Aku pinjam baju kamu ya,” katanya.

Deva yang mendengarnya kembali melirik ke arah Ve.

“Tolong kamu balik kesana dulu, aku mau ganti baju,” ujar Ve.

Deva segera membalikan badannya, membelakangi Ve. Namun sebenarnya hal tersebut sangatlah sia-sia, itu karena di hadapan Deva terdapat sebuah cermin, sehingga Deva dapat melihat ke belakang tubuhnya melalui cermin tersebut. Ve masih belum menyadari cermin itu, dan kini ia benar-benar sudah bertelanjang bulat.

Deva hanya terkekeh saat melihat lekukan indah tubuh Ve, bahkan dirinya juga sempat melihat payudara indah milik Ve. Akan tetapi ia sama sekali tidak berkomentar dan hanya menggeleng-geleng melihat tingkah laku Ve yang menurutnya masih sangat naif.

Setelah Ve selesai mengenakan pakaian, ia pun berseru untuk meminta Deva membalikan  badannya lagi.

“Sudah Dev, kamu boleh balik badan lagi.”

Di lihat Deva kembali fokus dengan gamenya, Ve hanya menghela nafas ketika melihat tingkah laku Deva yang menurutnya masih kekanak-kanakan.

“Apa perlu cerminnya gw pindahin ke tempat lain,” seru Deva, dengan pandangannya yang masih fokus pada handphonenya.

Tentu Ve kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh Deva. Perlahan dirinya mulai mencerna kata-kata Deva, lalu ia melihat kesekitar kamar itu. Setelah beberapa saat, pandangannya langsung tertuju ke arah cermin yang letaknya berada di samping kanan kasur itu. Ia terbelalak, lalu pipinya berubah merah seperti sangat malu. Ve yang berang pun menatap tajam ke arah Deva.

“Seberapa banyak yang kamu lihat tadi!” serunya dengan intonasi yang tinggi.

“Semua,” Jawab singkat.

Ve menggembungkan pipinya dengan perasaannya yang semakin kesal. Setelah itu ia keluar dari kamar dengan membanting pintu itu. Ia hendak pergi ke ruang tamu dan segera bersiap-siap untuk tidur, namun kini ia masih bersandar di pintu sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.

“Aaahh.. Deva sudah melihat tubuhku. Bagaimana ini…,” batinnya.

Hatinya itu seperti bimbang, memikirkan apakah dirinya kecewa atau senang ketika Deva melihat tubuhnya yang telanjang bulat. Perlahan ia menenangkan hati serta pikirannya, dan setelah suasana hatinya kembali normal, ia pun segera pergi ke ruang tamu.

Ve menarik bantal dan guling yang sudah di simpannya di bawah sofa. Selimut itu juga di tariknya keluar, dan ia pun mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa. Disaat matanya terpejam, ia kembali teringat soal kejadian yang telah ia alami seharian ini. Senyum simpul itu ia tunjukan ketika ia mengingat suatu hal yang menurutnya sangat membahagiakan. Sampai akhirnya ia tak sadar bahwa dirinya sudah tertidur lelap.

            ~oOo~

Ve terbangun dari tidurnya. Di lihat jam dinding disana telah menunjukan pukul 5 pagi. Ia bangun lalu pergi ke arah washtafle disana. Ia membasuh wajahnya terlebih dahulu, kemudian mulai menggosok giginya.

Usai menggosok gigi, Ve langsung menyalakan kompor untuk menyiapkan sarapan pagi. Namun sebelum itu ia berniat untuk membangunkan Deva di kamarnya. Ia mengetuk pelan pintu kamar itu, lalu masuk ke dalam.

Di lihat Deva masih tertidur di kasurnya. Handphonenya di simpan di samping kanannya, lebih tepatnya di atas bantalnya. Ve terkekeh saat melihat posisi tidur Deva, itu mengingatkannya kembali ke masa lalu, dimana dirinya masih menjadi kekasihnya Deva. Lalu ia duduk di pinggiran kasur dan mulai sedikit menggoyang-goyangkan bahu Deva, guna membangunkannya.

“Dev.. bangun. Sudah pagi..,”

Tak sampai 10 detik, Deva pun bangun dari tidurnya. Pertama-tama Deva masih mengedip-ngedipkan matanya, lalu dirinya melihat kesekitarnya. Pandangannya langsung tertuju ke arah Veranda yang kini tepat berada di sampingnya. Setelah melihat ke arah Ve, Deva kemudian melihat ke jam dinding. Jam dinding telah menunjukan pukul 06.30 pagi, Deva langsung bangun dari kasurnya untuk bersiap-siap.

“Loh Dev.. t-tunggu dulu! Jangan buru-buru gitu!” ujar Ve.

Deva menghiraukannya. Ia mengambil handuk di belakang pintu, dan sudah pasti dirinya akan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Sementara Ve, kini ia sedang membenahi kasur yang di pakai oleh Deva. Di mulai dari selimut,  sampai ke spreinya. Merasa urusannya di kamar telah selesai, Ve pun kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Pukul 06.15 Deva tampak siap untuk berangkat kerja. Ia juga sudah menikmati sarapan paginya yang di buatkan oleh Veranda, berupa sepiring sosis dan juga telur mata sapi. Sebelum Deva berangkat, mereka tampak masih berbincang-bincang.

“Jadi hari ini kamu pulang jam berapa?”

“Gw gak tau dan gak bisa memastikan.”

“Kamu pernah bilang kalau kamu itu kerja di 2 tempat kan? Karena kamu udah gak kerja di restoran lagi, itu artinya sekarang kamu fokus kerja di tempat yang kedua itu ya.”

“Ya,” Jawabnya singkat.

“Kalau boleh tau, kerja seperti apa?”

“Hanya sebatas pelayan..,” katanya.

“Begitu ya. Yasudah.. kamu hati-hati di jalan ya,” ujar Ve.

Deva masih bergeming dengan menatap ke arah Ve. Di samping itu, Ve terlihat berusaha untuk tidak menatap wajah Deva. Itu karena ia tidak sanggup untuk menatapnya, jantungnya selalu berdegup kencang ketika dirinya saling bertatapan dengan Deva. Di sisi lain, Deva seperti sedang melihat Ve dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.

Tanpa diduga, Deva tiba-tiba memeluk Ve dengan erat. Tentu Ve terkejut atas perlakuan pria di hadapannya itu, dan lagi-lagi jantungnya mulai berdegup kencang. Ia mulai memejamkan matanya kemudian membalas pelukan itu, meskipun dirinya tidak tau kenapa Deva memeluknya.

Di samping itu, Deva tampak menyeringai seperti sudah puas akan suatu hal.

“*M* ya..,”

“Eh.. A-Apa Dev?” sahut Ve, setelah mereka menyudahi pelukan itu.

Deva menghiraukan seruan Ve. “Gw berangkat dulu. Oh iya, ini uang untuk belanja keperluan hari ini,” ujarnya sembari memberikan selembar uang 50 Ribu.

“Hihi.. kamu jadi sering ngasih uang belanja. Apa mungkin kamu memang suka dengan masakanku, Dev?” Ve tersenyum cengengesan.

“Aku pikir kamu tidak suka dengan masakanku, eh.. tau-tau semua makanan di meja sudah kamu habiskan tanpa menyisakannya untukku,” lanjutnya.

Deva terkekeh. “Gw cuma mau menghabiskan makanan sisa itu, karena seburuk apapun masakan lo, benda itu tetaplah makanan yang harus di habiskan.”

“B-Benda?! Kamu bilang benda?!” Ve merah padam.

“Ya,” Jawabnya lagi. Kemudian ia pun pergi

Terlihat Ve masih geram karena tingkah laku Deva sebelumnya. Ia mengepalkan tangannya dengan hatinya yang menggebu-gebu.

“Lihat saja nanti! Masakanku pasti akan jauh lebih enak dari masakanmu! Sekalipun yang ku lawan adalah seorang koki, pasti aku akan memenangkannya! Karena…,” Perkataan Ve menggantung.

“Itu karena.. aku adalah istrimu…,” lanjutnya dengan suara yang lirih dan wajah yang murung.

Ve menutup pintu itu, kemudian dirinya merebahkan tubuhnya sejenak di sofa. Sesekali ia menghela nafasnya di sambung dengan usapan di wajahnya sendiri.

Ve bergumam. “Hari ini masak apa ya kira-kira.” Pikirnya.

“Pastinya aku gak mau masak makanan yang berlemak. Aku mau menjaga kesehatan Deva!” Matanya tampak berbinar-binar.

Ia beranjak dari sofa, kemudian pergi keluar rumah. Ia hendak pergi ke supermarket yang pernah di datanginya sebelumnya.

~oOo~

Sesampainya di supermarket, tanpa basa-basi Ve langsung memilih sayuran serta rempah-rempah itu untuk di belinya. Setelah semua barang keperluannya telah di dapatkan, ia pun pergi ke kasir untuk segera membayarnya.

“Wah.. mbak yang kemarin ya!” seru penjaga kasir.

“Iya, hehe..,” Ve tertawa ringan.

“Loh.. kok mbaknya masih pake pakaian cowok sih, kan udah saya kasih tau kemarin.”

Ve terkekeh. “Iya, soalnya saya nyaman dengan pakaian ini. Saya juga punya baju cewek kok di rumah. Hanya saja pakaian seperti ini lebih nyaman untuk di pakai saat sedang dalam waktu senggang.

Penjaga kasir itu memanggut-manggut. “Gitu toh.. Yasudah. Ada lagi yang mau di beli? Semuanya jadi 36.700.”

Ve menggeleng yang menandakan ia tidak akan membeli apapun lagi.

Seraya penjaga kasir itu pun memberi kembalian uangnya kepada Ve.

“Suami mbak kayaknya Vegetarian ya? Hari ini mbaknya beli banyak sayuran.”

Ve tertawa ringan. “Saya cuma gak mau masak makanan yang berlemak.”

“Hemm.. gitu ya. Kalau gitu jangan bosen-bosen belanja disini ya.”

Ve mengangguk. “Ya. Terimakasih..,”

Merasa urusannya di supermarket telah selesai, Ve pun kembali pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, Ve tidak langsung mengolah bahan-bahan makanan itu. Melainkan dirinya melakukan aktivitasnya seperti biasa, yaitu membersihkan rumah. Namun kali ini ia sudah menghilangkan kebiasaan buruknya yang kerap kali menangis selama 15 menit. Ia sudah menerima kondisi mental Deva yang sekarang, dan dirinya pun sudah mulai menyesuaikan diri dengan sikap Deva yang sekarang.

Singkat cerita, malam pun tiba. Jam dinding disana telah menunjukan pukul 9 malam, namun Deva tak kunjung pulang. Ve mulai khawatir dengan raut wajahnya yang sangat cemas. Makan malam di meja sudah di sediakannya, namun sayangnya beberapa makanan sudah mulai dingin dan di anggurkan. Mata Ve tampak cukup berat, akan tetapi ia berusaha untuk tetap terjaga.

Sesekali dirinya juga mondar-mandir di depan pintu rumah untuk menyambut kedatangannya. Namun kakinya itu tidak bisa terus menerus berdiri di depan pintu rumah, ia juga harus mengistirahatkan kakinya sejenak. Sementara kedatangan Deva masih belum dapat di pastikan olehnya.

Dirinya pun mulai berbaring di sofa dan berusaha untuk tetap terjaga. Namun apadaya, Ve sudah tidak mampu lagi untuk menahan rasa kantuknya. Alhasil ia pun terpejam dan tertidur tanpa disadarinya.

Di saat dirinya sudah lelap tertidur, pintu rumah tiba-tiba terbuka dari luar. Srontak Ve langsung bangun dan melihat siapa orang masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dan ternyata orang itu adalah Deva yang sedari tadi sudah di tunggu-tunggunya. Ia melihat ke arah jam dinding disana, yang kini telah menunjukan pukul 11 malam. Wajahnya yang masih mengantuk ia usap-usapkan menggunakan telapak tangan, guna membuatnya dirinya tetap terjaga.

“Kenapa kamu pulang jam segini Dev?” serunya.

Deva duduk di sofa, lalu mulai melepas sepatunya.

“Maaf.. gw gak nyangka bisa pulang jam segini,” katanya.

“Aku sangat mengkhawatirkanmu,”

Deva melirik. “Lo bosen nunggu ya? Lantas kenapa lo gak tidur,”

“Aku bilang aku khawatir padamu! Bukan bosan!” Ve memperjelas.

“Oh.. jadi gak bosen ya.”

“Err.. Ya bosen sih, tapi aku lebih mementingkan dirimu di bandingkan rasa bosan ini.”

Deva memijat-mijat keningnya, sambil memejamkan mata.

“Kamu tau sendiri Dev, di rumah ini hanya ada aku seorang. Dan mungkin.. yang bisa kulakukan hanyalah membersihkan rumah ini dan juga menunggu kedatanganmu. Tidak ada yang bisa menemaniku disini.”

“Jadi.. cuma itu?”

“Err.. Yah,” Ve tertawa ringan.

“Kalau begitu gw bisa langsung mengabulkan permintaan lo sekarang.”

“Hah?” respon Ve.

*BRAK!

Deva tiba-tiba saja mendorong Ve sampai-sampai mereka terbaring dengan posisi Deva yang menindih tubuh Ve.

“A-Apa yang kamu lakukan! D-Deva! Lepas! Tolong lepasin!” Ve meronta.

Ve berusaha untuk lepas dari pagutan tangan Deva, namun apadaya, tenaganya tidak mampu menyaingi tenaga Deva. Dan tanpa diduga Deva mencumbu bibir Ve dengan begitu liarnya. Ve yang kini tengah di cumbunya nampak terbelalak.

Awalnya Ve meronta-ronta, berusaha untuk lepas dari pagutan Deva. Setelah lama berusaha, tenaganya pun perlahan terkuras dan kini ia mulai lemas. Ia pasrah ketika Deva mencumbu lembut bibirnya. Selesai mencumbu, Deva menyosor ke bagian leher lalu sampai ke payudaranya.

Ve mengerang dan dirinya tampak mulai kejang meskipun hanya dengan sedikit rangsangan. Wajah Ve memerah ketika mereka saling bertatap muka. Dan setelah semua itu, pada akhirnya mereka melakukan hubungan yang biasa dilakukan seseorang setelah menikah.

Deva membopong Ve ke kamarnya dan langsung melancarkan aksinya.

Mereka cukup lama melakukan hubungan suami-istri. Sampa pada pukul 2 malam, mereka menyudahi aktivitas tersebut. Ve tampak kelelahan dengan terbaring di kasurnya. Sesekali ia menelan ludahnya, lalu melihat ke arah Deva.

“D-Devh.. Ek.. Udaranya dingin, tolong tarik selimutnya,” pinta Ve.

Deva sama sekali tidak menoleh ke arah Ve. Kemudian dirinya beranjak dari kasur lalu pergi dari kamarnya. Hal tersebut membuat Ve shock dan terhenyak. Bagaimana tidak, karena Deva langsung pergi meninggalkannya setelah dirinya mencicipi tubuh Ve semalaman.

Kini Ve meringkuk di kasurnya dengan berlinang air mata.

“Apa aku ini hanya sekedar wanita pemuas nafsu seorang pria…,”

~oOo~

Di pagi harinya, Ve terbangun dari tidurnya. Seseorang menepuk-nepuk pipi gempal miliknya, sehingga Ve pun terbangun.

“Bangun..,” serunya.

Seraya Ve pun mulai mengedip-ngedipkan matanya, lalu pandangannya langsung tertuju ke arah pria yang membangunkannya. Pria itu ternyata adalah Deva.

“Mau sampai kapan lo tidur? Udah jam 7 pagi sekarang,” katanya.

“J-Jam 7…?” ucap Ve.

Ia masih melihat ke sekelilingnya, dan ternyata ia masih berada di dalam kamar Deva.

“Apa mungkin semalam hanyalah mimpi…,” gumamnya.

“Gw mau langsung berangkat kerja,” kata Deva.

“Oh.. Kalau gitu hati-hati di jalan. Tapi.. kamu gak telat kan? Soalnya sekarang udah jam 7.”

“Jelas telat lah. Gw harusnya sampai tempat kerja jam 6 pagi.”

“Loh?! Terus gimana dong?! Kenapa kamu bisa telat?!”

Deva tidak menjawabnya, melainkan dirinya kini begitu fokus membenahi kemeja putihnya.

“Hari ini gw pulang jam 6 sore. Jangan masak terlalu banyak, nantinya malah gak habis semua,” ujarnya.

Ve hanya mengangguk.

“Sepertinya memang cuma mimpi..,” batin Ve.

“Sebelum itu, pake baju lo sekarang,” Deva melempar sebuah baju ke arah Ve. Dan lemparannya tersebut tepat mengarah ke wajah Ve.

“I-Ini baju baru?!” Ve menghirup aroma dari baju itu.

“Kamu beli baju buat aku Dev?” lanjut Ve.

“Ya. Gw gak mungkin membiarkan lo terus-terusan pake baju gw. Jadi gw beli baju-baju itu buat lo pake sehari-hari.”

“Mm.. Makasih ya Dev,” Ve memeluk baju-baju itu.

Namun ketika dirinya melihat ke sekujur tubuhnya, akhirnya ia menyadari bahwa dirinya masih bertelanjang bulat.

“JADI SEMALAM ITU BUKAN MIMPI!” Ve terbelalak.

“Kalau gitu gw berangkat sekarang.”

“Tunggu Dev!”

Ve menahan Deva dengan memeluknya dari belakang. Ia masih belum mengenakan pakaian apapun. Dan sebagian tubuhnya hanya tertutupi oleh selimut.

“Dev.. apa kamu masih mencintaiku…?” tanya Ve.

“Tolong jawab pertanyaanku. Apa perasaanmu yang dulu masih tetap ada…,”

“Tidak,” Jawab Deva dengan singkat. Kemudian ia berbalik menghadap Ve.

“Gw gak punya perasaan seperti yang lo maksud.”

Ve terhenyak. “Lalu bagaimana dengan semua kenangan yang pernah kita buat di masa lalu!”

Deva hanya terkekeh. “Memangnya kita pernah punya kenangan ya?”

Mata Ve mulai berkaca-kaca.

“Dengar ini baik-baik. Gw sama sekali gak tau soal kenangan-kenangan yang lo maksud itu. Tapi yang gw tau hanyalah kenangan, yang sudah semalaman kita buat.”

“Eh…,” Mulut Ve sedikit terbuka, seakan-akan dirinya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Deva.

Kemudian Deva pun berbalik dan hendak pergi.

Namun lagi-lagi Ve menghentikannya, dengan mengatakan sesuatu pada Deva.

“Deva,” serunya. Sehingga Deva sedikit menoleh.

“Apapun alasanmu, aku tetap mencintaimu!” katanya.

Deva sama sekali tidak menoleh, dirinya hanya berjalan lurus menuju pintu rumahnya.

Setelah kepergian Deva, Ve mulai mencoba satu persatu baju itu. Kebanyakan baju yang di belikan Deva berwarna biru muda, karena itu merupakan warna kesukaan Ve sejak dulu. Ve tampak begitu bahagia karena Deva masih mengingat tentang warna kesukaannya. Namun ada hal lain yang membuatnya lebih bahagia…

“Aku gak nyangka.. hanya dengan satu kali peluk, kamu bisa langsung tau tentang ukuran badanku,” gumamnya dengan senyumannya yang mengembang.

“Whoa! Bahkan dia juga membelikan bra nya. Itu artinya aku sudah tidak perlu lagi merangkap baju. Tapi.. apa ukurannya pas dengan punya ku?” pikirnya.

Tanpa berkomentar, Ve pun mencobanya terlebih dahulu. Bra yang di belikan oleh Deva mulai di cobanya, namun sesuatu yang di luar dugaan terjadi.

“G-Gak muat?!” pikirnya.

Ia melihat bra tersebut dari semua sisi, sampai pada akhirnya ia menemukan sebuah nomor.

“Pas kok, ukurannya sama dengan bra ku yang di rumah. Tapi kenapa gak muat ya..,” pikirnya.

Sesekali ia sedikit memijat payudara nya itu, sampai akhirnya ia menyadari satu hal yang teramat penting baginya.

“Apa mungkin karena semalam…,” Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Itu karena dirinya kembali teringat soal kejadian tadi malam. Dimana dirinya, bersama dengan Deva melakukan hubungan pasutri yang dapat dikatakan cukup kasar.

Ve langsung mengapit erat tubuhnya, dengan pipinya yang mendadak memerah.

“Apa pengaruhnya bisa sampai sebesar ini? Tapi setelah melihat permaianan yang kemarin… Aaaaarrghhhh!” Ve mengacak-acak rambutnya sendiri.

Ia menghela nafasnya dan memutuskan untuk melupakan hal itu sampai suasana hatinya kembali membaik. Kali ini ia berniat untuk mengolah beberapa bahan makanan di dapur. Di lihat di atas meja makan itu terdapat selembar uang kertas bernilai 20 Ribu. Ve langsung menyadarinya bahwa uang itu adalah pemberian Deva.

Di saat dirinya berusaha untuk fokus memasak, kejadian yang ia alami tadi malam terus saja terngiang-ngiang di kepalanya. Ketika hal itu terjadi, ia selalu menggelen-gelengkan kepala, di lanjut ke membasuh wajahnya menggunakan air yang segar dan berharap dirnya dapat melupakan semua kejadian itu.

Ve mulai lelah karena terus-menerus memikirkan semua kejadian tadi malam, khususnya ketika dirinya berada di ranjang bersama dengan Deva. Kali ini ia beristirahat sejenak di sofa dan merenungkan semuanya. Ia tidak

Sekitar 10 menit merenung, akhirnya ia menemukan penyebab, kenapa kejadian tadi malam bisa terjadi di kehidupannya.

“Jadi itu penyebabnya?! Apa mungkin dia mengira aku membutuhkan seorang *Anak*, untuk menemaniku di rumah seharian,” wajah Ve tiba-tiba memerah.

“Padahal yang ku maksud itu alat elektronik seperti TV atau handphone yang biasa menemani keseharian semua orang di saat waktu senggang. Atau mungkin dia juga bisa membawaku ke tempat kerjanya, atau jika perlu aku juga bisa ikut bekerja dengannya. T-Tapi.. Kenapa dia jadi beranggapan seperti itu, Aaaarghhh!” Ve mengacak-acak rambutnya sendiri.

Ve merebahkan tubuhnya di sofa, namun ketika hendak memejamkan mata, tercium sesuatu yang sangat tidak mengenakan dari arah dapur. Srontak dirinya pun bangun dan segera mencaritahu darimana asal bau itu.

Dan betapa terkejutnya Ve ketika melihat masakannya pada penggorengan itu telah hangus tanpa sisa.

“Aaaaaarrrghhhhh! Semuanya hangus! Gimana nih….,” Ia mulai panik dan langsung mematikan kompor.

“Hanya dengan satu kejadian, aku bisa jadi seperti ini. Ingat Ve, perilaku manusia dapat di ubah hanya dalam waktu 1 malam. Aku tau itu aku tau! Semuanya ada di dalam buku Psikologi Bab III.”

~oOo~

Di malam hari, mereka berdua terlihat masih bersiap-siap untuk santap malam. Di mulai dari memanjatkan Doa, kemudian di lanjut ke menuangkan segelas air oleh Veranda. Di lihat Deva seperti sedang menciumi aroma dari semua makanan itu, dan sesekali dirinya menatap ke arah Ve.

Usai menuangkan air, Ve pun berseru mempersilahkan Deva untuk segera menyantapnya sebelum dingin. Namun tiba-tiba Deva bergeming dan menyimpan kedua sendoknya di atas piringnya. Tentu Ve langsung bertanya padanya.

“K-Kenapa Dev? Apa masakanku kurang enak…?” tanyanya.

Deva menunjukan senyuman yang seadanya. “Lo beli dimana makanan ini?”

Ve terbelalak dengan jantungnya yang langsung berdetak keras. Itu karena Deva telah menyadari bahwa semua makanan itu bukanlah masakannya. Ia tertunduk diam tanpa berani memandang wajah Deva sedikit pun.

“Gw masih menunggu jawaban lo…,” seru Deva.

Ve segera menadahkan wajahnya pada Deva. Ia tidak punya pilihan lain selain meresponnya.

“A-Aku minta maaf Dev..,” Ve mulai berlinang air mata.

“Ini semua salahku, aku mengacaukan semua makanannya,” katanya berterus terang.

Deva begitu fokus menatap ke arah Ve. Setelah beberapa saat, dirinya beranjak dari kursi itu kemudian pergi ke suatu tempat. Ia nampak pergi ke arah dapur untuk memeriksa sesuatu. Di samping itu, Ve juga mulai mengikutinya dari belakang.

Di lihat Deva mulai menghela nafasnya sambil memejamkan mata, setelah melihat bekas penggorengan yang sudah di cuci bersih oleh Ve. Kemudian ia berbalik menghadap ke arah Veranda.

“Gw gak mau makan makanan itu…,”

“E-Eh?! Tapi nanti kamu sakit Dev! Kamu harus makan meskipun itu bukanlah masakanku.”

“Gw gak mau, karena makanan itu gak lebih enak dari masakan lo,” Jelasnya.

Ve sedikit terbelalak setelah mendengar pendapat dari Deva soal masakannya.

Deva kemudian mengambil jaket pada gantungan baju disana, kemudian ia memakai jaket itu seakan-akan dirinya hendak pergi dari rumah.

“Kamu mau kemana Dev!” Ve seperti berusaha menahannya.

Sementara Deva hanya menoleh. “Mau ikut kagak? Gw mau belanja,”

Ve meresponnya dengan langsung mengenakan salah satu jaket disana. Yang artinya ia akan ikut untuk belanja. Namun sebelum mereka pergi, Deva tampak membungkuk semua makanan di atas meja ke dalam satu kantong kresek. Ve terheran ketika melihat tingkah lakunya tersebut, namun diriya hanya membiarkan Deva bertindak sesuka hatinya.

Setelah semua keperluan sudah di siapkan, mereka pun berangkat.

Selama di perjalanan, tidak ada satupun dari mereka yang hendak membuka pembicaraan. Alhasil mereka hanya bergeming sampai di tempat tujuan.

Sesampainya di supermarket, Deva menitahkan Ve untuk menunggunya sejenak di salah satu kursi yang di sedikian di depan supermarket itu, sementara dirinya pergi ke suatu tempat. Ve terus memerhatikan Deva dari kejauhan, sampai akhirnya ia melihat seorang paryuh baya tengah duduk di jalanan. Ya.. orang yang dia maksud adalah seorang pengemis.

Deva menghampiri pengemis itu, lalu dirinya memberikan kantong keresek berisikan makanan yang sebelumnya ia bungkus. Setelah itu ia kembali ke tempat Ve.

“Ayo masuk,” ajak Deva.

“Hihi.. aku pikir kamu berniat untuk membuang makanan itu,” kata Ve.

Deva hanya terkekeh. “Yang benar saja, mana mungkin gw sanggup membuang makanan yang sudah susah payah di buat seseorang.”

Ve tersenyum menanggapinya.

“Kalau gitu ayo cepetan belanjanya, sebelum hari semakin malam,” ujar Ve.

Singkat cerita mereka pun mulai belanja keperluan sehari-hari, di mulai dari bahan makanan untuk seminggu ke depan, sampai ke benda-benda yang di butuhkan untuk aktivitas sehari-hari.

Setelah mereka mendapat semua benda itu, merek lekas pergi ke kasur untuk membayar semuanya. Dan sesuatu yang di luar dugaan terjadi saat mereka sampai di kasir.

“Loh Deva?! Udah lama aku gak liat kamu!” kata sang penjaga kasir. Sedangkan Deva tidak menanggapinya.

Lalu sang penjaga kasir melihat ke arah gadis yang ada di samping Deva. Ia terkejut bukan main.

“Eh.. Ada mbak pipi mochi. Tumben belanja malem-malem,” celetuknya lagi.

Sementara Ve hanya tertawa ringan.

“Cepet hitung belanjaannya,” seru Deva.

“Ck! Ia sabar kali Dev, buru-buru banget sih!” gerutunya.

“Hehe.. maaf ya kalau dia banyak omong,” kata Ve.

“Hmm?!” sang penjaga kasir tampak baru menyadari satu hal.

Kini ia begitu serius menatap ke arah Deva, selanjutnya ia menatap ke arah Ve. Setelah beberapa saat dirinya pun langsung terbelalak.

“Apa jangan-jangan.. K-Kalian ini udah menikah ya!” ucapnya.

Ve hanya tersenyum malu-malu, sedangkan Deva masih memasang wajah datarnya.

“Whoa! Itu artinya, selama ini suami mbak itu Deva yah! Waaahhh!”

“Ahaha.. I-Iyah, gitu deh…,” balas Ve.

“Kapan lo mau hitung belanjaannya?” seru Deva.

“Ck! Sabar dulu kek. Seharunya kita ngobrol-ngobrol dulu bentar, karena kita udah lama gak ketemu,” katanya.

“Mm.. Dev? Kamu…,”

“Dia temen kerja gw dulu. Singkatnya gw kerja disini sebelum pindah ke restoran pusat kota,” Deva memotong perkataan Ve.

Ve hanya memanggut-manggut.

“Halaaah Dev.. seharusnya lo bilang dari dulu kalau lo udah menikah. Pake main sembunyi-sembunyi segala lagi. Oh iya, kenalin.. namaku Cindy Hapsari. Rekan kerjanya Deva dulu..,”

Seraya Ve menjabat tangan gadis bernama Cindy itu.

“Veranda…,” ucap Ve.

Phew… gue gak nyangka lo bisa dapetin cewek kayak mbak Veranda ini. Selain cantik, baik pula…,”

Ve tampak malu-malu disana.

“nih.. semuanya jadi 145 Ribu,” Cindy memberikan belanjaan tersebut.

Sementara Deva memberikan uang 150 Ribu padanya.

“Eh.. gocengnya buat gue yak?” kata Cindy.

“Ck! Terserah lah…,” Deva langsung mengambil belanjaannya tanpa memerdulikan kembaliannya. Kemudian Ve membungkuk pada Cindy, bermaksud untuk berterimakasih padanya.

~oOo~

Sesampainya di rumah, Deva langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Ia menyimpan semua belanjaannya di atas meja makan. Sedangkan Ve juga mulai duduk di samping Deva, ia masih bergeming, melihat ke arah Deva dengan pipinya yang sedikit memerah. Di lihat Deva tampak memijat-mijat keningnya sambil memejamkan mata.

Setelah beberapa saat, Ve mulai membuka pembicaraan.

“Dev.. aku mau minta sesuatu dari kamu…,” katanya.

Deva pun mulai menoleh.

“Apa?” katanya.

“A-Aku mau.. Umm.. Kira-kira..,” Ve seperti tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Gw gak punya waktu untuk berlama-lama. Gw mau masak sekarang…,” Ia beranjak dari sofa.

“Tungu Dev! Oke-oke fine aku bilang. Jadi.. A-Aku cuma mau nanya, apa kamu mau menikah denganku?”

“Ya.. Gw juga berniat untuk segera menikah dengan lo,” katanya.

Ve terbelalak. “Apa mungkin karena hadiah uang miliaran itu?!”

Deva langsung terkekeh. “Gak.. Gw cuma udah lelah terus-terusan menyembunyikan keberadaan lo disini. Mungkin lo gak tau, tapi beberapa waktu lalu kepada desa pernah datang kemari. Untungnya saat itu lo masih mandi, jadi dia sama sekali gak tau keberadaan lo di dalam rumah.”

Ve terus menyimaknya.

“Mungkin ini hanya sekedar menduga-duga, tapi kayaknya kepala desa datang ke rumah ini hanya untuk memastikan bahwa hanya gw seorang yang tinggal disini. Jadi singkatnya, kalau lo masih belum punya surat-surat keterangan tentang kependudukan asli, lalu sampai ketahuan oleh warga, mungkin lo bisa di usir dari sini.”

Ve tampak menelan ludahnya. “Untuk itu, kita harus segera menikah agar warga tidak curiga lagi,” tambah Deva.

“Jadi.. begitu ya..,” Ve terlihat lega. Ia mulai menampakan senyumannya.

“Y-yah… lagipula kita berdua memang mirip sepasang suami-istri kan. Kita juga pernah melakukan itu satu kali..,” Ve mulai kikuk.

“Sekarang, lo maunya kapan? Gw bisa ambil cuti kerja untuk sementara waktu. Untuk mempersiapkan segalanya sampai kita menikah,” katanya dengan begitu enteng.

“A-Aku pikir.. lebih cepat akan lebih baik.”

Deva terkekeh. “Gitu ya.”

“Mmm.. Maaf Dev, tolong biarkan aku beristirahat sejenak,” Ve duduk di sofa, namun ketika ia bersandar…

*GEJLAK!

Sungguh diluar dugaan, per pada sofa itu mencuat keluar. Yang artinya sofa itu sudah tidak dapat digunakan lagi. Deva begitu serius melihat ke arah sofanya yang rusak.

“Apa itu artinya… mulai sekarang aku harus tidur satu ranjang denganmu, D-Dev…?”

Deva tampak menggeleng-geleng sembari mengusap wajahnya sendiri.

 

 

Shoryu_So

26

Assassin Creed : secred family (part2)

2Tahun Setelah Pelatihan Deva.

Disebuah pondok beberapa assassin dikumpulkan untuk sebuah pengumuman, termasuk deva yang sudah hampir selama 2 tahun di pondok ini bersama dua teman nya yaitu okto dan demian.

“yo bro tau ngga, denger-denger kita di kumpulin disini katanya bakalan ada assassin baru lagi loh” ucap okto, yang sudah duduk disebelah deva “hm” dan hanya ditanggapi dengan deheman oleh deva dan demian. Lanjutkan membaca “Assassin Creed : secred family (part2)”

Cinta Palsu : Without Permission I

2 Jam telah berlalu sejak gadis itu membersihkan rumahnya. Ia menyeka keringatnya yang bercucuran dari dahi dan juga lehernya. Di lihat jam dinding telah menunjukan pukul 2 siang, ia masih sibuk membereskan rumah yang tengah di tempatinya sekarang.

Sudah 1 minggu dirinya tinggal di rumah itu tanpa meminta izin terlebih dahulu. Bagaimana tidak, karena rumah yang kini di tempati olehnya adalah rumah milik orang lain. Lanjutkan membaca “Cinta Palsu : Without Permission I”